Kerajaan Tatar Sunda Wangsakerta


SEJARAH KERAJAAN-KERAJAAN DI TATAR SUNDA

.

Kumpulan Tulisan Pengeran Wangsakerta

.

BAGIAN 1: PENDAHULUAN

 .

  • SEJARAH DAN SASTRA

.

Sesungguhnya, sebagian besar isi dari kitab suci Al Qur’an, dapat ditafsirkan sebagai Mahasejarah. Pengetahuan tentang riwayat kehidupan manusia, hayat para Nabi dan Rasul, semua itu dapat diketahui berdasarkan informasi dari kitab suci Al Qur’an.

Kadzalika nuaqushu `alaika min ambaa‑i maa qod sabaqo. Waqod a’tainaka minladunna dzikron. (Surat Thahaa, Ayat 99).

Terjemahan:

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesunguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al‑Quran).

Pengertian tentang Sejarah menurut G.R. Elton dan Henri Pirenne, kurang lebih sebagai berikut:

Sejarah adalah suatu hasil studi tentang perbuatan dan hasil‑hasil kehidupan manusia dalam masyarakatnya di masa silam.

Sejarah, diungkapkan melalui studi disiplin ilmu:

  1. Filologi,ilmu yang mempelajari tulisan dan bahasa pada naskah‑naskah kuno pada lontar, daluwang, kertas;
  2. Epigrafi, ilmu yang mempelajari tulisan dan bahasa kuno pada batu, kayu, logam, yang dikenal sebagai prasasti;
  3.    Arkeologi, ilmu yang mempelajari benda‑benda peninggalan sejarah (artefak).

Ilmu pengusung lainnya, adalah geografi sejarah (ilmu yang mempelajari peta sejarah), linguistik (ilmu yang mempelajari kebahasaan) dan antropologi (ilmu yang mempelajari kebudayaan).

Sedangkan di pihak lain, pengertian tentang “sejarah”, umumnya berupa dongeng, cerita, tambo, legenda, mitos, dan lain sebagainya. Seperti halnya yang dipahami oleh umumnya masyarakat Sunda, yang dianggap “sejarah” tersebut, adalah: dongeng, sasakala, pantun, wawacan, babad dan lain-lain. Padahal, ragam tersebut, berada di wilayah disiplin ilmu Sastra.

Tidak dapat dipungkir, di dalam pemahaman kehidupan sehari‑hari, antara Sejarah dengan Sastra, memiliki pemisah yang sangat tipis. Masyarakat sulit untuk bisa membedakan, yang mana Sejarah dan yang mana Sastra. Oleh karena itu, sejarah yang akan diungkapkan dalam buku ini, pembahasannya sedapat mungkin sudah dikaji terlebih dahulu berdasarkan disiplin ilmu Sejarah. Sedangkan sumber‑sumber Sastra (sasakala, pantun, wawacan dan babad), sampai taraf tertentu, hanya dijadikan sebagai sumber pembanding.

Untuk memudahkan pembaca umum (masyarakat luas), pembahasan dalam buku ini, beberapa ketentuan yang bertalian dengan sistematika, metodologi dan penulisan ilmiah sejarah yang ketat, sedapat mungkin disederhanakan. Hal tersebut sangat disadari, agar sejarah yang dianggap wilayah kering, akan menjadi lahan yang subur, mudah dipahami dan tersosialisasi dengan baik.

.

  • SUMBER PUSTAKA WANGSAKERTA

.

Kehadiran naskah‑naskah kuno (pustaka) Pangeran Wangsakerta Cirebon abad ke‑17 Masehi, setelah diuji secara filologi oleh para akhli, Tim Penggarap Naskah Pangeran Wangsakerta (dipimpin oleh Prof Dr. H. Edi S. Ekadjati, Program Kerja Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1989‑1991), telah menjadi sumber yang berharga bagi ilmu pengetahuan sejarah.

Nama Pangeran Wangsakerta mulal menarik minat kalangan sejarah, setelah diterbitkan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon dalam tahun 1720. Pangeran Arya Cirebon alias Pangeran Adiwijaya, adalah putera bungsu Sultan Kasepuhan pertama. la kemenakan Pangeran Wangsakerta.

Dalam percaturan Sejarah Tatar Sunda, Priangan khususnya, nama Pangeran Arya Cirebon cukup dikenal, karena sejak tahun 1706 ia ditunjuk oleh Kompeni Belanda menjadi opzichter para bupati di Priangan. la dinilail amat berhasil dan amat pandai, sehingga, setelah wafat dalam tahun 1723, Kompeni Belanda tidak sanggup mencari penggantinya, karena dianggap tidak ada tokoh yang mampu menyamainya.

Naskah Purwaka Caruban Nagari, memiliki kadar kesejarahan yang jauh lebih tinggi (jika dibandingkan dengan naskah babad atau sejenisnya), karena menyebutkan sumber penulisnya. Kalimat terakhir naskah tersebut memberitakan, bahwa cerita itu disusun oleh Pangeran Arya Cirebon, berdasarkan naskah Pustaka Nagara  Kretabhumi karya Pangeran Wangsa kerta.

Sebenarnya masih ada sebuah naskah lain, yang menyebutkan Pustaka Nagara Kretabhumi sebagai sumber, yaitu Pustaka Pakungwati Cirebon (1779 M) yang disusun oleh Wangsamanggala (Demang Cirebon) bersama Tirtamanggala (Demang Cirebon Girang). Dalam naskah ini, hanya pada halaman akhir disebutkan sebagai kutipan dari Pustaka Nagara Kretabhumi, yaitu mengenai pernah adanya Kerajaan Tarumanagara, dengan raja-rajanya yang memakal nama Warman sebagal pendahulu Kerajaan Pajajaran. Bagian selebihnya, tampil dalam gaya sastra babad biasa, yang penuh dengan hal-hal sensasional dan dibumbui supranatural.

Sejak naskah Purwaka Caruban Nagari diterbitkan tahun 1972, mulallah nama Pangeran Wangsakerta dikenal umum, sebagai pujangga penyusun naskah Pustaka Nagara Kretabhumi. Namun tak seorangpun mengetahui, naskah tersebut benar‑benar pernah ada atau tidak, dan kalau ada, tak seorangpun yang mengetahui tempatnya.

Setelah pelacakan yang intensif, namun dilakukan secara diam-diam selama 5 tahun oleh Drs. Atja, akhirnya naskah Pustaka Nagara Kretabhumi mulai ditemukan dan dibeli oleh Museum Negeri Sri Baduga (Jawa Barat) dalam pertengahan tahun 1977. Setelah itu, secara berturut‑turut, naskah-naskah lain karya Pangeran Wangsakerta, disampaikan kepada Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat dari para pemiliknya, yang kebanyakan berdomisili di luar Jawa.

Pakar sejarah Edi S. Ekadjati, dalam buku Naskah Sunda (1988), meriwayatkan tentang penemuan 47 buah naskah Pustaka Wangsakerta. Empat buah naskah di antaranya, ditemukan di Banten, antara lain:

  1.    Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara(Parwa II, Sarga 2), dikumpulkan antara tahun 1967‑1969 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (69 lembar) dari seorang pedagang, dan di Serang (Banten) sebanyak 33 lembar. Pada tahun 1977 naskah ini dijilid dan sudah lengkap. (Pemberi keterangan Siradjudin, tanggal 5‑2‑1978);
  2.    Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara(Parwa II, Sarga 3). Sebagian naskah ditemukan pada tahun 1949 di Palembang dan sebagian lainnya di Banten, dari seorang dukun keliling penjual jamu. Beberapa naskah yang ditemukan di Palembang pada tahun 1964, sebagian terendam lumpur, akibat banjir Sungai Musi. Baru tahun 1979, naskah ini terkumpul lengkap, setelah digabungkan dengan naskah yang ditemukan di Banten;
  3.    Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara(Parwa III, Sarga 5), dari Banten tanggal 4 September 1983;
  4.    Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa(Panyangkep), sebagian dari Palembang (Atmo Darmodjo), sebagian dari Serang (Yusuf, dan sebagian lagi dari Jambi (Hassan). Dikumpulkan tahun 1926‑1931 dan dijilid tahun 1978;

Dari 47 naskah Pangeran Wangsakerta, dapat diketahui, bahwa tebal tiap jilid bervariasi antara 100 sampal 250 halaman, dengan isi antara 21 sampal 23 baris tiap halaman. Berdasarkan laporan pengujian secara kimiawi di laboratorium Arsip Nasional (1988), kertas daluang yang digunakan dalam naskah‑naskah Pangeran Wangsakerta, sudah berusia lebih dari 100 tahun. Penelitian usia naskah‑naskah tersebut, kini sedang dilakukan di sebuah laboratorium di Jepang. Walaupun demikian, naskah‑naskah Pangeran Wangsakerta, sudah dapat dikategorikan ke dalam Naskah Kuno. Naskah‑naskah tersebut ditulis dengan tinta japaron, menggunakan aksara dan bahasa Kawi Jawa Kuno, gaya Cirebon.

Edi S. Ekadjati dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5A, Jawa Barat Koleksi Lima Lernbaga (1999), memperinci kondisi naskah‑naskah Pustaka Wangsakerta, di antaranya sebagal berikut:

Judul Naskah, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara.

Bahasa: Jawa Cirebon; aksara: Cacarakan; bentuk: Prosa; bahan naskah: Dluwang; Sampul: kertas tebal terbungkus kaln blacu; tebal: 214 halaman, halaman yang ditulis: 213 halaman, 1 halaman kosong; tinta hitam, tulisan umumnya masih terbaca.

Ukuran; sampul: 35,5 x 27,5 cm; halaman: 35,5 x 27,5 cm; tulisan: 32 x 22 cm.

Penomoran halaman ada dengan angka Cacarakan 1‑212 dan dua halaman tanpa nomor, yaitu halaman awal dan akhir. Penulisan nomor halaman pada margin atas tengah.

Keadaan fisik umumnya masih baik dan terpelihara. Kertas sangat kusam kehitam‑hitaman. Setiap lembar halaman dibingkal garis ganda, dan penjilidan ketat sehingga apabila dibuka salah satu permukaan halamannya melenting (Ekadjati,1999:187).

 

Dari naskah‑naskah yang terkumpul di Museum Negeri Sri Baduga (Jawa Barat), ternyata ada empat macam seri sejarah yang telah disusun oleh Pangeran Wangsakerta dan kawan‑kawan, yaitu:

  1.   Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara;
  2.   Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa;
  3.   Pustaka Nagara Kretabhumi;
  4.   Pustaka Carita Parahiyangan.

Berkat ditemukannya Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa V sarga 5, yang berupa katalog mengenal pustaka‑pustaka, dapat diketahui judul-judul seluruh naskah yang pernah disusun Pangeran Wangsakerta. Baik dalam jaman pemerintahan Panembahan Girilaya, maupun dalarn masa dirinya ketika menjadi Panembahan Cirebon.

Selain itu, dapat diketahui pula judul-judul naskah yang pernah ditulis oleh Panembahan Losari (jaman Susuhunan Jati) dan Pangeran Manis (jaman Panembahan Ratu). Katalog tersebut menampilkan 1703 judul naskah yang pernah ditulis di Keraton Cirebon, di antaranya 1218 judul berupa karya Pangeran Wangsakerta dan kawan‑kawan.

Naskah‑naskah tersebut mencakup berbagal bidang pengetahuan, seperti misalnya sejarah, hukum, dan kesehatan. Bahasa naskah pun sekurang-kurangnya mencakup bahasa‑bahasa Jawakuna, Melayukuna, Balikuna, dan Sundakuna. Khazanah perpustakaan itu umumnya terdiri dan naskah lontar dan prasasti (Ayatrohaedi,1985: 537).

Menurut Pangeran Wangsakerta, di antara pustaka milik keraton Kasepuhan itu, ada juga milik para Duta atau Mahakawi (Pujangga Besar; dari daerah lain, yang datang bermusyawarah (mapulung rahi) di Cirebon dalam tahun 1599 Saka (1677 M). Di antara mereka itu, banyak yang menghadiahkan naskah yang dibawanya, kepada Sultan Cirebon. Tapi ada juga yang meminjamkannya untuk sementara, dan setelah usai disalin atau dipelajari isinya, dibawa kembali ke negaranya. Hal yang menarik misalnya naskah‑naskah karya Prapanca dibawa oleh Mahakawi utusan dari Bali bukan oleh utusan dari Jawa Timur.

Ayatrohaedi menjelaskan dalam tulisan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, pada buku Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke III, bahwa setiap jilid Pustaka Wangsakerta, terdiri dari tiga bagian, yaitu:

  1.   Purwaka
  2.   Uraian kisah sejarah dalam jilid yang bersangkutan
  3.   Kolofon

Bagian purwaka, secara terperinci memberikan keterangan yang berkaitan dengan; nama naskah, parwa dan sarga, penyusun, sumber, alasan penyusunan, tujuan penyusunan, dan cara kerja yang lebih jauh menguraikan tentang hal‑hal yang berkaitan dengan; pembentukan panitia, pencarian sumber dan bahan, pengundangan nara sumber, penyelenggaraan sawala dan penugasan sangga, dan penyelesaian masalah yang muncul dalam sawala. Bagian inilah yang bersangkut paut dengan pertanggungjawaban ilmiah para penyusun.

Bagian kedua, merupakan uraian yang lebih banyak menyita bagian terbesar dalam tiap jilid, karena berisi keterangan kesejarahan yang sesuai dengan jilid yang bersangkutan. Sedangkan kolofon berisi keterangan mengenai akhir penulisan jilid tersebut (Ayatrohaedi,1985: 530‑557).

 

  • Gotrasawala

 

Dari semua naskah yang telah terkumpul, dapatlah diketahui bahwa untuk tiap-tiap Jilid, Pangeran Wangsakerta selalu menyajikan kata pengantar yang berisi keterangan, tentang asal usul penulisnya dan kadang‑kadang tentang siapa‑siapa yang ikut serta menyusunnya. Kata pengantar itu kadang-kadang lebar, kadang‑kadang amat ringkas.

Dari kata pengantarnya itulah diketahui, bahwa dalam tahun 1677 M, di Keraton Kasepuhan pernah diadakan mapulung rahi (silaturahmi kekeluargaan) dan gotrauawala  (musyawarah) Para Akhli Sejarah dari Seluruh Nusantara. Musyawarah tersebut diadakan, atas permintaan Sultan Kasepuhan dan Sultan Kanoman, untuk melaksanakan amanat Panembahan Girilaya kepada Pangeran Wangsakerta, agar ia menyusun Sejarah Kerajaan‑kerajaan di Nusantara (Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara). Pelaksanaannya, mendapat restu dari Susuhunan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) dan Susuhunan Mataram (Amangkurat I).

Susunan lengkap kepanitiaan gotrasawala (musyawarah) itu tertera dalam kata pengantarnya, adalah sebagai berikut:

  1.    Penanggungjawab (tuan rumah): Sultan Sepuh dan Sultan Anom
  2.    Ketua musyawarah (penulis): Pangeran Wangsakerta
  3.    Penasehat:
  4.    Dharmadyaksa Karasulan (Ulama Islam) dari Arab
  5.    Dharmadyaksa Kasewan (Ulama Hindu Siwa) dari India
  6.    Dharmadyaksa Kawesnawan (Ulama Hindu Wisnu) dari Jawa Timur
  7.    Dharmadyaksa Kasogatan (Ulama Budha) dari Jawa Tengah
  8.    Dharmadyaksa Kong Pu Ce (Ulama Konghutsu) dari Semarang.
  9.    Panitia Pelaksana, Jaksa Pepitu Cirebon, yang terdiri dari:
  10.    Raksanagara: penulis naskah dan pengatur pertemuan
  11.    Anggadiraksa: wakil penulis naskah dan bendahara
  12.    Purbanagara: pengumpul dan penyeleksi bahan naskah
  13.    Singanagara: penanggungjawab keamanan
  14.    Anggadipraja: duta keliling, undangan dan juru bahasa
  15.    Anggaraksa penanggung jawab konsumsi
  16.    Nayapati; penanggung jawab akomodasi dan angkutan
  17.    Para Peserta, utusan dari berbagai daerah yang dibentuk menjadi 5 sangga (kelompok), yaitu:

 

Sangga I: Surabaya, Pasuruan, Panarukan, Balambangan, Bali, Madura, Makasar, Banggawi, Maluku, Galiyao, Seran, Lwah Gajah, Ambon, Gurun, Taliwang, Bantayan, Banten dan Palembang.

Sangga II: Mataram, Lasem, Tuban, Wirasaba, Kediri, Semarang, Mojoagung, Bagelan, Dermayu, Losari, Brebes, Tegal, Jepara, Mantingan dan Bonang

Sangga III: Jayakarta, Demak, Kudus, Cirebon, Pasai, Geresik, Tanjungpura Karawang, Cangkuang, Kuningan, Lamongan, Tembayat, Sedayu, Malaka, Barus, Tumasik, dan Trengganu.

Sangga IV: Sumedang, Sukapura, Parakan Muncang, Galunggung, Rancamaya, Ukur, Talaga, Sindangkasih, Galuh, Kertabumi, Rajagaluh, Luragung, Imbanagara, Giri dan Sendang Duwur.

Sangga V: Jambi, Bangka, Perelak, Berunai, Lamuri, Kuta Lingga, Tanjung Kutai, Tanjung Puri, Tanjung Nagara, Minangkabau, Kamperharwa (Mandailing) dan Siak.

 

  1. Pendengar (pangreungeu), dari negara tetangga yaitu: Mesir, Arab, India, Sri Langka, Benggala, Campa, Cina, dan Ujung Mendini (Semenanjung Malaka).

 

Para pendengar ini hanya menyaksikan musyawarah dan tidak mempunyai hak suara. Namun di antaranya, ada yang memberikan naskah-naskah berupa piagam perjanjian negara mereka dengan Kompeni Belanda. Tahap‑tahap pembahasan dan penulisan diatur sebagai berikut:

 

  1. tiap anggota sangga harus menyusun (menyajikan) sejarah daerahnya masingy‑masing yang isinya harus disepakati oleh sidang sangga;
  2.    hasil musyawarah dalam sangga harus dikemukakan dalam sidang lengkap oleh seseorang paujar(juru bicara);
  3.    dinilai kebenarannya oleh para penasihat;
  4. dinilai kecocokannya dengan isi pustaka yang telah diakui keabsahannya;
  5. setelah disepakati bersama, dibuat risalah resmi;
  6. dimintakan persetujuan (restu dari keempat sultan sponsor);
  7.    dibukukan (pinustaka) oleh penyurat dengan tanggungjawab Pangeran Wangsakerta (pekerjaan inilah yang memakan waktu 22 tahun lamanya). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ayatrohaedi (1985), bahwa naskah-naskah Pustaka Wangsakerta, digarap berdasarkan sistematika dan organisasi, yang secara taat asas dipegang oleh para penyusunnya.

 

  1. CARA KERJA PANGERAN WANGSAKERTA

 

Gambaran umum tentang bagaimana cara Pangeran Wangsakerta bekerja, dalam upaya menyusun naskah sejarah, dapat dilihat dengan baik dalam kata pendahuluan yang disajikan dalam naskahnya Sebagai contoh, dapat dikemukakan terjemahan kata pendahuluan dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa IV sarga 1, yang terjemahannya antara lain sebagai berikut:

Pada saat menyusun naskah ini, demikian pula pada waktu menyusun pustaka‑pustaka lainnya, aku senantiasa menemui kesulitan‑kesulitan yang menimbulkan beberapa kesukaran. Sebabnya ialah ada beberapa mahakawi dan menteri‑menteri utusan yang berbeda pendapat dalam mengutarakan sejarah negaranya masing‑masing mengenai: kejayaannya, tahun pemerintahan raja‑rajanya, tahun berdirinya sesuatu kerajaan, keturunan raja-rajanya, istri raja, meletusnya suatu pemberontakan, tahun wafat raja dan banyak hal lagi.

Demikianlah misalnya mahakawi dari Jawa dan mahakawi dari Sunda, lalu mahakawi dari Banten dan mahakawi dari Mataram dan Cirebon saling berbeda dan saling bertentangan dalam pembicaraan mengenai negaranya masing-masing. Demikian pula mahakawi dan Kudus dan Sumedang dengan mahakawi dari Cirebon dan Pasai. Lalu mahakawi dari Sumatra dengan mahakawi dari Jawa Timur. Terjadilah kericuhan yang nyaris mencetuskan pertentangan. Hampir‑hampir tak ditemukan kisah sejarah yang sesungguhnya (kathekang tatwa).

Pertentangan timbul pula antara mahakawi dari Jayakarta, Cirebon dan Banten dengan mahakawi dari Mataram. Demikian pula mahakawi dari Makasar berselisih paham dengan mahakawi dari Mataram, Madura dan Banten. Timbul pula pertentangan pendapat antara mahakawi dari Kutai dengan utusan Palembang dan Ukur.

Namun lebih parah lagi keadaan dalam sidang kelima kelompok para mahakawi dan menteri. Para peserta musyawarah saling memarahi sehingga akhirnya timbul kericuhan. Hampir mereka itu berperang‑tanding (madwanda yudha) dalam ruang sidang, terutama dalam saat-saat awal penulisan naskah.

Adapun para mahakawi utusan dari negeri seberang dan negeri asing hanyalah hadir sebagai saksi. Tetapi mereka memberikan catatan, termasuk beberapa surat dari Belanda yang ada di negaranya.

Juru bicara (paujar) hanya ada lima orang yang harus mengutarakan kisah sejarah yang sesungguhnya. Tetapi di antara mereka itu ada yang menyampaikan pandangannya secara berlebih‑lebihan (wakrokti). Ada cerita yang sesungguhnya tak pernah terjadi (niskarana), melainkan hanya hasil pikiran khayal (cittanung maya) dan keliru (wiparita). Kisah bualan seperti itu tidak diambil dan tidak dijadikan catatan.

Ada yang melontarkan kata‑kata menghina dan tidak layak sampai hampir menimbulkan kericuhan. Hanyalah karena aku telah cukup banyak mempelajari bermacam‑macam pustaka tentang sejarah kerajaan‑kerajaan di Nusantara dan memiliki aneka macam pustaka tentang kerajaan‑kerajaan akhirnya aku berhasil mengatasi mereka, dan juga karena aku menjadi ketua mereka dalam musyawarah ini.

Karena itu aku menempuh jalan tengah. Walaupun begitu aku senantiasa  bermusyawarah dan berunding lebih dahulu dengan mereka terus menerus, lebih‑lebih dengan para sesepuh, mahakawi dan para duta kerajaan yang tinggi pengetahuannya (widyanipuna).

Dengan cara ini akhirnya mereka bersedia mengutarakan kisah sejarah yang sebenarnya, tidak lagi dibuat‑buat. Tugas yang aku hadapi tidak sulit lagi. Lagi pula mereka telah sepakat akan mengikuti amanat Sultan Sepuh Cirebon. Mereka bersepakat sama‑sama mengharapkan hasil sempurna dari karya besar ini yaitu: menyusun pustaka yang akan menjadi tuntunan pengetahuan sejarah (panghulu widya ning katha), terutama bagi semua penduduk dari segala lapisan (kanistamadyau mottama) dan lebih‑lebih lagi untuk pustaka pegangan raja yang memerintah negara atau daerah.

 

 Dalam beberapa hari aku berupaya sekuat tenaga sampai akhirnya semua kesulitan dapat diatasi dan naskah yang kami susun dapat disetujui seutuhnya. Walaupun demikian, maafkanlah seandainya terdapat kekeliruan dalam penyusunan pustaka ini.

Lebih,dahulu aku berdoa kepada Hyang Tunggal Yang Maha Kuasa: semoga selamat sentosa. Hindarkanlah kami dari perbuatan dosa dan malapetaka. Hilangkanlah segala perbuatan jahat dan bahaya perbuatan khianat yang akan merusak negara kami semua, dan semoga berikanlah kesejahteraan kepada kami peserta musyawarah yang menyusun pustaka ini sebagai bahan pengetahuan bagi masa yang akan datang dan masa kini (natgata wartanana), terutama sebagai pengetahuan tentang raja‑raja beserta kerajaannya, agamanya, tanahnya dan masyarakatnya dalam kehidupan di bumi Nusantara ini.

Pustaka ini hendaknya dijadikan tonggak segala kisah, dan kami sama sekali tidak menyimpang dari kisah yang sebenarnya karena hal itu telah merupakan hasil penelitian yang seksama mengenai kebenarannya serta senantiasa akan berguna sebagai penuntun bagi masyarakat dan segala lapisan sejak saat ini sampai masa yang akan datang.

 

Dalam jilid yang lain, kadang kadang ia mempertaruhkan integritasnya sebagai keturunan Susuhunan Jati (Sunan Gunung Jati) yang tidak boleh berbohong dalam membela keabsahan isi naskahnya. la pun biasa menunjuk sumber‑sumber tertulis atau lisan, sebagai referensi dalam penyusunan naskahnya, baik secara khusus maupun sambil lalu.

Patut disayangkan, bahwa Pangeran Wangsakerta tidak menyebutkan tanggal dan bulan pelaksanaan silaturahmi dan musyawarah para akhli sejarah se‑Nusantara di Cirebon itu. la hanya menyebutkan tahun 1599 Saka yang bertepatan dengan tahun 1677 Masehi. Dalam naskah‑naskahnya Pangeran Wangsakerta, selalu menggunakan sistem penanggalan Saka Hindu.

Dapat diketahui, bahwa Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parvva I sarga 1, selesai dibukukan pada tanggal 1 bagian terang bulan Srawana tahun 1599 Saka (dengan sangkala: nawa gapura marga raja). Tanggal tersebut,jatuh pada minggu pertama bulan Juli tahun 1677 Masehi. Karena itu, maka Gotrasawala (musyawarah) tersebut, diduga terjadi sebelum bulan Juli pada tahun itu juga

Melihat hasil musyawarah sebanyak yang termuat dalam naskah‑naskah Pangeran Wangsakerta, ditambah dengan permasalahan yang terjadi selama penyusunan, mungkin sekali musyawarah itu sendiri dilangsungkan dalam kuartal pertama tahun 1677 Masehi. Penulisan naskah menjadi pustaka, memang baru dilakukan kemudian, oleh Jaksa Pepitu, mungkin oleh Raksanagara dan Anggadiraksa, yang menjadi penulis dan wakil penulis dalam musyawarah. Dilihat dari gaya tulisannya, naskah‑naskah itu harus dikerjakan oleh lebih dari satu orang.

Bila demikian halnya, musyawarah itu telah berlangsung, sebelum Pangeran Mertawijaya dan Pangeran Kertawijaya dikukuhkan menjadi pengganti ayahandanya, sebagai para penguasa Cirebon. Kedudukan sebagai Panembahan Sepuh, dan Panembahan Anom, sebenarnya telah diperoleh sejak Panembahan Girilaya wafat tahun 1662. Namun mereka tetap tidak diijinkan pulang oleh Sunan Amangkurat I. Kemudian, terjadi penyerbuan Trunojoyo, sehingga Karta ibukota Mataram, dapat direbutnya pada tanggal 12 Juli 1677.

Mereka kemudian dibebaskan di Kediri alas desakan Sultan Ageng Tirtayasa. Pelantikan ketiga Penguasa Cirebon (Sultan Kasepuhan, Sultan Kanoman, dan Panembahan Kacirebonan), berlangsung di Keraton Surasowan Banten. Setelah itu, barulah mereka diantarkan pulang ke Cirebon.

Permasalahannya, adalah keterangan Wangsakerta, yang pienyebutkan bahwa Sultan Sepuh memberikan amanat dalam musyawarah tersebut, walaupun tidak dijelaskan, apakah amanat itu diberikan secara lisan atau tertulis. Dalam kenyataannya, Pangeran Wangsakerta telah 17 tahun menjadi pemegang pemerintahan sehari‑hari, mewakili ayahnya 12 tahun (1650-1662), ditambah 5 tahun masa vakum (kekosongan kekuasaan), karena kedua kakaknya tetap berada di ibukota Mataram. Dengan demikian, ia tidak canggung melaksanakan musyawarah tersebut, bahkan rumah tinggalnyapun berdekatan dengan Keraton Kasepuhan. Sesungguhnya dialah yang menjadi tonggak musyawarah itu.

Di antara amanat Sultan Sepuh itu, adalah pesan: supaya para peserta musyawarah berada dalam suasana persaudaraan dan melupakan pertikaian di antara negara‑negara yang mewakilinya demi kesempurnaan karya besar (karyagheng) yang mereka hadapi.

Dalam kaitannya dengan alasan penyusunan, ada dua hal yang menarik. Alasan pertama, ialah karena melihat kenyataan, bahwa pengetahuan yang dimiliki orang pada masa itu masih lepas‑lepas (fragmen). Alasan kedua ialah, karena para penyusun memperoleh tugas, dari orang yang sangat mereka hormati, yaitu:

 

  1.    Pangeran Rasmi yang bergelar Panembahan Adiningratkusuma atau yang lebih dikenal sebagal Panembahan Girilaya, yaitu ayah Pangeran Wangsakerta;
  2.    Pangeran Abulfath Abdulfatah, yang lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten; dan
  3.    Pangeran Arya Prabhu Adi Mataram, yaitu Susuhunan Amangkurat I dari Mataram.

 

Bagi Pangeran Wangsakerta dan para jaksa Pepitu, musyawarah tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan mereka, yang telah lama menekuni masalah sejarah Nusantara. Tahun 1676, Pangeran Wangsakerta telah menyelesaikan terjemahan naskah Dharmakirti, hasil salinan Pangeran Losari (1518 M) yang telah suram huruf‑hurufnya. Naskah inilah yang disajikan sebagai sumber utama tentang riwayat pembentukan bumi serta isinya termasuk kemunculan mahluk manusia setengah hewan sampai kepada kehadiran manusia sempurna (manusapurna).

Ambahan atau luas jelajah kisah sejarah yang ditampilkan oleh Pangeran Wangsakerta, meliputi karun waktu yang disebutnya Purwayuga, yaitu sejak Nusantara dihuni oleh mahluk manusia hewan (satwaprurusa). Secara runtut berlangsung, kira-kira sejuta tahun sebelum tarikh Saka, sampai peristiwa perjanjian antara Cirebon dengan VOC tahun 1681. Bahkan, waktu itu ia menyebutkan tokot-tokoh yang dipusarakan di Giri Saptarengga, yaitu Gunung Sembung yang oleh umum disebut makam Gunung Jati. Disana, pada salah sebuah nisan, tertulis Sultan Sepuh I yang wafat tahun 1697.

Dari naskah‑naskah yang terkumpul, baru dapat diketahui peristiwa-peristiwa dun urutan pemerintahan raja‑raja, lengkap dengan tahun pemerintahamrya di beberapa daerah yaitu: Perelak, Samudera Pasai, Sriwijaya, Tatar Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin dun Nusa Bali. Kita pun dapat menemukan kisah patriotik Sultan Ageng Tirtayasa dari Kerajaan Islam Surasowan Banten, juga tokoh Laksamana wanita Malahayati dari Kerajaan Aceh Darussalam, dun Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Banjar.

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, dipaparkannya sejak masa pemerintahan Darmawangsa. lengkap dengan mazhab yang dianut oleh para penyiarnya. Juga ia menguraikan siapa sesungguhnya tokoh Fatimah binti Maimun, yang kehadiran makamnya di Desa Leran, masih merupakan salah satu misteri sejarah di Indonesia. Menurut pendapat Saleh Danasasmita (1984), dalam beberapa hal, uraiannya tepat sejalan dengan isi prasasti yang telah dikenal. Sedangkan beberapa hal lainnya, dapat dikatagorikan logis, dalam arti tidak bertentangan dengan prasasti yang ada.

Ciri gaya penulisan umum dalam jamannya, hanya tampak bila ia melukiskan kecantikan seorang wanita, atau melukiskan peran dengan ungkapan yang hampir selalu sama. la menyisipkan kata “meriam” sebagal peralatan perang pasukan Demak, saat mereka membantu Cirebon berperang dengan Kerajaan Galuh di Palimanan, dekat Bukit Gempol tahun 1528.

Dalam ambahan sumber, Pangeran Wangsakerta pun sering tertumbuk kepada perbedaan keterangan. Dalam hal yang demikian, ia berusaha mengambil jalan tengah (kalap langkah tengah), dengan cara mengkompromikannya. Bila hal itu tidak mungkin, maka ia menyajikan semua keterangan menurut versinya musing-masing, dengan menyebutkan siapa yang menjadi sumbernya.

 

  1. PANGERAN WANGSAKERTA

 

Saleh Danasasmita, pada tahun 1986 telah berhasil mengidentifikasi Pangeran Wangsakerta, melalui tulisan ilmiah Pangeran Wangsakerta. Sebagai Sejarawan Abad XVII. Tulisan tersebut berupa makalah, pernah disampaikan dalam Seminar Kebudayaan Sunda Proyek Sundanologi Depdikbud di Bandung, pada tanggal 9‑11 Maret 1986.

Menurut Saleh Danasasmita, tokoh Pangeran Wangsakerta, nyaris tidak dikenal oleh umum. Bahkan di lingkungan kerabat keraton Cirebon, ia hanya dikenal sebagai Panembahan Cirebon I, tanpa nilai khusus, kecuali sebagai Asisten Sultan Sepuh.

Di gedung Arsip Nasional, tersimpan sebuah dokumen, berupa naskah perjanjian antara Cirebon dengan Kompeni Belanda tanggal 7 Januari 1681. Dokumen tersebut ditulis dalam dua bahasa. Pada bagian kiri berbahasa Melayu Arab, pada bagian kanan berbahasa Belanda dengan huruf latin.

Di bagian bawah naskah sebelah kiri, terdapat 9 nama penandatangan perjanjian dari pihak Cirebon. Pada urutan ketiga, tertulis nama Wangsakerta dalam huruf cacarakan. Dalam naskah tersebut, dicantumkan dengan tegas, bahwa pemegang kekuasaan di Cirebon ada tiga orang, termasuk Pangeran Wangsakerta di antaranya. Berdasarkan dokumen tersebut dapat dipastikan, bahwa tokoh Pangeran Wangsakerta, sebagal salah seorang penguasa Cirebon, dalam pertengahan kedua abad ke‑17, ternyata benar-benar ada.

Dr. F. de Haan dalam buku Priangan II (1912), membicarakan tokoh Pangeran Wangsakerta dengan sebutan Depati Topati. Dalam sumber Kompeni lainnya, ia lebih dikenal sebagai de derde Prins van Cheribon (Pangeran yang ketiga dari Cirebon).

Catatan Harian Kompeni, Daggh Register geharden int Casteel Batavia: 19 November 1677 memuat laporan Caeff (wakil Kompeni di Banten), yang memberitakan: bahwa de derde Prins baru saja kembali ke Cirebon dari kunjungannya ke keraton Banten. Namun dalam Dagh Register 21 Desember 1677 Caeff melaporkan, bahwa berita tersebut “tidak benar”. Karena kesal, De Haan mengumpat Caeff; Di mana orang itu menaruh matanya? (War zijne oogen gehad?).

Mengenai hubungan antara Pangeran Wangsakerta dengan kerabat keraton Banten, De Haan (1912, 260 paragraf 425) mengutip laporan B. van der Meer dan Jan Mulder, bahwa Sultan Anom masih terhitung kerabat keraton Banten. Sedangkan Dipati Topati, sama sekali bukan.

Di lingkungan terbatas kerabat keraton, dikenal adanya sebuah naskah wawacan, dikisahkan bahwa Pangeran Kertawijaya (Sultan Anom) berbeda ibu dengan Pangeran Mertawijaya (Sultan Sepuh) dan Pangeran Wangsakerta. Ibunda Pangeran Kertawijaya berasal dari Banten, sedangkan Ibunda kedua orang saudaranya berasal dari Mataram. Kekisruhan tersebut menunjukkan bahwa riwayat hidup Pangeran Wangsakerta, termasuk kedudukannya di Cirebon, masih sangat kabur.

Untuk menjernihkan kekisruhan tersebut, kita perhatikan keterangan dari Pangeran Wangsakerta sendiri, dalam naskah Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 4 (Halaman 86-88) yang terjemahannya sebagai berikut:

 

Telah dikisahkan terdahulu bahwa Puteri Ratu Ayu Sakluh berjodoh dengan Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Mataram. Dari perkawinan tersebut, lahir Sunan Tegalwangi yaitu Amangkurat yang pertama. Sunan Tegalwangi berputera Amangkurat kedua yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Penguasa Mataram. Puteri Sunan Tegalwangi berjodoh dengan Pangeran Putra yaitu Panembahan Girilaya putra Pangeran Seda ing Gayam.

Dari puteri Mataram, Panembahan Girilaya berputra tiga, yaitu: Pangeran Mertawijaya alias Pangeran Samsudin yang menjadi Sultan Kasepuhan pertama, adiknya. Pangeran Kertawijaya alias Pangeran Badridin yang menjadi Sultan Kanoman pertama, dan adiknya yang bungsu yaitu Pangeran Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cirebon pertama.

Karena Ratu Ayu Sakluh itu kakak Panembahan Ratu, maka raja Cirebon dengan raja Mataram masih berkerabat. Tapi raja Matararn, Sunan Tegalwangi, senantiasa ingin merebut Cirebon. Sementara itu raja Cirebon juga berkerabat dengan raja Banten padahal Banten dengan Mataram selalu bermusuhan.

Adapun awal pembentukan Kasepuhan dan Kanoman, pada tahun 1599 Saka (1677 M). Empat tahun kemudian, Cirebon mengadakan perjanjian persahabatan (mitranan) dengan Kompeni Belanda. Yang menandatangani surat perjanjian ink yaitu: Sultan Kasepuhan yang pertama Pangeran Samsudin Mertawijaya, Sultan Kanoman pertama Pangeran Badridin Kertawijaya, kemudian semua pejabat tinggi negeri Cirebon yang disebut jaksa Pepitu, yaitu: Panembahan Ageng Gusti Cirebon yaitu Pangeran Wangsakerta dan para jaksa Pepitu masing-masing: Raksanagara, Purbanagara, Anggadireksa, Anggadiprana, Anggaraksa, Singanagara, dan Nayapati. Sang Panembahan (Pangeran Wangsakerta) adalah ketua dari jaksa Pepitu itu.

Penandatangan dari pihak Kompeni Belanda adalah: Yakub Bule (Jakob van Dijk) dan Kapitan Misel (Michielsz). Peristiwa itu berlangsung di keraton Kasepuhan.

Setelah Panembahan Ratu wafat, ia digantikan oleh cucunya yaitu Raden Putra alias Raden Rasmi yang kemudian disebut Pangeran Panembahan Adining Kusuma. la bergelar Panembahan Ratu II putera Pangeran Seda ing Gayam, yang wafat ketika ayahnya yaitu Panembahan Ratu I masih hidup. Panembahan Adining Kusuma menjadi penguasa Cirebon selama 12 tahun. Setelah wafat, Pangeran Raden Putra disebut Pangeran Panembahan Girilaya.

Selama menjadi penguasa Cirebon ia selalu berada di Mataram bersama kedua orang putranya yaitu: Pangeran Samsudin Mertawijaya dan Pangeran Badridin Kertawijaya. Adapun putra Pangeran Panembahan Girilaya yang ketiga tinggal di keraton Cirebon mewakili ayahnya.

Setelah Pangeran Panembahan Girilaya wafat, Pangeran Samsudin Mertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Sepuh kemudian disebut Sultan Kasepuhan pertama, adiknya, Pangeran Badridin Kertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Anom kemudian disebut Sultan Kanoman pertama dan adiknya, Pangeran Wangsakerta ditunjuk menjadi sultan ketiga dengan gelar Panembahan Cirebon.

Pada waktu itu tiga negara ingin menguasai Cirebon yaitu: Banten, Mataram dan Belanda, padahal para sultan menghendaki negaranya merdeka. Sementara itu raja Mataram, Susuhunan Amangkurat pertama sedang bermusuhan dengan Trunojoyo yaitu putra Adipati Madura Pangeran Cakraningrat.

Tentara Madura yang dipimpin oleh Trunojoyo bergabung dengan tentara Makasar yang dikepalai Kraeng Galesung dan Monte Marano. Dalam pertempuran di berbagai daerah, tentara Mataram selalu menderita kekalahan. Tak lama kemudian tentara Madura dan tentara Makasar berhasil merebut Karta ibukota Mataram. Susuhunan Amangkurat dan putranya, Pangeran Dipati Anom beserta para pengiringnya melarikan diri ke arah barat. Kemudian Sunan Mataram wafat di Tegalwangi. Karena itulah Susuhunan Amangkurat pertama digelari Susuhunan Tegalwangi. Setelah itu putranya, Pangeran Dipati Anom, menggantikan ayahnya menjadi Susuhunan Amangkurat kedua.

Ketika Ibukota Mataram direbut oleh tentara Madura dan Makasar, Panembahan Sepuh Samsudin Mertawijaya dan Panembahan Anom Cirebon berada di sana. Mereka ditawan oleh Trunojoyo lalu dibawa ke Kediri. Juga Ratu Blitar serta beberapa kaulanya tertangkap oleh Trunojoyo dan dibawa ke Kediri. Di sana para pangeran dari Cirebon bersama Ratu Blitar mendapat perlakuan hormat dari Trunojoyo.

Pangeran Wangsakerta Panembahan Cirebon, yaitu aku sendiri, ingin membebaskan kakakku dari bencana tersebut. Karena itu aku beserta rombongan para pejabat tinggi pergi ke Banten. Dengan sungguh-sungguh aku memohon bantuan kepada Sultan Ageng Tirtayasa Banten agar ia berusaha membebaskan kakakku karena Sultan Banten masih kerabatku.

Kemudian anggota rombonganku bersama tentara Banten pergi naik kapal perang Banten menuju Jawa Timur dan selanjutnya ke Kediri. Trunojoyo dikirim surat oleh Sultan Banten yang berisi permintaan agar para pangeran dari Cirebon beserta pengiringnya dibebaskan. Bersamaan dengan itu Sultan Banten memberikan hadiah dan bantuan berupa senjata kepada Trunojoyo karena Sultan Banten bersekutu dengan Trunojoyo dalam permusuhan mereka terhadap Mataram dan Belanda. Penguasa Banten menyampaikan rasa suka citanya karena Trunojoyo berhasil merebut ibukota Mataram.

Pangeran Madura itu bersikap hormat kepada anggota rombongan utusanku dan menjamu dengan bermacam‑macam hidangan yang serba lezat. Akhirnya Panembahan Sepuh, Panembahan Anom beserta pengiringnya demikian juga Ratu Blitar dibebaskan oleh Trunojoyo.

Setelah itu anggota rombonganku membawa kakakku dan Ratu Blitar ke Banten. Di sana Sultan Ageng Banten menerima kedatangan rombonganku bersama Panembahan Sepuh dan Panembahan Anom Cirebon.

Lalu Sultan Banten mewisuda kami, Pangeran Samsudin Mertawiijaya ditunjuk menjadi Sultan Sepuh yang kemudian disebut Sultan Kasepuhan, Pangeran Badridin Kertawrijaya ditunjuk menjadi Sultan Anom yang kemudian disebut Sultan Kanoman dan Pangeran Wangsakerta ditunjuk menjadi Sultan ketiga dengan sebutan Panembahan Ageng Gusti Cirebon alias Panembahan Tohpati atau Abdul Kamil Mohammad Nasarudin namanya yang lain.

Setelah itu kami pulang ke Cirebon dan Sultan Banten meminta agar kami memusuhi Mataram dan Belanda.  Sejak saat itulah berdiri Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman dan Panembahan Cirebon.

Kutipan di atas, merupakan kisah yang dialami sendiri oleh Pangeran Wangsakerta, sehingga dapat menghapus segala kekisruhan, akibat bermacam‑macam dugaan yang ditulis pada masa kemudian.

 

***

 

BAGIAN : 2.  SALAKANAGARA

 

  1. PURWAYUGA 

 

Sedemikian jauh, di Tatar Sunda belum ditemukan fosil manusia yang berasal dari lapisan Pleistosen‑Bawah, maupun dari lapisan Pleistosen‑Tengah. Akan tetapi, dengan ditemukannya fosil manusia Pithecanthropus Mojokertemis dan Meganthropus Palaeojavanicus dari lapisan tanah PleistosenvbTengah di Jetis dekat Sangiran (Mojokerto), kemudian ditemukan pula fosil manusia dari lapisan Pleistosen‑Tengah di Trinil tepi Bengawan Solo dari jenis Pithecanthropus Erectus kemungkinan yang sama, bisa saja terjadi di Tatar Sunda.

 

Sebelum kemungkinan itu terbukti, berdasarkan Naskah Pangeran Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Parwa I Sarga 1, dikemukakan kisah tentang Purwayuga (Zaman Purba), antara lain sebagai berikut:

 

…// witan sarga  kala niking bhumitala / bhumitala pinakagni dumilah mwang usna //prayuta warsa tumuli kukm peteng rat bhumandala canaih canaih dumanarawata sirna / bhumi mahatis yadyastun mangkana/ tatan hang jang gama / ateher bhumandala nikang dadi prawata lawan sagara//prayuta warsa tumuli dadi to sthawarahalit ateher dadi to janggama prakara satwa / ateher satwekang hanengsagara/makadi mina mwang sarwa mina // ri huwus ika prayuta warsa tumuli sthawarekang nanawidha mwang ring samangkana dadi to jang gama satwa raksasanung nanawidha prakaranya/atehersanuwa jang gama satwa binturun mwang sadwa lenya waneh/ kadi waraha / turangga mwang lenya manih // ateher prayuta wana tumuluy dadi to janggama prakara manusadhama lawan tatan pcmna// liana Pwa Purwwajanma purusa satwa/ atelier lawasira mewu iwu warsa manih / akre ti saparwa satwa sapxarwa manusa// lawas ri huwus ika dadi to purusakara/ ateher manusadhama mwang wekasan dadi ta purusa pumna //a. (Wangsakerta,1677: 2422)

 

Terjemahan:

Pada awal masa penciptaan permulaan bumi (bhumitala), permukaan bumi menyerupai api yang bercahaya dan menyala. Berjuta juta tahun kemudian asap gelap di seluruh muka bumi secara berangsur‑angsur dan terus menerus seluruhnya menghilang. Bumi menjadi dingin. Namun demikian, belum ada mahluk hidup. Kemudian, permukaan bumi ini menjadi gunung-gunung dan lautan.

 Beberapa juta tahun kemudian muncullah tumbuh‑tumbuhan kecil, lalu muncul mahluk hidup berupa hewan; kemudian hewan yang hidup di lautan seperti ikan dan sejenisnya. Beberapa juta tahun kemudian, muncul berjenis‑jenis tumbuhan dan hewan raksasa yang beraneka ragam jenisnya; kemudian bermacam‑macam mahluk hewan unggas serta hewan lainnya seperti babi hutan dan kuda.

Berjuta juta tahun kemudian, muncullah mahluk hidup berwujud manusia tingkatan rendah dan belum sempurna. Mereka adalah manusia purba, manusia hewan, yang seterusnya setelah beribu‑ribu tahun kemudian berwujud separuh hewan separuh jenis manusia sempurna.

 

Kira‑kira 1.000.000 tahun sampai 600.000 tahun yang silam di Nusantara, terutama di Pulau Jawa, hidup manusia yang masih rendah pekertinya dan bersifat seperti hewan. Ada juga yang menyebutnya manusia hewan (satwa‑purusa) dari zaman purba, karena mereka berlaku seperti setengah hewan. Di antaranya ada yang menyerupai kera, besar dan tinggi sosok tubuhnya, tanpa busana. Ada pula yang seperti raksasa, tubuhnya berbulu dan kejam perangamya.

Ada jenis lain lagi di daerah hutan dan pegunungan yang lain. Mereka mirip kera. Ada yang tinggal di atas pohon, di lereng gunung dan tepi sungai. Mereka berkelahi dan membunuh tanpa menggunakan senjata, hanya menggunakan tangan. Mereka tidak berpakaian dan tidak memiliki budi pekerti seperti manusia sekarang. Kesenangannya ialah berayun‑ayun pada cabang pohon. Manusia hewan ini terdapat di hutan pulau Jawa, hutan Sumatera, hutan Makasar, dan hutan Kalimantan (Bakulapura).

Di daerah lain di Pulau Jawa, antara 750.000 sampai 300.000 tahun yang silam, hidup manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia. Kulitnya berwarna gelap, tingkah lakunya baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan manusia hewan yang berjalan seperti hewan. Tiap hari mereka membuat senjata dari bahan tulang dan batu. Mereka selalu diserang oleh sekelompok manusia hewan yang menyerupai kera. Pertempuran di antara kedua kelompok itu selalu seru. Akan tetapi, manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu lebih mahir dalam teknik berkelahi, sehingga akhirnya mahluk manusia hewan yang berjalan seperti hewan itu habis terbunuh tanpa sisa dan lenyap dari muka burni. Manusia hewan yang berjalan seperti manusia itu, disebut juga manusia raksasa (bhutapurusa). Mereka tinggal di dalam goa di lereng gunung.

Manusia jenis ini akhirnya punah karena sejak 600.000 tahun yang silam mereka banyak dibunuh oleh manusia pendatang dari benua utara. Mereka berasal dari Yawana lalu menyebar ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Pulau Jawa. Kira‑kira 250.000 tahun yang silam, manusia hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu habis binasa. Zaman ini oleh para mahakawi dinamai masa purba yang pertama (prathama purwwayuga).

Sementara itu, antara 500.000 sampai 300.000 tahun yang silam, di Sumatera, Jawa Kulwan (Barat) dan Jawa Tengah, hidup manusia yaksa (yaksapurusa) karena rupa mereka seperti yaksa atau danawa. Mereka bertubuh tegap dan tinggi serta senang meminum darah manusia sesamanya, musuh, ataupun binatang. Perangainya kejam dan bertabiat seperti binatang buas. Mahluk jenis ini pun akhirnya punah karena banyak terbunuh dalam pertempuran dengan kaum pendatang baru dari benua utara.

Seterusnya, antara 300.000 sampai 50.000 tahun yang silam, di Jawa Barat dan Jawa Tengah pernah hidup manusia berwujud setengah yaksa (manusia yaksa mantare). Kelompok manusia ini belum diketahui asal-usulnya sebab hampir sama rupanya dengan manusia yaksa yang punah. Akan tetapi bertubuh lebih kecil, berwarna kuit agak gelap, tidak banyak berbulu, serta susila dan cerdas jika dibandingkan dengan manusia yaksa yang telah punah. Kelompok inipun akhirnya punah karena didesak, diburu, dan akhirnya dibinasakan oleh kaum pendatang dari benua utara. Periode ini oleh para mahakawi (pujangga besar) disebut masa purba yang kedua (dwitiya purwwayuga).

Selanjutnya, pernah pula hidup manusia kerdil (wamanapurusa) atau danawa kecil. Mereka itu berwujud yaksa kecil sehingga oleh para mahakawi dinamakan manusia kerdil. Mereka hidup antara 50.000 sampai 25.000 tahun yang silam. Mereka tidak cerdas. Senjata dan perabotannya terbuat dari batu, tetapi buatannya tidak bagus, mahluk jenis inipun akhimya punah. Zaman ini oleh para mahakawi disebuf masa purba pertengahan (madya ning purwwayuga) atau masa purba ketiga (tritiya purwwayuga).

Ke dalam zaman tersebut, termasuk pula masa hidup jenis manusia kerdil yang bertubuh besar (wamana purusagheng) atau manusia Jawa‑purba. Mereka menetap di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara 40.000 sampai 20.000 tahun yang silam. jumlahnya tidak banyak. Mereka ini pun akhirnya punah karena bencana alam, saling bunuh di antara sesamanya, dan akhirnya seperti juga nasib penghuni Pulau Jawa yang lain, dihabisi oleh kaum pendatang dari benua utara.

 

  1. PENDATANG DARI UTARA

 

Dalam buku Geografi Kesejarahan II Indonesia (1984), yang mengacu kepada hasil penelitian para akhli, Daldjoeni mengemukakan pendapatnya tentang asal‑usul ras Melayu, antara lain:

Di Hindia belakang ada dua pusat persebaran bangsa. Dari daerah Yunnan di Cina Selatan, berangkatlah suku‑suku yang tergolong Proto Melayu tua dan dari dataran Dongson di Vietnam Utara (Daldjoeni,1984:1).

Yunnan, yang disebut-sebut sebagal daerah asal kelompok Melayu tua di Cina Selatan, dijelaskan pula oleh Ales Bebler, antara lain:

Merupakan dataran tinggi kering dengan ketinggian rata‑rata 1000 meter di atas permukaan laut. Alamnya tertutup oleh rerumputan, pepohonan yang rendah dan semak belukar. Wilayahnya terbelah‑belah oleh jurang-jurang yang cukup dalam sehingga membatasi gerak penduduknya dalam mengusahakan pangan. Mata pencaharian mereka aslinya berburu dan mengumpulkan buah‑buahan. Dalam perkembangan selanjutnya mereka beralih ke usaha peternakan dan pengolahan tanah secara primitif.

Asal bangsa Indo‑mongolid, yang jelas adalah Cina Selatan, akan tetapi sebagian dari mereka itu dahulunya datang dari Tibet Timur. Mungkin keributan di Asia Tengah itu menjalar ke Cina Selatan. Dari sini terjadi migrasi ke wilayah Asia Tenggara yang relatif masih kosong, melalui jurang-jurang dan lembah‑lembah sungai di Cina, Birma dan Siam. Tekanan di Cina Selatan agaknya bertalian erat dengan mulai berkembangnya kerajaan Cina yang dengan tegas akan tetapi bertahap menghendaki sinifikasi bagi seluruh wilayahnya sampal batas selatannya yakni garis pegununan Himalaya‑Nanling (Daldjoeni,1984: 3, 9‑10).

 

Pada naskah Pustaka Rajayarajya i Bhunri Nusantara parwa I sarga 1, dikemukakan peristiwa sebagal berikut:

 

Perpindahan (panigit) manusia pendatang dari benua utara: Yawana, Campa, Syangka, dan dari daerah-daerah sebelah tirnur Gaudi (Benggala) menyebar ke Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia), Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kutalingga, Gowa, Makasar, dan pulau‑pulau lain di sebelah belahan timur Nusantara, termasuk Nusa Bali. Mereka tiba di Nusantara kira‑kira 20.000 tahun sebelum tarikh Saka.

Manusia yaksa kerdil (wamana purusa), sebagal pribumi berperangai buas dan kejam seperti hewan. Oleh sebab itu mereka diperangi dan dikalahkan oleh para pendatang baru.

Sementara itu, manusia purba yang hidup antara 25.000 sampal 10.000 tahun yang silam tidak punah sebab mereka berbaur menjadi satu. Banyak wanita manusia purba itu berjodoh dengan Aria dari kaum pendatang baru. Kerukunan, kerjasama dan perjodohan di antara kedua belah pihak, telah menyelamatkan kelompok manusia purba dari bahaya kepunahan.

Adapun, kaum pendatang baru dari benua utara tersebut tergolong manusia cerdas. Mereka membuat perkakas dan senjata dari batu, kayu, tulang, bambu, serta bahan‑bahan lain dengan hasil yang hampir bagus (meh wagus). Menurut para mahakawi masa kedatangan orang‑orang dari benua utara tersebut, dinamakan sebagai masa purba keempat (caturtha purwwayuga).

Dari 10.000 tahun sebelum tarikh Saka, sampal tahun pertama Saka, terjadi perpindahan secara bergelombang, kelompok pendatang dari benua utara, yaitu:

 

  1.    antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum tarikh Saka;
  2.    antara 5.000 sampai 3.000 tahun sebelwn tarikh Saka;
  3.    antara 3.000 sampai 1.500 tahun sebelum tarikh Saka;

4,    antara 1.500 sampai 1.000 tahun sebelum tarikh Saka;

  1.    antara 1000 sampal 600 tahun sebelwn tarikh Saka;
  2.    antara 600 sampai 300 tahun sebelum tarikh Saka;
  3.    antara 300 sampai 200 tahun sebelum tarikh Saka;
  4.    antara 200 sampal 100 tahun sebelwn tarikh Saka;
  5.    antara 100 sampai awal tarikh Saka.

 

Pada masa itu disebut sebagai masa purba kelima (pancama purwwayuga).

 

  • AKI TIREM SANG AKI LUHUR MULYA

 

Orang‑orang yang datang berturut‑tarut dari berbagai daerah itu masing-masing ada pemimpinnya. Di antara keturunannya ada yang saling berperang, lalu mereka yang telah lebih dahulu datang dan telah lama menetap dikalahkan oleh kaum pendatang baru. Akan tetapi, ada juga yang saling mengasihi dan saling membantu karena mereka mempunyai tujuan yang sama.

Semakin lama, penduduk ini semakin meresap dan menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Adapun yang menyebabkan kaum pendatang itu sangat senang dan tinggal di sini (Nusantara) adalah:

  1.    pulau‑pulau di bumi Nusantara ini subur tanahnya;
  2.    subur tumbuh‑tumbuhannya;
  3.    kehidupan penduduknya bahagia;
  4.    serbaneka rempah‑rempah ada di sini; dan
  5.    menjadikan kehidupan penduduk makmur sejahtera.

Adapun pakaian yang dikenakan pribumi di sini berupa cawat kayu, daun-daunan, atau rumput. Mereka selalu membawa tombak, gada, busur, dan panah, serta berbagai jenis senjata lainnya. Mereka tinggal di hutan, ada yang hidup berkelompok, ada juga yang selalu bersembunyi, ada yang mernisahkan diri, ada pula yang bersama keluarganya di lereng bukit.

Tiap kelompok yang hidup di salah satu kampung, dipimpin oleh seorang Panghulu sebagai penguasa kampung. Rumah Sang Panghulu, selalu dijadikan sebagai tempat bermusyawarah. Rumah sang pemimpin ini, terhitung besar dan berpanggung (berkolong), sedangkan beberapa keluarga penduduk tinggal bersama dalam satu rumah di bawah pimpinan seorang kepala rumah tangga yang sudah cukup berumur dan terpandang. Demikian pula halnya dengan Sang Panghulu, ia adalah orang yang sangat berwibawa. Di Jawa Kulwan (Barat) ada beberapa panghulu pribumi semacarn itu. Demikian pula di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan pulau‑pulau lain di Nusantara. Keadaan itu terjadi sebelum awal tarikh Saka.

Mereka datang di Nusantara dengan menumpang perahu dari kayu besar berbentuk rakit (getek), tetapi ada juga yang memakai perahu dari betung besar atau kayu hutan. Di atas rakit itu didirikan rumah dengan atap rumput. Mereka bertolak dari daerah asalnya, dan siang malam mereka berperahu dari hilir sungai ke arah selatan, menuju lautan. Akan tetapi, ada juga yang tempat tinggal asalnya di tepi laut. Mereka berlayar ke beberapa pulau, sampai akhirnya mereka itu tiba di Pulau Jawa. Banyak di antara perahu‑perahu itu hancur di tengah laut, karena dihantam ombak atau terseret angin besar, sehingga perahunya terlunta‑lunta dan terpisah dari kelompok perahu lainnya.

Adapun yang menyebabkan pengungsian besar (panigit agheng) itu, adalah:

  1.    tempat asalnya selalu kekeringan;
  2.    terjadi bencana gempa bumi; dan
  3.    musim kemarau yang berkepanjangan.

Akibatnya, mereka menderita kekurangan makanan, dan terpaksa hidup di hutan memakan daun-daunan, tumbuhan, tunas, dan daging hasil buruan. Karena itulah, mereka senantiasa ingin mencari tanah yang subur di pulau-pulau Nusantara. Satu di antaranya adalah Nusa Jawa.

Setibanya di sini, mereka menetap dan hidup bersama ibarat satu keluarga. Anak, cucu, dan keluarga, masing‑masing membuat rumah. Rumah mereka itu berderet; ada yang kecil dan ada yang besar dan tinggi. Untuk sementara, makanan sehari‑hari adalah daging hasil berburu di hutan. Lama kelamaan, tempat tinggal mereka itu menjadi kampung (dukuh). Pakaian sehari‑hari terbuat dari kulit kayu.

Adapun kehidupan penduduk lama dan baru itu, hampir sama seperti di negeri asal mereka. Makanan sehari-harinya adalah daging, ikan, buah‑buahan, tunas, daun-daunan, umbi‑umbian, dan rempah‑rempah. Sang Panghulu yang menjadi pemimpinnya, menguasai berbagai ilmu mantera, selalu bertapa, melaksanakan sembah‑hiyang, melepaskan rakyatnya dari ancaman bencana sihir, memberi berkah, mernimpin upacara perkawinan dan berdoa, melindungi adat, serta bertindak adil dan bersikap lemah lembut. Singkatnya, Sang Panghulu yaitu Sang Datu, siang malam selalu mengharapkan agar rakyatnya hidup sejahtera, dan kampung tempat tinggal mereka makmur sentosa di bumi ini.

Yang dipuja penduduk waktu itu bermacam‑macarn, tetapi yang terutama ialah arwah leluhur (hiyang). Mereka memohon kepada arwah yang dipujanya dengan doa pujaan lengkap, dengan tata upacara dan sembah‑hiyang serta sajen. Tujuannya adalah agar terkabul cita‑citanya. Ada yang ingin terlepas dari kenistaan, bertambah hasil usaha tani atau dagangnya, mengharap unggul dalam perang atau perkelahian, mengharap terlepas dari penderitaan, lalu orang yang susah mengharap kesejahteraan dan banyak harta, ada pula pria yang ingin mendapat isteri atau wanita yang rnengharapkan suami. Ada lagi yang mengharapkan kegagahan, mengalahkan musuhnya, mengharapkan berumur panjang, serta terluput dari bahaya dan macam‑macam harapan lagi.

Serbaneka pemujaan mereka adalah api, gunung, arwah leluhur, batu, pohon besar, kayu, darah, sungai, matahari, bulan dan bintang. Ada pemuja roh yang bersemayam di puncak gunung, karena menganggap roh penguasa isi gunung di seluruh dunia. Ada pula Yang memuja pohon rimbun.

Ada beberapa keluarga yang memasuki hutan dengan membawa harta bendanya, lalu menetap di sana. Mereka berburu hewan, lalu kulitnya dijadikan bahan pakaian, sedang dagingnya dijadikan bahan makanan. Pakaian kulit itu ada yang diberi lukisan menurut kehendak masing-masing, sedangkan batu‑batuan dan tulang, dijadikan perhiasan untuk anak isterinya dan berbagai macam perkakas.

Akan tetapi, pendatang baru makin lama makin banyak, sehingga orang pribumi terdesak dan hidup terlunta‑lunta memasuki hutan dan pegunungan. Terjadilah pengungsian besar‑besaran, karena kaum pendatang itu senantiasa memberikan kesusahan, kesengsaraan, dan kenistaan bagi orang pribumi, seolah mereka itu hamba sahaya bagi kaum pendatang baru. Kaum pribumi, merasa terhina dan sangat takut, karena siapapun di antara mereka yang berani melawan, akan ditangkap dan dibunuh. Kaum pribumi itu selalu kalah, karena mereka bodoh dan dalam segala hal terbelakang.

Sebaliknya, kaum pendatang baru memiliki berbagai ilmu pengetahuan, yaitu membuat panah dan perkakas dari besi, telah mengenal emas, perak, manik, permata, menguasai ilmu pembuatan busur dan panah (wedastra), dan ilmu memanah (dhanurweda), serta membuat aneka obat‑obatan, dan perahu dengan baik. Mereka telah menanam padi untuk kepeduan makan sehari‑hari, mengetahui ilmu perbintangan (panaksastra), membuat pakalan dan perhiasan yang indah dan bagus karena dihiasi ukiran, serta membuat wayang dari kulit diukir. Mereka pun telah mampu mendirikan rumah besar untuk keluarga, membuat api dengan batu api dan besi, serta membuat tabuh‑tabuhan untuk mengiringi tari.

Di samping itu, mereka telah menyusun peraturan tentang kampung dan uang, serta memiliki pengetahuan tentang gerhana, gempa bumi, ukuran, makanan, hari, tumbuhan, musim hujan, musim kemarau, ilmu tentang hutan, tentang hewan, tentang tanah, tentang gunung, tentang ucapan, lalu ilmu tentang rempah‑rempah, hutan dan gunung, ekonomi (swataning janapada) dan sebagainya.

Kaum pendatang dari negeri Yawana dan Syangka, yang termasuk ke dalam kelompok manusia purba‑tengahan (janna puruwwamadya), tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum tarikh Saka. Kaum pendatang baru yang tiba di Pulau Jawa antara tahun 300 sampal 100 sebelum tarikh Saka, telah memiliki ilmu yang tinggi (widyanipuna). Mereka telah mengetahui cara memperdagangkan beraneka barang. Kaum pendatang kelompok ini, menyebar ke pulau‑pulau di Nusantara.

Zaman ini, oleh para mahakawi disebut zaman Besi (wesiyuga), karena mereka telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi, serta telah mengenal penggunaan emaa dan perak. Mereka merasuk ke desa‑desa yang dikunjunginya, seolah‑olah Pulau Jawa dan pulau‑pulau di Nusantara ini kepunyaan mereka semuanya. Pribumi yang tidak mau menurut atau menghalangi, segera dikalahkan, sehingga bukan saja maksudnya tidak berkesampaian, mereka pun harus menjadi bawahan yang tunduk kepada yang berkuasa.

…/ hana pwa sang panghulu athawa pangamasa mandala pasisir Jawa kulwan / bang kulwan ika prarrucnaran aki tirem athawa sang aki luhunnulya ngaranira waneh //

Terjemahannya:

Adapun, panghulu atau penguasa wilayah pesisir barat Jawa Barat sebelah barat, namanya Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya nama lainnya.

 

Selanjutnya, dalam naskah tersebut dikemukakan, tentang silsilah (asalusul) leluhur Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya:

 

Adapun Sang Aki Tirem, putera Ki Srengga namanya.

Ki Srengga putera Nyal Sariti Warawiri namanya.

Nyai Sariti puteri Sang Aki Bajulpakel namanya.

Sang Aki Bajulpakel, putera Aki Dungkul namanya dari Swarnabhumi (Sumatera) sebelah selatan, kemudian berdiam di Jawa Barat sebelah barat.

Selanjutnya Aki Dungkul, putera Ki Pawang Sawer namanya, berdiam di Swarnabhumi (Sumatera) sebelah selatan.

Ki Pawang Sawer, putera Datuk Pawang Marga namanya, berdiam di Swarnabhumi (Sumatera) sebelah selatan.

Datuk Pawang Marga, putera Ki Bagang namanya berdiam di Swarnabhumi (Sumatera) sebelah utara.

Ki Bagang, putera Datuk Waling namanva, yang berdiam di pulau Hujung Mendini.

Datuk Waling putera Datuk Banda namanya, ia berdiam di dukuh di tepi sungai.

Datuk Banda putera Nesan namanya, berdiaiu di wilayah Langkasuka.

Sedangkan nenek moyangnya dari negeri Yawana sebelah barat.

 

Jika mencermati The Hammond Atlas (terbitan Time, 1980, USA), di wilayah Propinsi Yunnan, terdapat sebuah kota kecil Yu‑wan, yang terletak di tepi sungal Yuan‑Mouw. Yu‑wan dalam bahasa Cina, ada kemiripan dengan Ya‑wa‑na, yang terdapat dalam naskah Pustaka Wangsakerta. Oleh karena itu, kota Yu‑wan, diduga kuat merupakan tanah leluhur Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya.

Sedarrgkan Yunnan sendiri, menurut para akhli, merupakan lembah bagian hulu sungai Yang Tze Kiang, yang mata airnya berasal dari pegunungan Himalaya bagian timur laut. Di wilayah ini sering terjadi gempa bumi, yang disebabkan adanya pergeseran lempeng anak benua India, yang bergerak ke arah utara dan membentur lempeng Asia. Sehingga membentuk pegunungan Himalaya, yang membentang dari arah barat di wilayah Kashmir, ke timur hingga ke wilayah perbatasan China, India dan Burma (Myanmar).

Adanya benturan dua lempeng tersebut, menimbulkan gempa tektonik, di sekitar wilayah bagian utara dan bagian timur laut pegunungan Himalaya. Bencana lain yang sering terjadi di wilayah ini, adalah banjir bandang (mendadak) yang sangat besar. Penyebabnya, akibat pencairan es; di puncak Himalaya pada saat musim semi.

 

  1. SURGA DI MUKA BUMI

 

Bertambah lama, orang yang datang baru bertambah banyak. Dengan demikian orang pribumi terkucilkan, berkeliaran tanpa tujuan. Mengembara di hutan dan gunung‑gunung, bertambah banyaklah yang jadi pengungsi. Karena orang pendatang baru, senantiasa menyebabkan penderitaan yang terus‑menerus. Golongan pribumi senantiasa dihinakan.

Kenyataannya, ada di bawah perintah orang‑orang pendatang baru, terutama karena orang pribumi bertabiat pemalu dan penakut. Biarpun sering melawan, tetapi mereka dapat ditangkap dan dibunuh. Orang‑orang pribumi senantiasa kalah, karena bodoh, segalanya terbelakang. Sedangkan orang pendatang baru memiliki berbagai pengetahuan, ialah membuat senjata dari besi, berbagai perkakas dari besi, juga emas, perak, manik, kristal, kendaraan. Selanjutnya membuat berbagai senjata dari besi dengan gelang anak‑panahnya, pengetahuan tentang memanah, juga membuat berbagai obat‑obatan, begitu pula membuat perahu bagus. Mereka menanam padi, yang dijadikan makanan sehari‑hari.

Mereka juga telah mempunyal pengetahuan tentang perbintangan, membuat perlengkapan perang dari besi, membuat pakaian dan perhiasan yang indah‑indah. Bahkan diberi berbagai lukisan dan diukir pada besi itu. Wayang, dibuat dari kulit yang diukir. Mereka telah mampu membuat rumah besar, yang dihuni suami‑isteri dan kerabat laki‑laki dan wanita, membuat api dengan pemantik (paneker) dari batu dan besi. Selanjumya, mereka membuat tabuh-tabuhan pengiring orang menari. Kemudian dibuat kebijakan tentang perilaku yang baik di dusun, perilaku mengenai alat penukar. Mereka memiliki pengetahuan tentang gerhana, gempa bumi, pengetahuan tentang ukuran panjang: (1 yojana =100.000 depa), tentang makanan yang lezat, pengetahuan tentang hari, berbagai tumbuh‑tumbuhan, (musim) penghujan dan kemarau, pengetahuan tentang laut, pengetahuan tentang berbagai binatang, juga pengetahuan tentang tanah, gunung, dan pengetahuan tentang tutur kata.

Selanjutnya, mereka memiliki pengetahuan tentang rempah‑rempah, pengetalruan tentang hutan dan gunung, kesejahteraan warga masyarakat dan sebagainya. Bahkan, pendatang baru yang belakangan dari negeri Yawana, negeri Syangka, negeri Campa, Saimwang serta negeri Bharata (India) sebelah selatan, sangatlah pandai berbagai pengetahuan, yaitu manusia yang mahir ilmu pengetahuan, dikatakan oleh pribumi. Sedangkan pribumi di situ, ialah orang‑orang pendatang yang telah lama membuat perkakas dari batu, kayu dan tulang. Pakalan mereka dari serat kulit kayu, karena itu mereka disebut manusia purba‑pertengahan oleh mahakawi (pujangga besar) dalam tulisan mereka.

Dikatakannya, bahwa orang‑orang pendatang baru dari negeri Yawana dan negeri Syangka, termasuk manusia‑purba pertengahan, kira‑kira seribu enam ratus tahun sebelum permulaan tahun Saka. Ada juga pendatang baru yang tiba di Pulau Jawa, di antara tiga ratus tahun dan seratus tahun sebelum permulaan tahun Saka yang pertama. Mereka telah mahir dalam pengetahuan, sudah tahu mengenai hasil dari jasa dan perdagangan segala perlengkapan.

Pendatang ini menyebar ke pulau-pulau di bumi Nusantara. Demikianlah uraianmahakawi (pujangga besar), pada waktu itu disebut zaman besi. Itulah sebabnya mereka membuat berbagai perlengkapan perang, anak panah dan sebagainya dari besi, emas, dan perak. Mereka lebih pandai berbagai pengetahuannya. Oleh karena itu, mereka kemudian menyerang desa-desa yang didatangi, akibatnya Pulau Jawa dan pulau‑pulau di Nusantara menjadi milik mereka seluruhnya. Barang siapa yang tidak tunduk segera dibinasakan. Apabila bermaksud menyerang dan memeranginya, secepatnya dibinasakanlah mereka itu kemudian, maka maksud mereka tidak terlaksana, serta menyebabkan mereka menjadi manusia yang hina, sebagai pelayan orang yang berkuasa.

Begitu pula di antara seratus tahun pertama sebelum tahun Saka, hingga pertama tahun Saka, orang pendatang dari beberapa negara yang terletak di sebelah timur negeri Bharata (India). Oleh karena itu zaman besi disebut juga manusia pada zaman purba.

Pada awal tarikh Saka, datang orang-orang dari barat, yaitu dari negeri Syangka (Sri Langka), Sayiwahana, dan Benggala di bumi Bharatawarsya (India). Mereka tiba di Pulau Jawa dengan perahu. Mula-mula, mereka menuju ke Jawa Timur, lalu ke Jawa Barat, karena kegiatan perdagangan dengan penduduknya. Pribumi di sini, asal-usulnya juga orang‑orang pendatang dari kawasan benua utara, yang leluhurnya tiba di Pulau Jawa beberapa ratus tahun lebih dahulu.

Barang barang yang dibawa oleh para pendatang baru ini, di antaranya: bahan pakaian, perhiasan berupa ratna, emas, perak, permata, mustika, obat‑obatan, bahan‑bahan makanan, serta perabot kebutuhan rumah tangga. Adapun bahan‑bahan yang dibelinya di sini, yaitu rempah‑rempah serta hasil bumi seperti beras dan sayuran.

Di antara mereka ada yang terus menetap di sini, menjadi penduduk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Bali. Demikian pula di Sumatera, dan di pulau‑pulau lain di Bumi Nusantara, yang disebut juga Dwipantara. Karena penduduk Pulau Jawa telah menguasai berbagai ilmu, mereka sangat menghargainya, tidak bermusuhan, dan kaum pendatang diterima sebagai tamu dengan penuh rasa kasih dan rasa persaudaraan.

Kehidupan penduduk di sini makmur. Mereka menamakan pulau‑pulau di bumi Dwipantara ini, terutama Pulau Jawa, laksana surga di muka bumi (samyasanya swargaloka haneng prethiwitala). Oleh karena itu, mereka selalu merasa bahagia hidupnya. Demikianlah keadaan mereka itu selama tinggal di sini. Banyak di antara mereka yang memperisteri gadis di sini, kemudian beranak pinak. Mereka mengetahui bahwa Pulau Jawa subur tanahnya, subur tumbuh‑tumbuhannya. Oleh karena itu, beberapa tahun kemudian, datanglah orang-orang dari Langkasuka, Saimwang, dan Ujung Mendini ke Jawa Kulwan (Barat) dan bumi Sumatera dengan perahu. Lalu mereka menetap di situ, karena berjodoh dengan putri penduduk. Selanjutnya mereka tidak kembali ke negeri asalnya. Kemudian mereka masing‑masing mendirikan rumah besar untuk tinggal keluarganya. Kolong rumah itu, digunakan untuk kandang tempat hewan peliharaan mereka.

Mereka bergabung untuk bergotong royong (samakarya), membangun rumah dan menebang pohon di hutan. Ikut pula bergabung akhli pembuat rumah (hundagi) dan pandai besi.

Para pendatang dari India itu, ada yang mengajarkan agama yang dianutnya dan menyiarkan kepada penduduk di desa‑desa. Mereka mengajarkan pujaan yang disebut Dewa Iswara, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang disebut Trimurtiswara. Juga masih banyak Dewa lain yang dipujanya selain itu. Walaupun demikian, mereka tidak saling bertentangan dalam menyebarkan agamanya, karena mereka berhasil menemukan cara yang tepat.

Penduduk di sini keturunan kaum pendatang juga. Sejak dahulu, mereka memuja roh, bulan, matahari, dan sebagainya. Singkatnya, mereka itu mernuja roh (pitarapuja). Kaum pendatang baru dari India Selatan itu, telah rnenguasai berbagai ilmu, karena mereka telah mempelajarinya di negeri asalnya. Mereka tidak menghalangi pemujaan yang dianut penduduk di sini. Hanya nama pujaannya yang diganti, disesuaikan dengan adat penduduk di sini.

Dengan cara demikian, mereka tidak menemukan kesulitan untuk mempelajarinya. Demikianlah, pemujaan api disamakan dengan pemujaan Dewa Agni, pemujaan matahari disamakan dengan Dewa Aditya atau Dewa Surya, dan seterusnya. Adapun pemujaan roh besar, disamakan dengan pemujaan Hyang Wisnu, Hyang Siwa, dan Hyang Brahma yang disebut pemujaan tiga dewa atau trimurti. Tak lama kemudian, banyaklah penduduk di sini yang memeluk agama baru itu.

Sementara itu, banyak di antara para pendatang yang menikahi puteri para Penghulu penduduk desa. Kelak, anaknya akan menggantikan kedudukan kakeknya. Oleh karena itu, desa‑desa di Pulau Jawa makin lama makin dikuasai oleh keturunan kaum pendatang. Demikian pula penduduk dan kekayaannya. Segera pula penduduk menjadi tidak berdaya. Panghulu desa itu telah dijunjungnya menjadi sang penguasa. Putera pendatang baru atau cucu Sang Panghulu, menjadikan semua tanah sebagai miliknya atau berada di bawah kekuasannya.

Sementara itu, keadaan desa-desa tetap makmur dan hasil pertanian melimpah, karena Pulau Jawa subur tanahnya. Demikianlah pula pulau‑pulau lain di Dwipantara. Oleh karena itu, antara tahun 80 sampai 320 Saka, sangat banyak perahu yang datang dari berbagai negeri ke Pulau Jawa, di antaranya dari negeri India, China, Benggala, dan Campa. Banyak di antara mereka itu, yang membawa anak‑isteri berserta sanak keluarganya, lalu menetap di Pulau Jawa dan pulau‑pulau lain di Nusantara dan menjadi penduduk di situ.

Ada yang datang membawa perahu besar, ada yang datang beserta pendeta agarna Wisnu dan agama lainnya. Setiba di sini, mereka lalu mengajarkan agama mereka kepada penduduk desa. Kemudian mereka pun tinggal di situ. Adapun pendeta agama Siwa, datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, mengajarkan agama mereka kepada para panghulu dan pemuka masyarakat di sana.

 

 

  1. DEWAWARMAN

 

Berdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1, oleh Pangeran Wangsakerta, diriwayatkan sebagai berikut:

 

/jwah tambaya ping prathama sa kawarsa riking wus akweh wwang bharata nagari tekan jaruadwipa mwang nusantara i bhumi nusantara// denira pramanaran dwipantara nung wreddhi prethiwi// pantara ning sinarung teka n jawadwipa/ hana n upakriya wikriya/ hansing mawarah marahaken sanghyang agama/ hanasing luputaken sakeng bhaya kaparajaya/ ya thabhuten nagarinira/ mwang moghangde nikang agong panigit ring nusa‑nusa i bhumi nusantara//a

Terjemahanannya:

Kelak, mulai awal pertama tahun Saka di sini telah banyak orang‑orang negeri Bharata (India) tiba di Pulau Jawa dan pulau‑pulau di bumi Nusantara. Karena Nusantara terkenal sebagai tanah yang gembur. Di antara mereka, yang tiba di Pulau Jawa, ada yang berdagang dan mengusahakan pelayanan, ada yang mengajarkan Sanghyang Agama (ajaran agama), ada yang menghindarkan diri dari bahaya yang akan membinasakan dirinya, seperti yang telah terjadi di negeri asalnya, yang menyebabkan mengungsi ke pulau-pulau di bumi Nusantara.

 

Karena mereka semua mengharapkan kesejahteraan hidupnya bersama anak isterinya. Terutama para pendatang, banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi negeri Bharata (India). Dua wangsa inilah, yang sangat banyak berdatangan di sini, dengan menaiki beberapa puluh buah perahu besar‑kecil. Yang dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba mula-mula di Jawa Kulwan (Barat), maka mereka bertujuan yaitu untuk berdagang dan mengusahakan pelayanan.

Mereka senantiasa datang di sini, dan mereka kembali membawa rempah-rempah ke negerinya. Di sini, Sang Dewawarman telah bersahabat dengan warga masyarakat di pesisir Jawa Kulwan (Barat), Pulau Api dan Pulau Sumatera sebelah selatan, terutama Sang Dewawarman sebagai duta dari wangsa Pallawa.

Permulaan pertama tahun Saka, di pulau‑pulau Nusantara, telah banyak golongan warga masyarakat, yang menjadi pribumi tiap dusun. Di antaranya ada yang bermusuhan, ada juga yang berkasih‑kasihan berbimbingan tangan. Dukuh itu ada yang besar, ada yang kecil. Dukuh besar ada di tepi laut, atau tidak jauh dari muara sungai. Bukankah selalu berdatangan orang lain atau wilayah lain. Terutama pedagang dari negeri Bharata (India), negeri Singhala, negeri Gaudi, negeri Cina dan sebagainya.

Ramailah kemudian dukuh‑dukuh di tepi laut. Dengan demikian, ramailah perdagangan antara pulau-pulau di bumi Nusantara dengan negara lain dari benua utara sebelah barat dan timur. Tetapi, yang banyak datang dari negeri Bharata (India), golongan pendatang dari negeri Bharata (India) itu dipimpin oleh Sang Dewawarman, tiba di dukuh pesisir Jawa Kulwan (Barat).

Para pendatang itu bersahabat dengan penghulu dan warga masyarakat di sini. Adapun penghulu atau penguasa wilayah pesisir Jawa Kulwan (Barat) sebelah barat, namanya terkenal, Aki Tirem atau Sang Aki Luhur Mulya namanya yang lain. Selanjutnya, puteri Sang Aki Luhur Mulya, namanya terkenal Pwahaci Larasati (Pohaci Larasati), diperisteri oleh Sang Dewawarman. Dewawarman ini, disebut oleh mahakawi (pujangga besar) sebagai Dewawarman pertama.

Akhirnya semua anggota pasukan Dewawarman menikah dengan wanita pribumi. Oleh karena itu, Dewawarman dan pasukannya, tidak ingin kembali ke negerinya. Mereka menetap dan menjadi penduduk di situ, lalu beranak pinak.

Beberapa tahun sebelumnya, Sang Dewawarman menjadi duta keliling negaranya (Pallawa) untuk negeri‑negeri lain yang bersahabat, seperti kerajaan‑kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, China, dan Abasid (Mesopotamia), dengan tujuan mempererat persahabatan dan berniaga hasil bumi, serta barang barang lainnya.

Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal, ia menyerahkan kekuasaannya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula para pengikut Dewawarman, karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.

Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ, dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara, sedangkan isterinya, Pohaci Larasati menjadi permaisuri, dengan nama nobat, Dewi Dwanu Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salakanagara (salaka= perak).

Daerah kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa Kulwan bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa. Laut di antara Pulau Jawa dengan Sumatera, masuk pula dalam wilayahnya. Oleh karena itu, daerah- daerah sepanjang pantainya, dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman, sebab jalur ini merupakan gerbang laut. Perahu‑perahu yang beralayar dari timur ke barat dan sebaliknya, harus berhenti dan membayar upeti kepada Sang Dewawarman. Pelabuhan‑pelabuhan di pesisir barat Jawa Kulwan, Nusa Mandala (mungkin Pulau Panaitan), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan, dijaga oleh pasukan Dewawarman.

Wangsa Dewawarman memerintah Kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Kulwan, dengan ibukota Rajatapura (Kota Perak). Kota besar lainnya lagi, Agrabhintapura ada di wilayah sebelah selatan. Agrabhintapura, dipimpin oleh raja daerah bernama Sweta Limansakti, adik Dewawarman. Sedangkan adiknya yang lain, yang bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, diangkat menjadi raja daerah penguasa mandala Hujung Kulon.

 

  1. PENERUS TAHTA SALAKANAGARA

 

Dari perkawinannya dengan Pohaci Larasati, Dewawarman I mempunyai beberapa orang anak. Anak yang tertua, laki‑laki. Kelak, ia menggantikan kedudukan ayahnva sebagai penguasa di Salakanagara, dengan nama nobat Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. la menjadi Dewawarman lI yang memerintah dari tahun 90 sampai 11’7 Saka atau tabun 168 sampai 198 Masehi. la menikah dengan puteri keluarga Raja Singala (Sri Langka).

Dari perkawinan ini lahir seorang putera, yang kemudian menjadi Dewawarman III dengan gelar Prabhu Singasagara Bimayasawirya. la menjadi penguasa Salakanagara dari tahun 117 sampai 160 Saka (195 ‑ 238 Masehi). Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan bajak laut dari negeri China, yang dapat dihadapinya dan ditumpasnya. Dewawarman III kemudian mengadakan hubungan (pamitran) dengan maharaja China dan raja‑raja India. Permaisuri Dewawarman III berasal dari Jawa Tengah.

Puteri tertua yang lahir dari perkawinan ini bernama Tirta Lengkara. Puteri sulung ini berjodoh dengan Raja Ujung Kulon bernama Darma Satyanagara. Kelak ia menggantikan mertuanya menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewawarman IV, yang memerintah dari tahun 160 sampai 174 Saka (238 – 252 Masehi). Dari perkawinan ini lahir puteri sulung bernama Mahisasuramardini Warmandewi. Bersama suaminya yang bernama Darmasatyajaya sebagai Dewawarman V, ia memerintah selama 24 tahun (174‑198 Saka). Ketika Dewawarman V yang merangkap sebagai Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut) gugur waktu perang menghadapi bajak laut, sang rani, Mahisasuramardini melanjutkan pemerintahannya seorang diri sampai tahun 211 Saka (289 Masehi).

Penguasa Salakanagara berikutnya adalah Ganayanadewa Linggabumi, putera sulung Dewawarman V atau Sang Mokteng Samudra (yang mendiang di lautan). Prabu Ganayana menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewawarman VI selama 19 tahun, dari tahun 211 sarnpai 230 Saka (289 – 308 Masehi). Dari perkawinannya dengan puteri India, ia mempunyai tiga putera dan tiga puteri.

Putera sulungnya yang kemudian menjadi Dewawarman VII, memerintah Salakanagara tahun 230 sampai 262 Saka (308‑340 Masehi), bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati. Yang kedua, seorang puteri yang bernama Salaka Kancana Warmandewi, yang menikah dengan menteri Kerajaan Gaudi (Benggala) di India bagian timur. Puteri yang ketiga bernama Kartika Candra Warmandewi. la menikah dengan seorang raja muda dari negeri Yawana. Yang keempat, laki-laki bemama Gopala Jayengrana. la menjadi seorang menteri Kerajaan Calankayana India. Yang kelima, seorang puteri bernama Sri Gandari Lengkaradewi. Suami puteri ini adalah menteri panglima angkatan laut kerajaan Pallawa di India. Putera bungsu Dewawarman VII adalah Skadamuka Dewawarman Jayasastru yang menjadi senapati Salakanagara.

Putera sulung Dewawarman VII bernama Sphatikarnawa Warmandewi. Kelak bersama suaminya akan menggantikan ayahnya sebagai penguasa Salakanagara kedelapan. Dewawarman VII mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Bakulapura (Kutai) karena pertalian kerabat permaisurinya. Kakak sang permaisuri ini menikah dengan penguasa Bakulapura (di Kalimantan) yang bernama Atwangga putera Sang Mitrongga. Mereka keturunan wangsa Sungga dari Maganda, yang pergi mengungsi tatkala negerinya dilanda serangan musuh. Dari puteri ini dengan Atwangga, lahirlah Kudungga yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Bakulapura.

Ketika Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati atau Dewawarman VII wafat, tibalah Senapati Krodamaruta dari Calankayana, di Rajatapura (ibukota Salakanagara), bersama beberapa ratus orang anggota pasukannya, bersenjata lengkap. Krodamaruta adalah putera Gopala Jayengrana, yaitu putera Dewawarman VI yang keempat. Yang menjadi menteri di kerajaan Calankayana. Krodamaruta langsung merebut kekuasaan dan tanpa menghiraukan adat pergantian tahta, ia menobatkan diri menjadi penguasa Salakanagara.

Akhli waris tahta yang sah, adalah Sphafikarnawa Warmandewi, puteri sulung Dewawarman VII. Ia belum bersuami karena kelakuan Krodamaruta bertentangan dengan adat, sekalipun ia masih cucu Dewawarman VI, keluarga keraton beserta sebagian penduduk Salakanagara tidak menyenanginya. Akan tetapi, Krodamaruta tidak lama berkuasa, karena ia tewas tertimpa batu besar, ketika sedang berburu di hutan. Batu itu berasal dari puncak sebuah bukit. Akibat peristiwa itu, Krodamaruta hanya 3 bulan menjadi `penguasa’ Salakanagara.

Kemudian, Sphatikarnawa Warmandewi, puteri sulung Dewawatman VII, dinobatkan menjadi penguasa Salakanagara menggantikan ayahnya, pada tahun 262 Saka (340 Masehi). Pada tahun 270 Saka, Sang Rani menikah dengan saudara sepupunya, putera Sri Gandari Lengkaradewi, yaitu puteri Dewawarman VI yang kelima. la bersuamikan panglima angkatan laut Kerajaan Pallawa. Lengkaradewi beserta suami dan puterinya, datang ke Rajatapura dalam tahun 268 Saka (346 Masehi) sebagai pengungsi, karena negaranya (Pallawa) telah dikuasai oleh Maharaja Samudragupta dari keluarga Maurya.

Setelah pernikaharmya, Rani Sphatikarnawa Warmandewi memerintah bersama‑sama suaminya, sebagai Dewawarman VIII bergelar Prabhu Darmawirya Dewawarman. Ia memerintah tahun 270 sampai 285 Saka (348‑363 Masehi).

Pada masa pemerintahan Dewawarman VIII, kehidupan penduduk makmur sentosa. la sangat memajukan kehidupan keagamaan. Di antara penduduk, ada yang memuja Wisnu, namun jumlahnya tidak seberapa. Ada yang memuja Siwa, ada yang memuja Ganesha, dan ada pula yang memuja Siwa-Wisnu. Yang terbanyak pemeluknya adalah agama Ganesha atau Ganapati.

Dewawarman VIII mempunyai putera‑puteri beberapa orang. Yang sulung, seorang puteri bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Yang kedua, seorang putera bernama Aswawarman. la diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga penguasa Bakulapura, kemudian, ia dijodohkan dengan puteri Sang Kudungga. Yang ketiga, seorang puteri bernama Dewi Indari yang kelak diperisteri oleh Maharesi Santanu, Raja Indraprahasta yang pertama. Putera Sang Dewawarman VIII yang lainnya, tinggal di Sumatera dan menurunkan para raja di sana. Di antara keluarganya kelak adalah sang Adityawarman. Anggota keluarganya yang lain, tinggal di Yawana dan Semenanjung. Puteranya yang bungsu menjadi putera mahkota. Kelak setelah ayahandanya wafat, ia menggantikarmya menjadi penguasa Salakanagara.

Permaisuri Dewawarman VIII ada dua orang. Permaisuri yang pertama ialah Rani Sphatikarnawa Warmandewi yang menurunkan raja-raja di Jawa Kulwan dan Bakulapura. Permaisuri yang kedua, bernama Candralocana, puteri seorang brahmana dari Calankayana di India. la menurunkan raja-raja di Pulau Sumatera, Semenanjung, dan Jawa Tengah.

Demikianlah kisah keturunan Dewawarman Darmalokapala yang menjadi penguasa Salakanagara. Kerajaan ini berdiri sebagai kerajaan bebas, selama 233 tahun (130‑363 Masehi). Dewawarman VIII, dianggap sebagai raja Salakanagara terakhir, sebab puteranya, Dewawamm IX, sudah menjadi raja bawahan Tarumanagara.

 

  • CATATAN PARA AKHLI

 

Sesungguhnya, berita tentarrg pernah adanya sebuah kerajaan tertua di Nusantara, telah dilacak oleh N. J. Krom dalam buku Het Hindoe-Tijdperk(1938:121), sebagaimana yang dikutip oleh Atja dan Edi S. Ekadjati, dalam pendahuluan buku Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara I.I (1987: 31), antara lain sebagai berikut:

 

Een naukeurig gedateerd Chineesch bericht uit 132 n. C, lidjt weer aan onzekerheid van interpretatie. In dat jaar zond ke koningvan Yet‑two, genaarnd Pien, een gezantschap naar Cina, en kreeg genoemde kmting Tiarrpien een eergeschenk. In den nanm van het land ia Yawadwipa, Java‑eiland, herkencl, ruaaruit zou volgen dot op dit oogenblik het eilaed in kruestie door de Chineezen met em Sanskritnaarn werd genoerrzd; naar zoo dadelijk zal blijkery inderdacrdzees aannamelijk, dot het in dezen tjid zijn door de Hindoe’s gegeven naccm reeds droeg Ueel zwakker stoat de wedergave van den koningsnaarn nit den Dewawarnrarz, hetwelk de oudste ons bekende vorstnaam uit den Archipel zrnl z~n en teams zou veivrijzen, dot het hindoesiseeringsproces reeds een aanvang had gr?namen, hetzij dan dot een Hindoe er zich als leaning had neergezet of een Indonesisch vorst dien Indischen naam had aanvaard.

 

Untuk lebih dipahami, dikemukakan pula kutipan terjemahannya, antara lain sebagai berikut:

 

Suatu berita Tionghoa jang tertanggal seksama, dari tahun 132 sesudah Masehi mendjadi samar pula, oleh karena tidak dapat ditafsirkan dengan pasti. Dalam tahun itu tersebutlah radja Ye‑tiao jang bernama Pien dan mengirimkan utusan ke Tiongkok dan radja Tiao‑pien tersebut memperoleh hadiah kehormatan. Dalam nama tanah itu dapatlah dikenal Yawadwipa (Pulau Djawa), jang mana akan berarti, bahwa diwaktu itu pula telah disebut pada nama Sanskertanja oleh orang Tionghoa. Memang mungkin sekali, seperti akan ternjata nanti bahwa pulau itu pada waktu itu telah memakai nama jang diberikan oleh orang Hindu. Djauh lebih lemah tafsiran nama radja itu dengan Dewawarman, jang bukan sadja berarti, bahwa nama radja inilah kiranja jang tertua jang kita kenal di Nusantara, tetapi djuga akan menerangkan, bahwa proses penghinduan sudah dimulai pada waktu itu, baik oleh karena seorang Hindu telah datang menetap dan mendjadikan dirinja radja, maupun seorang radja Nusantara telah mengambil nama Hindu tersebut (Effendi, 1950:11).

 

Bahwa Ye‑tiao telah mengirimkan duta ke Cina pada tahun 132 M, yang disebut di dalam Hou Han‑shu, telah dicatat oleh beberapa orang sarjana. Wolters (1967: 258) menyebut keterangan dari Pelliot (1904: 266 69), yang menyarankan bahwa Ye‑tiao adalah sebuah transkripsi yang permulaan tentang “jawa” dan kesimpulan dapat ditarik tentang hubungan Cina-Indonesia paling tua pada abad kedua Masehi. Stein (1974: 13642) mengemukakan alasan untuk percaya, di dalam hal ini, Ye‑tiao terletak di perbatasan barat daya Cina, tetapi Demieville (1951:336) tidak mempercayainya. Ia menyebut bahwa: “Java’ ia also a mainland South East Asian toponym; it appears in Ram Khamhaeng’s incription of 1292 in the contex of Laos”. Sedangkan Fujita Toyohachi berpikir Ye‑tiao adalah satu bentuk alternatif dari Ssu‑tiao dalam arti Ceylon. Hal ini katanya tidak mengherankan, jika penguasa Singhala mengirimkan satu perutusan ke Cina pada tahun 132 M., karena perutusan dari India Utara yang tertua dari tahun 89 M. (Atja & Ekadjati,1987:32).

 

Sartono Kartodirdjo, mengutip tulisan NJ. Krom dalam Hindoejavaanscht Geschiedenis (1931), antara lain sebagai berikut:

Berita lainnya yang juga tidak dapat dipastikan kebenarannya ialah berita Cina yang berasal dari tahun 132 M. Di dalam berita itu disebutkan, bahwa raja Ye‑tiao yang bernama Pien, meminjamkan meterai mas dan pita ungu kerajaannya kepada maharaja Tiao‑pien. Menurut dugaan Sarjana Perancis G. Ferrand, Ye‑tiao dapat disesuaikan dengan Yawadwipa, sedangkan Tiao‑pien merupakan lafal Cina dari nama Sanskerta Dewawarman (Kartodirdjo,1977:3637 )

 

Untuk lebih jelasnya, D.G.E. Hall, Guru Besar Emiritus Sejarah Asia Tenggara Universitas London, mengemukakan hal yang sama, antara lain:

Bahwa laporan orang-orang Cina berikutnya, tahun 132, mungkin ada artinya dalam hubungan ini, seandainya interpretasi yang agak kurang pasti dari nama‑nama yang disebut mempunyai nilai. Disebut upacara penerimaan oleh Kaisar Han untuk suatu perutusan yang membawa hadiah kehormatan dari seorang raja Ye-tiao bernama Tiao‑pien. Apakah Ye‑tiao merupakan terjemahan kedalam bahasa Cina dari istilah Sanskerta, Javadvipa, pulau Jawa, dan apakah nama raja itu sama dengan Dewawarman dalam bahasa Sanskerta?

 

Informasi yang nampaknya lebih pasti, datang dari akhli Ilmu Bumi asal Alexander bernama Claudius Ptolomy, yang menulis pada tahun 165 atau mungkin lebih awal lagi, dan jelas menggunakan sumber-sumber yang lebih tua lagi. Buku VII dari Geographianya, secara detail berisi tentang Asia Tenggara, yang menggambarkan negeri Perak dan negeri Mas dekat kota-kota di Semenanjung Mas, “Chryse Chersonesus”. Di antara pulau‑pulau Nusantara disebut “Barousai Lama”, dihuni oleh pemakan daging manusia, “Sabadeibai Tiga”, juga dihuni oleh pemakan daging manusia, dan pulau Yabadiou atau Sabadiou nama yang berarti negeri Jelai, yang dikatakan sangat subur dan menghasilkan emas banyak dan ibukotanya di ujung sebelah baratnya, sebuah kota dagang bernarna Argyre atau Kota Perak (Hall, 1958 dalam Soewarsa,1988:1718).

Pendapat D. G. E. Hall, dipertegas lagl oleh Sartono Kartoclirdjo, sebagaimana yang dikemukakan dalam buku Sejarah Nasianal Indonesia II, adalah sebagai berikut:

Dalam buku Geographike, kita bertemu kembali dengan nama‑nama tempat yang berhubungan dengan logam mulia, yaitu emas dan perak. Tempat‑tempat tersebut ialah Argyre Chora, yaitu negeri Perak, Chryse Chora, negeri emas dan Chryse Chersonensos, semenanjung emas. Kitab ini menyebutkan pula nama tempat Iabadiou, yaitu Pulau Enjelai (Kartodirdjo,1977: 6).

 

Menggunakan sumber yang sama, pendapat Yogaswara yang dikutip oleh Halwany Michrob, mengemukakan antara lain sebagai berikut:

Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa, India dan Cina adalah dengan ditemukannya peta yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus. Peta ini dibuat pada tahun 165 M. berdasarkan tulisan geograf Starbo (27-14 SM) dan Plinius (akhir abad pertama masehi). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung utara Sumatera, kemudian menyusuri pantai barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok selatan sampai ke Cina (Yogaswara, dalam Michrob 1993: 32).

Bermula dari sebuah berita Cina dari zaman keluarga (dinasti) Han, memberitakan bahwa “raja Ye‑tiao bernama Tiao‑pien, mengirirrilcan utusannya ke Cina dalam tahun 132 Masehi”. Ye‑tiao diduga sama dengan Yawadwipa atau Yabadiu, dan nama Tiao‑pien diduga sama dengan Dewawarman. Menurut Ayatrohaedi, Tiao artinya Dewa, dan Pien artinya Warman.

Sasaran mengarah ke Jawa bagian Barat, karena berita itu dihubungkan pula dengan tulisan seorang ahli Ilmu Bumi Mesir bernama Claudius Ptolemeus, dalam bukunya Geographia yang ditulis kira‑kira tahun 150 M. la. memberitakan, bahwa di dunia timur terdapat Iabadiou yang subur dan banyak menghasilkan emas. Di ujung barat Iabadio terletak (kota) Argyre. Iabadiou dapat dicapai setelah melalui 5 pulau Barousai dan 3 pulau Sabadibai.

Bila kedua berita dari Cina dan Ptolemeus ini digabungkan, dengan sendirinya diduga kuat, bahwa hal tersebut menyangkut sebuah kerajaan di ujung barat Pulau Jawa.

Hasan Mu’arif Ambary, pakar arkeologi Islam Universitas Indonesia, seperti yang dimuat dalam majalah Tempo (2000: 67), menyatakan bahwa pada abad ketiga, Ptolemeus sudah melakukan transaksi perdagangan di Palembang, dan menyebut kota itu dengan nama Barus, lantaran ia menukar minyak wangi dan keramik Yunani dengan kapur barus, yang merupakan hasil utama kawasan itu.

Kartogtafer Eropa pada abad ke‑15‑17 mana pun yang hendak mencari tahu sejarah Nusantata mulanya berangkat dari keterangan Claudius Ptolemeus (90‑168 Masehi). Akhli matemarika dan astronom dari Alexandria ini adalah orang pertama yang membuat catatan perjalanan ancar-ancar letak Asia.

Hasan Mu’arif Ambary, pernah melakukan penggalian di Palembang, dan nyatanya, banyak keramik dari Yunani yang bercorak sama dengan penemuan di India, Cina, dan Persia. Temuan tersebut membuktikan bahwa sebelum zaman Gold, Glory and Gospel, sudah ada jalur bisnis di Asia. Rute Ptolemeus adalah Venesia, Iskandaria, Teluk Aden (Yaman), India, Barus, Cina, dan kembali ke Venesia. Temuan selanjutnya, berupa benda-benda keramik dari masa Dinasti Han, terdapat di Jawa Barat (Krom, terjemahan Effendi,1956:10). Tepatnya di pesisir pantai utara Banten (Lombard, 1996:15).

Berdasarkan temuan tersebut di atas, dapat diduga, bahwa Claudius Ptolemeus yang menempatkan Iabadiou dan Argyre dalam kartografnya, tentu dilakukan berdasarkan catatan pemetaan yang cermat.

Bahkan, Sartono Kartodirdjo, menduga Argyre yang dimaksud oleh Claudius Ptolemeus, dalam bukunya Geographia Hyphegesis, yang berarti perak, adalah “terjemahan” dari Merak, yang memang terletak di sebelah barat Pulau Jawa (Kartodirdjo,1977: 36).

Ayatrohaedi dan Edi S. Ekadjati dalam acara bedah naskah Sejarah Banten (18 Maret 2001 di Puri Salakanagara Pandeglang), sebagai Dewan Pakar menyimpulkan, bahwa Salakanagara memang pernah ada di pesisir barat Pandeglang dan merupakan kerajaan tertua di Nusantara.

 

 

BAGIAN 3:  TATAR SUNDA MASA SILAM

 

  1. MASA TARUMANAGARA 

 

Halwany Michrob, dalam buku Catatan Masa Lalu Banten, mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:

Dengan ditemukannya Prasasti Munjul, yang terletak di tengah Sungai Cidangiang, Lebak Munjul, Pandeglang, berita tentang Banten dapat lebih diperjelas lagi. Prasasti ini, yang diperkirakan berasal dari abad V, bertuliskan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. Ini berarti bahwa daerah kuasa Tarumanagara sampai juga ke Banten, dan diceritakan pula bahwa negara pada masa itu dalam kemakmuran dan kejayaan (Michrob,1993: 37).

Untuk melengkapi Tarumanagara yang dikemukakan oleh Halwany Michrob, riwayat dapat diikuti melalui naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 1, halaman 771, antara lain sebagai berikut:

 

.. // ri bharatanagari rruang wamca athawa nuang rajya / calankayanawanica mwaug pallowamca / zoos inalahaken ri yuddhakala de nira samudraghupta maharaja maurya //sang ghuptaneher mahakawaca sx ra i bhumi bharata // makaswabhawa nira tan kenah / nist7snagalak ring eatru nira yeku sang alah // matangyan sekopayanya kulawandha mwang pirang sikyamutya mwang janapa sakeng kanwa wamcanung kasoran fi yuddkakala akweh pantaranya manigit angluru cesa ning pejah //..

 

Terjemahannya:

 

Di negeri India dua keluarga atau dua kerajaan yaitu keluarga Calankayana dan Pallawa telah dikalahkan dalam perang oleh Samudragupta Maharaja Maurya. Sang Gupta lalu menjadi yang paling berkuasa di India. Perangai tidak layak, kejam tidak mengenal belas kasihan terhadap musuh yang telah dikalahkannya. Oleh karena itu keluarga, para pembesar dan penduduk dari kedua kerajaan yang kalah perang itu berupaya melarikan diri mencari keselamatan.

 

Perang itu terjadi tahun 267 Saka (345 Masehi). Sementara itu, rajanya telah kalah, tetapi kerajaannya tidak hilang dari muka bumi. Hanya saja, yang kalah, menjadi bawahan sang pemenang. Semua penduduk Pallawa dan Calankayana, sangat menderita dan banyak yang tewas, karena sang penguasa, yaitu raja Gupta, telah banyak membunuh orang‑orang yang tak berdosa. Telah banyak, tentara dan pemuka negara yang kalah, tewas di medan perang. Oleh karena itu, di kota‑kota negara yang kalah perang, merajalela kaum perampok. Sedangkan raja yang menderita kekalahan, beserta keluarga, pengiring dan para pembesar lainnya, bersembunyi masuk ke dalam hutan.

Adapun maharaja Maurya itu, bernama nobat Samudragupta Mahaprabawa Raja Magada, yang besar kotanya. Sedangkan raja Calankayana, bernama nobat Maharaja Hastiwarman dan raja Pallawa, bernama nobat Maharaja Wisnugopa. Kedua raja ini bersahabat akrab dan bersatu, lalu bersama‑sama menyerang musuhnya (Samudragupta). Perang itu, berlangsung beberapa bulan lamanya. Akhirnya, kerajaan Pallawa dan Calankayana kalah. Kerajaan Maurya, memperoleh kemenangan. Yang berhasil menyelamatkan diri, dari pihak yang kalah, bersembunyi di gunung. Ada juga yang bersama keluarga dan pengiringnya, pergi ke seberang laut, yaitu ke Semenanjung, Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Negeri Yawana, dan sebagainya.

Salah satu kelompok keluarga Pallawa, yang mengungsi ke Pulau Jawa, dipimpin oleh Darmawirya, kelak setelah menikah dengan Rani Sphatikarnawa Warmandewi, menjadi Dewawarman Vlll (raja terakhir Salakanagara). Keluarga Hastiwarman dan Wisnugopa, tersebar ke berbagai negara, terutama yang dahulu menjadi sahabat keluarga mereka. Dinasti Warman (warmanwamca), akhirnya banyak yang menjadi raja di Nusantara, dan negara-negara lainnya.

Dalam tahun 270 Saka (348 Masehi), ada seorang Maharesi (bernama Jayasingawarman) dari Calankayana. Bersama pengikutnya (sebagai pengiring), tentara, penduduk pria dan wanita, ikut melarikan diri. Mengungsi ke pulau‑pulau di sebelah selatan, karena pihak musuh, selalu berusaha menangkap mereka. Sang Maharesi Jayasingawarman bersama para pengikutnya, tiba di Pulau Jawa dan menetap di Jawa Kulwan (barat). Di sebelah barat Citarum, Sang Maharesi mendirikan perdukuhan, yang kemudian diberi nama Tarumadesya. Wilayah ini (Taruma‑desya), termasuk daerah kekuasaan Sang Prabu Dewawarman VIII. Kelak, Sang Maharesi Jayasingawarman menjadi menantu Sang Prabu Dewawarman VIII.

Kira kira sepuluh tahun kemudian, desa itu menjadi besar, karena banyak penduduk dari desa-desa lain, datang dan menetap di situ. Beberapa tahun kemudian, desa Taruma itu, telah menjadi nagara. Jayasingawarman terus berusaha, memperbesar negaranya, sampai menjadi sebuah kerajaan, lalu diberi nama: Tarumanagara. la lalu menjadi Rajadirajaguru yang memerintah kerajaannya, bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa

Sang Maharesi Rajadirajaguru menjadi raja Taumanagara selama 24 tahun, yaitu dari tahun 280 sampai 304 Saka (358‑382 Masehi). la wafat dalam usia 60 tahun, dan dipusarakan di tepi kali Gomati. la digantikan putera sulungnya yang bernama Rajaresi Darmayawarmanguru. Ia bergelar demikian, karena selain memegang pemerintahan Tarumanagara, ia pun menjadi pemimpin semua guru agama (Hindu) di situ.

Tetapi penduduk di desa‑desa kerajaan Taruma, banyak yang tetap menganut pemujaan roh, yaitu memuja roh leluhur (pitampuja) menurut adat yang diwarisi dari nenek moyangnya. Sang Rajaresi, selalu berusaha mengajarkan agamanya kepada penghulu desa‑desa dan penduduk Tarumanagara. Oleh karena itu, Sang Rajaresi mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Walaupun demikian, tidak semua penduduk mau mengikuti agamanya.

Waktu itu, kehidupan penduduk dijadikan empat kasta, yaitu: yang pertama kasta Brahmana, yang kedua kasta Ksatriya, yang ketiga kasta Waisya, dan yang keempat kasta Sudra Dengan demikian, penduduk itu dibeda‑bedakan antara golongan Nista‑Madya ‑ Utama. Penduduk golongan nista, sangat takut terhadap agama Sang Rajaresi.

la menjadi raja Tarumanagara hanya 13 tahun, dari tahun 304 sampai tahun 317 Saka (382 ‑ 395 Masehi). la disebut juga Sang Lumahing Candrabaga (yang mendiang di Candrabaga), karena ia dipusarakan di tepi kali Candrabaga (Cibagasasi atau kali Bekasi). Sedangkan ayahnya, dipusarakan di tepi kali Gomati. Rajaresi Darmayawarmanguru, digantikan oleh puteranya, yang bernama Purnawarman, yang memerintah dari tahun 317 sampai tahun 356 Saka (395‑434 Masehi).

Purnawarman, dilahirkan tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna tahun 294 Saka (16 Maret 372 Masehi). Dua tahun sebelum ayahnya wafat, ia diwisuda sebagai raja Tarumanagara ketiga, pada tanggal 13 bagian terang bulan Caitra tahun 317 Saka (12 Maret 395 Masehi). Ayahnya, Rajaresi Darmayawarman, mengundurkan diri dari tahta kerajaan, untuk hidup di pertapaan menempuh manurajasunya (bertapa setelah turun tahta sampai ajal tiba).

Tindakannya yang pertama, ialah memindahkan ibukota kerajaan, ke sebelah utara ibukota lama, yang disebut Jayasingapura yang didirikan oleh kakeknya, Jayasingawarman. Ibukota yang baru itu, diberi nama Sundapura (kola Sunda), dibangun di tepi kali Gomati.

Kira‑kira tiga tahun setelah ia dinobatkan, Purnawarman membuat pelabuhan di tepi pantai. Pembuatannya, dimulai tanggal 7 bagian terang bulan Margasira (15 Desember 398 Masehi) dan selesai pada tanggal 14 bagian terang bulan Posya (11 November 399 Masehi). Pelabuhan ini, segera menjadi ramai, oleh kapal-kapal perang kerajaan Taruma.

Selama masa pemerintahannya, Purnawarman telah menaklukan kerajaat-kerajaan lain di Jawa Barat, yang belum tunduk kepada kekuasaan Tarumanagara. Semua musuh yang diserangnya, selalu dapat dikalahkan. la seorang pemberani, menguasai berbagai ilmu dan siasat berperang, yang menjadikan dirinya, sebagai seorang raja yang perkasa dan dahsyat (bhimaparakramoraja). Tidak ada satupun senjata musuh yang dapat melukainya, karena dalam perang, ia selalu mengenakan baju pelindung dari besi yang dipasangnya mulai dari kepala sampai ke kaki. la perkasa dan tangkas di medan perang, sehingga oleh lawan‑lawannya, digelari Harimau Tarumanagara (wyaghra ring tarumanagara).

 

Akhirnya, Purnawarman, menjadi seorang raja yang sangat besar kekuasaannya di Jawa Barat. Sri Maharaja Purnawarman, ibarat raja matahari yang bersinar bagi raja‑raja sesamanya (panji segala raja). Tarurnanagara menjadi sebuah kerajaan yang sangat besar kekuasannya di Pulau Jawa. Tiap tahun, semua raja bawahannya selalu datang di Purasaba Sundapura, untuk berbakti dan mempersembahkan upeti kepada Sri Maharaja Purnawarman. Raja‑raja bawahan itu, datang ke ibukota (Sundapura), tiap tanggal 11 bagian terang bulan Caitra (Maret-April). Kemudian, dari tanggal 13 sampai tanggal 15, mereka berkumpul bersama‑sama keluarga kerajaan Tarumanagara, sambil menghadiri pesta yang dimeriahkan oleh tarian gadis‑gadis cantik, dengan iringan suara gamelan yang merdu. Sang Maha raja menjamu tamu-tamunya dengan makanan dan minuman yang serba lezat (wesalehyamadhupanadi).

Untuk kesejahteraan hidup rakyatnya, ia sangat memperhatikan pemeliharaan aliran sungai. Tahun 410 Masehi, ia memperbaiki alur kali Gangga di daerah Cirebon, yang waktu itu termasuk kawasan kerajaan Indraprahasta. Sungai yang bagian hilirnya, disebut Cisuba, ini mulai diperbaiki (diperdalam) dan diperindah tanggulnya, pada tanggal 12 bagian gelap bulan Margasira. Selesai pada tanggal 15 bagian terang bulan Posya tahun 332 Saka. Sebagai tanda penyelesaian karyanya, Sang Purnawarrnan, mengadakan selamatan dengan pemberian hadiah harta (sangaskararthadaksina) kepada para Brahmana dan semua pihak yang ikut serta menggarap pekerjaan itu sampai selesai. Hadiah ini berupa: sapi 500 ekor, pakaian, kuda 20 ekor, gajah seekor, yang diberikan kepada raja Indraprahasta, serta jamuan rnakanan dan minuman yang lezat. Ribuan orang laki-laki dan perempuan, dari desa sekitarnya, ikut serta berkarya bakti di situ. Semua mereka itu, mendapat hadiah dari Sang Purnawarman.

Dua tahun kemudian, Sang Purnawarman, memperteguh dan memperindah alur kali Cupu yang terletak di (kerajaan) Cupunagara Sungai tersebut, mengalir sampai di istana kerajaan. Pengerjaan, dimulai tanggal 4 bagian terang bulan Srawana (Juli/Agustus) sampai tanggal 13 bagian gelap bulan Srawana itu juga (14 hari) tahun 334 Saka (412 Masehi). Hadiah yang dianugerahkan Sang Purnawarman pada upacara selamatannya, ialah: sapi 400 ekor, pakaian, dan makanan lezat. Setiap orang, yang ikut serta mengerjakan saluran ini, mendapat hadiah dari raja. Baik di tepi kali Gangga di Indraprahasta maupun di tepi kali Cupu, Sang Maharaja Purnawarman membuat prasasti, yang ditulis pada batu, sebagai ciri telah selesainya pekerjaan itu dengan kata‑kata berbunga (sarwa bhasana). Mengenai kebesarannya dan sifat‑sifatnya, yang diibaratkan Dewa Wisnu, melindungi segenap mahluk di burni dan di akhir kelak. Prasati itu, ditandai lukisan telapak tangan. Para petani merasa senang hatinya. Demikian pula para pedagang, yang biasa membawa perahu, dari muara ke desa-desa di sepanjang tepian sungai.

Pada tanggal 11 bagian gelap bulan Kartika (Oktober/November) sampai tanggal 14 bagian terang bulan Margasira (Desember/Januari) tahun 335 Saka (413 Masehi), Sang Purnawarman, memperindah dan memperteguh alur kali Sarasah atau kali Manukrawa. Waktu dilangsungkan upacara selamatan, Sang Purnawarman sedang sakit, sehingga terpaksa ia mengutus Mahamantri Cakrawarman untuk mewakilinya. Sang Mahamantri, disertai beberapa orang Menteri Kerajaan, Panglima Angkatan Laut, Sang Tanda, Sang Juru, Sang Adyaksa, beserta pengiring lengkap, datang di ternpat upacara dengan menaiki perahu besar. Hadiah yang dianugerahkan adalah: sapi 400 ekor, kerbau (mahisa) 80 ekor, pakaian bagi para Brahmana, kuda 10 ekor, sebuah bendera Tarumaragara, sebuah patung Wisnu, dan bahan makanan. Setiap orang, yang ikut serta dalam pekerjaan ini, memperoleh hadian dari Sang Maharaja Purnawarman.

Para petani menjadi senang hatinya, karena ladang milik mereka menjadi subur tanahnya, dengan mendapat pengairan (kaunuayan) dari sungai tersebut. Dengan demikian, tidak akan menderita kekeringan dalarn musim kemarau.

Kemudian, Sang Purnawarman, memperbaiki, memperindah serta memperteguh alur kali Gomati dan Candrabaga. Ada pun kali Candrabaga itu, beberapa puluh tahun sebelumnya, telah diperbaiki, diperindah serta diperteguh alurnya oleh Sang Rajadirajaguru, kakek Sang Purnawarman. Jadi, Sang Maharaja Purnawarman, mengerjakan hal itu untuk kedua kalinya.

Pengerjaan kali Gomati dan Candrabaga ini, berlangsung sejak tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna, sampai tanggal 13 bagian terang bulan Caitra tahun 339 Saka (417 Masehi). Ribuan penduduk, laki‑laki dan perempuan, dari desa‑desa sekitarnya, berkarya‑bakti siang‑malam, dengan membawa berbagai perkakas. Mereka itu, berjajar memanjang di tepi sungai, sambung menyambung tidak terputus, tanpa saling mengganggu pekerjaan masing-masing.

Selanjutnya, Sang Purnawarman mengadakan selamatan dan memberi hadiah harta, kepada para Brahmana. Perinciannya: sapi (ghoh) 1.000 ekor, pakaian serta makanan lezat. Sedangkan para pemuka dari daerah, ada yang diberi hadiah kerbau (mahisa), ada yang diberi hadiah perhiasan emas dan perak, ada yang diberi hadiah kuda dan bermacam‑macam hadiah lainnya lagi. Di situ, Sang Maharaja, membuat prasasti yang ditulis pada batu.

Demikian pula di tempat‑tempat lain, Sang Purnawarman, banyak membuat prasasti batu, yang dilengkapi dengan patung pribadinya, lukisan telapak kakinya, lukisan telapak kaki tunggangannya, yaitu gajah yang bernama Sang Erawata. Demikian pula ada yang ditandai dengan lukisan brahmara (kumbang atau lebah), sanghyang tapak, bunga teratai, harimau dan sebagainya, dengan tulisan pada batunya.

Di tempat‑tempat pemujaan (pretakaryam) yang telah selesai dibangun, dilukiskan bendera Tarumanagara dan jasa-jasa Sang Maharaja. Sernua itu, ditulis pada prasasti batu, di sepanjang tepi sungai di beberapa daerah.

Pada tangal 3 bagian gelap bulan Jesta (Mei/Juni), sampai tanggal 12 bagian terang bulan Asada (Juni/Juli) tahun 341 Saka (419 Masehi), Sang Purnawarman, memperbaiki, memperteguh alur dan memperdalam Citarum, sungai terbesar di kerajaan Taruma (di Jawa Barat). Selamatan dan hadiah harta, dilaksanakan setelah pekerjaan itu selesai. Hadiah berupa sapi 800 ekor, pakaian, makanan lezat, kerbau 20 ekor dan hadiah‑hadiah lainnya. Kemudian, para Brahmana memberkati Maharaja Tarumuragara.

Dahulu, ketika Tarumanagara diperintah oleh Sang Rajadirajaguru dan Rajaresi Darmayawarmanguru, kerajaan ini tidak seberapa. Tetapi, setelah Purnawarman menjadi raja Tarumanagara, angkatan perangnya diperbesar serta lengkap persenjataannya. Demikian pula halnya Angkatan Laut, diperbesar dan diperkuat. Karena itu, pasukan Tarumanagara, selalu memenangkan pertempuran.

Setelah kerajaan Taruma menjadi besar dan kuat, Sang Purnawarman dinobatkan menjadi Maharaja, dengan gelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati, la pun seorang pemuja Batara Indra, apabila hendak pergi menyerang musuhnya. Karena itulah, ia disebut Sang Purandara Saktipurusa (manusia sakti penghancur benteng).

Sejak tanggal 3 bagian gelap bulan Maga (Januari/Februari) tahun 321 Saka (399 Masehi) sampai tahun 325 Saka (403 Masehi), Sang Purnawarman melancarkan perang terhadap bajak laut, yang merajalela di perairan barat dan utara. Pembersihan terhadap kaum perompak ini, dimulai ketika seorang menteri kerajaan Taruma bersama 7 orang pengiringnya, ditawan kemudian dibunuh oleh perompak. Perang pertama dengan kaum perompak ini, terjadi di perairan Ujung Kulon. Angkatan Laut Tarumanagara, dipimpin langsung oleh Sang Purnawarman:

Puluhan kapal perang (armada laut) Tarumanagara, mengepung dua buah kapal perompak, di tengah laut. Dari 80 orang perompak, sebahagian terbunuh dalam perang. Sisanya, sebanyak 52 orang dapat ditawan. Seorang demi seorang; perompak yang ditawan itu, dibunuh dengan berbagai cara, dan semua mayatnya dibuang ke tengah laut. Demikian marahnya Sang Purnawarman terhadap kaum perompak. Sehingga, ia tidak pernah mengampurri seorang pun, di antara mereka.

Telah lama, perairan Pulau Jawa sebelah utara, barat dan timur, dikuasai kaum perompak. Jumlah mereka tidak terhitung dan tersebar di lautan. Semua kapal diganggu. Semua barang yang ada di dalamnya, dipinta atau dirampas. Banyak kapal perompak berkeliaran di perairan Jawa Barat. Tak ada yang berani mamasuki atau melewati perairan ini, karena sepenuhnya telah dikuasai kaum perompak yang ganas dan kejam. Setelah Sang Purnawarman berhasil membasmi semua perompak, barulah keadaan menjadi aman, dan penduduk Tarumanagara merasa senang. Perairan utara Pulau Jawa telah bersih dari gangguan perompak. Tak terhitung junrlah perompak yang ditangkap dan dijatuhi hukuman.

Pada bagian ini, kemungkinan besar ada hubungannya dengan temuan prasasti Cidangiang, di Desa Lebak Kecamatan Munjul Kabupaten Pandeglang, yang tertulis dalam aksara Pallawa bahasa Sanskerta, antara lain sebagai berikut:

 

vikrantayam vanipateh

prabbhuh satyaparakramah

narendraddhvajabutena crimatah

pumnavarmmanah

 

Terjemahannya:

(Ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman (Danasasrrrita, 1984: 3‑1).

 

Prasasti ini terletak di aliran Sungai Cidangiang yang bermuara ke Teluk Lada perairan Selat Sunda. Kemungkinan besar, kawanan perompak di wilayah Ujung Kulon yang ditumpas habis oleh Sang Purnawarman, bercokol di perairan Teluk Lada ini. Prasasti tersebut merupakan tanda penghargaan kemenangan kepada masyarakat setempat atas kepatriotan masyarakat sekitar sungai Cidangiang, sebagaimana yang sering dilakukan oleh Sang Purnawarman.

Dipilihnya tepi Sungai Cidangiang, sebagai lokasi ditempatkannya prasasti, karena sebutan Cidangiang sendiri menunjukkan adanya indikasi masa silam, bahwa Ci‑Dang‑Hiyang memiliki nilai spiritual dalarn sistem religi Sunda.

 

 

 

Adik Sang Purnawarman, bernama Cakrawarman, menjadi Panglima Perang. Sedangkan pamannya dari pihak ayah, bernama Nagawarman, menjadi Panglima Angkatan Laut (Senapati Sarwajala). Sang Nagawarman, sering pergi sebagai duta Sang Purnawarman ke negeri seberang, untuk mempererat persahabatan. la pernah mengunjungi Semenanjung, negeri Syangka, Yawana, Cambay (di India), Sopala, Bakulapura, Cina, Sumatera dan lain‑lain.

Adapun bendera kerajaan Taruma, berupa bunga teratai di atas kepala (gajah) Erawata. Sedangkan rnaterai raja (rajatanda), adalah lempengan (daun) emas berbentuk brahmara (lebah atau kumbang). Bendera Angkatan Lautnya, berlukiskan naga (nagadhuajarupa), yang dikibarkan pada tiap kapal perang Tarumanagara. Ada lagi bendera‑bendera yang berlukiskan senjata milik satuan‑satuan tempur. Kerajaan‑kerajaan bawahan Taruma, mempunyai bendera, berlukiskan berbagai macam binatang.

Salah seorang isteri Sang Purnawarman, berasal dari Bakulapura. Negeri ini, ada di Tanjung Nagara (Kalimantan). Kisahnya berawal dari Sang Kudungga.

Sang Kudungga putera Sang Atwangga. Sang Atwangga putera Sang Mitrongga. Keluarga itu, telah beberapa puluh keturunan, berada di situ dan menjadi penguasa. Beberapa ratus tahun sebelumnya, keluarga itu, datang dari India. Pangkal silsilah mereka, dimulai dari Sang Pusyamitra, yang menurunkan wangsa Sungga di Magada. Ketika wangsa Sungga dikalahkan dan dikuasai oleh wangsa Kusan (Kucanawamsa), banyak di antara anggota keluarga ini, laki‑laki dan perempuan, yang mengungsi ke berbagai negara. Salah seorang anggota keluarga Sungga, bersama keluarga dan pengiringnya, tiba di salah satu pulau di Nusantara Mereka mendirikan desa, yang diberi nama Kuta (Kutai). Setelah berkembang menjadi kerajaan kecil, kemudian diubah namanya, menjadi Bakulapura.

Puteri Sang Kudungga, diperistri oleh Sang Aswawarman, putera kedua dari Prabu Darmawirya Dewawarman dengan Rani Sphatikarnawa Warmandewi. Kakak perempuan Sang Aswawarman, yang bernarna Dewi Minawati alias Iswan Tunggal Pretiwi, menjadi permaisuri Jayasingawarman Rajadirajaguru, raja Tarumanagara pertama.

Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII (raja Salakanagara terakhir), telah lama bersahabat dengan penguasa Bakulapura Sebab, Sang Kudungga, adalah saudara sepupu permaisurinya dari pihak ibu. Karena itulah, Sang Aswawarman diangkat anak oleh Sang Kudungga, dan sejak kecil tinggal di Bakulapura.

 

Jadi, Aswawarman dengan isterinya, masih saudara satu‑buyut. Setelah Sang Kudungga wafat, Sang Aswawarman menggantikannya, sebagai penguasa Bakulapura. Dalam masa pemerintahannya, Bakulapura menjadi kerajaan besar dan kuat, sehingga dialah yang dianggap sebagai pendiri dinasti (wamcakerta).

Aswawarman berputera tiga orang. Yang sulung bernama Mulawarman, kelak menggantikan ayahnya, menjadi penguasa Bakulapura. Di bawah pemerintahan Sang Mulawarman, Bakulapura menjadi makin kuat dan besar. la adalah raja yang sangat berwibawa dan membawahi kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya Persahabatan antara Bakulapura dengan Tarumanagara, menjadi semakin erat. Duta Bakulapura ditempatkan di ibukota Tarumanagara dan dernikian pula sebaliknya.

Permaisuri Sang Purnawarman, adalah puteri salah seorang raja bawahannya. Dari permaisuri ini, ia memperoleh beberapa orang putera dan puteri. Putera sulungnya, bernama Wisnuwarman, kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Tarumanagara keempat. Adik Wisnuwarman yang perempuan, diperistri oleh seorang raja di Sumatera. Kelak, Sri Jayanasa, seorang raja besar di pulau itu, adalah keturunannya. Isteri‑isteri Purnawarman yang lainnya, berasal dari: Sumatera, Bakulapura, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya.

Sang Purnawarman adalah pemuja Wisnu. Akan tetapi, penduduk, ada juga yang memuja Batara Sangkara (Siwa) dan Brahma. Penganut Budha, tidak seberapa banyak. Kecuali di Pulau Sumatera. Penduduk pribumi, kebanyakan tetap memuja roh leluhur (pitarapuja), menurut adat yang diwarisi nenek moyangnya. Sang Purnawarman, menyusun bermacam-macam pustaka yang berisi: Undang undang kerajaan; Peraturan Ketentaraan; Siasat Perang; Keadaan Daerah‑Daerah di Jawa Barat; Silsilah Dinasti Warman; Kumpulan Maklumat Kerajaan dan lain‑lain.

Sri Maharaja Purnawarman, wafat pada tanggal 15 bagian terang bulan Posya tahun 356 Saka (24 November 434 Masehi) dalam usia 62 tahun. Ia dipusarakan di tepi Citarum, sehingga mendapat sebutan Sang Lurnah Ing Tarumanadi (yang dipusarakan di Citarum).

Pada saat Sri Maharaja Purnawarman wafat, kerajaan‑kerajaan yang menjadi bawahannya, adalah sebagai berikut: Salakanagara (Pandeglang), Cupunagara (Subang), Nusa Sabay, Purwanagara, Ujung Kulon (Pandeglang), Gunung Kidul, Purwalingga (Purbalingga), Agrabinta (Cianjur), Sabara, Bumi Sagandu, Paladu, Kosala (Lebak), Legon (Cilegon), Indraprahasta (Cirebon), Manukrawa (Cimanuk), Malabar (Bandung), Sindang Jero, Purwakerta (Purwakarta), Wanagiri, Galuh Wetan (Ciamis), Cangkuang (Garut), Sagara Kidul, Gunung Cupu, Alengka, Gunung Manik (Manikprawata), Gunung Kubang (Garut), Karang Sindulang, Gunung Bitung (Majalengka), Tanjung Kalapa (Jakarta Utara), Pakuan Sumurwangi, Kalapa Girang (Jakarta Selatan), Sagara Pasir, Rangkas (Lebak), Pura Dalem (Karawang), Linggadewata, Tanjung Camara (Pandeglang), Wanadatar, Setyaraja, Jati Ageung, Wanajati, Dua Kalapa, Pasir Muhara, Pasir Sanggarung (Cisanggarung), Indihiyang (Tasikmalaya).

Sebagai pengganti Sri Maharaja Purnawannan, putera sulungnya, Sang Wisnuwarman, dengan nama nobat: Sri Maharaja Wisnuwarman Digwijaya Tunggal Jagatpati Sang Purandarasutah. la dinobatkan menjadi raja Tarumanagara keempat, pada tanggal 14 bagian terang bulan Posya tahun 365 Saka (3 Desember 434 Masehi). Memegang pemerintahan di Tarumanagara hingga tahun 377 Saka (455 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Indrawarman, sebagai raja Tarumanagara kelima, dengan nama nobat: Sri Maharaja Indrawarman Sang Paramarta Sakti Mahaprabawa Lingga Triwikrama Buanatala. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 437 Saka (515 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Candrawarman, sebagai raja Tarumanagara keenam, dengan nama nobat: Sri Maharaja Candrawarman Sang Hariwangsa Purusakti Suralagawageng Paramarta. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 457 Saka (535 Masehi).

Digantikan oleh puterannya, Sang Suryawarman, sebagai raja Tarumanagara ketujuh, dengan nama nobat: Sri Maharaja Suryawarman Sang Mahapurusa Bimaparakrama Hariwangsa Digwijaya. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 483 Saka (561 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Kretawarman, sebagai raja Tarumanagara kedelapan, dengan nama nobat: Sri Maharaja Kretawarman Mahapurusa Hariwangsa Digwijaya Salakabumandala. la, memerintah di Tarumanagara hingga tahun 550 Saka (628 Masehi).

Karena tidak punya keturunan, digantikan oleh adiknya, Sang Sudawarman, sebagai raja Tarumanagara kesembilan, dengan nama nobat: Sri Maharaja Sudawarman Mahapurusa Sang Paramartaresi Hariwangsa. Ia memerintah di Tarumanagara hingga tahun 561 Saka (639 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Dewamurti, sebagai raja Tanunanagana kesepuluh, dengan nama nobat: Sri Maharaja Dewamurtyatma Hariwangsawarman Digwijaya Bimaparakrama. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 562 Saka (640 Masehi).

 

Digantikan oleh puteranya, Sang Nagajaya, sebagai raja Tarumanagara kesebelas, dengan nama nobat: Sri Maharaja Nagajayawarman Darmasatya Cupujayasatru. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 588 Saka (666 Masehi).

Digantikan oleh puteranya, Sang Linggawarman, sebagai raja Taruma nagara keduabelas, dengan nama nobat: Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. la memerintah di Tarumanagara hingga tahun 591 Saka (669 Masehi).

la digantikan oleh menantunya, Sang Tarusbawa, sebagai penerus tahta Tarumanagara, dengan nama nobat; Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa. Sang Tarusbawa dinobatkan pada tanggal 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 Masehi). Dalam tahun yang sama, menantu Sang Linggawarman lainnya, Dapunta Hiyang Sri Jayanasa, dinobatkan sebagai raja Kerajaan Sriwijaya di Surnatera.

Sang Tarusbawa bukan keturunan dinasti Warman. Ia dilahirkan di Sunda Sembawa (Sundapura), sebagai raja keturunan pribumi di kerajaan daerah Sunda Sembawa. Ketika ia naik tahta, mengganti nama Tarumanagara, menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa tersebut berakibat fatal. Wilayah timur Tarumanagara, dengan Batas sungai Citarum, memerdekakan diri, menjadi Kerajaan Galuh, di bawah pemerintahan Sang Prabu Wretikandayun.

Mengingat kejayaan Sang Purnawarman, tentu kerajaan bawahannya yang ada di wilayah Banten (Salakanagara, Ujung Kulon, Kosala, dan Rangkas), memegang peranan penting bagi Tarumanagara.

 

  1. MASA KERAJAAN SUNDA

 

Sebagaimana yang telah diungkapkan pada bagian terdahulu, masa akhir Tarumanagara (tahun 669 Masehi), ditandai dengan adanya pewarisan tahta, dari Sang Linggawarman kepada menantunya, Sang Tarusbawa. Dengan berbagai akibatnya, Sang Tarusbawa merubah sebutan Tarumanagaia menjadi Kerajaan Sunda. Dari sejak itulah, Kerajaan Sunda, seharusnya tampil dalam panggung sejarah.

 

Walaupun kerajaannya sudah berbagi kekuasaan dengan Sang Wretikandayun, Sang Tarusbawa masih sempat memberitakan penobatannya sebagai penerus tahta Tarumanagara, ke berbagai negara sahabat. Oleh sebab itulah, dalam sumber Cina yang terakhir, menyebutkan “tentang adanya utusan dan Tarumanagara pada tahun 669 Masehi”.

Sang Tarusbawa memiliki pribadi yang cinta damai. la tidak ingin bersengketa dengan Sang Wretikandayun, walaupun Kerajaan Sunda belum tentu kalah berperang melawan Kerajaan Galuh. Prinsipnya, “lebih baik memerintah separuh kerajaan yang tangguh, daripada dipaksakan memerintah keseluruhan dalam keadaan goyah”.

Langkah Sang Tarusbawa berikutnya, memindahkan ibukota kerajaan, dari Sundapura (Bekasi) ke Pakuan (Bogor). Di sebuah lemah duwur (ketinggian tanah), Sang Tarusbawa mendirikan lima buah keraton, yang bentuk maupun besarnya sama dalam posisi berjajar. Keraton tersebut masing-masing diberi nama: Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Sedangkan dalam naskah Carita Parahiyangan menyebutnya: Sri Kadatwan Bima‑Punta –Narayana- Madura- Suradipati. Setelah keraton selesai dibangun, kemudian diberkati (diprebokta) oleh Bujangga Sedamanah, di hadapan Sang Maharaja Tarusbawa. Jumlah 5 keraton tersebut, dalam sastra klasik, sering disebut Panca Persada.

Sang Tarusbawa wafat pada tahun 723 Masehi, dalam usia 91 tahun. Sebagai penggantinya, Sang Sanjaya, sebagai raja Kerajaan Sunda yang kedua, dengan nama nobat: Maharaja Harisdarma Bimaparakrama Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya. Setelah 9 tahun berkuasa, pada tahun 654 Saka (732 Masehi), tahta Kerajaan Sunda dikuasakan kepada puteranya: Sang Tamperan Barmawijaya.

Pelimpahan kekuasaan kepada puteranya, disebabkan ia menjadi penguasa di tiga kerajaan di Pulau Jawa (Taraju Jawadwipa):

 

  1.    di Kerajaan Galuh, ia pewaris tahta dari ayahnya Sang Sena, yang terusir oleh Sang Purbasora;

 

  1.    di Kerajaan Medang bumi Mataram (Kalingga Utara) Jawa Tengah, ia pewaris tahta dari ibunya: Sanaha. Dalam Prasasti Canggal, Sanjaya adalah putera sulung dari perkawinan manu, Sena‑Sanaha;

 

  1.    di Kerajaan Sunda, ia “cucu menantu” Sang Tarusbawa. Sebab, Sang Sanjaya menikah dengan Sekar Kancana atau Teja Kancana Ayupurnawangi, cucu Sang Tarusbawa. Seharusnya, yang menjadi pewaris tahta Kerajaan Sunda, adalah ayahnya Teja Kancana, tetapi ia wafat dalam usia muda.

 

Setelah peristiwa kudeta berdarah tahta di Kerajaan Galuh, antara Sang Manarah dengan Sang Sanjaya, akhirnya ditempuh cara dengan jalan damai. Berdasarkan “Perjanjian Galuh”, yang dipimpin oleh Sang Resiguru Demunawan dari Kerajaan Saunggalah (Kuningan), akhirnya tahta Kerajaan Sunda, diwariskan kepada Sang Arya Banga. la diwisuda pada tahun 739 Masehi, sebagai raja ketiga di Kerajaan Sunda, dengan nama nobat: Prabu Kretabuana Yasawiguna Ajimulya.

Dari pernikahannya dengan Kancana Sari, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rakeyan Medang. Disebut demikian, karena putera Sang Banga tersebut, pernah berguru di Medang Bumi Mataram (bekas Kalingga), selama 8 tahun. Raja Medang pada waktu itu adalah Rakeyan Panangkaran (putera Sang Sanjaya). Rakeyan Medang, menjadi menteri muda di Kerajaan Sunda selama 3 tahun.

Sang Banga menjadi raja di Kerajaan Sunda sampai tahun 776 Masehi, kemudian digantikan oleh Rakeyan Medang, dengan nama nobat Prabhu Hulukujang. Dari permaisurinya, Prabu Hulukujang mempunyai seorang puteri, kemudian diberi nama Dewi Samatha. Puteri tersebut diperisteri oleh Rakeyan Hujungkulon. Setelah Prabu Hulukujang wafat, digantikan oleh menantunya, Rakeyan Hujungkulon, dengan nama nobat Prabu Gilingwesi.

Adik Rakeyan Hujungkulon (Prabu Gilingwesi) adalah Sang Tariwulan, yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Kerajaan Galuh, dengan nama nobat Prabu Kretayasa Dewakusaleswara. Raja Galuh tersebut, memperisteri Dewi Saraswati, puteri Saung Galah keturunan Resiguru Demunawan.

Setelah prabu Gilingwesi wafat, digantikan oleh menantunya, Rakeyan Diwus, dengan nama nobat Prabu Pucuk Bumi Darmeswara, pada tahun 795 Masehi.

Setelah Prabu Pucuk Bumi Darmaweswara wafat, digantikan oleh puteranya, Rakeyan Wuwus, yang bernama nobat Prabu Gajah Kulon pada tahun 819 Masehi.

Karena Prabu Linggabumi (raja Galuh) tidak mempunyai keturunan, ketika ia wafat, tahta Kerajaan Galuh dipercayakan kepada Prabu Gajah Kulon (raja Kerajaan Sunda). Dengan demikian, kekuasaan di wilayah Jawa Barat dipegang oleh Prabu Gajah Kulon keturunan Sang Banga, pada tahun 825 Masehi.

 

Dari Dewi Kirana, Prabu Gajah Kulon memperoleh dua orang putera, ialah:

 

  1.    Batara Danghiyang Guruwisuda; dan
  2.   Dewi Sawitri.

 

Sebagai putera laki‑laki, Batara Danghiyang Guruwisuda, pada tahun 852 Masehi, dipercaya memegang tahta Kerajaan Galuh. Sedangkan Dewi Sawitri, diperisteri oleh Rakeyan Windusakti, putera Sang Arya Kedaton dan Dewi Widyasari (adiknya Prabu Gajah Kulon).

Setelah Prabu Gajah Kulon wafat, tahta Kerajaan Sunda dan Galuh berhasil direbut dan dikuasai oleh Sang Arya Kedaton, dengan nama nobat Prabu Datmaraksa Salakabuana. Baru empat tahun memerintah, Prabu Darmaraksa Salakabuana dibunuh, oleh seorang menteri Kerajaan Sunda. Selanjutnya, tahta kerajaan digantikan oleh puteranya, Rakeyan Windusakti, dengan nama nobat Prabu Dewageung Jayeng Buana, yang terpaksa naik tahta pada tahun 895 Masehi.

Dari perkawinannya dengan Dewi Sawitri, Rakeyan Windusakti (Prabu Dewageung Jayeng Buana), memperoleh dua orang putera, antara lain:

 

  1.   Rakeyan Kamuning Galling; dan
  2.   Rakeyan Jayagiri.
  3.   Prabu Dewageung Jayeng Buana wafat pada tahun 913 Masehi, kemudian digantikan oleh Rakeyan Kamuning Galling, dengan nama nobat Prabu Pucukwesi.

 

Prabu Pucukwesi memerintah di Kerajaan Sunda-Galuh hanya 3 tahun, sebab pada tahun 916, tahtanya direbut oleh adiknya sendiri, Rakeyan Jayagiri, Rakeyan Jayagiri naik tahta, dengan nama nobat Prabu Wanayasa Jayabuana.

Di pihak lain, ketika peristiwa perebutan tahta terjadi, tahta Kerajaan Galuh sudah diwariskan kepada Rakeyan Jayadrata, cucu Batara Danghiyang Guruwisuda dari puteri Dewi Sundara.

Pasukan Kerajaan Sunda, yang ditempatkan di Kerajaan Galuh oleh Prabu Wanayasa Jayabuana, diperintahkan untuk merebut keraton Galuh. Akan tetapi, berhasil dikalahkan oleh Rakeyan Jayadrata bersama pasukan Kerajaan Galuh.

Serangan kedua pasukan Kerajaan Sunda, yang besar dan lengkap, dikerahkan kemudian, untuk menyerbu Kerajaan Galuh. Serbuan inipun, dapat ditangkis dan dihancurkan oleh pasukan Kerajaan Galuh, yang dipimpin langsung oleh Prabu Jayadrata.

Kerajaan Galuh, membebaskan diri sebagal kerajaan yang merdeka, di bawah naungan Prabu Jayadrata. la adalah kakak ipar Rakeyan Limbur Kancana. Rakeyan Limbur Kancana, putera Rakeyan Kamuning Gading (Prabu Pucukwesi), yang dibunuh oleh adiknya, Rakeyan Jayagiri.

Karena Kerajaan Galuh sudah membebaskan diri (merdeka), Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa Jayabuana, hanya memerintah di wilayah Kerajaan Sunda, sebelah barat Citarum. Prabu Wanayasa Jayabuana, berkuasa di kerajaan Sunda sampal tahun 920 Masehi, karena dibunuh dan digulingkan, oleh Rakeyan Umbur Kancana, atas perintah Prabu Jayadrata.

Di Kerajaan Galuh, kekuasaan telah diwariskan kepada Rakeyan Harimurti, putera Prabu Jayadrata yang berkuasa tahun 949 Masehi. Karena Rakeyan Limbur Kancana terhitung pamannya Rakeyan Harimurti, akhirnya Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, damai kembali.

Sebagai tindakan balas dendam, Ketika Prabu Limbur Kancana sedang bertamu di Kerajaan Galuh, dibunuh oleh seseorang, atas perintah Dewi Ambawati, puteri Rakeyan Jayagiri (Prabu Wanayasa Jayabuana). Tahta Kerajaan Sunda, beralih ke Rakeyan Watuageng, suanii Dewi Ambawati, bernama nobat Praburesi Atmayadarma Hariwangsa, naik tahta pada tahun 930 Masehi.

Prabu Limbur Kancana, berputera dua orang, di antaranya:

 

  1.   Rakeyan Sunda Sembawa; dan
  2.   Dewi Somya.

 

Rakeyan Sunda Sembawa, berhasil merebut tahta Kerajaan Sunda dari Praburesi Atmayadarma Hariwangsa, kemudian ia naik tahta, dengan nama nobat: Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala atau Prabu Medang Gana. Karena semua puteranya meninggal mendahuluinya, ketika Prabu Munding Ganawirya wafat, ia digantikan oleh Rakeyan Wulung Gadung.

Rakeyan Wulung Gadung adalah suami Dewi Somya. Dewi Somya, adik ipar Rakeyan Sunda Sembawa, menantu Prabu Limbur Kancana. Rakeyan Wulung Gadung bertahta di Kerajaan Sunda, dari tahun 973 sampai 989 Masehi.

Prabu Wulung Gadung, ketika wafat, digantikan oleh puteranya dari Dewi Somya, Rakeyan Gendang, dengan nama nobat Prabu Brajawisesa.

Putera Prabu Brajawisesa ada dua orang, di antaranya:

 

  1.    Prabu Dewa Sanghiyang, calon pengganti ayahnya; dan
  2.    Dewi Rukmawati, yang dijadikan permaisuri oleh Prabu Linggasakti Jayawiguna, yang bertahta di Kerajaan Galuh, dari tahun 988 sampal 1012 Masehi.

 

Pada tahun 1012 Masehi, Prabu Brajawisesa wafat, digantikan oleh Prabu Dewa Sanghiyang. Prabu Dewa Sanghiyang, bekuasa atas Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, bergelar Maharaja. Sebagai wakil dirinya di Kerajaan Galuh, mengangkat keponakannya, Prabu Resiguru Darmasatyadewa, yang berkuasa sampai tahun 1027 Masehi.

 

Setelah Maharaja Dewa Sanghiyang wafat, digantikan oleh puteranya, Prabu Sanghiyang Ageung. la berkuasa atas tahta Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan menyandang gelar Maharaja. Sebagai penguasa di wilayah Kerajaan Galuh, dipercayakan kepada adik isterinya, yaitu Dewi Sumbadra. Bersama‑lama, keduanya memerintah, dimulal pada tahun 1019 Masehi.

Sang Maharaja Sanghiyang Ageung wafat pada tahun 1030 Masehi. Sedangkan Dewi Sumbadra, memerintah di Kerajaan Galuh, sampai tahun 1065 Masehi.

Setelah Sang Maharaja Sanghiyang Ageung wafat, penggantinya adalah Sri Jayabhupati, dengan nama lain Prabu Ditya Maharaja. Gelar panjang Sri Jayabhupati Maharaja: Jayabhupati Jaya Manahen Wisnumurti Samarawijaya-calakabhuana-mandalecwaranindita Harogowardhana wikramottunggadewa. Gelar corak Keraton Jawa Timur itu, adalah hadiah perkawinan dari mertuanya, Sri Dharmawangsa Teguh. Hadiah nama gelar semacam itu, diterima pula oleh Prabu Airlangga, menantu Sri Darmawangsa Teguh lainnya, dan digunakan sebagai gelar resmi, setelah Prabu Airlangga menjadi raja.

Sebagai pengganti Sri Jayabhupati, adalah Sang Darmaraja, dengan nama nobat: Prabu Darmaraja Jayamanahen Wisnumurtti Sakalasundabuana. Ketika mengawali masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Sang Wikramajaya, Panglima Angkatan Laut Kerajaan Sunda.

Sang Wikramajaya, berusaha merebut kekuasaan, dari tangan saudara seayahnya. Akan tetapi, pemberontakannya dapat ditumpas, kemudian ia meloloskan diri ke Kerajaan Sriwijaya. Untuk jabatan Panglima Angkatan Laut, ditunjuk Sang Wirakusuma, atas jasa kesetiaannya kepada Maharaja Darmaraja.

Dari pernikahannya dengan Dewi Surastri, Sang Maharaja Darmaraja beputera beberapa orang, tiga di antaranya ialah:

 

  1.    Prabu Langlangbumi, putera mahkota calon pengganti ayahnya;
  2.    Darmanagara, menjadi Mangkubumi kerajaan; dan
  3.    Wirayuda, menjadi Panglima Angkatan Perang.

 

Salah seorang putera Sri Jayabhupati dari Dewi Pertiwi, adalah Sang Resiguru Batara Hiyang Purnawijaya. la berputera beberapa orang, dua di anataranya ialah:

 

  1.    Dewi Puspawati; dan
  2.    Dewi Citrawati.

 

Dewi Puspawati dipersiteri oleh Prabu Langlangbumi, sedangkan Dewi Citrawati juga mengharapkan menjadi isteri Prabu Langlangbumi. Oleh karena itu, timbal hasrat Dewi Citrawati untuk membunuh kakaknya.

Melihat adanya perselisihan di antara kedua puterinya Sang Purnawijaya segera bertindak, mengawinkan Dewi Citrawati kepada Resiguru Sudakarenawisesa, penguasa Kerajaan Galunggung. Akan tetapi, setelah perkawinannya dengan Dewi Citrawati, Sang Resiguru Sudakarenawisesa menyerahkan tahtanya kepada isterinya. Sang Resiguru Sudakarenawisesa memilih jalan hidupnya mertdalami keagamaan.

Di pedesaan antara wilayah Galuh, Sunda, dan Galunggung, tingkat keamanannya menjadi rawan, akibat ulah kawanan perampok. Kerawanan tersebut menyebabkan perselisihan, antara Prabu Langlangbumi dengan penguasa Galunggung, yaitu Dewi Citrawati, yang nama nobatnya Batari Hiyang Janapati.

Selama memegang kekuasaan di Galunggung, Sang Ratu Batari Hiyang merasa cemas, akan kemungkinan serangan dari Kerajaan Sunda, karena dendam dirinya kepada Prabu Langlangbumi tak pernah padam. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, Ratu Batari Hiyang, membentuk angkatan perang, membangun parit pertahanan yang kuat (nyusuk). Kemudian, Galunggung, dijadikan sebagal ibukota Kerajaan Galuh. Selesai membangun ibukota yang baru, Sang Ratu Batari Hiyang membuat prasasti, yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Geger Hanjuang.

Sebenarnya, Sang Maharaja Langlangbumi, tidak ada niat untuk menyerang Kerajaan Galunggung. Akan tetapi, kalau tidak segera diatasi, akan jadi duri dalam daging. la pun tidak menghendaki, timbulnya perpecahan, di antara keturunan Sri Jayabhupati.

Tindakan Sang Maharaja Langlangbumi untuk “menjinakan” Batari Hiyang, dengan cara mengadakan pendekatan, melalui Batara Hiyang Purnawijaya (ayahnya Batari Hiyang), bersama Panglima Suryanagara (pamannya Sang Maharaja Langlangbumi). Kemudian ditempuh jalan damai, yang dihadiri oleh kedua belah pihak. Perundingan jalan damai tersebut dihadiri oleh: Batara Guru Hiyang Purnawijaya, Senapati Suryanagara, Resiguru Sudakarena, Dahiyang Guru Darmayasa, Senapati Kusumajaya, Maharaja Langlangbumi, Mangkubumi Darmanagara, Senapati Wirayuda, Yuwaraja Menak Luhur, Permaisuri Puspawati, Batari Hiyang Janapati Ratu Galunggung (Dewi Citrawati), dan beberapa raja dari daerah bawahan Sunda dan Galuh.

Hasil perundingan jalan damai akhirnya membuahkan kesepakatan, dengan membagi wilayah kekuasaan:

 

  1.    Sebelah barat sebagal Kerajaan Sunda, di bawah kekuasaan Prabu Langlangbumi.

 

  1.    Sebelah timur sebagal Kerajaan Galuh, di bawah kekuasaan Ratu Batari Hiyang Janapati, dengan ibukotanya di Galunggung.

 

Dari pernikahannya Dewi Puspawati, Prabu Langlangbumi berputera beberapa orang, dua di antaranya:

 

  1.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur; dan
  2.   Sang Cakranagara, menjadi Mangkubumi.

 

Prabu Langlangbumi lahir tahun 1038 Masehi, wafat tahun 1155 Masehi. la memerintah di Kerajaan Sunda selama 90 tahun. Sebagal penggantinya, puteranya, Prabu Menakluhur.

Prabu Menakluhur, memperisteri Ratna Satya, dan dijadikan permaisuri. Dari perkawinannya, mempunyai seorang puteri, Ratna Wisesa.

Ratna Wisesa diperisteri oleh Prabu Darmakusuma, cucu Batari Hiyang Janapati, Ratu Galunggung. Dari pernikahannya dengan Ratna Wisesa, Prabu Darmakusuma memperoleh putera, Darmasiksa.

Karena Prabu Menakluhur dan Mangkubumi Cakranagara wafat pada tahun yang sama, maka kedudukan Raja Sunda, dipercayakan kepada Prabu Darmakusuma. la bergelar Maharaja, karena berkuasa atas tiga kerajaan: Galunggung, Galuh dan Sunda.

Sang Darmasiksa, tahun 1175 Masehi, menggantikan tahta ayahnya, dengan nama nobat: Prabu Guru Darmasiksa Paramarta Sang Mahapurusa atau Sang Prabu Sanghyang Wisnu. la memerintah Kerajaan Sunda (termasuk Galuh dan Galunggung), beribukota di Saunggalah (Kuningan). Kemudian, kedudukan pusat pemerintahan, tahun 1187 Masehi, pindah ke Pakuan (Bogor).

Prabu Darmasiksa mempunyai 3 orang isteri, yaitu:

 

  1.    Puteri Saungggalah, memperoleh putera: Rajapurana, lahir tahun 1168 Masehi;
  2.    Puteri Darmageng, memperoleh putera, di antaranya Ragasuci yang bergelar Rahiyang Saunggalah;
  3.    Puteri Swarnabumi (Sumatera) turunan penguasa Sriwijaya, memperoleh putera, Rahiyang Jayagiri atau Rahiyang Jayadarma.

 

Rahiyang Jayadarma berjodoh dengan Dewi Naramurti, yang bergelar Dyah Lembu Tal, puterinya Mahisa Campaka, penguasa dari kerajaan di Jawa Timur. Dari perkawinanrrya dengan Dyah Lembu Tal, Rakeyan Jayadarma memperoleh putera, Rakeyan Wijaya atau Sang Nararya Sanggramawijaya (Dalam Sejarah Jawa Timur, Rakeyan Wijaya lebih dikenal dengan sebutan Raden Wijaya).

Rahiyang Jayadarma, tidak sempat menjadi Raja, disebabkan wafat muda, dalam usia 44 tahun. Oleh karena itu, Dyah Lembu Tal bersama puteranya (Raden Wijaya), pulang ke Tumapel Jawa Timur.

Setelah dewasa, Rakeyan Wijaya alias Raden Wijaya, diangkat menjadi Senapati Kerajaan Singhasari. Kelak, ia dikenal sebagai pendiri Kerajaan Wilwatikta atau Kerajaan Majapahit.

Sang Ragasuci atau Rahiyang Saunggalah, berjodoh dengan Dara Puspa, adiknya Dara Kencana (isteri Prabu Kretanagara raja Singhasari).

Dari perkawinannya dengan Dara Puspa, Rahiyang Saunggalah berputera: Citraganda. Rahiyang Saunggalah, menjadi Raja Sunda hanya 9 tahun (1297‑1303 Masehi). Karena sebelumnya, Prabu Darmasiksa, dikaruniai umur panjang, menjadi raja di Kerajaan Sunda, satu seperempat abad lamanya (1175‑1297 Masehi).

Pengganti Prabu Ragasuci, puteranya, Prabu Citraganda. Permaisuri Prabu Citraganda, Dewi Antini, adalah puterinya Prabu Rajapurana. Sedangkan Prabu Rajapurana, adalah putera Prabu Guru Darmasiksa, dari Puteri Saunggalah.

Prabu Citraganda memerintah di Kerajaan Sunda (termasuk Galuh dan Galunggung) sampai tahun 1311 Masehi. Pengganti Prabu Citraganda, puteranya, Prabu Linggadewata. la memegang kekuasaan di Kerajaan Sunda, sampai tahun 1333 Masehi.

Sebagai pengganti Prabu Citraganda, adik iparnya, Prabu Ajiguna Linggawisesa. Karena, Prabu Ajiguna Linggawisesa, menikah dengan adiknya Prabu Citraganda: Ratna Umalestari. Pada masa pemerintahannya, ibukota Kerajaan Sunda beralih, dari Pakuan (Bogor) ke Kawali (Ciamis). Dari pernikahannya dengan Uma Lestari, Prabu Ajiguna Linggawisesa memperoleh putera, di antaranya:

 

  1.    Ragamulya Luhur Prabawa, atau Aki Kolot;
  2.    Dewi Kiranasari, diperisteri oleh Prabu Arya Kulon;
  3.    Suryadewata, leluhur Kerajaan Talaga (Majalengka).

 

Prabu Ajiguna Linggawisesa wafat tahun 1340 Masehi. Kemudian digantikan oleh puteranya, Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, yang memerintah di Kerajaan Sunda sampai tahun 1350 Masehi.

 

Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, digantikan oleh puteranya, Prabu Linggabuana, dengan nama nobat: Prabu Maharaja Linggabuana. la dinobatkan pada tanggal 14 bagian terang bulan Palguna tahun 1272 Saka (22 Pebruari 1350 Masehi). Dalam melaksanakan pemerintahan sehari-hari, didampingi oleh adiknya, Sang Bunisora, yang bergelar Mangkubumi Saradipati.

Dari Sang Permaisuri Dewi Lara Linsing, Prabu Maharaja Linggabuana memperoleh putera:

 

  1.    Dyah Pitaloka, lahir tahun 1339 Masehi, oleh kakeknya diberi nama Citraresmi;
  2.    Putera kedua laki‑laki, meninggal dalam usia 1 tahun;
  3.    Putera ketiga laki‑laki, meninggal dalam usia 1 tahun;
  4.    Wastu Kancana, lahir tahun 1348 Masehi.

 

Tibalah saat yang bahagia, karena Sang Puteri Dyah Pitaloka, menginjak usia 18 tahun, dan dilamar oleh Bhre Wilwatikta: Prabu Hayam Wuruk.

Sang Prabu Linggabuana Maharaja Sunda, akan mengadakan pesta perkawinan puterinya di Majapahit. Demikianlah, menurut keinginan sang Maharaja Majapahit Prabu Hayam Wuruk.

Setiba di sana, puteri mahkota Sunda itu, ternyata harus diserahkan kepada Bre Prabu Majapahit, sebagai isteri persembahan (upeti). Sesungguhnya, hal itu amat bertentangan, dengan janji Bre Majapahit sendiri. Karena itu, Prabu Maharaja Sunda, tidak bersedia menyerahkan puterinya.

Sesungguhnya, sebelumnya, Bre Prabu Majapahit sudah menjanjikan, bahwa sang puteri Citraresmi, akan diperisteri (resmi), dan dijadikan permaisuri. Akan tetapi, janji tersebut tidak ditepatinya. Bahkan ia, sepertinya ingin menguasai negeri Sunda di Jawa Barat.

Sesungguhnya, hal itu, hanya ulah dan kehendak Sang Patih Mada. Sang Prabu Hayam Wuruk, selalu menyetujui keinginan Patihnya. Semua orang mengetahui, bahwa yang menyakiti hati orang Sunda itu, adalah Sang Patih Mada.

Utusan Sang Prabu Maharaja Sunda, dengan Sang Patih Gajah Mada, sama‑sama mengeluarkan perkataan yang tidak layak. Akhirnya, meluaplah hati Sang Patih Mada. la menjadi berang, lalu memerintahkan laskar Majapahit, siap untuk bertempur.

Semua pasukan Majapahit, mengenakan pakaian perang dan membawa berbagai macam senjata. Di antara mereka, ada yang menunggang gajah, ada yang berkuda, ada yang naik kereta, dan beberapa ratus orang berjalan kaki, dengan persenjataan lengkap.

Sang Prabu Maharaja termenung sejenak, lalu menundukkan kepala. Hatinya cemas dan ragu‑ragu. Betapapun, tidak mungkin para kesatria Sunda memenangkan pertempuran, melawan angkatan perang Majapahit yang sedemikian besar jumlahnya. Namun seandainya mereka kalah dan gugur, kehormatanlah yang harus dipertaruhkan.

Lalu berkumpullah orang-orang Sunda, semuanya hanya 98 orang, di Panaggrahan (kemah) tempat Sang Prabu Maharaja. Mereka bermusyawarah dan sepakat untuk menyongsong musuh. Sang Prabu Maharaja dan para pengiringnya, tidak sudi dihinakan dan diperintah oleh Raja Majapahit.

Kemudian Sang Prabu Maharaja Linggabuana berseru kepada semua pengiringnya. Beginilah ujarnya “Walaupun darah akan mengalir bagaikan sungai di palagan Bubat ini, namun, kehormatanku dan semua kesatria Sunda, tidak akan membiarkan pengkhianatan terhadap negara dan rakyatku. Karena itu, janganlah kalian bimbang!”

Kemudian, tibalah pasukan besar Majapahit, yang dipimpin langsung oleh Sang Patih Mada, sebagai panglima perang. Pengecut perbuatannya, menyerang raja Sunda bersama pengiringnya, yang hanya beberapa puluh orang jumlahnya.

Orang Sunda serempak menyongsong lawan. Pertempuran berlangsung sengit. Namun akhirnya, semua orang Sunda yang ada di sana gugur, oleh Sang Patih Gajah Mada bersama pasukannya. Kemudian, Sang Ratna Citraresmi, melakukan mati‑bela (bunuh diri).

Adapun para pembesar dan pengiring kerajaan Sunda yang gugur di palagan Bubat, masing‑masing ialah: Rakeyan Tumenggung Larang Ageng; Rakeyan Mantri Sohan; Yuwamantri (menteri muda) Gempong Lotong; Sang Panji Melong Sakti; Ki Panghulu Sura; Rakeyan Mantri Saya; Rakeyan Rangga Kaweni; Sang Mantri Usus (Bayangkara Sang Prabu); Rakeyan Senapatiyuda Sutrajali; Rakeyan Juru Siring; Ki Jagat Saya (Patih Mandala Kidul); Sang Mantri Patih Wirayuda; Rakeyan Nakoda Braja (Panglima Angkatan Laut Sunda); Ki Nakoda Bule (pemimpin jurumudi kapal perang kerajaan); Ki Juru Wastra; Ki Mantri Sebrang Keling; Ki Mantri Supit Kelingking. Kemudian Sang Prabu Maharaja Linggabuana Ratu Sunda, Rajaputri Dyah Pitaloka, bersama semua pengiringnya.

 

Tetapi bumi Sunda tidak dikuasai oleh kerajaan Majapahit (tathapyan mangkana sundhabhumi tan kalindih dening rajya wilwatikta). Mereka tidak menyerang Kerajaan Sunda. Hasrat mereka menyerang Tatar Sunda tidak kesampaian.

          Peristiwa orang Sunda di Bubat itu (pasunda bubat), usai terjadi sebelum tengah hari. Semua orang Sunda, yang datang di Bubat, binasa, tidak seorangpun yang tersisa.

Ketika perang di palagan Bubat berlangsung, yaitu pada hari Selasa Wage tanggal 4 September 1357 Masehi, putra mahkota Sang Niskala Wastu Kancana, baru berusia 9 tahun. Oleh karena itu, pemerintahan Kerajaan Sunda, untuk sementara dipegang oleh Mangkubumi (Sang Bunisora), dengan nama nobat: Prabu Guru Pangadiparamarta Jayadewabrata.

Dalam menjalankan pemerintahan, Sang Bunisora, cenderung sebagai raja pendeta, yang diwarnai suasana religius. Dalam naskah Carita Parahiyangan, Sang Bunisora, disebut sebagai Satmata. la dikenal pula dengan gelar Sang Bataraguru di Jampang.

Menurut naskah Kropak 630, tingkat batin manusia dalam keagamaan (Sunda) adalah: acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan ke‑5, merupakan tahap tertinggi, bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat ke-6 (Suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ke‑7 (Nirawerah), padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal (Tuhan Yang Esa).

Dari permaisuri Laksmiwati, Sang Bunisora mempunyai putera, di antaranya;

 

  1.    Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya, kelak menjadi raja daerah di wilayah Cirebon Girang;
  2.    Bratalegawa, kelak memeluk agama Islam dan menjadi haji pertama di Jawa Barat, sehingga ia terkenal dengan julukan Haji Purwa Galuh;
  3.    Banawati, kelak menjadi Ratu di wilayah Galuh; dan
  4.    Mayangsari, kelak berjodoh dengan Sang Niskala Wastu Kancana.

 

Sang Niskala Wastu Kancana, ketika usianya sudah 20 tahun, memperisteri gadis pilihannya, Ratna Sarkati yang berusia 19 tahun, puteri Resi Susuk Lampung dari Sumatera Selatan. Setelah satu tahun, ia memperoleh putera, Sang Haliwungan, yang lahir pada tahun 1369 Masehi.

 

Pada tahun 1371 Masehi, Sang Niskala Wastu Kancana memperisteri Dewi Mayangsari (usia 17 tahm), puteri bungsu Sang Mangkubumi Bunisora. pada tahun yang sama, Sang Bunisora wafat, setelah memerintah di Kerajaan Sunda, selama 13 tahun 5 bulan lebih 15 hari.

Sang Niskala Wastu Kancana menggantikannya, naik tahta pada usia 23 tahun, dengan nama nobat: Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buanatunggaldewata.

Tentang masa pemerintahan Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, penulis Carita Parahiyangan memberikan gambaran: “Jangankan manusia. Apah (air), teja (cahaya), bayu (angin), akasa (langit), serta bu (eter), merasa betah berada di bawah pemerintahannya”.

Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, memerintah di Kerajaan Sunda, selama 103 tahun 6 bulan lebih 15 hari (1371‑1475 Masehi). la wafat dalam usia kurang lebih 126 tahun. la masih sempat mendengar, Majapahit dilanda Perang Paregreg, akibat perebutan tahta di antara keturunan Prabu Hayam Wuruk, yang terjadi pada tahun 1453 ‑ 1456 Masehi. Akibatnya, selama 3 tahun, Majapahit tidak mempunyai raja. Di saat Majapahit sedang dilanda kerusuhan, ia sedang menikmati ketenangan dan kedamaian pemerintahannya, sambil tak henti‑hentinya bertirakat dan beribadah (brata siya puja tan palum). Setelah wafat, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, dipusarakan di Nusalarang.

Selama masa pemerintahannya, ada dua kejadian penting yang patut dicatat, yaitu kedatangan angkatan laut Cina, di bawah pimpinan Laksamana Ma Cheng Ho, dan kedatangan seorang ulama Islam yang kemudian mendirikan pesantren pertama di Jawa Barat (Danasasmita, 1984: 42).

Penulis Carita Parahiyangan menganjurkan: “Sugan aya nu dek nurutan inya twah nu surup ka Nusalarang. Pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjeur na juritan” (Barangkali ada yang akan mengikuti perilaku dia yang dipusarakan di Nusalarang. Untuk hidup lama berjaya di dunia, untuk unggul dalam perang).

 

Ikhwal Kerajaan Sunda lainnya, tercatat dalam kaol Cina, antara lain sebagai berikut:

 

Chu‑fan‑chi adalah buku pertama yang menyebut (negeri) Sunda dan pelabuhannya. Menurut Chau ju‑kua, Sunda pada waktu itu takluk pada Sriwijaya atau San-fo‑tsi (Heuken,1999: 24).

 

Berita tentang Sunda yang dicatat Chau ju‑kua (1225 Masehi), sesungguhnya kutipan dari catatan Chou Ku‑fei (1178 Masehi), dalarn naskah berita Ling wai‑tai‑ta. Ketika Chou Ku‑fei mencatatnva, ataupun ketika Chau-Ju‑kua mengutipnya, yang menjadi penguasa di Kerajaan Sunda adalah: Prabu Guru Darmasiksa Paramarta Sang Mahapurusa atau Sang Prabu Sanghyang Wisnu (1175‑1297 Masehi). Hanya saja, ketika Chou Ku‑fei mencatat tentang Sunda, pusat pemerintahan Kerajaan Sunda masih di Saunggalah (Kuningan). Sedangkan ketika Chau ju‑kua mengutipnya, pusat pemerintahan Kerajaan Sunda sudah beralih ke Pakuan (Bogor).

Chau Ju‑kua membubuhkan komentar dalam beritanya, bahwa “Sunda pada waktu itu takluk pada Sriwijaya atau San‑fo‑tsi”. Rupa‑rupanya, catatan Chau ju‑kua itulah, yang sering menjadi sumber dugaan, “bahwa Sunda pernah ditaklukan Sriwijaya”, sebagaimana yang dikemukakan Bosch ketika membahas Prasasti Kebonkopi II.

Lain halnya dengan catatan Pangeran Wangsakerta, dalam pustakanya mengemukakan adanya kekerabatan Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Sriwijaya. Salahsatu catatannya mengemukakan, bahwa salah seorang isteri Prabu Guru Darmasiksa Maharaja Sunda, yaitu Dewi Suprabha Wijayatunggadewi, merupakan keturunan Raja Sriwijaya Sanggaramawijayatunggawarman (1018‑1027 Masehi).

Catatan Pangeran Wangsakerta lainnya, mengemukakan terjadinya peristiwa pertempuran armada laut Kerajaan Kadiri dengan armada laut Kerajaan Sriwijaya, yang berlangsung seru di perairan Kerajaan Sunda sebelah barat (perairan Banten). Pertempuran tersebut, diakhiri oleh kedua belah pihak, setelah masing masing mengundurkan diri. Kedua-duanya menderita kerusakan berat, tanpa diketahui, siapa yang menang dan siapa yang kalah.

 

Dalam masa “gencatan senjata”, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Kadiri, masing‑masing mengirimkan utusan ke negeri Cina, meminta bantuan dan perlindungan.

Kaisar (Raja) Cina membalas kedua surat tersebut, dengan isi yang sama, antara lain:

  1.    Kedua pihak harus mengakhiri permusuhan dan menempuh jalan damai;
  2.    Tempat perdamaian ditentukan di Sundapura (Sunda Sembawa, bekas ibukota Tarumanagara); dan

 

  1.    Perdamaian dipimpin oleh Duta Cina, serta disaksikan utusan negara sahabat dari kedua pihak yang bersengketa, termasuk saksi tuan rumah: Prabu Guru Darmasiksa Maharaja Sunda.

 

Upaya penyelesaian jalan damai, berlangsung di Sundapura (Bekasi) pada tahun 1182 Masehi, dengan hasil persetujuan yang disepakati bersama, bahwa “Sriwijaya dan Kadiri, masing-masing hanya boleh bergerak di kawasan sebelah barat dan timur wilayah Nitsantara”.

Kemudian Kerajaan Sunda serta kaitannya dengan Banten, dibahas pula oleh para akhli, antara lain sebagai berikut:

Banten dinamakan Sunda selama empat abad berturut‑turut, baik oleh orang Cina (misalnya dalam teks Chan Ju‑kua dan dalam Sunfeng xiansong, yang menyebut Banten sebagai “wan‑tan” dan “shun‑t’a”) maupun oleh orang Arab pada awal abad ke‑16 (misalnya Ibn Majid dan Sulaiman) (Guillot,1996:119).

 

“Banten dinamakan Sunda”, demikian ungkap Guillot, Kalau diberi makna yang lebih jembar (luas), Banten adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sunda. Dalam catatan kaki, Guillot memberikan petunjuk: Hendaknya digarisbawahi bahwa dalam naskah inilah nama tempat “Banten” (wan‑tan), muncul untuk pertama kali dalam sumber tulisan, apapun bahasanya(Guillot,1996:119).

Catatan Cina lainnya memberitakan tentang Kerajaan Sunda dan Bantennya, antara lain sebagai berikut:

Dalam perjalanan ini dari Shun‑t’a ke timur sepanjang pantai utara Jawa, kapal‑kapal menuju arah 97,5 derajat selama tiga penjagaan untuk sampai ke gunung Chia‑lie‑pa (= kalapa); lalu mereka menyusuri pantai (lewat Tanjung Indramayu), dan menuju arah 187,5 derajat selama empat penjagaan sampal tiba di Che‑li‑wen (Cirebon).

Kapal‑kapal dari Wan‑tan (Banten) menuju arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melalui Chia‑liu‑pa (Kelapa), Tanjung Chiao‑ch’iang‑wan (Tanjung Indramayu) dan Che‑li‑wen (Cirebon) (Heuken,1999: 107).

 

Cina mencatat pelabuhan‑pelabuhan besar dan penting yang ada di Kerajaan Sunda: Wan‑tan (Banten); Chia‑lie‑pa (Kalapa, Jakarta), Tanjung Chio‑ch’iang‑wan (Tanjung Indramayu) dan Che‑li‑wen (Cirebon). Pelabuhan Banten dimaksud, dibahas pula oleh Heuken, antara lain sebagal berikut:

 

Chu‑fan-chi adalah buku perlama yang menyebut (negeri) Sunda dan pelabuhannya. Menurut Chau Ju‑kua, Sunda pada waktu itu takluk pada Sriwijaya atau San‑fo‑tsi. Pelabuhan yang dimaksud oleh Chau Ju‑kua itu menurut Rouffaer (1921) mungkin merupakan kampung Kapalembangan di Banten (Heuken,1999: 24).

Kapalembangan diinaksud, boleh,jadi sama dengan catatan Portugis, yang tercantum dalam peta tahun ± 1540 Masehi (kini tersimpan dalam herzog August Bibliothek di Wolfenbuttel, Jerman), atas dua nama Palambam dan Palibam di wilayah pesisir barat Banten.

 

CATALAN PARA AKHLI

Kajian para akhli tentang Banten Girang, telah sering dilakukan, terutama melalui penelitian arkeologi. Akan tetapi, jalan untuk menuju ke Banten Girang, belum menemui titik terang, masih dilanda kegelapan. Claude Guillot, Lukman Nurhakim, dan Sonny Wibisono, telah berupaya mengungkapkan hasil penelitiannya melalui buku Banten Sebelurn Zarnan Islam; Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? ‑ 1526 (Penerbit Bentang, 1996). Sangat menarik, penampilan angka tahun dalam judul buku tersebut, yaitu 932 yang dibubuhi tanda tanya (?). Artinya, angka tahun tersebut, oleh Claude Guillot dan kawan‑kawan, masih diragukan atau perlu diteliti lebih lanjut^

Claude Guillot dan kawan‑kawan menampilkan angka tahun 932?, berdasarkan hasil kajian epigrafi Bosch, antara lain sebagal berikut:

Sebuah prasasti berbahasa Melayu Kuno yang ditemukan di Kebonkopi, yaitu prasasti II (dinamakan demikian untuk membedakannya dengan prasasti dari tempat yang sama yang berasal dari masa Kerjaan Taruma) memberitahukan “pemulihan kembali Raja Sunda” (barpulihkan haji Sunda). Prasasti tersebut telah dipelajari dan diterbitkan oleh Bosch, yang menafsirkan tahunnya berdasarkan sebuah candrasangkala, yaitu 932 M (854 S) (Guillot,1996:111).

Dari prasasti Kebonkopi II hasil kajian Bosch itulah, angka tahun (titimangsa) Banten Girang dijadikan patokan. Pembuktian arkeologi ditampilkan, sekaligus merupakan daya dukung, untuk memperkuat suatu anggapan.

Di satu pihak tampak dari analisis benda‑benda temuan, bahwa Banten Girang didirikan pada abad ke‑10, sedangkan candi yang terletak di G. Pulasari, melihat arca‑arcanya, dapat ditentukan masa pembangunannya pada paro pertama abad yang sama. Artinya kedua peristiwa tersebut sezaman dengan prasasti Kebonkopi II yang memberitahukan berdirinya sebuah kerajaan di daerah itu (Guillot,1996: 111).

Untuk lebih jelasnya, mengenai prasasti Kebonkopi II, pernah dibahas oleh Atja dan Edi S. Ekadjati dalam Carita ParahiyanganKarya Tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta (1989), antara lain sebagai berikut:

Batutulis ini berbahasa Melayu Kuno, ditemukan di tepi sawah di desa Kebon Kopi, distrik Leuwiliang, Bogor. Batutulis ini kini telah hilang. Bosch (1941) mempelajarinya melalui sebuah foto, yang dimuat dalam Iaporan Kepurbakalaan (O.V 1923, halaman 18, no. 6888).

Prasasti itu dipahatkan pada permukaan sebongkah batu, yang bentuknya tidak beraturan, terdiri atas 4 baris huruf, bunyinya demikian:

 

// ini sabdakalanda rakryan juru panga

mbat i kawihaji panca pasagi marsa

ndeca barpulihkan haji sun‑

nda//

 

Sebelum memberi tetjemahan, terlebih dahulu Bosch mengemukakan catatan, antara lain sebagai berikut: sabdakalanda, adalah kata majemuk tatpurusa; sabda, bunyi, kata, perintah; kala untuk cakakala atau sakakala, saat yang pantas diperingati, sesuatu untuk diperingati; akhiran nda menunjukkan prefix honorifix orang ketiga yang demikian ditemukan pula pada prasasti Talang Tuwo: pranidhananda dan pada prasasti Gandasuli: namanda dan aya‑nda; pangambat, dengan didahului gelar rakryan juru menunjukkan, bahwa ia seorang pembesar istana.

Candrasangkala: kawiraja, sepadan dengan bujangga, bernilai angka 8; panca = 5, dan pasagi, bujur sangkar, bernilai angka 4. Tetapi berlainan dengan candrasangkala yang lazim, Bosch menetapkan tidak dibaca dari belakang ke muka (458), karena mengingat bentuk hurufnya terlalu muda, maka Bosch menetapkan dengan tidak ragu‑ragu, bacaan yang benar adalah 854 Saka, tetapi biarpun demikian Bosch membuat kekeliruan, ia menuliskan tahun 942 Masehi, padahal seharusnya 932 Masehi, sebagaimana juga dikemukakan oleh Satyawati Suleiman (1985).

Setelah memperhatikan terjemahan yang dikerjakan oleh Bosch, maka terjemahan dalam bahasa Indonesia demikian:

 

Ini tanda peringatan dari Rakyran Juru Pengambat, pada tahun 854 Saka (932 Masehi) menetapkan, bahwa Raja Sunda dikembalikan kepada kedudukannya yang dahulu.

 

Bunyi prasasti, dianggap oleh Bosch berisi surat perintah dalam bahasa Melayu‑Kuna, karena itu ia mengajukan dugaan, bahwa Sunda pada awal abad ke‑10 Masehi, secara kultural dan juga rupa‑rupanya dari segi politik tunduk kepada kekuasaan kerajaan Sumatera, Sriwijaya (Atja & Ekadjati,1989:186‑187).

 

Timbulnya perbedaan anggapan, diakibatkan oleh kekisruhan dalam menafsirkan Candrasangkala, “Kawihaji Panca Pasagi” pada Prasasti Kebonkopi II.

  1.    Bosch menampilkan angka tahun 854 Saka atau 942 Masehi;
  2.    Satyawati Suleiman, menampilkan angka tahun 932 Masehi; dan
  3.    Guillot menampilkan angka tahun 932?. Menurut pengakuannya, angka tahun tersebut didapat dari tafsiran Bosch.

Sebagaimana lajimnya pembacaan candrasangkala, seharusnya dibaca dan diterjemahkan dari belakang. Sehingga kawihaji panca pasagi (854), menjadi tahun 458 Saka atau 536 Masehi. Tradisi tersebut masih digunakan dalam naskah‑naskah Sunda Kuna, yang usianya lebih muda dari prasasti Kebon Kopi II. Sebagaimana yang terdapat dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian, Carita Parahiyangan amanit dari Galunggung, Sewaka Darma.

Peristiwa sejarah, yang ada hubungannya dengan angka tahun 458 Saka atau 536 Masehi, dapat diteliti melalui naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadvripa, parwa I sarga 3, halaman 13‑14, antara lain sebagai berikut:

 

.. // hang pnua sang maharaja candraxuarman makaruck pirang silo / patang silo pantura ring/ prathama sang suryaxuarman ngaran nira/ ikang uehersatu‑luynrc sang candrawarman angenwsi / sira gumantyaken ayayah nira dumadi raja tarumanagara / laumsnya nemlikur umrca / tambaya ning madeg raja yatiku / ing patangatus limang puluh situ / ikang cakakala / tka ring patangatus unualung puluh telu / ikang cakaka!a / rasika lawan namacidam sang mahaburusa bhimaparakrama hariwangca digufijayeng 6huuxcna // putm ping sang candrawarman ikang duritya ya to sang mahisawarnucn nganzn nira dumadi rajyamatya tarumanagrtara / mruang tritiya sang matsyawarman ngaran nira / dumadi senapati saruxcjala muxcng caturduc stri ya to deuri bayusari ngamn ira / pinakstri den ing sang yuunuaraja sakeng rajya pali//

Terjemahannya:

Adapun Sang Maharaja Candrawarman mempunyai anak beberapa orang. Empat orang di antaranya: pertama Sang Suryawarman namanya, yang kelak menggantikan ayahanda Sang Candrawarman sebagai Raja Tarumanagara. la memerintah lamanya 26 tahun, yaitu dari 457 Saka sampai 483 Saka (535 ‑ 561 Masehi), dengan gelar abiseka Sang Mahapurusa Bhimaparakrama Hariwangsa Digwijayeng Bhuwana.

Putera yang kedua, Mahisawarman namanya, yang menjadi Menteri Tarumanagara. Yang ketiga, Sang Matsyawarman namanya, yang menjadi Panglima pasukan laut (senapati sarwajala). Yang keempat perempuan, yaitu Dewi Bayusari namanya la diperisteri oleh putera mahkota (yuwaraja) Kerajaan Pali.

 

Pada prasasti Kebonkopi II, tertulis pula kalimat “barpulihkan haji sunda”, yang terjemahan lainnya antara lain: “pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda”. Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwtpa parwa I sarga 3 halaman 79, ikhwal “Sunda” dijelaskan, antara lain sebagai berikut:

…. / telus karuhun uncs hang ngaran desya sunda / tatha pi ri sawaka ping rajya taruma// tekwan ringusana kangken ngaran kithcc sundapara//

Terjemahannya:

Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura (Kota Sunda).

 

Dalam prarasti tembaga dari Kabantenan (abad 15 Masehi), daerah Sunda dimaksud adalah Sunda Sembawa (= Sunda asal atau Sunda wiwitan), tempat lahir Sang Tarusbawa.

Dengan demikian, “Barpulihkan Haji Sunda” atau “Pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda”, tentunya dilakukan oleh Sri Maharaja Suryawarman, setahun setelah dinobatkan (535 Masehi) menjadi penguasa ketujuh Tarumanagara.

Upacara “barpulihkan” dilakukan di Pasir Muara (Cibungbulang), tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I “telapak kaki gajah” tunggangan Sri Maharaja Purnawarman. Dipilihnya lokasi Pasir Muara, tentu ada nilai‑nilai sakral, sebagai kelanjutan spiritual raja pendahulunya.

Kemudian, digunakannya bahasa Melayu‑Kuna pada Prasasti Kebonkopi II, tidak berarti Sunda “pernah tunduk” kepada Sriwijaya, seperti dugaan Bosch, “bahwa Sunda pada awal abad ke‑10 Masehi, secara kultural dan juga rupa‑rupanya dari segi politik, tunduk kepada kekuasaan kerajaan Sumatera, Sriwijaya”. Akan tetapi, lebih disebabkan oleh adanya kekerabatan, antara Raja Tarumanagara dengan Raja Kerajaan Pali. Mengingat “Putra Mahkota Raja Pali” (yang mungkin sudah menjadi “Raja Kerajaan Pali”) adalah adik ipar Sri Maharaja Suryawarman, menghadiri upacara “Barpulihkan”, dalam posisi terhormat sebagai “Rakryan Juru Pangambat”.

catatan, menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 3, dalam tahun 422 Saka atau tahun 500 Masehi, Kerajaan Pali terletak di pulau Sumatera bagian tengah dan utara. Sedangkan Sriwijaya, pada tahun 536 Masehi, masih merupakan kerajaan kecil di Palembang, di bawah kekuasaan kerajaan Melayu Sribuja. Barulah pada tahun 598 Saka (676 Masehi), Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Kerajaan Pali, dan keluarga keraton Kerajaan Pali mengungsi ke pulau Bali. Kerajaan Sriwijaya, berhasil menguasai seluruh wilayah Pulau Sumatera dan Mahasin (Singapura), menjadi kerajaan besar pada tahun 669 Masehi, di bawah pemerintahan Dapunta Hiyang Sri Jayanasa.

Sebagai bukti tidak pernah “tunduknya Kerajaan Sunda kepada Kerajaan Sriwijaya”, ada baiknya kembali kepada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantana, parwa 11 sarga 3, halaman 176, yang meriwayatkan kekerabatan Kerajaan Sunda dengan Sriwijaya, antara lain sebagai berikut:

…. // lawan rajya sunda / rajya criwijaya wus magaway samaya karwanya tan silih anduni nagara nira sawang sawang/ mwang atuntunan tangan ing pamitra nira//matangyan duta criwijaya haneng rajya sunda / mruang duta sunda haneng rajya criwija‑ya// ….

Terjemahannya:

Dengan kerajaan Sunda, kerajaan Sriwijaya, telah melakukan perjanjian bersama, untuk tidak saling menyerang negara masing‑masing, dengan menjalin persahabatan, menempatkan Duta Sriwijaya di kerajaan Sunda, juga Duta Sunda di kerajaan Sriwijaya.

 

Pada tahun 669 Masehi, Sri Maharaja Linggawarman, raja keduabelas Tarumanagara, mengakhiri kekuasaannya. Sebagai pengganti, Sang Tarusbawa, menantu Sri Maharaja Linggawarman, yang menikah dengan Dewi Manasih. Adik Dewi Manasih, yaitu Dewi Sobakancana, diperisteri oleh Dapunta Hiyang Sri Jayanasa, raja Sriwijaya.

Berakhirnya pemerintahan Sri Maharaja Linggawarman, menandai pula berakhirnya kekuasaan Dinasti Warman di Tarumanagara, karena nama kerajaan tersebut, oleh Sri Maharaja Tarusbawa, diganti sebutannya menjadi Kerajaan Sunda. Pergantian nama kerajaan, disebabkan, Sang Tarusbawa merasa perlu mengabadikan tempat kelahirannya, Sunda Sembawa (Bekasi). Guillot berupaya mencari jejak kebesaran Hinduisme di Banten Girang, tapi yang ditemukannya Sanghiyang Dengdek, yang tidak dapat dijadikan tiang penyangga hasil penelitiannya. Kekecewaan Guillot, terungkap dalam tulisannya:

Sulit dibayangkan bahwa negeri yang terbuka ke dunia luar, seperti Banten Girang, dapat puas dengan gaya primitif dan “kampungan” dari area menhir itu (Guillot, 1996:100).

 

Dengan demikian Banten Girang yang ditelusuri oleh Claude Guilot, semakin samar untuk ditemukan. Kehadiran Salakanagara, Tarumanagara, Kerajaan Sunda, dan Kerajaan Sunda Pajajaran di atas pentas sejarah, tidak ia hiraukan.

 

  • KERAJAAN SUNDA PAJAJARAN

 

  1. POLITIK DAN KONFLIK 

 

Claude Guillot dan kawan‑kawan, dalam buku Banten Sebelum Zaman Islam; Kajian Arkeologi di Banten Girang 932?‑1526, mengemukakan kesannya tentang temuan “Banten Girang”, antara lain sebagai berikut:

Patut diperhatikan pula bahwa garis besar haluan Banten dalam hal politik luar negeri mendapat sorotan baru dari sejarah Banten Girang. Banten memberi kesan seolah‑olah membalas dendam atas nama Banten Girang. Ibukota Pajajaran misalnya, yang pernah menaklukan Banten Girang, diserang dan direbut oleh Banten pada pertengahan abad ke‑16 (Guillot,1996:137).

Kesan Guillot memang “patut diperhatikan”, bahkan kesan tersebut harus dicermati. Seringnya digunakan sebutan Pajajaran, yang diperankan sebagai “musuh Banten”, tentu harus ada penjelasan yang lebih memadai. Persoalan yang muncul, “Benarkah serangan Banten ke ibukota Pajajaran itu, merupakan tindakan balas dendam, akibat pernah ditaklukannya Banten Girang?”

Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan, bahwa Banten atau WanTan (dalam lafal berita Cina), tidak berdiri sendiri. Banten merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pulasari, Salakanagara, Tarumanagara dan Kerajaan Sunda. Banten di masa silam, dengan segala perkembangan kehidupannya, tetap setia mengikuti alur waktu, menelusuri kurun zaman.

Untuk diketahui secara objektif, sebagai pembanding, akan ditampilkan naskah‑naskah kuna hasil kajian filologi, di antaranya: Kropak 406 Carita ParahiyanganPustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 2; Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sarga 3; dan Pustaka Nagarakretabhumiparwa I sarga 5. Berdasarkan naskah‑naskah kuna tersebut, dirangkum dalam satu bahasan berkesinambungan, yang alur riwayatnya adalah sebagai berikut:

Sepeninggal Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (1475 Masehi), kawasan bekas Tarumanagara, kembali terbagi dua, di antara dua putera mahkota pewaris Kerajaan Sunda. Sang Haliwungan, putera sulung dari Dewi Sarkati (puterinya Susuk Lampung, Sumatera Selatan), diwarisi wilayah barat dengan batas sungai Citarum, dengan nama yang tetap sama: Kerajaan Sunda. Sang Haliwungan menjadi penguasa Kerajaan Sunda, dengan nama nobat Prabu Susuktunggal, dengan pusat pemerintahannya di kota Pakuan (Bogor). Sebelumnya, dari sejak tahun 1382 Masehi, Sang Haliwungan sempat dipercaya oleh ayahnya, menjadi Prabu Anom (Rajamuda atau Yuwaraja), sebagal pemegang tahta perwalian Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan.

Dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, tokoh Sang Haliwungan tertulis : inya sang susuktunggal nu munar na pakwan reujeung sanghi‑ yang haluwesi, nu nyaeuran sanghiyang rancamaya. Dialah Sang Susuk tunggal yang merenovasi (memperindah) kota Pakuan, dan memperteguh dua tempat suci: Sanghiyang Haluwesi dan Sanghiyang Rancamaya. Mengenai tempat suci Sanghiyang Rancamaya, yang terletak di bukit Badigul (Bogor), sempat menjadi “sengketa ” yang menghebohkan. Kini Sanghiyang Rancamaya dan bukit Badigulnya, tempat diperabukannya Raja-raja Sunda, sirna tanpa bekas, sudah berubah menjadi perumahan mewah Rancamaya.

Selanjutnya, sang Susuktunggal inyana nu nyieun palangka sriman sriwacana; nu mikadatwan sri bima‑ punta‑ narayana‑madura‑suradipati. Sang Susuktunggal yang membuat singasana Sriman Sriwacana dan tinggal di keraton Sri Bima‑Punta‑Narayana‑Madura‑Suradipati. Lokasi bekas keraton tersebut, kini sudah menjadi bangunan permanen, berupa villa warisan almarhum Bung Karno (Presiden RI pertama), dengan nama: Ing Puri Bima Sakti.

Kawekasan sang susuktunggal pawwatanna lemah suksi lemah hadi, mangka premana raja utama, lawasnya ratu saratus tahun. Peninggalan warisan Sang Susuktunggal, adalah tanah yang suci dan tanah baik (subur), sebagai tanda keutamaan raja. Lamanya menjadi raja 100 tahun (1382‑1482 Masehi).

Kemudian Sang Ningrat Kancana, putera sulung Dewi Mayangsari (puterinya Mangkubumi Bunisora Suradipati), diwarisi wilayah timur dengan batas sungal Citarum, dengan nama Kerajaan Galuh. Sang Ningrat Kancana menjadi penguasa Kerajaan Galuh, dengan nama nobat Prabu Dewa Niskala,dengan pusat pemerintahannya di kota Kawali(Ciamis).

Dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, tokoh Sang Ningrat Kancana, tercatat sebagai pengganti Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kan­cana. la adalah tohaan di galuh, inya nu surup di guna tiga, lawasnya ratu tujuh tahun, kena salah twah, bogoh ka estri larangan ti kaluaran. Yang di­ pertuan di Galuh. Dia yang dipusarakan di Guna Tiga. Lamanya menjadi raja hanya 7 tahun (1475‑1482 Masehi). Akibat salah perilaku, memperisteri perempuan terlarang dari luar..

Adapun yang menjadi latar belakang peristiwa, hingga Prabu Dewa Niskala memperisteri estri larangan ti kaluaran, adalah akibat terjadinya perubahan politik di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam tahun 1473 Masehi, Raden Patah dihadiahi tanah di Demak oleh ayahnya, Prabu Kertabumi atau Brawijaya V. Ibu kandung Raden Patah adalah Siu Ban Ci, puteri Syekh Bentong (Tan Go Hwat), seorang ulama Cina mazhab Hanafi murid Sunan Ampel.

Siu Ban Ci mengembara ke Palembang, akibat perceraian dengan suaminya, Prabu Kertabumi. Di Palembang, Siu Ban Ci diperisteri oleh Arya Damar, seorang Bupati Majapahit yang ditempatkan di Palembang. Dari ibunya, Raden Patah mendapat nama Jin Bun, dari ayah tirinya (Arya Damar alias Arya Dillah), diberi nama Raden Praba. Sedangkan nama Patah (Al Fatah), diterima kemudian dari Sunan Ampel, sebagal guru dan juga mertuanya.

Sunan Ampel sendiri, adalah kemenakan Ratu Darwati, salah seorang isteri Prabu Kertabumi. Sunan Ampel yang bernama Ali Rakhmatullah, untuk kepentingan membuka pesantren, atas permohonan Ratu Darawati, dihadiahi tanah Ampel Denta oleh Raja Majapahit. Karena Demak berkembang menjadi kota yang ramai, maka dalam tahun 14’75 Masehi, daerah itu dijadikan kadipaten (kadipatian). Kemudian, Raden Patah, oleh ayahnya dijadikan Adipati Demak bawahan Majapahit.

Tiga tahun kemudian, Raden Patah mengerahkan pasukan Demak. menggempur Majapahit. Prabu Kertabumi beserta keluarga keraton Majapahit, meninggalkan ibukota, cerai-berai mengungsi ke berbagai jurusan. Prabu Kertabumi akhirnya tewas di daerah Bukit Sawar, mengakhiri kekuasaan ayahnya. Sebutan Majapahait dirubahnya menjadi Demak, dan Raden Patah menjadi Sultan yang pertama dengan nama nobat Sultan Alam Akbar AI Fatah.

Uniknya, peristiwa tragis yang terjadi di Majapahit itu, ada kemiripan dengan kisah proses awal penyebaran Islam Tatar Sunda. Kisah anak ingin mengislamkan ayahnya, hingga memerangi kerajaan ayahnya, hidup dalam dongeng babad: Prabu Kian Santang.

Kerajaan Majapaliit tidak runtuh, karena masih berdiri di bawah Prabu Girindrawardana (Brawijaya VI), dengan ibukota di Keling. Baru kemudian, dalam masa pemerintahan Prabu Udara (Brawijaya VII), Demak berhasil menghancur‑leburkan Majapahit (1517 Masehi). Menurut versi lain, serangan ke Majapahit tahun 1478 Masehi, yang menyudahi kekuasan Kertabumi, dilakukan oleh Girindrawardana.

Dari Wandan Bondri Cemara, Prabu Kertabumi mempuNyai anak laki‑laki, diberi nama Raden Bondan Kejawan. Dialah pernimpin rombongan pengungsi Majapahit ke Jawa Tengah. Di sana, Raden Bondan Kejawan menikah dengan Dewi Nawangwulan, yang lebih terkenal dengan nama Nyai Lara Kidul. Dewi Nawangwulan adalah Ratu Mataram yang menganut agama Bhudagotama. Dari pernikahannya, memperoleh seorang puteri, kemudian diberi nama Nyai Mas Ratu Angin‑angin. Kelak, Nyai Mas Ratu Angin‑angin diperisteri oleh Sutawijaya, yang mendirikan Mataram Islam. Nyai Mas Ratu Angin‑angin adalah penganut setia agama Budhagotama. Oleh karena itu, ia tersamar dalarn cerita rakyat, dan lebih dikenal dengan sebutan Nyai Roro Kidul (Ratu Pantal Selatan).

Di antara keluarga keraton Majapahit yang mengungsi, ada juga yang sampai ke Kawali, ibukota Kerajaan Galuh. Rombongan ini dipimpin oleh Raden Baribin, saudara seayah Prabu Kertabumi. Raden Baribin, adalah putera Prabu Sengawikramawardana (Brawijaya IV) dari Endang Sasmitapura. Rombongan pengungsiannya, diterima dengan tangan terbuka, oleh Prabu Dewa Niskala penguasa Kerajaan Galuh.

Kemudian, Raden Baribin dijodohkan dengan puterinya Prabu Dewa Niskala, Puteri Ratna Ayu Kirana. Puteri ini adalah adik Banyakcatra (Kamandaka) Bupati Galuh di Pasir Luhur, yang juga adik Banyakngampar Bupati Galuh di Dayeuh Luhur. Ketiga‑tiganya adalah putera Prabu Dewa Niskala dari isterinya yang lain.

Selaln itu, Prabu Dewa Niskala memperisteri salah seorang wanita pengungsi, yang sudah bertunangan. Dalam pengungsian, wanita itu terpisah dari tunangannya. Menurut hukum waktu itu, baik di Kerajaan Majapahit maupun di Kerajaan Sunda (termasuk Kerajaan Galuh), seorang gadis yang telah bertunangan (rara hulanjar), tidak boleh menikah dengan laki‑laki lain, kecuali jika tunangannya meninggal atau membatalkan pertunangan.

Dalam hal ini, ratu Galuh Prabu Dewa Niskala telah melanggar dua buah pantangan (purbatisti‑purbajati Sunda):

  1.    Prabu Dewa Niskala, telah menjodohkan puterinya., dengan Raden Baribin, keluarga keraton Majapahit.
  2.    Prabu Dewa Niskala, memperisteri seorang estri larangan (rara hulanjar).

Oleh karena itu, Prabu Dewa Niskala, telah dianggap melanggar dua macam tabu (pantangan) keraton. Dari sejak peristiwa tragedi palagan Bubat (1357 Masehi), keluarga keraton Kawali, tabu berjodoh dengan keluarga keraton Majapahit.

Prabu Susuktunggal, penguasa Kerajaan Sunda, yang juga sebagai kakak seayah Prabu Dewa Niskala, sangat marah. Dalam tindakan terhadap ulah adiknya, ia memutuskan hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Galuh. Tentu saja, konflik kedua pemimpin negara, mengguncangkan rakyat Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Konflik berkembang rnenjadi permusuhan. Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, sama-sama mengerahkan pasukannya, ditempatkan di daerah perbatasan tepi barat dan timur sungai Citarum.

Untuk menyelamatkan keadaan, para Pembesar dari kedua kerajaan yang bermusuhan, mengadakan gotrasawala (musyawarah kekeluargaan), di wilyah netral, yang diduga di Kerajaan Batulayang (Kabupaten Bandung). Hasil musyawarah disepakati oleh kedua belah pihak, dan memutuskan, bahwa:

  1.    Prabu Dewa Niskala harus turun dari tahta Kerajaan Galuh;
  2.    Begitu pula Prabu Susuktungggal, harus turun dari tahta Kerajaan Sunda.

Selanjutnya, tahta Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, harus diserahkan kepada Jayadewata.

Adapun posisi Jayadewata pada saat itu, adalah:

  1.    Putera sulung Prabu Dewa Niskala, dari permalsuri;
  2.    Menantu Prabu Susuktunggal, atas pernikahannya dengan Puteri Kentring Manik Mayang Sunda.

 

  1. SRI BADUGA MAHARAJA

 

Menurut Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2, Jayadewata mula‑mulaa gelar Prabuguru Dewataprana. Kemudian dalam bulan Caitra tahun 1404 Saka (Maret/April 1482 M), ia menerima tahta kerajaan Sunda dari mertuanya, Prabu Susuktunggal.

Peristiwa penobatannya di Pakuan, sekaligus menjadikan Jayadewata seorang Maharaja, karena kekuasaan pemerintahannya, meliputi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Peristiwa tersebut, sesuai dengan isi prasasti Batutulis Kota Bogor, yang memberitakan:

// mwang na pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana diwastu diva dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sang sidamokta di gunatiga, incu rahyang niskala waste kancana sang sidamokta ka nusa larang ya siya nu nyian sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun // i sake panca pandawa emban bumi //

 

Terjemahannya:

Semoga selamat. Ini tanda peringatan untuk (peninggalan dari) prabu ratu suwargi. la dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana. Dinobatkan (lagi) ia dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (di) Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga; cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan (berupa) gunung-gunungan, membuat jalan yang diperkeras dengan batu, membuat samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Mahawijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (Dibuat) dalam (tahun) Saka 1455 (Danasasmita, 1981: 25).

 

Prasasti Batutuhs Kota Bogor, dibuat oleh Prabu Sanghiyang Surawisesa, pada tahun 1533 Masehi. Pembuatan prasasti tersebut, dilakukan dalam upacara penyempurnaan sukma, untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Upacara semacam itu, hanya dilakukan untuk raja‑raja tertentu. Jika seorang raja wafat, kemudian setelah 12 tahun masyarakat masih menceritakan jasa-jasa dan kebesarannya, maka raja tersebut digali dari kuburnya, kemudian kerangkanya diperabukan. Maksudnya, agar sukma raja tersebut, dapat kembali kepada zat asalnya: Hiyang Batara Tunggal (Tuhan Yang Esa).

Isi prasasti Batutulis Kota Bogor, tidak bertentangan dengan naskah kuna Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2, yang terjemahan langsungnya, antara lain sebagai berikut:

Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu: membuat telaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan ke hutan larangan. la memperteguh pertahanan ibukota, memberikan desa (perdikan) kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat kebinihajian  (kaputren), kesatrian (asrama prajurit), pagelaran  (macam‑macam formasi tempur), pamingtonan  (tempat pertunjukan kesenian), memperkuat angkatan perang, mengatur pungutan pajak dari raja‑raja bawahan dan menyusun undang‑undang kerajaan.

 

Memberi hadiah desa perdikan untuk tempat tinggal para Pendita, tertulis pula dalam prasasti (piagam) tembaga, yang ditemukan di Desa Kabantenan, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Dari prasasti yang berjumlah 5 lembar itu, isinya dapat diketahui, bahwa Sri Baduga Maharaja mengukuhkan status lemah dewasasana atau lurah kawikuan di Sunda Sembawa, Gunung Samaya dan Jayagiri. Pengukuhan itu, berupa penegasan batas‑batas wilayah dan pembebasan dari pajak, serta ancaman hukum mati, bagi siapapun yang melanggar keputusannya.

Tanah suci Lemah Dewasasana atau Lurah Kawikuan, dibebaskan dari 4 macam pajak yang disebut: dasa, calagara, kapas‑timbang (upeti) dan pare-dongdang(panggeres reuma).

Dasa, adalah pajak tenaga perseorangan, yaitu kewajiban bekerja beberapa hari dalam setahun, sebagai tanda bakti kepada raja atau keluarganya. Kata dasa, diambil dari bahasa Sanskerta, yang berarti pelayanan (service).

Calagara (di Majapahit: walagara), adalah pajak tenaga kolektif. Para petani tergabung dalam pasukan pekerja, yang dipimpin oleh wado (seorang prajurit yang ditugaskan memimpin pasukan pekerja), untuk melaksanakan bagi kepentingan raja dan negara.

Kapas‑timbang atau upeti kapas, harus diserahkan tiap tahun, sebanyak 10 pikul atau 10 carangka.

Pare‑dongdang atau panggeres reuma, adalah pare turiang, yaitu padi yang terlambat berbuah setelah musim panen. Bila petani telah berpindah ladang (huma), maka padi dipanen di reuma (bekas ladang), harus diserahkan kepada raja, karena padi semacam ini dianggap bukan bagian petani.

Upacara penyempurnaan sukma Sri Baduga Maharaja telah dilakukan. Akan tetapi masyarakat Kerajaan Sunda masih tetap mengenang dan menceritakan jasa-jasa dan kebesaran Sri Baduga Maharaja. Keharuman Sri Baduga Maharaja, sebanding dengan keharuman nama uyutnya (buyutnya), Prabu Maharaja Linggabuana (Prabu Wangi), yang gugur di Palagan Bubat. Juga sebanding dengan keharuman nama kakeknya, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (Prabu Wangisutah), yang mengangkat Kerajaan Sunda mencapai kejayaannya. Oleh karena itulah, Juru Pantun ataupun Penulis Babad, mengenang Sri Baduga Maharaja sebagai Prabu Silihwangi. Silih artinya pengganti. Wangi artinya harum.Silih Wangi, artinya pengganti raja‑raja tertnashur sebelumnya.

Penamaan Pajajaran untuk Kerajaan Sunda, sesungguhnya berasal dari penamaan keraton Sri Bima‑Punta Narayana Madura‑Suradipati yang bentuknya sebangun dan berjajar. Oleh karena keraton tersebut berada di kota Pakuan, masyarakat sering menyebutnya Pakuan Pajajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, terutama berdasarkan sumber cerita Pantun dan Babad, Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran. Sedangkan berdasarkan sumber‑sumber Portugis, nama resmi kenegaraan, tetap menggunakan sebutan Kerajaan Sunda.

Menurut catatan yang dikumpulkan oleh jurutulis Sultan Trenggono (dalamPustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 4), pada tahun 1521 Masehi (akhir pemerintahan Sri Baduga Maharaja), penduduk kota Pakuan ada 48.271 orang. Laporan Portugis tahun 1522 Masehi, memperkirakan penduduk Pakuan sebanyak 50.000 orang. Dengan jumlah itu, Pakuan di bawah naungan Sri Baduga Maharaja, merupakan kota terbesar kedua di Nusantara setelah Demak (49.197 orang). Pasai, sebagai kota terbesar ketiga, baru berpenduduk 23.121 jiwa.

Tome Pires (k.l. 1468-1539 Masehi), seorang apoteker yang pernah berkarya pada seorang pangeran di Lisbon (Heuken, 1999: 41), dan akan menjadi duta raja Portugal di Cina (Lombard, 1996: 59), pada tahun 1513 Masehi singgah di pelabuhan‑pelabuhan Sunda. Tome Pires memberitakan, bahwa perdagangan Sunda lewat pelabuhan-pelabuhannya sangat maju. Omzet perdagangan kuda, dapat mencapai 4.000 ekor tiap tahun.

Dayo (dayeuh=ibukota) tempat tinggal raja, disebutkannya, terletak dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa, berada di pedalaman. Istana raja, dikelilingi 330 pilar kayu sebesar tong anggur dan tingginya 5 pathom (depa = kira‑kira 9 meter), serta pada puncaknya berukir indah. Dalam angkatan perang kerajaan, terdapat 40 ekor gajah.

Tentang Sri Baduga Maharaja, Tome Pires mencatatnya sebagai Rev he gramde cacador (Raja Sunda adalah seorang raja perkasa dan pemburu). Tetapi yang lebih penting, Tome Pires mencatat tentang pemerintahan Sri Baduga Maharaja, antara lain: Regno De cumda Regido em Justiea (kerajaan Sunda diperintah secara adil).

Untuk kepentingan perdagangan Portugis, Tome Pires mencatat pelabuhan‑pelabuhan penting di Kerajaan Sunda, adalah sebagai berikut:

// Pimeira memte o Rey de Cumda a ssua gramde cidade de dayo a pouoacam he terms I porto De bamtam o Porto De pomdam/ o porto de chegujdee o Porto De tamgaram o Porto de calapa o Porto de chemano ysto hee cumda por q ho Rijo De chemano he estremo Dambollos Regnos//

 

Terjemahannya:

Pertama, raja Sunda (Cumda) dengan kota besarnya Dayo, kota dan wilayah serta pelabuhan Banten (Bantam), pelabuhan Pontang (Pomdam), bandar Cheguide, Tangerang (Tamgaram), Kalapa (Calapa), Cimanuk (Chemano). Inilah Sunda, karena sungai Cimanuk merupakan batas di antara kedua kerajaan (Heuken, 1999: 37).

 

  1. SIKAP TERHADAP MUSLIM

 

Sebelum Sri Baduga Maharaja lahir, di Kerajaan Sunda sudah ada penganut agama Islam. Tokoh tersebut adalah Bratalegawa, putera Mangkubumi Bunisora Suradipati. Bratalegawa adalah adik Giridewata alias Ki Gedeng Kasmaya, raja Cirebon Girang. Bratalegawa lahir tahun 1350 M, dua tahun lebih muda dari Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (kakeknya Sri Baduga Maharaja).

Sebagai saudagar besar yang memiliki banyak kapal layar, Bratalegawa tidak menjadi raja daerah (Ki Gedeng), ia sibuk oleh kegiatan niaga lautnya. Bratalegawa, menikah dengan wanita muslim dari Gujarat, bernama Farhana binti Muhammad. Kemudian dari Gujarat, bersama isterinya, Bratalegawa menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan mendapat nama baru menjadi Haji Baharuddin al Jawi.

Setelah kembali ke Kerajaan Galuh, ia lebih dikenal sebagai Haji Purwa Galuh (haji pertama di Galuh). Walaupun berbeda agama, ia tetap hidup rukun dengan saudara‑saudaranya. Kelak, cucunya yang bernarna Hadijah, menjadi isteri Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama mazhab Safi’i, yang memimpin pesantren di Bukit Amparan Jati Cirebon, merupakan pesantren tertua kedua di Kerajaan Sunda.

Sedangkan pesantren tertua pertama di Kerajaan Sunda, didirikan oleh Syekh Hasanudin, seorang ulama mazhab Hanafi, di Pura Dalem Karawang, dalam tahun 1416 M. Syekh Hasanudin dikenal dengan sebutan Syekh Quro, karena pondoknya menjadi tempat orang belajar mahir mengaji Qur’an.

Puteri Subanglarang, isteri kedua Sri Baduga Maharaja, adalah alumnus pesantren Quro tersebut. Ketiga anaknya, yaitu Pangeran Walangsungsang, Larasantang, dan Raja Sangara, diijinkan memeluk agama Islam yang dianut ibunya. Dalam beberapa Naskah Pangeran Wangsakerta, menggambarkan sikap Sri Baduga Maharaja terhadap Islam, dengan kalimat: rasika dharmika ring pamekul agami rasul (bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Islam).

Sesungguhnya, yang dikhawatirkan oleh Sri Baduga Maharaja perihal Cirebon, bukan “Islamnya”. Akan tetapi, hubungan politis yang terlalu akrab, antara Cirebon dengan Demak. Tidak kurang dari 4 orang putera-puteri Syarif Hidayat (Cirebon), dijodohkan dengan putera‑puteri Raden Patah (Demak).

Karena perkawinan Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor, maka angkatan laut Demak yang dipimpin oleh Sabrang Lor, sebagian ditempatkan di Cirebon. Situasi itulah yang mendorong Sri Baduga Maharaja mengutus Putera Mahkota (Prabu Anom) Ratu Sanghyang Surawisesa, sebagai duta resmi negara, untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Alfonso d’Albuquerque (dalam naskah Pangeran Wangsakerta, disebut Laksamana Bungker), raja muda Portugis di Malaka tahun 1512 M.

Misi tersebut diulang tahun 1521 Masehi. Akan tetapi, pada tahun itu, Sri Baduga Maharaja sudah wafat, Kesepakatan perjanjian Kerajaan Sunda (Pajajaran) – Portugis, akhirnya ditanda‑tangani di Pakuan, pada tanggal 21 Agustus 1522 M. Duta Portugis dipimpin Hendrique de Leme (Endrik Bule). Kunjungannya ke Pakuan, sekaligus untuk menghadiri upacara penobatan Prabu Sanghyang Surawisesa, sebagai penguasa Kerajaan Sunda (Pajajaran) pengganti Sri Baduga Maharaja.

Adapun terjemahan dari sertifikat Perjanjian Kerajaan Sunda‑Portugis tersebut, antara lain sebagai berikut:

“Tanggal 21 Agustus 1522 ses. M. hadir di pelabuhan Sunda ini: Amrrique Leme, kapten perjalanan ini, utusan Jorge d’Alboquerque, Kapten Malaka, dengan tugas untuk mengadakan perjanjian dan persetujuan perdamaian serta persahabatan dengan Raja Sunda. Raja Sunda tersebut menyetujui perutusan dan perjanjian persahabatan yang diadakan dengannya oleh A. Leme. Ia (Leme) menganggap baik dan mengerti, bahwa ia diberi izin untuk mendirikan sebuah benteng di atas tanahnya untuk Raja Portugis, Tuan Kami. Untuk maksud ini, ia (Raja Sunda) mengutus pejabat tingkat atas, yang disebut Paduka Tumenggung (mamdarim Padam Tumungo) dan bersama dengannya dua pejabat terhormat (diutus pula), jelasnya yang satu bernama Sang Adipati (Samgydepaty) yang lain Bendahara (Benegar), seperti pula syahbandar dari tempat pabean. Selain itu banyak orang baik. Pejabat-pejabat tersebut diberi kuasa penuh untuk mengambil keputusan, menentukan dan menunjuk tempat, yang dianggap cocok oleh Amrrique Lerne tersebut untuk (membangun) benteng bagi Raja Portugis. Paduka Tumenggung bersama pejabat‑pejabat lain dan orang-orang baik yang disebut di alas, bersama dengan Amrrique Leme tersebut pada tanggal itu pada tempat benteng akan dibangun, menegakkan sebatang padrao dari batu; jadi di sebelah kanan muara sungai, seberang awal pelabuhan. Kawasan ini yang disebut Kalapa. Maka, di situ batu peringatan (padrao) ditancapkan dengan lambang Raja, Tuan kami dan dengan sebuah inskripsi.

Maka, Raja Sunda tersebut menyetujui persetujuan dan kontrak yang diadakannya dengan Amrrique Leme, yakni supaya dengan bebas dan rela setiap tahun pada tanggal pembangunan benteng tersebut dimulai, menghadiahkan kepada Raja, Tuan kami, seribu karung lada sebagai tanda perdamaian dan persahabatan. Karung‑karung seperti dipakai lazim di negeri itu, sehingga setiap karung beratnya 10.600 caxas Java. Maka, beratnya seribu karung itu kurang lebih seratus enam puluh bahar.

Tentang seluruhnya itu, Amrrique Leme tersebut di atas itu menyuruh saya, Balthasar Memdes, penulis dari kapal San Sebastian, selaku perwira Raja, Tuan kami, membuat dokumen ini. Dengan demikian, saya memberi kesaksian, bahwa isinya menguralkan apa yang berlangsung dan disetujui.

Untuk buktinya, saya, penulis, mengadakan sertifikat ini dan (kemudian) menyalinnya ke dalam buku saya, yang ditandatangani dengan tandatangan saya yang biasa. Saksi‑saksi adalah Fernco de Almeida, kapten sebuah jung serta pedagang pedagang pangkat atas Raja. Tuan kami, pada perjalanan ini, dan Franscisco Annes, penulis dan Manuel Mendes dan Sebastian Diaz do Rego dan Francisco Diaz dan Joham Coutinho dan Joham Goncalvez dan Gil Barbosa dan Tome Pinto en Ruy Goncalvez dan Joham Rodriguez dan Joham Fernandez dan Joham da Costa dan Pedro Eannes dan Manuel Fernandez dan Diogo Fernandez, semuanya tentara, dan Diogo Diaz, Afonso Fernandez tentara juga dan Nicolas da Sylva, juru tinggi kapal tersebut dan George de Oliveira, juru mudi dan banyak (orang) lagi.

Dibuat pada hari, bulan dan tahun seperti tercatat pada kepala (surat) ini. (Lalu tandatangan orang‑orang) (Heuken, 1999: 54).

 

Hubungan internasional bilateral inilah, yang dicurigai para akhli sejarah, bahwa “Pajajaran adalah kerajaan yang memulai mengundang kaum penjajah” ke tanah air Indonesia. Padahal, pedagang Portugis pada waktu itu, masih sebagai pelaut murni. Berbeda dengan pelaut Belanda, yang selalu berambisi, menguasai wilayah perdagangan (kolonialis) yang disinggahinya.

Persaingan dagang memperebutkan jalur pelayaran Selat Malaka, di antara Kerajaan Sunda (Pajajaran) dengan Demak, sangat wajar terjadi, karena Pajajaran dengan Demak mempunyai strategi politik dagang masing‑masing. Sangat disayangkan, telaah ke arah itu baru di permukaannya saja, sehingga “sentimen agarna Islam”‑lah yang sering dimunculkan.

Sri Baduga Maharaja itu, tidak saja mengalami masa perkembangan Islam, tetapi mengalami juga masa hubungan Internasional yang sifatnya bilateral dengan bangsa Eropa, yang diwakili oleh pedagang Portugis. Sudut pandang inilah yang belum dipahami secara seksama.

Sri Baduga Maharaja adalah raja besar (Maharaja) terakhir di Kerajaan Sunda. Raja‑raja penerusnya, tidak sanggup mempertahankan kebesaran Kerajaan Sunda Pajajaran, bahkan cenderung kualitasnya semakin merosot. Kebesaran jiwanya dan toleransinya terhadap agama Islam, telah menjadikan Sri Baduga Maharaja tetap dihormati sebagal karuhun oleh masyarakat Sunda.

Cukup banyak Babad yang ditulis, dengan tujuan utama, merangkaikan secara paksa silsilah Bupati setempat dengan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Banyak kerabat Bupati masa silam di Tatar Sunda, yang sesungguhnya keturunan Galuh, Cirebon, Sumedang, dan Talaga, tetapi dalam menuliskan Babad setempat, selalu diupayakan ada kaitan darah dengan tokoh Sri Baduga Maharaja.

Setelah Indonesia merdeka, hubungan darah ini diubah dengan hubungan historis yang lebih umum sifatnya. Lahirnya pemeo seuweusiwi‑Siliwangi, sebagai ungkapan kesadaran terhadap sejarah dan warisan nilai budaya. Akhirnya jadilah Siliwangi itu suatu identitas Urang (Etnis) Sunda. Terbukti, keharuman nama Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja), tidak pernah luntur sejak masa ia hidup sampai sekarang.

Sampai saat kini, umum masih beranggapan, bahwa agama Sri Baduga Maharaja itu, kalau tidak Hindu tentunya Budha. Akan tetapi, kalau ditanyakan, dimanakah bekas candi‑candinya, di manakah patung dewa-dewa yang dipujanya? Kecuali temuan peninggalan Salakanagara dan Tarumanagara, secara arkeologis, belum dapat membuktikan secara pasti, bahwa agama Kerajaan Sunda Pajajaran itu Hindu atau Budha.

Dalam cerita Pantun sekalipun, mengenai tokoh Prabu Siliwangi, Juru Pantun tidak pernah menyebut‑nyebut tokoh dewa-dewa Hindu ataupun Budha. Adapun tokoh spiritual yang sering ditampilkan dalam cerita Pantun, adalah tokoh Sunan Ambu, Para Pohaci dan Para Bujangga.

Dalam naskah Kropak 406 Carita Parahiyangan, Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja, dijuluki Sang Mwakta ring Rancamaya, atau “Yang Moksa Di Rancamaya“.

Mwakta atau Moksa, pinjaman kata dari idiom ajaran agama Budha. Dalam naskah Sunda kuna lainnya, digunakan kata lumah (pusara), sehingga menjadi sebutan Sang Lumahing, yang artinya dipusarakan. Sebutan Sang Mwakta atau Sang Lumahing, sama‑sama mempunyai arti “sukmanya telah disempurnakan”.

Penyempurnaan sukma tersebut, dimaksudkan sebagui upaya agar “sukma” yang sudah meninggal itu, dapat kembali kepada Asal‑nya. Dzat Asal dalam religi Sunda, disebut Hiyang Batara Twiggal (Tuhan Yang Esa). Oleh karena itu, pada perkembangan bahasa Sunda yang selanjutnya, istilah itu berubah menjadi “nga-Hiyang”.

Dalam Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, cita-cita urang Sunda yang saleh, tidak ingin manjing surga (masuk Surga). Melainkan rnanggihkeun hyang tanpa balik dewa (bertemu dengan Hyang, bukan dengan Dewa).

Kembali kepada Hiyang Batara Tunggal, karena Dia‑lah si tuhun lawan pretyaksa (Dialah Yang Hak dan Yang Wujud). Itulah arti sesungguhnya dari “ngahiyang”. Sejalan dengan cita‑cita muslim yang saleh: kembali ke Khadirat Ilahi Rabbi.

Sebutan lain untuk Hiyang, di-Sanskerta‑kan menjadi Seda Niskala. Seda, artinya Sempurna; Niskala, artinya Gaib. Hiyang Seda Niskala, dapat diartikan sebagai Yang Maha Gaib.

Hal yang menarik lainnya dari religi Sunda, terungkap dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, di antaranya sebagai berikut:

Sumbelehan niat inya bresih snci wasah. Disunat ka tukangnya, jati Sunda teka.

Terjemahan:

Disunat agar terjaga dari kotoran, bersih suci bila dibasuh. Disunat kepada akhlinya, kebiasaan adat Sunda yang sesungguhnya.

 

Beberapa kesamaan keyakinan religi Sunda dengan religi Islam, bagi orang Sunda., sesungguhnya tidak jadi masalah. Kedatangan Islam, merupakan penyempurna religi yang telah lama dianutnya.

 

  1. PENERUS TAHTA KERAJAAN SUNDA (PAJAJARAN)

 

Berdasarkair sumber cerita Pantun dan Babad, kisah tentang Kerajaan Pajajaran, selalu diakhiri pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi. Kisah tersebut, sudah merasuk ke dalam jiwa orang Sunda, dan sudah mendarah‑daging secara turun-temurun. Provokasi cerita fiksi Kian Santang, sudah demikian lama, menenggelamkan riwayat “Pajajaran” yang sesungguhnya. Adakah masuk di akal, Kian Santang yang konon katanya, hidup di masa penyebaran Islam di Tatar Sunda (abad ke‑15 Masehi), dapat bertemu dengan Sayidina Ali (sahabat Rasulullah Muhammad), pada abad ke‑7 Masehi? Sebab, jarak masa hidup Kian Santang dengan Sayidina Ali, dipisahkan oleh waktu kurang‑lebih 800 tahun! Kemudian, jika Kian Santang berstatus sebagai anak Prabu Siliwangi, setega itukah, memaksa ayahnya untuk masuk Islam?

Ada yang menafsirkan, bahwa tokoh Kian Santang itu, adalah Pangeran Walangsungsang alias Pangeran Cakrabuana. Selain itu, Kian Santang disamakan dengan Raja Sangara (Raja Sengsara), karena ia adiknya Larasantang, juga adiknya Pangeran Cakrabuana. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Kian Santang itu Falatehan alias Fatahillah. Bahkan Maulana Hasanuddin dari Banten pun, sempat dicurigai sebagai Kian Santang. Untuk mencari kebenaran, perlu penelusuran ilmiah, berdasarkan ilmu sejarah.

Persesuaian Kropak 406 Carita Parahiyangan dengan Pustaka Carita Parahiyangan Cirebon abad ke‑17, meriwayatkan penerus tahta di Kerajaan Sunda (Pajajaran), yang rangkumannya adalah sebagai berikut:

Setelah wafatnya Sri Baduga Maharaja (1521 Masehi), pewaris tahta Kerajaan Sunda (Pajajaran), adalah Prabu Sanghiyang Surawisesa. la putera Sri Baduga Maharaja dari Puteri Kentring Manik Mayang Sunda (puteri Sang Prabu Susuktunggal). Prabu Sanghiyang Surawisesa, pernah diutus ke Malaka untuk merintis perjanjian bilateral perdagangan Sunda – Portugis. Dalam catatan Portugis, ia disebut Raja Samiam, yang dimaksud adalah Raja Sanghiyang (Surawisesa).

Wafatnya tokoh Sri Baduga Maharaja, menimbulkan persoalan baru, membangkitkan ambisi Cirebon untuk memperluas wllayah kekuasaannya. Ketika Prabu Sanghiyang Surawisesa naik tahta, konflik dengan Pakungwati Cirebon semakin meruncing, hingga menimbulkan perang selama 15 kali.

Mengenai Raja‑Raja penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran, terungkap dalam naskah Kropak 406 Carita Parahiyangan, dari lembar 20 sampai dengan lembar 25, uraiannya adalah sebagai berikut:

// disilihan ku prebu surawisesa / inya nu surup ka  padaren / kasuran / kadiran / kuwanen //  prang‑prang lima welas kali hanteu eleh / ngalakukeun bala sariwu prangrang ka kalapa deung aria burah / prangrang ka tanjung// prangmng ka ancol kiji // prangrang ka wahantengirang// prangrang ka simpang// prang‑prang ka gunung batu // prangrang ka saung agung// prangrang ka rumbut // prangrang ka gunung// prangrang ka gunung banjar// prangrang ka padang// prangrang ka panggoakan// prangrang ka muntur// prangrang ka hanum // prangrang ka pager wesi // prangrang ka medangkahiyangan // ti inya pulang ka pakwan deui // hanteu nu nahunan deui / panteg hanca buana // lawasniya ratu opatwelas tahun //

 

Terjemahan:

Diganti yaitu oleh Prabu Surawisesa yang dipusarakan di Padaren. Rata gagah perkasa, teguh dan pemberani.  Lima betas kali perang tak pernah kalah. Dalam melakukan peperangan menggunakan siasat Bala Sarewu (Pustaka Bala Seribu).

Perang ke Kalapa dengan Aria Burah. Perang ke Tanjung. Perang ke Ancol Kiji. Perang ke Wahanten Girang. Perang ke Simpang. Perang ke Gunung Batu. Perang ke Gunung Banjar. Perang ke Padang. Perang ke Pagoakan. Perang ke Muntur. Perang ke Hanum. Perang ke Pager Wesi. Perang ke Medang Kahiyangan. Setelah itu, kembali ke Pakuan lagi. Tidak sampai setahun, meninggal dunia. Lamanya menjadi ratu 14 tahun.

 

prebu ratudewata / inya nu surup ka sawah tampian dalem lumaku ngarajaresi // tape pwah susu // sumbelehan niat tinja bresih suci wasah disunat ka tukangna / jati sunda tetra / datang na bancana musuh Banal / tambuh sangkane // prangrang di buruan ageung// pejah tohaan sarendet deung tohaan rata sanghiyang// hang pandita sakti diruksak / pandita di sumedang// sang pandita di ciranjang pinejahan tanpa dose / katiban ku tapak kihir//sang pandita di jayagiri linabuhaken ningsagara// hang sang pandita sakti hanteu dosana // rounding rah.iyang ngaraniya / linalnhaken ring sagara tan keneng pati/ hurip muwaf, moksa tanpa tinggal raga tetra ring duniya// sinaguhniva. ngaraniya hiyang katingan // nya iyatnavatna .sang kawuri / hayzaa to .sire kabalik pupuasaan //samangkana to precinta // prebu ratudewata / lawasniya rata dalapan tahun / kasalapan panteg hence dine bwana //

 

Prabu Ratu Dewata, dialah yang dipusarakan di Sawah Tampian Dalem. Menjalankan kehidupan seperti Rajaresi. Puasa, hanya meminum susu. Disunat, supaya bersih suci dari kotoran. Disunat oleh akhlinya, itulah tradisi orang Sunda.

Datang bencana serangan musuh kasar, tidak diketahui identitasnya. Perang di Buruan Ageung (Alan‑alun). Gugur Tohaan Sarendet den Tohaan Ratu Sanghiang. Ada pendeta sakti dianiaya, pandita di Sumedang. Sang pandita di Ciranjang, dibunuh tanpa dosa, tertimpa tapak kikir. Sang Pandita di Jayagiri, ditenggelamkan ke laut. Ada pendeta sakti tak berdosa Munding Rahiyang namanya, ditenggelamkan ke laut, tidak mati, masih hidup, menghilang tanpa meninggalkan jejak di dunia. Terkenal namanya Hiyang Kalingan. Oleh sebab itu, hati‑hatilah yang hidup di kemudian hari, jangan hidup pura‑pura berpuasa. Begitulah keadaan jaman susah.

Prabu Ratu Dewata, lamanya jadi raja 8 tahun, kesembilan tahunnya meninggal dunia.

 

disilihan ku sang ratu sakti sang mangabatan ring

tasik / inya nu surup ka pengpelengan // lawasniya ratu dalapan

tahun / kenana ratu twahna kabancana ku estri larangan ti

kaluaran deung kana ambu tere // mati‑mati wong tanpa dosa /

ngarampas tanpa prege / tan bakti ring wong atuha / asampe

ring sang pandita //

aja tinut sang kawuri / polah sang nata //

mangkana sang prebu ratu / carita inya //

 

Diganti oleh Sang Ratu Sakti Sang Mangabatan di Tasik. Yaitu yang dipusarakan di Pengpelengan. Lamanya jadi ratu 8 tahun, karena tindakan ratu celaka oleh wanita larangan dari luar dan oleh ibu tiri. Sering membunuh orang tanpa dosa, merampas tanpa perasaan, tidak hormat pada yang tua, menghina pendita. Jangan diikuti oleh generasi belakangan, tindakan ratu seperti itu. Begitulah riwayat Sang Ratu.

 

tohaan di majaya alah prangrang/ mangka tan nitih

ring kadatwan // nu ngibuda sanghiyang panji / mahayu na ka

datwan / dibalay manelah taman mihapitkeun dora larangan //

nu migawe bale‑bobot pituwelas jajar/ tinulis pinarada war-

nana cacaritaan //

 

Tohaan di Majaya kalah perang, oleh sebab itu tidak diam di Kedaton. Dialah yang mencipta Sanghiang Panji, menghiasi Kedaton, di balai diatur berupa taman mihapitkeun panto larangan. Yang membangun bale bobot 17 jajar, diukir berbaris dibentuk berbagai cerita.

 

hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat / kreta

ngaraniya // hanteu nu ngayuga sanghara / kreta //

dopara luha gumenti tang kali // sang nilakendra wwat

ika sangke lamaniya manggirang/ lumekas madumdum cereng//

manganugraha weka / hatina nanda wisayaniya / manurunaken

pretapa / putu ri patiriyan // cai ka tiningkalan nidra wisaya

ning baksa kilang//

wong huma darpa mamangan / tan igar yap tan pepela

kan // lawasniya ratu kampa kalayan pangan / ta tan agama

gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan

beunghar//

lawasniya ratu genepwelas tahun //

 

Dari zaman manusia sejagat tidak mengalami kejahatan disebut zaman kreta. Tidak ada yang menjadikan hancurnya jagat.

Dalam zaman Dopra, zaman perunggu, seterusnya diganti dengan zaman kali, zaman besi, Sang Nilakendra, karena terlalu lama dalam suasana senang memperturutkan hawa nafsu. Mempunyai anak, ke dalam hatinya sudah dirasuki bermacam reka perdaya, menurunkari pertapa, cucu tiri. Minuman keras dianggap seperti air bentuknya godaan nafsu.

Manusia yang berhuma rakus makannya, tidak gembira kalau tidak bercocok tanam. Lamanya ratu menuruti hawa nafu dalam makanan, tidak mengikuti adat kebiasaan, dalam menuruti nafsu kesenangan karena menganggap wajar dengan kekayaannya.

Iamanya jadi rata 16 tahun.

 

disilihan ku nusiya mulia // lawasniya rata sadewidasa /

tembey datang na prebeda // bwana alit sumurup ping ganal /

metu sanghara ti selam //

prang ka raja gaLuh / eleh na raja galuh / prang ka ka‑

lapa / eleh na kalapa // prang ka pakwan / prang ka galuh /

prang ka datar/ prang ka madiri / prang ka patege / prang

ka jawakapala / elehna jawakapala // prang ka galelang//

nyabrang/ prang ka salajo / pahi eleh ku selam //

 

Diganti oleh Nusia Mulya. Lamanya jadi ratu 12 tahun. Pertama datangnya perubahan. Dunia halus masuk ke yang kasar, timbul kerusakan dari Islam.

Perang dengan Rajagaluh, kalah Rajagaluh. Perang dengan Kalapa, kalah Kalapa. Perang dengan Pakuan, perang dengan Galuh, perang dengan Datar, perang dengan Mandiri, perang dengan Patege, perang dengan Jawakapala, kalah Jawakapala. Perang dengan Gegelang. Perang berlayar ke Salajo, semua kalah oleh orang Islam.

 

Berdasarkan Kropak 406 Carita Parahiyangan, Setelah Sri Baduga Maharaja wafat, ada 5 orang Raja penerus tahta Kerajaan Pajajaran, antara lain:

 

  1.    Prabu Sanghiyang Surawisesa (1521‑1535 Masehi);
  2.    Ratu Dewatabuana (1535‑1543 Masehi);
  3.    Ratu Sakti (1543‑1551 Masehi);
  4.    Prabu Nilakendra (1551‑1567 Masehi);
  5. Prabu Ragamulya Suryakancana atau Prabu Pucuk Umun Pulasari (1567‑1579 Masehi).

 

Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran, bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 Masehi.

  1. KESULTANAN PAKUNGWATI CIREBON

 

  1. PANGERAN CAKRABUANA 

 

Banten pada masa penyebaran Islam di Kerajaan Sunda, sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan, dari pendahulunya, Cirebon. Oleh karena itu, untuk membahas Banten, terlebih dahulu harus mengenal Cirebon.

Dalam Carita Parahiyangan, karya Tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta, yang disusun oleh Atja dan Edi S. Ekadjati (1989), tentang Cirebon dikemukakan sebagai berikut:

 

Adapun mengenai raja‑raja Cirebon, mereka keturunan raja Pajajaran dari isteri Sang Prabhu yang bernama Nyai Subanglarang atau Subangkarancang. Dalam pernikahannya itu berputera beberapa orang. Dua di antaranya, ialah;

 

  1.    Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana;
  2.    Nyai Larasantang atau Saripah Muda’im (Atja & Ekadjati, 1989:165).

 

Dalam naskah‑naskah Cirebon lainnya dijelaskan pula, bahwa dari Subanglarang, Sri Baduga Maharaja memperoleh anak bungsu laki‑laki, bernama Rajasangara.

Dari isterinya yang pertama, Ambetkasih (puterinya Ki Gedeng Sindangkasih), Sri Baduga Maharaja tidak memperoleh anak. Sedangkan dari isterinya yang ketiga, Kentring Manik Mayang Sunda (puterinya Prabu Susuktunggal), berputera beberapa orang, di antaranya:

  1.    Sanghiyang Surawisesa;
  2.    Surasowan; dan
  3.    Dewi Surawati; kelak diperisteri oleh Adhipati Surakerta.

 

Semua putera‑puteri Sri Baduga Maharaja, dilahirkan di Keraton Pakuan Pajajaran. Status Pangeran Walangsungsang, di antara semua putera puteri Sri Baduga Maharaja, berperan sebagai anak sulung. Status ini sangat memungkinkan, jika Pangeran Walangsungsang, merupakan anak terdekat pertama dengan ayahandanya.

Ibunda Pangeran Walangsungsang (Subanglarang), adalah murid Syekh Hasanudin, dari Pondok Quro Pura Dalem (Karawang). Syekh Hasanudm, adalah ulama Cina yang berasal dari Campa, pemeluk Islam madzhab Hanafi.

Adapun riwayat Syekh Hasanudin, hingga mendirikan Pondok Quro di Pura Dalem Karawang, adalah sebagai berikut:

Pada tahun 1416 Masehi, armada laut Cina, mengadakan pelayaran keliling, atas perintah Kaisar Cheng‑tu atau Kaisar Yunglo, Kaisar dari Dinasti Ming ketiga. Armada laut Cina tersebut, dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam‑Po‑Tay‑Kam yang beragama Islam. la didampingi oleh jurututulisnya, Ma Huan, yang juga beragama Islam.

Armada laut Cina yang dipimpin Laksamana Cheng Ho, sebanyak 63 buah kapal layar, dengan prajurit laut sebanyak 27.800 orang. Tujuan pelayaran mereka, untuk menjalin persahabatan, dengan raja‑raja Cina di seberang lautan.

Di antara sekian banyak awak kapal, terdapat beberapa orang penumpang, yang dipimpin oleh Syekh Hasanudin. la bermaksud, menyebarkan ajaran agama Islam, di Pulau Jawa. Oleh karena sesama muslim, Laksamana Cheng Ho, mengijinkan Syekh Hasanudin beserta pengiringnya, untuk ikut menumpang pada kapal layarnya.

Ketika armada laut Cina itu singgah di pelabuhan Pura Dalem Karawang, Syekh Hasanudin beserta pengiringnya, memohon diri untuk turun. Sedangkan Laksamana Cheng Ho dengan armada lautnya, meneruskan pelayarannya ke Majapahit, di Jawa  Timur.

Syekh Hasanudin, ketika turun di Pura Dalem Karawang, disertai pula oleh puteranya, Tan Go Wat. Kelak, Tan Go Wat, dikenal sebagai Syekh Bantong. Setelah lama tinggal di Pura Dalem, akhirnya Syekh Hasanudin berjodoh dengan Ratna Sondari, puterinya Ki Gedeng Karawang. Dari perkawinannya, memperoleh anak, yang kelak dikenal sebagai Syekh Ahmad.

Syekh Hasanudin, mendirikan Pondok Quro tertua pertama di Kerajaan Sunda, di pesisir Pura Dalem Karawang, pada tahun 1416 Masehi. Peristiwa penting ini, terjadi pada masa pemerintahan Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (1371‑1475 Masehi), kakeknya Sri Baduga Maharaja.

Selama 59 tahun, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana, menyaksikan berseminya agama Islam di wilayah kekuasaannya. Sebagai penguasa daerah bawahan Kerajaan Sunda, Ki Gedeng Karawang, tidak akan berani membiarkan Islam berkembang di wilayahnya, kalau tanpa seijin Sang Mahapraburesi.

Bagi Sang Mahapraburesi, Islam bukan hal yang baru dan acing. Sebab, adik iparnya, Bratalegawa alias Haji Purwa Galuh, sudah terlebih dahulu memeluk agama Islam.

Keteladanan Wastu Kancana sangat luar biasa. Hal ini tampak dalam Carita Parahiyangan. Penulis naskahnya sangat mahal dengan kata-kata, dan lebih kikir lagi dengan pujian. Namun bagi tokoh Wastu Kancana, ia bersedia mengurbankan lembaran kropaknya sampai 4 halaman, padahal untuk Sri Baduga Maharaja, walau pun ia masih sanggup memujinya, hanya disediakan seperempat halaman saja (Danasasmita,1984: 42).

Pangeran Walangsungsang, adalah cicit dari Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana. la dengan kedua adiknya, pemeluk agama Islam mazhab Hanafi, mengikuti agama yang dipeluk ibunya, Subanglarang.

Sebagai catatan, madzhab Hanafi, adalah paham hukum Islam yang difatwakan oleh Imam Abu Hanifah. Nama sesungguhnya dari Abu Hanifah, adalah Nu’am bin Tsabit bin Zautha bin Mah. la. seorang bangsa Ajam, keturunan bangsa Parsi yang bermukim di Kabul, Afganistan.

Selain sebagai ibunda tercinta, peran Subanglarang bagi diri Pangeran Walangsungsang dan kedua adiknya, adalah Guru Agama. Di lingkungan Keraton Pakuan Pajajaran, hanya ibunya, yang membimbing Pangeran Walangsungsang dalam hal Islam. Kenyataan seperti itu, bagi Sri Baduga Maharaja, tidak menjadi masalah. Sikap Sri Baduga Maharaja terhadap Islam: rasika dharmika ring pamekul agami rasul (bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Rasul). Perlu dicatat, ketika Sri Baduga Maharaja masih remaja dan bernama Sang Pamanahrasa, dibina langsung oleh kakeknya, Sang Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana. Sikap “rasika dharmika ring pamekul agami rasul “, diteladani dari kakeknya.

Ketika Subanglarang wafat, Pangeran Walangsungsang serta adik-adiknya, merasa sangat kehilangan. Ketiadaan guru agama Islam lainnya di kota Pakuan Pajajaran, mendorong Pangeran Walangsungsang, memohon izin kepada ayahnya, untuk pergi mengembara, mencari guru agama Islam yang dapat memenuhi hasrat keresahan batinnya.

Tentu saja, walaupun dengan berat hati, Sri Baduga Maharaja terpaksa mengijinkan kepergian putera sulung kesayangannya itu. Peristiwa-peristiwa itulah, yang Iuput dipahami dan dijadikan dasar cerita, oleh para penulis babad. Sehingga rnereka beranggapan (sebagaimana yang sering terbaca dalam Babad Cirebon), bahwa Pangeran Walangsungsang itu, diusir dari keraton Pakuan Pajajaran, akibat konflik agama dengan ayahnya.

Sementara itu, Ki Gedeng Tapa, kakeknya Pangeran Walangsungsang yang menjadi penguasa wilayah Singapore (Cirebon), telah memukimkan seorang Guru Agama Islam mazhab Syafi’i: Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Datuk Kahfi adalah putera Syekh Datuk Ahmad.

Syekh Datuk Ahmad adalah putera Maulana Isa dari Malaka.

Maulana Isa adalah putera Abdul Qadir Qaelani.

Abdul Qadir Qaelani adalah putera Amir Abdullah Khanudin.

Amir Abdullah Khanudin, adalah generasi ke‑17 turunan Rasulullah Mohammad.

Syekh Datuk Kahfi berjodoh dengan Hadijah, cucu Haji Purwa Galuh (Bratalegawa), yang bermukim di Dukuh Pasambangan Cirebon. Kemudian, Syekh Datuk Kahfi, atas keinginan Ki Gedeng Tapa, mendirikan Pondok Quro di Bukit Amparan Jati (Gunung Jati) Cirebon. Pondok Quro Amparan Jati, merupakan pesantren tertua kedua di Kerajaan Sunda, setelah Pondok Quro Karawang. Oleh Ki Gedeng Tapa, Syekh Datuk Kahfi mendapat nama julukan, Syekh Nurjati.

Dalam pengembaraannya, Pangeran Walangsungsang disertai adiknya, Nyai Larasantang. Ketika Pangeran Walangsungsang dan Nyai Larasantang tiba di Singapore (Cirebon), keduanya berguru kepada Syekh Datuk Kahfi. Pangeran Walangsungsang yang semula menjadi penganut Islam mazhab Hanafi, dari Syekh Datuk Kahfi, mendapat pengetahuan agama Islam mazhab Syafi’i.

Sebagai catatan, mazhab Syafi’i adalah paham hukum Islam yang difatwakan oleh Imam Syafi’i. la dilahirkan pada bulan Rajab tahun 150 Hijriyah (767 Masehi), di kampung Ghuzah, wilayah Asqalan di dekat pantai Lautan Putih (Laut Mati) Palestina bagian tengah.

Pangeran Walangsungsang, mempelajari ilmu pemerintahan dan ketata‑negaraan, dari kakeknya, Ki Gedeng Tapa. la dipercaya memegang jabatan Pangraksabumi (Cakrabumi), dalam pemerintahan kerajaan daerah Singapura (Cirebon). Dalam pemerintahan sehari‑hari, Pangeran Walangsungsang berfungsi pula sebagai wakil kakeknya, Ki Gedeng Tapa.

Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa dwipa parwa I sarga 4, dikemukakan riwayat Pangeran Walangsungsang, ketika mendirikan Dukuh Cirebon, antara lain sebagai berikut:

to sawiji ping desa haneng tira ning tasik carbon wastanya // rikung akwah tumuwuh parungpung alang‑alang lawan dukul sagara / mangidul ring wanakweh satwa krura / pantara ning/ waraha / liman pas lawan salwirya // atut tira ning tasik akweh saraksak mwang dok / ing parwataparswa careme kweh aswa // riking lwah akweh matsya lawan rebo n/

 

Terjemahannya:

Ada sebuah desa terletak di tepi pantai, Cirebon namanya. Di situ banyak tumbuhan pohon kayu alang‑alang dan rumput (semak belukar) laut. Di bagian selatannya, masih hutan belantara tempat binatang buas. Seperti babi hutan, harimau, ular, gajah, kura‑kura dan berbagai jenis lainnya. Di tepi pantai, banyak burung belibis dan elang laut (camar). Sedangkan di Gunung Ciremai, banyak kuda liar. Di sungai, banyak ikan dan rebon (udang kecil).

 

Pada awalnya, sebuah wilayah hutan yang dialiri sungai Cirebon itu, disebut Kebon Pasisir, atau Tegal Alang‑Alang, atau Lemah Wungkuk. Pada saat itu (tahun 1436 Masehi), di Kebon Pasisir, telah bermukim 5 orang penduduk, ialah: Ki Danusela alias Ki Gedeng Alang Alang; Nyai Arumsari (isterinya); Nyai Ratnariris atau Kancanalarang (puterinya); Ki Sarmawi (pembantunya); dan Isteri Ki Sarmawi (pembantunya). Mereka, pindah dari tempat tinggal asalnya, Cirebon Girang. Ki Danusela, adalah adiknya Ki Danuwarsih. Sedangkan Ki Danuwarsih, seorang ulama agama Budha, adalah mertua Pangeran Walangsungsang. Sebab, puteri Ki Danuwarsih, yaitu Nyai Indang Geulis, bersedia masuk Islam, yang akhirnya menjadi isteri Pangeran Walangsungsang.

Di kalangan Pondok Quro Amparan Jati, Pangeran Walangsungsang, lebih dikenal dengan sebutan Ki Samadullah. Nama itu diperoleh dari gurunya, Syekh Datuk Kahfi.

Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka, atau hari Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Ki Samadullah yang disertai isterinya (Nyai Indang Geulis), dan adiknya (Nyai Larasantang), serta 52 orang santri Pondok Quro Amparan Jati, membuka hutan Kebon Pasisir. Setelah Kebon Pasisir menjadi tempat terbuka, dibangunlah pemukiman baru, kemudian diberi nama Cirebon Pasisir. Diberi nama demikian, untuk membedakan dengan pemukiman yang sudah ada di wilayah hulu sungai Cirebon, yang disebut Cirebon Girang.

Semula, penduduk Cirebon Pasisir, hanya terdiri dari 52 orang santri pekerja, ditambah Ki Danusela dengan 4 orang anggota keluarganya. Setelah melihat ada pemukiman baru, rakyat dari Muara Jati dan dukuh Pasambangan, berdatangan dan pindah ke Cirebon Pasisir.

Atas kesepakatan bersama, Ki Danusela diangkat menjadi Kuwu Pertama (kuwu=sesepuh desa) di Cirebon Pasisir. Kemudian, Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah, dipercaya menjadi Wakil Kuwu.

 

/ i sedeng ki somadullah rina

kcabumyaksa lawan winasta

n ki cakrabhumi ngaran ira //

 

Terjemahan:

Sedangkan Ki Samadullah sebagai akhli pertanahan (pangraksabumi), mendapat gelar Ki Cakrabumi, namanya.

 

ki gedeng alang‑alang so

mah lawan ki somadullah so

nah rahine kulem makakar

ma angluru rebon lawan iwa

k ing lwah haneng wetan grha ni

ra / mwang tira ning tasik / ri

sampunya tumuluy magawe tra

si / pens lawan uyah //

Terjemahannya:

Adapun rakyat Ki Gedeng Alang‑alang dan rakyat Ki Samadullah, sebelum tidur, berkumpul bekerjasama menumbuk rebon dan ikan, dari sungai sebelah timur pemukiman mereka (di tepi pantai), bekerja menyelesaikan pembuatan terasi, petis dan garam.

 

// a teher carbon dumadi desanung akrak hetunya janmapada sakeng desantara / sarwa wangsa hang rikung/ wwang doltinuku / thanayan thani / wwang angluru rebon lawan iwak tira ning sagara akrak prahwa mandeg/ ring samangkana sira pribhumi sarwa wangsa / sarwa panganut nira / pangucap nira tulisnya / praswabhawa nira / akarya nira kunang mebedha sowang-sowang//

 

Terjemahan:

Kemudian, Cirebon menjadi kawasan desa yang ramai di antara desa-desa lainnya. Berbagai bangsa ada di sana. Pedagang, para petani. Mereka menumbuk rebon dan ikan. Sekarang di tepi lautnya (pesisir) ramai disinggahi perahu. Pribuminya terdiri dari berbagai suku bangsa. Macam-macam anutannya, bahasa dan tulisannya, tingkah lakunya, keakhliannya, masing‑masing berbeda.

 

Pada tahun 1369 Saka (1447 Masehi), semua jumlah penduduk yang menetap di Dukuh Cirebon, adalah 346 orang. Laki‑laki 182 orang dan wanita 164 orang. Rinciannya: Sunda 196 orang, Jawa  106 orang, Sumatera 16 orang, Hujung Mendini 4 orang, India 2 orang, Parsi 2 orang, Syam 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6 orang.

Wangsa Manggala dan Tirta Manggala, menduga kata “Cirebon” berasal dari kata “Sarumban” atau “Caruban”. Hal itu, mengingat penduduk Cirebon pertama, terdiri dari campuran (saruban) berbagai suku bangsa. Sehingga, pustaka yang disusunnya, diberi judul Purwaka Caruban Nagari (Negeri Caruban Permulaan). Padahal, kata “Cirebon” sendiri, sudah memberikan arti dan makna yang cukup jelas. Cirebon, ci berarti sungai; dan rebon berarti udang kecil. Cirebon, berarti sungai yang banyak udang-udang kecilnya.

 

Di dukuh Cirebon Pasisir, Pangeran Walangsungsang larut dengan kehidupan masyarakat kecil, dan ia memerankan dirinya sebagal Guru Agama Islam, dengan panggilan akrab Ki Samadullah. Bersama santri-santrinya, Ki Samadullah, mendirikan Tajug (Masjid), diberi nama Jalagrahan. (Jala=air; grahan=rumah), yang terletak di tepi laut.

 

/ kaucap ri sedeng ki cakrabhumi lawan myi nira matithi ring giri ngamparan jati ing pondok guru nira // syeh datuk khahphi ya to syeh maulana idlophi ngaran ira waneh / vrineh pituduh ring sisya nira // mangkana ling sang guru / anak ngwang/ kamung marwa samidahaken to sera baitullah ing mekahnagari i ngarabbumi //

Terjemahan:

Teriwayatkan, Ki Cakrabumi dan adiknya (Larasantang) pergi berkunjung ke Gunung Amparan Jati, ke tempat tinggal guru mereka Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Maulana Idlofi nama lainnya, kemudian memberi petunjuk kepada muridnya itu. Sang guru mengingatkan, “Anakku, agar kamu berdua sama‑sama mendapatkan kesempurnaan Islam, pergilah kalian ke Baltullah negeri Mekah di tanah Arab”.

 

Sesudah memperhatikan nasihat gurunya, Ki Samadullah dan adiknya, pergi berlayar untuk menunaikan ibadah Haji. Sedangkan isterinya Pangeran Walangsungsang, Nyai Indang Geulis, tidak bisa ikut, karena sedang hamil.

Pangeran Walangsungsang bersama Nyai Larasantang, berlayar menuju Tanah Arab. Di tengah perjalanan, kapal layarnya singgah di negeri Mesir. Beberapa orang pembesar dari negeri Mesir, naik ke kapal layar, degan maksud yang sama, untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Tidak terkisahkan lamanya perjalanan. Akhirnya, kapal layar yang ditumpangi Pangeran Walangsungsang dan Nyai Larasantang, tiba di pelabuhan Jedah. Kedua kakak beradik dari Cirebon Pasisir itu, menjadi perhatian seorang Walikota Mesir Syarif Abdullah yang bergelar Sultan Makmun. Syarif Abdullah, adalah keturunan Bani Hasyim, yang pernah berkuasa atas wilayah Palestina. la. menjadi Walikota Mesir, di bawah kekuasaan Sultan Mesir wangsa Ayubi, dari Bani Mameluk.

Syarif Abdullah adalah putera Ali Nurul Alim.

Ali Nurul Alim putera Jamaluddin Al Husain (Kamboja).

Jamaluddin Al Husain putera Ahmad Shah Jalaluddin.

Ahmad Shah Jalaluddin putera Amir Abdullah Khanudin.

Sedangkan Amir Abdullah Khanudin, generasi ke‑I7 keturunan Rasulullah Muhammad.

Kembali kepada Syarif Abdullah.

Ternyata, Syarif Abdullah telah jatuh cinta, kepada Nyai Larasantang. Terpikat oleh puteri keraton Pajajaran yang cantik jelita, samyasanya sang candreng patwelas suklapaksya (bersinar bagaikan benderangnya bulan tanggal empat belas).

Di tanah suci Mekah, Pangeran Walangsungsang atau Ki Samadullah, Nyai Larasantang dan Syarif Abdullah (Walikota Mesir), sama‑sama tinggal di rumah Syekh Bayanullah, adiknya Syekh Datuk Kahfi. Di rumah Ki Bayanullah itulah, Nyai Larasantang dan Syarif Abdullah Saling jatuh cinta dan mengikat janji.

 

…// tu-

muLuy nay larasantang pinak-

stri de nira syarifih abdullah

lawan sinungan pasengga-

han nay syariphah mudai‑

m/…

Terjemahan:

Selanjutnya, Nyai Larasantang diperisteri oleh Syarifah Abdullah dan diberi gelar Nyai (Hajjah) Syarifah Muda’im.

 

/ i sedeng sang raka nira

sinungan pasenggahan haji

abdullah iman a jawi // te

lung cndra tumuli haji

abdnllah iman mulih ring ja

wadwipa / mruang rayi nira ta

molah rikung//

Terjemahan:

Sedangkan kakaknya, diberi gelar Haji Abdullah Iman Al Jawi. Tiga bulan kemudian, Haji Abdullah Iman pulang ke Pulau Jawa . Dan adiknya menetap di sana.

.. // kahucapa nikang

lampah ira mulih ping jawa //

haji abdullah iman mande‑

g ing carnpanagari / ri sarnpu-

nya tekan carbon haji a-

bdullah iman dumadi rawaara-

warah agameslam ri janrnapa-

da/..

Terjemahan:

Teriwayatkan dalam perjalannya pulang menuju (Pulau) Jawa , Haji Abdullah Iman singgah di negeri Campa. Sesudahnya, tiba di Cirebon, Haji Abdullah mengajarkan agama Islam kepada masyarakat.

 

// hana prua pasanggaman ni-

ra haji abdullah ima-

n lawan nay indang ghelis manakta

stri nay pakungwati ngaran nira //

Terjemahan:

Adapun dari perkawinannya, Haji Abdullah Iman dengan Nyai Indang Geulis, mempunyai anak perempuan, Nyai Pakungwati namanya.

 

Haji Abdullah Iman memperisteri puteri Ki Gedeng Alang‑dang, yaitu Nyai Ratnariris atau Nyai Kancanalarang. Dan perkawinannya, Haji Abdullah Iman mempunyai anak laki‑laki, diberi nama Pangeran Carbon (Pangeran Cirebon) .

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Ki Cakrabumi menjadi Kuwu kedua, yang kelak dikenal pula sebagai Embah Kuwu Sangkan. Tidak lama kemudian, kakeknya, Ki Gedeng Jumajan Jati atau Ki Gedeng Tapa, wafat. Pangeran Cakrabuana mendapat warisan, semua kekayaan dari kakeknya itu. Ki Gedeng Tapa, selain sebagai penguasa Singapura, ia juga menjadi Jurulabuan yang kaya raya. Harta warisan yang diterima oleh Haji Abdullah Imam digunakan untuk membangun Cirebon Pasisir, dijadikan sebuah kota besar. la membangun Keraton, kemudian diberi nama Pakungwati, sama dengan nama puterinya. Kata pakung, adalah sebutan lain untuk udang kecil, yang banyak didapat dari sungai Cirebon.

Kemudian, Pangeran Walangsungsang alias Haji Abdullah Imam membentuk tentara yang dilengkapi pasukan panah. Maka jadilah Cirebon, sebagai kerajaan corak Islam pertama di Kerajaan Sunda Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja Kerajaan Sunda, sangat gembira mendengar keberhasilan puteranya. Kemudian, ia mengutus Tumenggung Jagabaya, disertai pasukan pengawalnya, untuk menobatkan puteranya. Sang Prabu mengirimkan Pratanda (tanda keprabuan) dan Anarimakna Kacakrawartyan (tanda kekuasaan), sebagai tanda pengakuan dan pengukuhan puteranya. Pangeran Walangsungsang, atau Ki Samadullah, atau Ki Cakrabumi, atau Pangeran Cakrabuana, dinobatkan sebagai Tumenggung dan diberi gelar Sri Mangana, oleh ayahnya, Sri Baduga Maharaja.

 

  1. SUSUHUNAN JATI CIREBON

 

Dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I sargah 4 dan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, mengenai silsilah turunan Rasulullah Muhammad, nihan tekang panusun ikang sayuktinya (begini susunan yang sesungguhnya):

//rasul muhammad manak ta pati‑

mah ajwahra pinakastri de-

ning sayidana ali ibnu

abi thalib / ing pasangga-

man nira manak sayid huse-

n assabti / sayid husen a-

ssabti manak iman jainal a-

bidin iman jainal abi-

din manak muhammad al bakir/

muhammad al bakir manak ima-

n japar sadik / iman japar sa-

dik manak ali al uraidi //

 

Terjemahan:

Rasul Muhammad mempunyai anak Fatimah Azzahra, diperisteri oleh Sayidina Ali ibnu Abi Thalib. Dari perkawinannya mempunyai anak Sayid Husein Assabti. Sayid Husein Assabti mempunyai anak Iman Zainal Abidin. Iman Zainal Abidin mempunyai anak Muhammad Al Bakir. Muhammad AI Bakir mempunyai anak Iman Jafar Syadik. Iman Jafar Syadik mempunyai anak Ali AI Uraidi.

 

Kemudian, Ali Al Uraidi mempunyai anak beberapa orang. Dua orang di antaranya: Sulaiman Al Basri dan Muhammad Annaghib (Sayid Idris), adalah generasi ketujuh turunan Rasulullah Muhammad.

Sulaiman Al Basri menetap di Parsi (Iran), mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya Abu Zain Al Basri.

Abu Zain Al Basri mempunyai anak Ahmad Al Baruni.

Ahmad Al Baruni mempunyai anak Sayid Idris Al Malik.

Sayid Idris Al Malik mempunyai anak Muhammad Makdum Sidik.

Sayid Muhammad Makdum Sidik mempunyai anak Sayid Hibatullah.

Sayid Hibatullah mempunyai anak Sayid Maimun.

Sayid Maimun mempunyai anak Fatimah, diperisteri oleh Sayid Hassan. la meninggal dunia di Jawa  Timur.

Dari perkawinannya, Fatimah dengan Syekh Sayid Hassan dari negeri Arab bagian selatan, mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya, yaitu Sayid Abdurrakhman yang menetap di kota Tarim. Sayid Abdurrakhman orang kaya. Mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya wanita, yaitu Sarah. Sarah diperisteri oleh Sayid Abdul Malik. Dari perkawinannya, mempunyai anak beberapa orang.

Sayid Abdul Malik, dari Tarim pindah ke India bersama anak isterinya. Oleh karena itu, Sayid Abdul Malik mempunyai isteri lagi, kepada puteri pejabat daerah negeri India. Dari sejak itulah, Syekh Abdul Malik mendapat sebutan Asamat Khan.

Adapun Abdul Malik, anak Alwi Amir Pagih.

Alwi Amir Pagih anak Muhammad.

Muhammad anak Ali AI Ghayam.

Ali AI Ghayam anak Sayid Alwi.

Sayid Alwi anak Muhammad.

Muhammad anak Ubaidillah.

Ubaidillah anak Ahmad Al Muhajir.

Ahmad AI Muhajir anak Isa Al Basri.

 

Isa Al Basri anak Muhammad Anaghib, yaitu adik dari Sulaiman Al Basri. Kedua‑duanya, sama-sama generasi ketujuh keturunan Rasulullah Muhammad. Sebab, Sayid Abdul Malik dengan isterinya Sarah, asalnya merupakan satu keluarga.

Riwayat selanjutnya, Sayid Abdul Malik dengan puteri India, mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya, bergelar Al Amir Abdullah Khannudin atau Maulana Abdullah nama lainnya.

Abdullah Khannudin, mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya: Al Amir Ahmad Syah Jalaluddin, disebut juga Zainal Abidin Al Kabir.

Kemudian Al Amir Ahmad Syah Jalaluddin, mempunyai anak beberapa orang. Salah seorang di antaranya: Imam Jamaluddin Al Husein, atau disebut juga Jamaluddin Al Kabir.

Dari India, Imam Jamaluddin Al Husein pindah ke Kamboja, yang seterusnya menetap di sana, sebagai guru agama Islam, mengajar penduduk di sana.

Riwayat selanjutnya, Imam Jamaluddin AI Husein atau disebut Sayid Husein, mempunyai anak beberapa orang, tiga di antaranya:

  1.    Ali Nurul Alim;
  2.    Barkat Zainal Alim; dan
  3.    Ibrahim Zainuddin Al Akbar.

Ali Nurul Alim, menetap di negeri Mesir, mempunyai isteri seorang puteri Mesir. Mempunyai anak beberapa orang, empat di antaranya:

  1.    Syarif Sulaiman Al Bagdad; menjadi penguasa di salah satu kota negeri Bagdad, tidak mempunyai anak.
  2.    Syarifah Halimah; yang diperisteri oleh Syekh Datuk Kahfi, menjadi guru agama Islam di Hujung Mendini (Malaysia).
  3.    Syarif Abdullah Al Masir; menjadi Walikota di negeri Mesir, memperisteri Larasantang atau Syarifah Muda’im, puteri Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda Pajajaran.
  4.    Syarif Abubakar; disebut juga Syarif Ungkah Jutra.

Ketika menetap di negeri Bagdad, Syarifah Halimah dengan Syekh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati alias Syekh Maulana Idlafi), mempunyai anak 4 orang, masing masing ialah:

  1.    Syarif Abdurakhman;
  2.    Syarifah Bagdad;
  3.    Syarif Abdurakhim;
  4.    Syarif Hafiddin Abbas.

 

Keempat orang anak Syekh Datuk Kahfi dari Syarifah Halimah, menjadi anak angkat uwanya, yaitu Sultan Sulaiman Al Bagdad, hingga keempat anak itu mencapai usia remaja (pemuda). Hal itu tetjadi, karena ayahnya (Syekh Datuk Kahfi), pergi ke Jawa dwipa, dan menetap di Giri Amparan Jati Cirebon.

Riwayat yang menjadi penyebab, hingga Syekh Datuk Kahfi tinggal di Dukuh Pasambangan, yaitu ketika Syekh Datuk Kahfi tinggal di Parsi (Iran). Bersama 12 pengikutnya (I0 laki‑laki dan 2 wanita), ia menjadi duta negeri Parsi, untuk menggalang persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Juru Labuan Muara Jati Cirebon.

Syekh Datuk Kahfi, oleh Ki Gedeng Tapa, diminta untuk menjadi guru agama Islam di Singapura (Cirebon). Di sanalah Syekh Datuk Kahfi menyebarkan Islam di daerah; Pasambangan, Junti, Japura, Panjunan dan beberapa desa lainnya. Syekh Datuk Kahfi menetap di desa Pasambangan, menikah dengan Hadijah, cucunya Haji Purwa Galuh.

Setelah menguraikan silsilah keturunan Rasulullah Muhammad sampai kepada Syekh Datuk Kahfi, pada naskah yang sama ditegaskan pala;

kang sayuktinya sakweh

ing kamastwing athawa si-

nebut wali / kumwa juga

sunan lawan dan accarya-

gameslam ri nusannusa i bhu-

mi nusantara mwang len naga-

ri yatiku hujung mendini //

campa / kamboja / bharata-

nagari / parsi / athawa sa-

keng masaring tekeng ma-

gribi mwang lenya waneh /

hana ta putro pada-

na ning rasul muhammad

mangkana juga sira seh

datuk khahphi lawan wali‑

wali lenya / kumwa ju‑

ga lawan sira seh le‑

mah abang/ mangkana pasana‑

kan nira//

 

Terjemahan:

Sesungguhnya, semua itu para Kamastu atau disebut Wali. juga semua Sunan dan Guru Agama Islam di kepulauan Nusantara dan negeri lainnya: Hujung Mendini, Campa, Kamboja, Bharatanagari (India), Parsi (Iran) atau dari Masrik sampai Magrib dan yang lainnya lagi, dari setiap turunan Rasul Muhammad. Begitu juga Syekh Datuk Kahfi dan Wali‑wali lainnya. Begitu juga dengannya Syekh Lemah Abang beserta keturunannya.

 

Maka jelaslah sudah, yang disebut Wall itu adalah: para Kamastu, Sunan dan Guru Agama Islam, dari setiap keturunan Rasulullah Muhammad.

Selanjutnya, dalam naskah yang sama diriwayatkan pula silsilah tokoh-tokoh penyebar agama Islam lainnya, yang ada kaitannya dengan alur keturunan Rasulallah Muhammad, antara lain sebagai berikut:

Syekh Abdullah Khanuddin, mempunyai anak beberapa orang, dua orang di antaranya; pertama, Al Amir Ahmad Syah Jalaluddin, kedua, Syekh Khadir Kaelani. Selanjutnya, Syekh Kadir Kaelani mempunyai anak Syekh Maulana Isa atau Syekh Datuk Isa, yang menetap di negeri Malaka.

Syekh Datuk Isa mempunyai anak beberapa orang, di antaranya:

  1.    Syekh Datuk Ahmad; mempunyai anak beberapa orang. Tiga orang di antaranya yaitu; yang pertama perempuan, yang kedua Syekh Datuk Kahfi, dan yang ketiga Syekh Bayan.
  2.    Syekh Datuk Soleh; mempunyai anak Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta alias Syekh Lemah Abang, mempunyai anak Syekh Datuk Pardun.

Itulah alur turunan Iman Jamaluddin Al Husein (Jamaluddin Al Kabir atau Sayid Husein), dari garis putera pertamanya: Ali Nurul Alim. Sedangkan alur garis keturunan dari putera keduanya (Barkat Zainal Alim), adalah sebagai berikut:

  1.    Barkat Zainal Alim mempunyai putera beberapa orang. Dua orang di antaranya, yaitu:
  2.    Maulana Abdul Ghafur atau Maulana Malik Ibrahim; dan
  3.    Ahmad Syah Zainul Alim

 

Salah seorang putera Maulana Abdul Gafur (Maulana Malik Ibrahim), yaitu Maulana Makdur Ibrahim, yang mempunyai anak beberapa orang.

Dua orang di antaranya, yaitu:

  1.    Maulana Fadhillah Al Paseh atau Wong Agung Paseh Tubagus Paseh; selanjutnya menjadi Bupati Sunda Kalapa, dengan gelar Fadhillah Khan Al Paseh ibnu Maulana Makdur Ibrahim Al Gujarat;
  2.    Syarifah Habibah binti Maulana Makdur Ibrahim Al Gujarat; kemudian menetap di Panguragan Cirebon, dengan nama sebutan Nyai Agheng Panguragan.

Putera Iman Jamaluddin Al Husein yang ketiga, yaitu Ibrahim Zainuddin Al Akbar atau Maulana Syamsu Tamres, atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Ibrahim Akbar, menetap di Kamboja. Tokoh inilah yang sempat dikunjungi oleh Pangeran Cakrabuana (Haji Abdullah Iman), ketika perjalanan pulang setelah menunaikan ibadah haji dari Mekah.

Ibrahim Zainuddin Al Akbar mempunyai isteri puteri raja Campa, yaitu Dewi Candrawulan. Adik Dewi Candrawulan, yaitu Dewi Darawati, tinggal di Pulau Jawa  menjadi isteri Raja Majapahit Brawijaya V atau Prabu Kertabumi.

Dari perkawinan Ibrahim Zainuddin Al Akbar dengan Dewi Candrawulan, dikaruniai beberapa orang anak. Dua di antaranya yaitu;

  1.    Ali AI Mustada; dikenal dengan sebutan Tubagus Alimin
  2.    Ali Rakhmatullah; dikenal dengan sebutan Tubagus Rakhmat.
  3.    Ali Rakhmatullah atau Tubagus Rakhmat alias Raden Rakhmat, sejak usia muda sudah menekuni ilmu agama Islam. la berguru kepada ayahnya di negeri Campa, selesai berguru ia pergi ke Pulau Jawa.

Dalam perjalanannya, singgah di Palembang, Sumatera. Di Palembang, Ali Rakhmatullah tinggal selama 6 bulan, di sana sempat mengajarkan agama Islam kepada penduduk. Hingga Bupati Palembang yaitu Arya Damar, memeluk agama Islam dengan gelar Arya Dillah.

Arya Dillah atau Arya Damar, adalah bupati dari Majapahit untuk Palembang. Karena pada waktu itu, Palembang merupakan wilayah kekuasaan Majapahit. Arya Dillah memperisteri seorang puteri Cina, yaitu Siu Ban Ci, dan mempunyai anak Raden Kusen (yang kelak disebut Dipati Terung).

Ratna Siu Ban Ci (puteri Tan Go Wat alias Ki Bentong), adalah janda Prabu Kretabhumi atau Prabu Brawijaya V. Dari perkawinannya dengan Raja Majapahit ini, Siu Ban Ci dikaruniai anak bernama Jin Bun atau Raden Praba (kelak bernama Raden Patah).

Setelah enam bulan di Palembang, Ali Rakhmatullah melanjutkan perjalanannya ke Pulau Jawa, dan singgah di negeri Banten. Setelah menetap beberapa lama, Ali Rakhmatullah berangkat kembali, menuju ke Jawa  Timur, untuk menemui uwanya di Keraton Majapahit.

Di Keraton Majapahit, Ali Rakhmatullah menemui Ratu Darawati, isteri Brawijaya V Prabu Kertabunu. Ratu Darawati, adalah kakak Candrawulan (ibunda Ali Rakhmatullah).

Atas usulan Ratu Darawati, oleh Prabu Kertabumi, Ali Rakhmatullah diberi sebidang tanah perdikan di Ampel Denta. Kemudian, Ali Rakhmatullah menetap di Ampel Denta itu (Surabaya).

Ali Rakhmatullah mengajarkan agama Islam kepada penduduk Ampel Denta. Dalam jangka 3 tahun, semua penduduk Ampel Denta, memeluk agama Rasul Muhammad. Di sanalah Ali Rakhmatullah atau Tubagus Rakhmat alias Raden Rakhmat, mendapat julukan Susuhunan Ampel (Sunan Ampel).

Ali Rakhmatullah atau Sunan Ampel, berjodoh dengan puteri bupati Tuban (Arya Teja), yaitu Ratnawati alias Nyai Ageng Manila. Dari perkawinannya, dikaruniai anak beberapa orang, empat orang di antaranya:

  1.    Maulana Makdum Ibrahim yang bergelar Sunan Bonang;
  2.    Maulana Syarifuddin yang bergelar Sunan Drajat;
  3.    Nyai Ageng Maloka atau Nyai Ageng Tendes; dan
  4.    Puteri, yang diperisteri oleh Raden Sahid (Sunan Kalijaga), putera bupati Tuban (Tumenggung Majapahit).

 

Selain dengan puteri Sunan Ampel, Raden Sahid alias Sunan Kalijaga berjodoh pula dengan Dewi Saroh, puterinya Maulana Ishak. Mereka dikaruniai tiga orang anak, antara lain:

  1.    Raden Umar Sahid yang bergelar Sunan Murya (ketika belum dewasa bernama Raden Prawoto); memperisteri puteri Sunan Undung, yaitu Dewi Sujinah;
  2.    Dewi Rukayah;
  3.    Dewi Sofiyah.

Perkawinan Sunan Murya dengan Dewi Sujinah (adik Sunan Kudus), dikaruniai anak laki‑laki, yaitu Pangeran Santri dengan gelar Sunan Kadilangu.

Sunan Kudus atau Jafar Syadik, memperisteri puteri Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, yaitu Dewi Rukhil, dan mempunyai anak laki‑laki, yaitu Raden Amir Hassan.

Dari isterinya yang lain, yaitu puterinya Pangeran Pecat Tanda Terung, Sunan Kudus dikaruniai delapan anak laki‑laki dan perempuan. Di antaranya, masing masing:

  1.    Nyai Ageng Pembayun;
  2.    Panembahan Palembang;
  3.    Panembahan Mekaos Hanggakusuma;
  4.    Panembahan Kodi;
  5.    Panembahan Karimun;
  6.    Penambahan Joko;
  7.    Ratu Pakoja; dan
  8.    Ratu Prodo Binabar, yang berjodoh dengan Pangeran Poncowati yang menjadi Senapatinya Sunan Kudus.

 

Selanjutnya, diriwayatkan silsilah keturunan Ali Rakhmatullah dari isterinya yang kedua, yaitu Siti Khorimah, puteri Ki Wiryosarojo. Mereka dikaruniai anak perempuan dua orang, yaitu:

  1.    Siti Murtasiyah; berjodoh dengan Raden Paku yang bergelar Sunan Giri;
  2.    Siti Mursimah.

Raden Paku alias Sunan Giri, adalah puteranya Maulana Ishak, dari isterinya yang berasal dari Blambangan. Sunan Giri berjodoh juga dengan Siti Wardah, puterinya Ki Ageng Bungkul.

Selanjutnya Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa II sarga 4, dan Pustaka Pararatwan i Bhumijawadwipa, parwa I sarga 4, meriwayatkan secara rinci tokoh Syarif Hidayat, antara lain sebagai berikut:

..//ipa-

sanggaman nira sariph abdullah

lawan sanphah mudaim mana-

k ta jala rwang siki/ ya ta

pantaranya sowangsowang/sya-

riph hidayat lawan syariph nuru-

llah ngaran nira

 

Terjemahannya:

Dari perkawinannya, Syarif Abdullah dengan Syarifah Muda’im (Nyai Larasantang), mempunyai anak dua orang, di antaranya masing‑masing ialah, Syarif Hidayat dan Syarif Nurullah namanya.

 

.. / ing pasanggama-

n nira nay sariphah mudaim la-

wan syariph abdullah manak ta

jalu syariph hidayat ngaran i-

reng saharsa telungatu-

s pitung puluh ikang saka-

kala //

 

Terjemahannya:

Dari perkawinannya, Syarifah Muda’im dengan Syarif Abdullah, mempunyai anak laki‑laki, Syarif Hidayat namanya. Lahir tahun 1370 Saka (1448 Masehi).

ri sampunya syariph hidayat yuswa taruna / akara Twang puluh warsya / rasika dharmestha mwang ahyun dumadyaken accaryagameslam / matangyan lungha to ya ring mekah // ri kanang rasika maguru ring seh tajuddin al kubri laurasnya rzuang warsya/ irika to ya ringseh ataullahi sajjilli ngaran aranung panganutanya imam saphii// ring huuncs Twang warsya / tumuluy rasika lungha ring kitha bagdad/ ng kana magunn tasawwuph rasul laman tamolah ing pondok unuang pasanak rama nira // tumuluy mulih to ya ring masimagan // syariph hidayat urns makolih akweh ngaran ira ya to sayid al kamil seh nurrudin ibrahim ibnu maulana sultan mahmud cl khibti ngaran ira waneh //

Terjemahan:

Sesudah Syarif Hidayat menjadi pemuda, baru berusia dua puluh tahun, bersikap saleh dan ingin menjadi guru agama Islam. Oleh karena itu pergi dari Mekah. Di sana berguru kepada Syekh ‘Tajuddin al Kubri, lamanya dua tahun. Pada waktu itulah, dari Syekh Athallahi Sajjilli, ia mengetahui nama anutan mazhab Imam Syafi’i. Selesai dua tahun. Selanjutnya pergi ke kota Bagdad. Di sana berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya. Selanjutnya pulang ke negeri Mesir. Syarif Hidayat sudah mendapatkan banyak nama, yaitu Sayid Al Kamil, Syekh Nuruddin Ibrahim ibnu Maulana Sultan Mahmud Al Khibti nama lainnya.

 

ateher syariph hidayat lungha ring Jawa dwipa // ikang lampahnya rasika mandeg ring ghujarat tamolah ri kanang lawasnya telung candra /

Terjemahannya:

Kemudian Syarif Hidayat pergi ke Pulau Jawa . Dalam perjalanannya, singgah di Gujarat. Tinggal di sana lamanya tiga bulan.

Ketika singgah di Gujarat, Syarif Hidayat bertemu dengan Dipati Keling, bersama 98 anak buahnya, kemudian masuk agama Islam dan menjadi muridnya. Kemudian, mereka berlayar bersama‑sama, menuju Pulau Jawa . Sebagaimana yang terungkap dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa dwipa, parwa parwa I sarga 4, antara lain sebagai berikut:

..//ing lampahira dipati kheling sakeng bharatanagara lawan wadzuanya sakweh ira sangang puluh punjul wmalu / sinelamakna de nira syariph hidayat/ dipati kheling lawan wadruanya manut lawan sayid kamil/

Terjemahan:

Dalam perjalanannya (Syarif Hidayat), disertai Dipati Keling dari India serta anak‑buahnya, yang semuanya berjumlah 98 orang, di‑Islam‑kan oleh Syarif Hidayat. Dipati Keling serta anak buahnya setia (mengabdi) kepada Sayid Kamil.

 

tumuluy ring pasehnagnri / ngke syariph hidayat tamolah ring pondok wuang pasanak ira ya to / sayid ishak dumadi accaryagameslam ing pa‑

hvsnltanan Paknnguati C’irebon

sehnagan i swarnadwapa // ing

pasehnagari lawas ira nuan war‑

sya //

Terjemahan:

Selanjutnya, (singgah) di negeri Pasai. Di sana Syarif Hidayat tinggal di Pesantren saudaranya, yaitu Sayid Ishak yang menjadi guru agama Islam di negeri Pasai, Sumatera. Di negeri Pasai (tinggal) selama dua tahun.

 

Selanjutnya, Syarif Hidayat alias Sayid Kamil, singgah di Banten (mungkin Banten Pasisir), mengajarkan agama Islam di sana, berjodoh dengan puteri Adipati Banten, Nyai Kawung Anten. Sesungguhnya, Syarif Hidayat singgah di Banten, ingin bertemu dengan Ali Rakhmatullah.

makanimitta sayid kamil lu‑

ngha ring ngampel lawan maha

wan prahwanya wwang Jawa  we

tan/ sakamatyan ika

para wali sakwehnya hana

rikn / sira sowangsowang wi

neh ta swakarya mawarah

marah agama rmul ring janma

padaneng desyadesya kang ma

ngannt syiwabudha //

 

Terjemahan:

Itulah sebabnya Sayid Kamil (Syarif Hidayat) pergi ke Ampel, naik perahunya (kapal layar) orang Jawa  timur. Pada waktu itu para Wali semuanya ada di sana. Masing‑masing diberi pekerjaan (berkewajiban) mengajarkan agama Rasul (Islam) kepada penduduk desa-desa yang menganut agama Syiwa‑Budha.

 

Syarif Hidayat bersilaturakhmi dan berkenalan dengan para Wali yang berada di Jawa  Timur. Selanjutnya, Syarif Hidayat atau Sayid Kamil, bersama Dipati Keling dan anak‑buahnya, berlayar menuju Cirebon. Kunjungannya ke Cirebon, untuk menemui uwanya (kakak ibunya), Sang Tumenggung Sri Mangana Pangeran Cakrabuana Haji Abdullah Iman, penguasa Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon.

Di Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, Syarif Hidayat atau Sayid Kamil, menemui uwanya, Sang Tumenggung Sri Mangana Pangeran Cakrabuana Haji Abdullah Iman. Alangkah sukacitanya Sri Mangana, ketika ditemui oleh anak adiknya (suwannya) itu.

Begitu pula Syarif Hidayat, sangat gembira, dapat bertemu dengan uwanya, yang telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam pertama, di Kerajaan Sunda. Akhirnya, Syarif Hidayat bersama Dipati Keling serta 98 anak‑buahnya, menetap di Pakungwati Cirebon.

Syarif Hidayat, Dipati Keling serta 98 anak buahnya, ditempatkan di Giri Sembung Amparan Jati (Gunung Jati). Syarif Hidayat diberi jabatan sebagai Guru Agama Islam di Pondok Quro Amparan Jati, sebagai pengganti Syekh Datuk Kahfi. Syarif Hidayat berjodoh dengan kakak sepupunya, Nyai Mas Pakungwati.

 

sembung syariph hidayat si nebut maulana jati / syeh jati ngaran ira waneh // tumuluy magawe pondok riknng// datan lawas pantara ning janmapada akweh ikang maguru ring sayid kamil / hana pwa syariph hidayat ya to sayid al kamil kang tumuli makanama susuhunan jati / sunan carbon ngaran ira waneh // sangang warsa ri huwusnya sira tamolah ing Jawa dwipa //

Terjemahan:

Di Giri Sembung, Syarif Hidayat disebut Maulana Jati atau Syekh Jati sebutan lainnya. Selanjutnya mengelola (magawe) pesantren itu. Setelah beberapa lama kemudian, semua penduduk berguru kepada Sayid Kamil. Adapun Syarif Hidayat, yaitu Sayid Al Kamil, kemudian lebih dikenal dengan sebutan Susuhunan Jati atau Sunan Cirebon nama lainnya. Sembilan tahun sudah ia berada di Pulau Jawa .

 

Sang Tumenggung Sri Mangana Pangeran Cakrabuana Haji Abdullah Iman, mempunyai penilaian tersendiri kepada Syarif Hidayat. Demi untuk kepentingan penyebaran Islam, Sang Tumenggung mewariskan tahtanya, kepada suwan yang sekaligus menantunya, Syarif Hidayat.

…….//sya_

riph hidayat rinatwaken to

sira dumadi ratu carbon de

ning uwa nira pangeran cakrc

bhuana pinaka tumenggung

tunggaling rajya carbon lawan na

masyidam susuhunan jati //

Terjemahan:

Syarif Hidayat dilantik menjadi Raja Cirebon oleh uwanya Pangeran Cakrabuana, sebagai Tumenggung Kerajaan Cirebon, dengan gelar Susuhunan Jati.

 

…….// rasi‑

ka dumadi ratu mahardhika

hanging pajajaran aisyanya

ri sunda i bhumi Jawa  kulwan /

sakamatyan ika para kama

stwing ikang sangan manungsung sukha

mwang mangastungkara ring Pabhiseka

n ira ika / yadyapi maka

behan ira / sang pinakadi

slam hanging Jawa dwipa /

Terjemahannya:

Dia menjadi raja mahardika (memerdekakan diri) dari naungan Sunda Pajajaran di bumi Jawa  Barat. Pada waktu itu, para Wali Sanga (di Jawa Timur) menyambut gembira, menyerukan pujian atas penobatannya, dan semua memberikan dukungan, untuk meng Islanrkan (penghuni) Pulau Jawa.

 

Semua pemimpin masyarakat desa di Cirebon sangatlah suka-cita. Pejabat penguasa daerah, pesta meriah, mengadakan syukuran di Paseban Keraton Pakungwati.

Untuk mengukuhkan penobatan Susuhunan Jati, dilakukan oleh para Wali dari Jawa  Timur, yang dihadiri pula oleh Raden Patah sebagai Sultan Demak. Mereka hadir di Keraton Pakungwati Cirebon, disertai armada laut dan balatentara Kesultanan Demak, yang dipimpin oleh Panglima Fadhillah Khan.

ateher kamasturing ikang sangan manganugrahani ring susuhunan jati kakawasan dumadi panetep panatagama rat sunda i bhumi Jawa  kulwan ikang tamalah ing kitha carbon.

Terjemahannya:

Kemudian Wali Sanga menganugerahi gelar kekuasaan kepada Susuhunan Jati menjadi Panetep Panatagarna rat Sunda i Bhurni Jawa  Kulwan (Panetep Panatagama kawasan Sunda di Bumi Jawa  Barat) berkedudukan di negeri Cirebon.

 

Karena tanpa persetujuan pemerintahan pusat (Pakuan Pajajaran), Sri Baduga Maharaja mengutus Tumenggung Jagabaya bersama pasukan pengawalnya, untuk menertibkan dan mengatasi keadaan di Cirebon. Ketika Tumenggung Jagabaya beserta pasukan pengawalnya tiba di Cirebon, mereka disergap di Gunung Sembung oleh pasukan gabungan Cirebon‑Demak yang dipimpin oleh Senapati Demak Fadhillah Khan. Tumenggung Jagabaya dan pasukan pengawalnya, akhirnya masuk agama Islam.

Karena Tumenggung Jagabaya serta pasukan pengawalnya, lama tidak kembali ke Pakuan, Sri Baduga Maharaja segera mempersiapkan angkatan perang besar Kerajaan Sunda Pajajaran. Akan tetapi, niatnya untuk menyerang Pakungwati Cirebon, dapat dicegah oleh penasihatnya Ki Purwagalih.

Ki Purwagalih mengingatkan kepada Prabu Siliwangi, bahwa:

  1.    Syarif Hidayat, adalah cucunya sendiri dari Larasantang;
  2.    Syarif Hidayat, adalah menantu Walangsungsang, atas pernikahannya dengan Pakungwati; dan
  3.    Penobatan awal Syarif Hidayat, atas kehendak Pangeran Cakrabuana, puteranya sendiri.

“Betapa tidak terpujinya, Sang Kakek memerangi cucunya,” itulah yang dinasihatkan oleh Ki Purwagalih kepada Sri Baduga Maharaja.

 

  1. KESULTANAN SURASOWAN BANTEN

 

  1. SABAKINGKIN ALIAS HASANUDDIN

 

Dalam disertasi Sadjarah Banten Hoesein Djajadiningrat (1913), sebutan Sorasowan, adalah gelar untuk Maulana Hasanuddin:

 

Hasanuddin, atas usul orang tuanya, dinobatkan menjadi raja dengan gelar Panembahan Sorasowan, dan kembali bersama pengantinnya ke Banten (Djajadiningrat,1983: 35).

 

Walaupun Sorasowan digunakan untuk nama gelar, karena mengikuti sebutan Panembahan di depannya, terkesan Surasowan di sana, menunjukkan kata benda atau keterangan tempat.

 

Hal yang hampir sama, dikemukakan oleh Tubagus Haji Achmad (1935), dalam buku Pakern Banten, antara lain:

 

Maulana Hasanoeddin di Demak dirajakan sekali lagi disaksikan oleh Pangeran‑Pangeran karena penerima kasih semoeanja mendapat gelaran Panembahan Ratoe Soerasoan. Soera artinja berani, Soan atau Sadji artinja Radja. Soerasoan berarti Radja jang berani (Achrnad,1935: 60‑61).

 

Sorasowan atau Soerasowan (Surasowan), tetap berfungsi sebagai kata keterangan benda, bagi kata yang ada di depannya.

Saleh Danasasmita (1984), dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat juga membahas Surasowan sebagai kata benda, antara lain:

 

Salah satu penerus kekuasaan setelah Pajajaran burak ialah kerajaan Surasowan di Banten. Dalam sebuah prasasti tembaga berhuruf Arab yang dikeluarkan oleh Sultan Abdul Nazar (1671‑1687), nama resmi yang digunakan adalah Negeri Surasowan. Surasowan adalah nama keraton Banten yang dibangun oleh Panembahan Hasanudin. Dari nama keraton itu tampak bahwa secara tradisional ia mengikuti kebiasaan para raja pendahulunya. Kita ketahui bahwa nama keraton di Kawali adalah Surawisesa dan keraton induk di Pakuan diberi nama Suradipati. Juga istana di Jayakarta kemudian mempunyai nama Surakarta. Berdasarkan gejala itu, Ten Dam (1957) pernah menyatakan bahwa predikat “Sara” merupakan nama “resmi” keraton keraton Sunda (Danasasmita,1984:44).

 

Sorasowan dan Surasowan sebagai nama sebutan gelar, atau Surasowan sebagai nama sebutan negeri, bahkan ada pula yang menulisnya dengan Surosowan, semua itu menarik untuk dikaji. Mana sebutan yang paling tepat: Sorasowan, Surasowan, atau Surosowan?

Hal tersebut, terjadi pula pada sebutan kerajaan Islam di Cirebon. Pada mulanya, Pakungwati adalah nama orang, puterinya Pangeran Cakrabuana, pendiri kerajaan Islam di Cirebon. Kemudian digunakan sebagai nama keraton, yang dibangun di Dukuh Cirebon, menjadi Keraton Pakungwati. Selanjumya berkembang, menjadi sebutan negeri atau negata: Kesultanan Pakungwati Cirebon. Pada akhirnya berubah sebutan lagi, menjadi Kesultanan Cirebon. Pakungwati sebagai nama orang, Pakungwati sebagai nama keraton, Pakungwati sebagai nama kesultanan, teknis penulisannya tetap lama: Pakungwati.

Agar tidak terjadi kesalah‑pahaman dalam teknis penulisan: Sorasowan, Surasowan dan Surosowan, sudah tentu harus dicari pembandingnya.

 

Dalam kajian filologi Carita Parahiyangan sarga 3, Karya Tim Pimpinan Pangeran Wangsakerta, Atja & Edi S. Ekadjati (1989) mengungkapkan sebagai berikut:

Dalam pernikahan Dewi Mayang Sunda dengan Sri Baduga Ratudewata, berputera beberapa orang, dua orang di antaranya:

 

  1.    Prabu Surawisesa;

 

  1.    Sang Surasowan, menjadi bupati Banten Pasisir. (Atja & Ekadjati,1989:144 dan 153).

 

Dari kutipan tersebut di atas, teka‑teki tentang sebutan Surasowan yang sering dikemukakan, mulai menampakkan cercah‑cercah sinar terang. Jadi dari puteri Kentring Manik Mayang Sunda (puterinya Prabu Susuktunggal), Sri Baduga Maharaja mempunyai dua putera; Prabu Sanghiyang Surawisesa dan Sang Surasowan.

Sebagai putera Sri Baduga Maharaja, juga sebagai Adipati (raja daerah) di Banten Pasisir, Sang Surasowan berkuasa atas pelabuhan perdagangan laut, dan mampu mendirikan keraton yang memadai.

 

Sang Surasowan mempunyai dua orang putera, antara lain ialah;

 

  1. Sang Arya Surajaya; dan
  2. Nyai Kawunganten.

 

Sebagaimana yang dikemukakan dalarn naskah Pustaka Pararatwan i Bhumijawadwipa parwa I sarga 4 halaman 34, pada masa pemerintahan Sang Surasowan di Banten Pasisir, Islam sudah mulai bersemi.

 

satuluynya a-

li rakmatullah umareng Ja-

wa dwipa mandeg sawatareng

bantennagari // riking sang ali

mawarawarahaknagarni rasu-

l ring janrnapada // datan lawas pa-

ntara ning rasika lungha ring

jawa  wetan anjuju-

 

g wwang pasanak ireng wilwati-

kta kedatwan /

 

Terjemahannya:

 

Selanjutnya Ali Rakhmatullah pindah ke Pulau Jawa , singgah sebentar di Negeri Banten. Di sana Ali Raktmratullah mengajarkan agama Rasul (Islam) kepada penduduk. Tidak berapa lama dia berangkat menuju ke Jawa  Timur untuk menemui saudaranya di Keraton Majapahit.

 

Sebagaimana buyut dan ayahnya (Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja), Sang Surasowan bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama Islam. Atas seijin Sang Surasowan, dalam waktu yang relatif singkat, Islam yang diajarkan Ali Rakhmatullah, banyak mendapat simpati dari penduduk. Masyarakat Banten Pasisir banyak yang menjadi murid Ali Rakhmatullah. Kelak, di kemudian hari, masyarakat Banten Pasisir masih tetap mengenang dan menghormati jasa Ali Rakhmatullah, dengan memberi gelar Tubagus Rakhmat.

Sepeninggal Ali Rakhmatullah, kerinduan masyarakat Banten Pasisir terhadap ajaran Islam, terobati dengan kehadiran Syarif Hidayat, yang singgah di Negeri Banten sesudah singgah di Pasai (Sumatera).

 

tumuluy ring jaxuadunpa ma-

ndeg ing bantennagari// ngke janma-

pacda akweh ikang meku-

lagama rasul/ mapan pa-

warahmarahan ira sayid rakhma-

t sakeng ngampel ghading

ya namasyidam susuhunan a-

mpel juga wwang pasanak ira //

 

Terjemahannya:

Selanjutnya, di Pulau Jawa  singgah di negeri Banten. Di sana banyak penduduk yang sudah memeluk agama Islam. Karena berkat binaan Sayid Rakhmat (Ali Rakhmatullah) dari Ampel Gading yang bergelar Susuhunan Ampel, yang terhitung masih saudaranya juga

 

 

 

Sang Surasowan menyambut baik kehadiran Syarif Hidayat di negerinya. Apalagi setelah diketahui, bahwa Syarif Hidayat itu putera Larasantang, cucu Sri Baduga Maharaja, masih saudaranya juga. Dalam waktu yang relatif singkat, Syarif Hidayat mendapat simpati dan dihormati oleh masyarakat Banten Pasisir. Untuk mempererat kekerabatan, Syarif Hidayat berjodoh dengan Nyai Kawung Anten, puterinya Sang Surasowan.

Dari pernikahan Nyai Kawung Anten dengan Syarif Hidayat, pada tahun 1478 Masehi, Sang Surasowan mempunyai cucu laki‑laki. Oleh Sang Surasowan, bayi laki‑laki itu diberi nama Sabakingkin. Oleh Syarif Hidayat, diberi nama Hasanuddin.

Sesunguhnya, riwayat legalitas Sabakingkin (Hasanuddin) sebagai putera Syarif Hidayat, sudah banyak terkisahkan dalam naskah‑naskah yang lebih muda. Hanya saja, para penulis Babad, lebih mengutamakan bumbu daya pikat sastranya, dari pada substansi historisnya.

Dalam Sajarah Banten Hoesein Djajadiningrat (1913), tentang “orang tua” Hasanuddin, dikisahkan sebagai berikut:

 

Diceritakan sekarang tentang seorang yang keramat, yang bapaknya berasal dari Yamani dan ibunya dari Banisrail. Dari Mandarsah ia datang di Jawa , yaitu Pakungwati, untuk meng-Islam‑kan daerah ini. la mempunyai dua orang anak; seorang perempuan (yang tua), dan seorang laki-laki bernama Molana Hasanuddin. Dengan anaknya yang laki‑laki ia berangkat ke arah barat, tiba di Banten Girang, lalu terus ke selatan, ke Gunung Pulosari (Djajadiningrat, 1983: 33).

 

Tentang “seorang yang keramat, yang bapaknya berasal dari Yamani dan ibunya dari Banisrail, kemudian dijelaskan, bahwa “seorang yang keramat” itu, dari Mandarsah ia datang di Jawa, yaitu Pakungwati, untuk meng‑Islamkan daerah ini. Secara tersamar, penulis Babad Banten yang dibahas Hoesein Djajadiningrat, nampak ingin meriwayatkan orang tua Hasanuddin. Akan tetapi, pengetahuan penulis Babad Banten tentang silsilah Syarif Hidayat, sangat terbatas. Sehingga sebutan “orang yang keramat” itulah yang muncul, untuk menyatakan bahwa orang tua Hasanuddin adalah “tokoh penting”.

Dalam Pakem Banten Tubagus Haji Achmad (1935), legalitas Hasanuddul sebagai putera Syarif Hidayat, dikemukakan antara lain sebagai berikut:

 

Maka terseboetlah pada masa dahoeloe, koerang lebih hidjrah Nabi 887, tahoen Belanda k.l. 1472, Maulana Machdoem Sarif Hidajatoellah, Kangdjeng Soenan Goenoeng Djati di Tjirebon, mengoetoes anakda Baginda Pangeran Hasanoeddin, soepaja datang ke negeri Banten, pertama disoeroeh menjebarkan agama Islam, kedoea mena’loekkan radja-radja di Banten, karena telah diketahoeinja bahwa Pangeran Hasanoeddin lajak dan pantas, akan bisa mentjapai maksoed hingga mendjadi Radja di Banten kelak sampai ketoeroen‑toeroenannja (Achmad,1953: 24).

 

Pakem Banten, menurut penyusunnya Tubagus Haji Achmad, menggunakan sumber “Parimbon Banten, yang hampir malah sudah musnah, karena dilalaikan oleh yang dipusakainya”. Berdasarkan kutipan tersebut di atas, para penulis Parimbon Banten, cukup menjelaskan posisi Hasanuddin sebagai putera Syarif Hidayat. Hanya saja, pada kalimat selanjutnya, terjadi “plot less” (simpang siur) siapa yang mempunyai peranan penting, dalam proses meng-Islam‑kan Banten. Sebagaimana umumnya penulis Babad Banten, “raja-raja Banten non Islam” selalu diperankan sebagai antagonis (peran lawan), untuk menonjolkan semangat penyebaran Islam di kemudian hari. Sedangkan, kekerabatan Sang Surasowan dengan Syarif Hidayat, sangat gelap (peteng), tidak terjangkau oleh pengetahuan para penulis babad.

 

Berdasarkan kaol Cibeber, yang berhasil dirangkum dan didokumentasikan oleh Yayasan Ujung Wahanten (1996), mengemukakan hal yang sama, antara lain:

 

Pada abad 15, disaat Kg. Maulana Hasanudin pertama kali masuk ke Negri Banten, dimana pada waktu itu rakyat Negri Banten masih menganut agama kepercayaan Animisme dan masih di pimpin oleh Kerajaan Pajajaran dan Pakuan, Kg. Maulana Hasanudin berhasil menaklukan raja‑raja Pajajaran dan Pakuan berserta rakyat dan pengikutnya, maka Kg. Maulana Hasanudin di tantang mengadu kekuatan kesaktian oleh salah seorang sesepuh di Negri Banten yang bernama Pucuk Umun, di Tegal Papak Waringin Kurung Banten. Kg. Maulana Hasanudin adalah putra pertama Seh Syarif Hidayatullah seorang ahli yang menurunkan raja‑raja di Cirebon, Banten dan Demak. Sang Ayah tinggal di Gunung Jati Cirebon yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

 

 

 

Mengenal Hasanuddin sebagai putera Syarif Hidayat, sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, pernyataan selanjutnya, “pada waktu itu rakyat Negri Banten masih menganut agama kepercayaan Animisme dan masih di pimpin oleh Kerajaan Pajajaran dan Pakuan”, patut dicermati. Kerajaan Pajajaran serta Pakuan‑nya, kembali disudutkan ke dalam peran antagonis. Tuduhan terhadap Pajajaran menganut “agama kepercayaan Anirnisme”, tidak mendasar. Adanya acuan naskah kuna Sanghiyang Siksakandang KaresianAmanat Dari Galunggung, Carita Parahiyangan, dan Agama Sunda Wiwitan di “Baduy”, sudah cukup memberikan gambaran agama orang Sunda Pajajaran. Tuduhan Animisme, seharusnya dialamatkan kepada Manusia Purba, jauh sebelum Kerajaan Sunda Pajajaran berdiri.

 

Dalam Riwayat Kesultanan Banten Th. Hafidz Rafiuddin, S.Ag. (2000), mengemukakan hal yang hampir sama, antara lain sebagai berikut:

 

Pada kenyataannya sebelum Sulthan Maulana Hasanuddin ditugaskan oleh Ayahandanya Syarif Hidayatullah untuk mengembangkan Islam di Banten, pada waktu itu masyarakat Banten yang dipimpin oleh Raja Saka Domas (Pucuk Umun) dibantu oleh Maha patihnya Ajar jong dan Ajar jo sebagal pemeluk Animisme.

 

Maulana Hasanuddin. Dilahirkan pada tahun 1479 di Cirebon dan wafat pada tahun 1570 di Banten. Pada 1525 Maulana Hasanuddin mengIslarnkan Banten Utara secara berangsur‑angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke Parahiyangan (Cibeo/Kanekes Banten) (Rafiuddin, 2000: i & 9).

Dengan adanya hal‑hal semacam itu, sulitlah bagi kita untuk menentukan, apa sesungguhnya agama orang Pajajaran itu. Carita Parahiyangan menunjukkan adanya para wiku “nu ngawakan Jati Sunda”, yaitu para pendeta yang khusus mengamalkan “agama Sunda” dan memelihara “kabuyutan parahiyang”. Sisa dari kabuyutan Jati Sunda atau parahiyang seperti itu, adalah Mandala Kanekes yang dihuni “orang Baduy” sekarang. Leluhur mereka dalam jaman kerajaan, mengemban tugas memelihara mandala atau kabuyutan `Jati Sunda”, yang dewasa ini disebut Sasaka Domas.

Orang Tangtu (“Baduy dalam”) adalah keturunan “Para Wiku”, orang panamping (“Baduy Luar) merupakan keturunan “Kaum Sangga”. Mereka bertugas, melakukan “Tapa di Mandala”, dan sudah menjalankan tugas tersebut secara turun temurun. Jauh sejak masa sebelum Kerajaan Pajajaran berdiri (Danasasmita,1984: 41).

 

Bangunan megalit Kosala dan Arca Domas memperlihatkan adanya hubungan dengan orang‑orang Baduy yang kini hidup mengisolir diri di daerah Banten Selatan. Monumen‑monumennya berupa bangunan batu berundak lima tingkat, dan pada setiap undak terdapat menhir (Soejono et al., 1984: 219). Dalam kompleks tersebut dijumpai batu berbentuk segi lima, di bagian bawah yang tertanam dalam tanah terdapat sejumlah batu bulat bergaris tengah antara 10-15 cm.

Di situs ini pula terdapat arca kecil melukiskan tokoh yang duduk bersila, ditemukan dekat bangunan berundak. Kedua tangan arca ini digambarkan dilipat ke depan, dan salah satu tangannya mengacungkan ibujari. Arca Domas memiliki 13 undakan batu, dan undak paling atas didirikan sebuah menhir berukuran besar. Menurut kepercayaan orang Baduy, menhir ini merupakan lambang dari Batara Tunggal sang pencipta roh, dan kepadanya pula roh‑roh tersebut kembali.

Peninggalan megalit Lebak Sibedug berupa bangunan berundak empat, yang seluruhnya setinggi 6 meter. Di depan undakan batu ini terdapat lahan datar dan di sini pula terdapat sebuah menhir yang ditunjang batu-batu berukuran kecil.

Bangunan berundak di Kosala, Arca Domas dan Lebak Sibedug tersebut, masih dipuja dan dikeramatkan, dan karenanya bangunan‑bangunan megalit di Banten Selatan ini termasuk kategori living megalithic culture, yang berarti benda‑benda arkeologi/megalit yang masih berada dalam konteks sistem perilaku pendukungnya (Michrob,1993: 27).

Kembali kepada proses Islamisasi di Banten, dalam Carita Parahiyangan sarga 3, Atja dan Edi S. Ekadjati mengemukakan riwayat selanjutnya, antara lain sebagai berikut:

 

Dari isteri kedua, Sri Baduga Maharaja berputera beberapa orang, dua orang di antaranya: (1) Dipati Suranggana, menjadi ratu wilayah Wahanten Girang. Dia kemudian memeluk agama Islam, dan berganti nama menjadi Ki Bagus Molana. Anak menantu dan hamba sahayanya, menjadi pemeluk agama Islam; (2) Tumenggung Jayamanggala, menjadi adipati Pakuan (Atja & Ekadjati,1989 :144).

 

Dari kutipan tersebut di atas, nampak sekali tidak ada istilah “pemaksaan”, “dipaksa”, “takluk” atau “ditaklukkan”, sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para penulis Babad maupun “penulis sejarah” Banten masa kini. Dipati Suranggana alias Ki Bagus Molana, anak, menantu, serta hamba sahayanya, dengan ikhlas “beralih agama”, sebagai penganut agama Rasul Muhammad. Dialah putera Sri Baduga Maharaja, pembesar Pajajaran kedua yang memeluk agama Islam, setelah Pangeran Cakrabuana (Cirebon).

 

Dari bahasan Atja & Edi S. Ekadjati, diketemukan dua sebutan: “Banten Pasisir” dan “Wahanten Girang”. Boleh jadi, memang ada perbedaan antara sebutan Banten Pasisir dengan Wahanten Girang. Akan tetapi, sebutan wahanten menjadi banten, maksudnya itu‑itu juga, hanya pelafalan yang berbeda.

Hal tersebut mengingatkan kembali kepada berita Cina (1430 Masehi), tentang Kerajaan Sunda dan Bantennya, bahwa “Banten dinamakan Sunda selama empat abad berturut‑turut, baik oleh orang Cina, maupun oleh orang Arab pada awal abad ke‑16. Hendaknya digarisbawahi, bahwa dalam naskah inilah (berita Cina) nama tempat “Banten” (wan‑tan), muncul untuk pertama kali dalam sumber tulisan, apapun bahasanya (Guillot,1996:119).

Portugis pun melakukan hal yang sama, menyebut “Wahanten” dengan “Bantam”. Secara lingual, sebutan “wantan” dalam lafal Cina, bunyinya hampir sama dengan “bantam” dalam lafal Portugis. Jika terdapat perubahan lafal, dapat dimaklumi, karena Wahanten Pasisir sudah menjadi “pelabuhan internasional”.

Mecermati fakta seperti itu, para penafsir sejarah tidak usah dipusingkan untuk mencari-cari dan mengada‑ada Banten melalui bahasa kirata (dikira‑kira, tapi nyata). Sungai yang mengalir sepanjang kurang‑lebih 30 kilometer, dari hulu Gunung Karang Pandeglang, berkelok melalui wilayah Banten Girang, membelah kota Serang, dan bermuara di Banten Pasisir, sudah merupakan petunjuk tersendiri. Bahwa, penamaan “Wahanten” Girang dan “Wahanten” Pasisir, tentunya berdasarkan nama sungai “Ciwahanten” yang mengalir melaluinya.

Gambaran semakin jelas. Di masa Kerajaan Sunda (Pajajaran), terdapat dua negeri Wahanten. Wahanten Girang dipegang oleh putera Sri Baduga Maharaja, Sang Adipati Surangggana; Wahanten Pasisir dipegang oleh putera Sri Baduga Maharaja lainnya, Sang Adipati Surasowan. Oleh karena itu, dalam kajian ilmiah, perbedaan anggapan “Banten Lama” untuk Banten Girang, dan “Banten Baru” untuk Banten Pasisir, sudah tidak tepat lagi. Sebab, antara Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir, kedua‑duanya sejaman.

Kembali kepada tokoh Sang Surasowan, ayahanda Nyai Kawung Anten, mertua Syekh Syarif Hidayat, kakeknya Pangeran Sabakingkin atau Maulana Hasanuddin. Ketika Sang Surasowan wafat, dalam usia terhitung masih muda, tahtanya diwariskan kepada puteranya, Sang Arya Surajaya.

 

Pada masa pemerintahan Sang Arya Surajaya di Wahanten Pasisir, Syarif Hidayat sudah menjadi penguasa kedua, di Kesultanan Pakungwati Cirebon. Oleh karena itu, Sabakingkin atau Hasanuddin, menjadi penerus ayahnya, menjadi Guru Agama Islam di Wahanten Pasisir. Pada waktu itu, Pangeran Sabakingkin, lebih dikenal dengan sebutan Syekh Maulana Hasanuddin.

Ketenaran nama Syekh Maulana Hasanuddin, telah mengalahkan kharisma uwanya, Adipati Arya Surajaya. Sehingga, hubungan kekerabatan dengan uwanya itu, menjadi tidak harmonis lagi.

Ketika menjadi penyiar agama Islam di Wahanten Pasisir, Syekh Maulana Hasanuddin menikah dengan puteri raja Indrapura, serta memperoleh putera laki‑laki, diberi nama Yusuf.

Untuk jaringan politik, antara Kesultanan Pakungwati Cirebon dengan Kesultanan Demak, Syekh Maulana Hasanuddin berjodoh dengan Ratu Ayu Kirana (Ratu Mas Purnamasidi), puteri sulung Raden Patah. Dari perkawinannya, lahir pertama Ratu Winahon, kelak menjadi isteri Tubagus Angke Bupati Jayakarta (Jakarta). Putera kedua, Pangeran Arya (Pangeran Japara), yang menjadi anak angkat Ratu Kalinyamat dari Japara.

Pasangan Pakungwati‑Demak lainnya yang dijodohkan: Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun; Pangeran Bratakelana dengan Ratu Nyawa (Ratu Ayu Wulan); dan Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor (Adipati Yunus Abdul Kadir).

 

  1. WAHANTEN BANGKIT

 

Pada permulaan tahun 1444 Saka (1522 Masehi), pasukan bersenjata Kerajaan Sunda Pajajaran yang sangat kuat, dipimpin langsung oleh Prabu Sanghiyang Surawisesa, menyerang kerajaan-kerajaan daerah yang dianggap tidak setia lagi kepada Pakuan.

Serangan pasukan Kerajaan Sunda Pajajaran, telah menaklukkan 16 Ratu dan Adipati bawahannya. Mereka dapat ditaklukkan, karena pasukan Kerajaan Sunda Pajajaran sangat besar, terdiri dari pasukan gabungan dari raja daerah, yang setia kepada Prabhu Sanghiyang Surawisesa. Sedangkan raja‑raja daerah yang diperanginya, kekuatannya tidak seberapa, dan persenjataannya pun tidak lengkap. Itulah sebabnya, Ratu‑Ratu wilayah dapat dikalahkan, dan pasukan yang tersisa melarikan diri, meminta perlindungan kepada Kesultanan Pakungwati Cirebon.

 

Adapun kesatuan pasukan bersenjata Pakuan Pajajaran, tidak berani menyerang Kesultanan Pakungwati Cirebon. Karena Pakungwati, memiliki kesatuan pasukan bersenjata yang lengkap, juga dibantu oleh pasukan armada tempur Demak.

Beberapa orang Raja daerah yang kalah perang, semua pejabat serta kesatuan bersenjata yang ditawan, dibebaskan oleh Prabu Sanghiyang Surawisesa, dengan janji akan setia dan berbakti kepada Kerajaan Sunda Pajajaran.

 

Adapun raja‑raja daerah (Ratu) dan adipati (Bupati), yang dikalahkan oleh kesatuan pasukan bersenjata Prabu Sanghiyang Surawisesa, adalah:

 

  1. Nyai Aryya Baroh (Puteri Sariyah), Ratu Sunda Kalapa Dalam (Kalapa Kulon);
  2. Kyai Wudhubasuraga, Raja Daerah Tanjung
  3. Nyai Ngajirasa, Ratu Ancol;
  4. Adhipati Suranggana, Raja Daerah Wahanten Girang;
  5. Sang Aryya Suraprasa, Raja Daerah Simpang;
  6. Aryya Pulunggana, Raja Daerah Gunung Batur;
  7. Ratu Hyang Banaspati, Raja Daerah Saung Agung
  8. Aryya Sukara, Raja Daerah Rumbut;
  9. Tumenggung Linggageni, Raja Daerah Gunung Ageng;
  10. Sang Adhipati Patala, Raja Daerah Padang
  11. Prabhu Yasanagara, Raja Daerah Pagawok;
  12. Sang Aryya Wirasakti, Raja Daerah Muntur;
  13. Aryya Senapati Bhimajaya, Raja Daerah Hanum;
  14. Sang Aryya Wuludada, Raja Daerah Pager Wesi;
  15. Pradharmaya, Raja Daerah Medang Kahiyangan;
  16. Sang Prabhu Walahar, Raja Daerah Gunung Banjar.

 

Pada saat itu, jalur perdagangan perairan Selat Sunda dan perairan Selat Malaka, dikuasai oleh Kerajaan Sunda Pajajaran dan Portugis. Jelas, jalur perdagangan Demak di wilayah barat, tersumbat. Oleh karena itu, Sultan Demak (Raden Patah), berambisi merebut wilayah pantai utara Kerajaan Sunda.

Kekhawatiran Sultan Demak, kesatuan angkatan bersenjata Prabu Sanghiyang Surawisesa, akan menyerang Pakungwati Cirebon. Karena sudah tersiar berita, bahwa tidak lama lagi, akan tiba armada tempur Portugis, untuk memberi bantuan kepada Prabu Sanghiyang Surawisesa.

 

Oleh sebab itulah, Sultan Demak memerintahkan adik iparnya, Panglima Bintoro alias Fadhillah Khan, untuk memata-matai Sunda Kalapa dan Wahanten Pasisir. Tak lama kemudian, Panglima Fadhillah Khan bersama para pengiringnya, tiba di Banten menyamar sebagai pedagang.

Sebagairnana yang diamanatkm oleh Sultan Demak, Fadhillah Khan terlebih dahulu menemui Syekh Maulana Hasanuddin, guna meminta bantuan mengenai siasat untuk merebut Wahanten Pasisir. Setelah bertemu dengan Syekh Maulana Hasanuddin, barulah Fadhivah Khan bersama pengiringnya, menyusup berkehling kota, perdukuhan, bandar, desa, sambil menjajakan bermacam‑macam barang, aneka macam perhiasan dan yang lainnya.

Beberapa bulan kemudian, Fadhillah Khan bersama pengiringnya, kembah ke Demak. Singgah di Pakungwati Cirebon, memberitahukan hasil penyelidikannya kepada mertuanya, Susuhunan Jati. Sekaligus menyampaikan kehendak Sultan Demak, untuk menyerang wilayah daerah-daerah tertentu di pantai utara Kerajaan Sunda Pajajaran. Setelah itu, barulah Panglima Fadhillah Khan, kembali ke Demak.

Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa Fadhillah Khan berasal dari negeri Pasai di Sumatera sebelah utara. Dia memperisteri puteri Susuhunan Jati, Ratu Ayu, janda Pangeran Sabrang Lor. Pangeran Sabrang Lor, adalah putera mahkota Demak, yang bergelar Adhipati Yunus Abdul Kadir (Dipati Unus). la gugur pada usia muda, dalam pertempuran dengan Portugis di perairan Selat Malaka.

Pada tahun 1448 Saka (1526 Masehi), pasukan gabungan angkatan bersenjata Pakungwati‑Demak, dibantu pasukan simpatisan dari berbagai daerah, terdiri dari 1.967 tentara, bergerak menuju perairan Wahanten Pasisir. Kekuatan pasukan gabungan, dipimpin langsung oleh Panglima Besar Fadhillah Khan, didampingi oleh Adipaf Keling dan Adipati Cangkuang.

Ketika Syekh Maulana Hasanuddin sedang berada di Wahanten Pasisir menerima “berita rahasia” dari kurir ayahnya. Susuhunan Jati Cirebon Syekh Syanf Hidayat memberitakan, bahwa pasukan gabungan Pakungwati‑Demak yang dipimpin oleh Panglima Fadhillah Khan, sedang dalam pelayaran, ditugaskan untuk merebut wilayah Wahanten (Banten) Pasisir.

Sebelum armada laut gabungan Pakungwati‑Demak tiba, Pangeran Sabakingkin atau Syekh Maulana Hasanuddin, mengerahkan “pasukan gerilya” yang sudah dipersiapkan secara diam‑liam. Kemudian mengadakan gerilya, di berbagai tempat di wilayah Wahanten Pasisir, sebagai “gerakan pendahuluan”.

 

Adipati Sang Arya Surajaya, mengerahkan pasukan Wahanten Pasisir, untuk menumpas huru‑hara tersebut. Akan tetapi, “pasukan gerilya” Maulana Hasanuddin, lebih siap untuk bertempur. Secara diarn‑diam, beberapa orang pasukan Wahanten Pasisir, sempat dibinasakan.

Ketika Sang Adipati Arya Surajaya dengan pasukan Wahanten Pasisir disibukkan oleh “pasukan gerilyawan”, tibalah serangan mendadak, pasukan gabungan Pakungwati‑Demak. Serangan dahsyat, secepat kilat telah membinasakan pasukan Adipati Arya Surajaya, dan berhasil menduduki Keraton Wahanten Pasisir.

Adipati Arya Surajaya sangat cemas. Korban di pihaknya sudah tidak terhitung. Pihak penyerang sudah tidak bisa dibendung. Akhirnya, Sang Adipati Surajaya dan keluarganya, serta sebagian pembesar kerajaan Wahanten Pasisir yang masih hidup, menyelamatkan diri, menerobos hutan lebat, bergegas menuju Pakuan (Bogor).

Sang Adipati Arya Surajaya, memerintah Wahanten Pasisir hanya 7 tahun, dari tahun 1441 Saka (1519 Masehi) hingga tahun 1448 (1526 Masehi). Kemungkinan, Adipati Wahanten Pasisir inilah, yang dimaksud oleh Museum Peninggalan Sejarah dan Purbakala Banten Lama di Serang, dalam tutisan besar pada dinding ruang depannya: “;Setelah takluknya penguasa Hindu‑Budha Prabu Pucuk Umun di Banten Girang kepada Maulana Hasanuddin pada tahun 1526 Surosowan (Banten Lama) segera menjadi pusat pemerintahan Banten”.

Untuk mengangkat kebesaran Maulana Hasanuddin, sebenarnya tidak perlu menyudutkan “penguasa Hindu‑Budha Prabu Pucuk Umun”, sebelum dapat dibuktikan kebenarannya. Karena hal ini, tidak sesuai dengan kajian arkeologi, dengan ditemukannya penafsiran arsitektur dan batu‑batu nisan yang memiliki pertanggalan yang lama abad ke‑16 (Ambary,1988: 8). Juga tidak sesuai dengan kronik‑kAonik yang berkembang di Banten, bahwa pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 Masehi, pusat pemerintahan Banten, yang tadinya berada di pedalaman yakni di Banten Girang dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten (Michrob,1993: 68).

Sesuai rencana, setelah Wahanten Pasisir berhasil direbut, atas nama Susuhunan Jati Cirebon penguasa Kesultanan Pakungwati Cirebon, Panglima Fadhillah Khan menobatkan Pangeran Sabakingkin atau Syekh Maulana Hasanuddin menjadi Adipati Wahanten Pasisir (Bupati Banten Pasisir), dalam usia 48 tahun.

Di balik peristiwa itu, sesungguhnya, “pasukan gerilya” Syekh Maulana Hasanuddin, mendapat bantuan pasukan Kerajaan Wahanten Girang. Sangat masuk akal. Sebab, penguasa Wahanten Girang, Sang Adipati Arya Suranggana yang bergelar Ki Bagus Molana, telah lebih dahulu masuk agama Islam. Kemudian, Sang Adipati Suranggana alias Ki Bagus Molana, pernah merasa sakit hati oleh Prabu Sanghiyang Surawisesa, yang pernah menyerang Wahanten Girang pada tahun 1522 Masehi. Secara kekerabatan, Sang Adipati Arya Suranggana atau bergelar Ki Bagus Molana, masih kakeknya Syekh Maulana Hasanuddin.

Kemungkinan besar, Sang Adipati Arya Suranggana atau Ki Bagus Molana, setelah wafat dimakamkan di Tempat Suci situs Banten Girang. Sayangnya, di komplek makam Tempat Suci itu, masyarakat disilapkan oleh dua makam keramat “Mas Jong” dan “Agus Jo”. Sehingga makam Ki Bagus Molana sulit untuk dilacak, “terhapus” oleh mitos “Mas Jong” dan “Agus Jo”.

Akan tetapi, dengan hadirnya Sang Adipati Arya Suranggana, yang bergelar Ki Bagus Molana, dalam panggung sejarah Banten yang sesungguhnya, anggapan “Mas Jong dan Agus Jo sebagai orang Banten pertama yang masuk Islam”, sulit dibenarkan.

Hoesein Djajadiningrat (1913) secara kritis, meragukan keberadaan tokoh Ki Jong dan Ki Jo, antara lain sebagai berikut:

 

Jongjo rupanya nama seorang dari kedua ponggawa itu karena selanjutnya nama itu digunakan sebagai nama seorang saja. Tradisi yang kemudian telah menceraikan nama itu dan menyebut berturut‑turut sebagai Ki Jong dan Ki Jo (Djajadiningrat,1983: 34).

 

Berdasarkan kutipan tersebut, rupanya telah terjadi manipulasi, dari seorang tokoh, kemudian berkembang menjadi dua orang. Selanjutnya Hoesein Djajadiningrat membahasnya, antara lain:

 

Apabila Ki Jongjo, seorang dari Pakuwan, yang dengan sukarela telah memeluk agama Islam dan menyatukan diri dengan Hasanuddin, mengemukakan usulnya kepada panembahan, yaitu Hasanudin, maka Molana Yusuplah, anak Hasanuddin, yang meminta kepadanya keterangan‑keterangan selanjutnya, makaYusuplah lagi ‑ dalam kedua redaksi termuda disebut hanya dengan Molana dalam redaksi tertua dengan namanya ‑ yang menjanjikan kepada Ki Jongjo hadiah yang diminta. Perhatikanlah baik‑baik: di hadapan ayahanda beliau seorang anak menjanjikan kepada seorang yang diperhamba ayahanda beliau, akan memerdekakannya! Keanehan ini tidak dilenyapkan, bahkan tidak dilemahkan, oleh pernyataan, bahwa setelah selesainya ekspedisi, Jongjo menerima hadiahnya dari tangan panembahan. Maka bertanyalah kita apakah penulis kronik itu tidak mencampuradukkan dua kisah: suatu kisah yang lebih tua yang benar tentang direbutnya Pakuwan di masa pemerintahan dan oleh Molana Yusup, yang tentangnya kita di sini dan di dalam sangkala mempunyai peninggalan‑peninggalannya, yang memberikan kenyataan itu kepada Hasanuddin; atau penulis itu sendirikah barangkali yang mengubah kisah asli itu menjadi kisah yang kemudian? Karena adalah dalam garis tradisi, yang memandang Hasanuddin sebagai penyiar Islam di Banten dan sebagai raja Islam yang pertama di sana, untuk menggambarkan baginda sebagai orang yang menghancurkan kafir, sebagai penakluk Banten Girang dan Pakuwan (Djajadiningrat,1983:149‑150).

 

Terkesan tokoh Ki Jong dan Ki Jo, oleh penulis Babad disudutkan dalam posisi “kambing hitam”, demi kebesaran Panembahan Hasanuddin. Setelah makamnya dikeramatkan, dua tokoh tersebut diberi gelar Jawaisme “Mas” Jong dan “Agus” Jo. Konon menurut dongeng, Ki Jong dan Ki Jo itu kakak beradik. Pertanyaannya, kenapa harus memakai gelar Jawa isme? Kenapa gelarnya berbeda?

Siapa tahu, gelar “Agus” itu, sesungguhnya harus dialamatkan kepada “Ki Bagus” Molana, seorang Adipati (Bupati) Wahanten Girang, putera Sri Baduga Maharaja, yang terlebih dahulu masuk Islam.

Mencermati naskah kuna Sunda Kropak 406 Carita Parahiyangan, Kropak 632Amanat Dari Galunggung Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, Kropak 410 Carita Ratu Pakuan, Kropak 408 Sewaka Darma, tidak pernah ditemukan motif nama yang pendek, sependek nama Jong dan Jo. Jika Ki Jong dan Ki Jo “orang penting” dari Sunda Pajajaran, seharusnya, di depan namanya menggunakan gelar “Rakeyan”.

Seandainya, tokoh Ki Jong dan Ki Jo (atau Ki Jongjo saja) itu benar-benar pernah ada, sebagai patriot yang pernah berjasa kepada Kesultanan Surasowan, mereka tidak akan dimakamkan di “Banten Girang”. Setidaknya, harus satu komplek dengan makam junjungannya (yang dipertuan): Panembahan Hasanuddin. Oleh karena itu, makam kerainat “Mas Jong” dan “Agus Jo” di situs Banten Girang, perlu kiranya diteliti lebih lanjut.

Kembali ke Wahanten Girang. Atas inisiatif Ki Bagus Molana, akhirnya Wahanten Girang bergabung dengan Wahanten Pasisir. Dengan demikian, Pangeran Sabakingkin Adipati Syekh Maulana Hasanuddin, berkuasa atas dua wilayah kerajaan: Wahanten Pasisir dan Wahanten Girang. Akhirnya Pangeran Sabakingkin dinobatkan kembali, dan memperoleh gelar Panembahan. Pengertian panembahan, adalah tokoh ulama besar Islam yang sangat dihormati, merangkap jadi penguasa. Gelar itu, lebih dikenal secara umum oleh masyarakat Muslim, dengan sebutan Sultan.

 

Seorang Panembahan kelahiran Wahanten (Banten), beralur darah trah Rasul Muhammad, berbaur dengan alur darah trap Sri Baduga Maharaja, melalui ketawakalan dan perjuangan yang berat, akhirnya berhasil mendirikan monumen Islam yang kokoh di Bumi Wahanten. Sebagian besar penduduknya, menjadi pemeluk setia agama Rasul Muhammad.

Untuk memperkuat posisi pemerintahannya, Panembahan Hasanuddin mendirikan keraton yang indah dan megah, terletak di jantung wilayah Wahanten Pasisir. Untuk mengenang kakeknya yang tercinta, keraton ia dirikan, diberi nama Keraton Surasowan.

Sebutan Surasowan sebagai nama keraton, akhirnya berkembang menjadi sebutan wilayah kekuasaan. Sejalan dengan isi prasasti tembaga berhurup Arab, yang dibuat oleh Sultan Haji atau Sultan Abdul Nasr (1683‑1687), nama resmi kerajaan Islam di Banten adalah Negeri Surasowan.

Setahun kemudian, sebanyak 1.452 personal angkatan perang gabungan Pakungwati‑Demak, di bawah komando Panglirna Fadhillah Khan, menyerang Sunda Kalapa (Jakarta). Dalam pertempuran itu, Adipati Sunda Kalapa Sang Arya Sutakreta, Permaisuri, dan para pengiringnya, tewas binasa. Sisa yang masih hidup, menyelamatkan diri ke ibukota Pakuan Pajajaran. Sang Arya Surakreta, menjadi penguasa “kadipatian” Sunda Kalapa, hanya 6 tahun lamanya, dari tahun 1443 Saka (1521 Masehi) hingga tahun 1449 Saka (1527 Masehi).

Sebagai catatan, kakaknya Sang Arya Surakreta, yaitu Nyai Arya Baroh, adalah penguasa Sunda Kalapa Dalam (Kulon). Ia puteri Adipati Kranda, Raja Daerah Kalapa Pasisir (Sunda Kalapa). Nyai Arya Baroh, diperisteri oleh Kyai Arya Baroh, saudagar kaya dari Perlak. Kemudian, setelah memeluk agama Islam, Nyai Arya Baroh bergelar Puteri Sariyah.

Setelah Sunda Kalapa dikuasai pasukan gabungan Pakungwati‑Demak, Panglima Fadhillah Khan, ditunjuk menjadi Adipati (Bupati) Sunda Kalapa (Jakarta), oleh Susuhunan, Jati Cirebon.

Beberapa bulan kemudian, armada Portugis berangkat dari negeri Pasai, tiba di perairan Sunda Kalapa. Mereka tidak mengetahui, bahwa wilayah Sunda Kalapa, sudah diduduki oleh pasukan gabungan Pakungwati‑Demak. Selanjutnya, pecahlah pertempuran antara pasukan armada Portugis dengan pasukan gabungan Pakungwati‑Demak, di Pelabuhan Sunda Kalapa. Armada Portugis dipukul mundur, terdesak dan menderita kekalahan, sehingga banyak tentaranya yang tewas. Anggota pasukan yang tersisa, menyelamatkan diri, kembali berlayar menuju perairan Selat Malaka.

Di belahan timur Kerajaan Sunda Pajajaran, telah terjadi perubahan situasi politik, akibat melemahnya pemerintahan pusat di Pakuan. Penguasa Kerajaan Galuh Prabu Jayaningrat, memanfaatkan situasi seperti itu, bagi kepentingan Kerajaan Galuh untuk mengembangkan diri.

Prabu Jayaningrat, adalah putera Prabu Ningratwangi, cucu Prabu Dewa Niskala. Prabu Ningratwangi, adalah adik Sri Baduga Maharaja, yang menjadi penguasa Kerajaan Galuh, bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran. Prabu Jayaningrat, menggantikan posisi ayahnya, menjadi penguasa Kerajaan Galuh, pada tahun 1501 Masehi.

Berdasarkan riwayat hak waris, wilayah Pakungwati Cirebon, adalah merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Galuh. Oleh karena itu, Prabu Jayaningrat segera mengirimkan surat kepada Susuhunan Jati Cirebon, yang isinya “Agar Pakungwati Cirebon, kembali mengirirnkan upeti ke ibukota Kerajaan Galuh, seperti kebiasaan di masa silam. Kalau tidak, akan digempur”.

Akan tetapi, oleh Susuhunan Jati Cirebon, permintaan penguasa Kerajaan Galuh itu ditolak. Susuhunan Jati Cirebon, segera mengirimkan kabar kepada Fadhillah Khan, untuk datang dengan pasukannya ke Pakungwati Cirebon.

Penolakan Susuhunan Jati Cirebon, membangkitkan amarah Prabu Jayaningrat. Pada tahun 1450 Saka (1528 Masehi), pasukan bersenjata Kerajaan Galuh, bergerak menuju wilayah perbatasan Pakungwati Cirebon. Serangan, dipimpin langsung oleh Prabu Jayaningrat, didampingi Adipati Rajagaluh Sang Arya Kiban.

Adipati Kuningan Sang Suranggajaya, oleh Susuhunan Jati Cirebon, diserahi tugas melindungi pondok pesantren, yang tersebar di perbatasan Cirebon-Galuh. la. adalah putera Ki Gedeng Luragung Jayaraksa, yang diangkat anak oleh Arya Kamuning (Bratawiyana), sekaligus sebagai menantu Ratu Selawati.

Oleh karena itu, pasukan penyerang dari Kerajaan Galuh, dihadang oleh pasukan Sang Suranggajaya, di dekat Bukit Gundul. Akan tetapi pasukan Kerajaan Galuh, jumlahnya banyak, dan terlalu kuat untuk dihadapi oleh pasukan Sang Suranggajaya. la. terdesak, segera mengirimkan berita ke Pakungwati, memohon bala bantuan.

Bala bantuan pasukan gabungan Pakungwati‑Demak-Kuningan tiba, dipimpin oleh “panglima perang senior” Sri Mangana Pangeran Cakrabuana, pendiri Kesultanan Pakungwati Cirebon.

Pertempuran sengit itu terjadi di palagan bukit Gula Sagandu. Dalam pertempuran ini, pasukan Demak memiliki kelebihan tersendiri, dilengkapi senjata meriam. Pasukan Kerajaan Galuh menyebutnya “panah yang berbunyi seperti guntur, mengeluarkan asap hitam, sambil memuntahkan logam panas”.

Pasukan Kerajaan Galuh terlesak. Mereka mengundurkan diri ke benteng pertahanan tetakhir di Talaga (Majalengka). Kerajaan Galuh yang didirikan oleh Prabu Wretikandayun pada tahun 612 Masehi itu, runtuh dalam pertempuran di Bukit Gundul, Palimanan. Sejak itulah, wilayah utara Kerajaan Galuh berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pakungwati Cirebon.

Setahun setelah berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Galuh, Sri Mangana Pangeran Cakrabuana Haji Abdullah Iman wafat (1529 Masehi). Segenap keluarga keraton Pakungwati Cirebon dilanda dukacita, kehilangan tokoh penting yang disegani, pendiri Kerajaan Islam pertama di Kerajaan Sunda.

Pada tahun 1452 Saka (1530 Masehi), pasukan gabungan Pakungwati, Demak, dan Kuningan, melakukan “pembersihan” terhadap sisa‑sisa pasukan Kerajaan Galuh yang bertahan di Talaga. Akhirnya Talaga, dapat ditaklukkan, berada di bawah kekuasaan Pakungwati Cirebon. Hingga tahun 1453 Saka (1531 Masehi), beberapa wilayah bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran lainnya, berhasil direbut, oleh pasukan Pakungwati Cirebon.

Pada saat itu, Pangeran Pasarean diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi pembesar kerajaan, sebagai Patih Pakungwati Cirebon, yang mewakili Susuhunan Jati. Kebijakan itu dilakukan, agar Pangeran Pasarean, dapat berperan penting dalam menghadapi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Akan tetapi, permusuhan Pakungwati‑Pajajaran dapat dihentikan. Kedua belah pihak menempuh jalan damai, mengadakan perjanjian pada tanggal 14 paro terang bulan Asadha tahun 1453 Saka (29 Juni 1531 Masehi).

 

Antara Sang Prabu Surawisesa dengan Susuhunan Jati Cirebon, menyepakati, bahwa:

 

  1. Kedua belah pihak mengakui kedaulatan masing-masing;
  2. Tidak saling menyerang;
  3. Silih asih (saling menyayangi), atuntunan tangan (kerjasama), karena kita sedarah (sama‑sama keturunan Sri Baduga Maharaja), janganlah putus.

 

Peristiwa tersebut, tersirat dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, berupa penilaian terhadap Prabu Sanghiyang Surawisesa, dengan kalimat yang sangat singkat: “kadiran, kasuran, kuwanen. Prangrang lirnawelas kali henteu eleh” (perwira, perkasa, pemberani. Perang lima belas kali, tidak kalah). Maksud “tidak kalah” tersebut, mungkin karena diakhiri dengan jalan damai.

Berdasarkan perjanjian Pakungwati‑Pajajaran, Prabu Sanghiyang Surawisesa mempunyai kesempatan untuk membenahi situasi di dalam negerinya. Dalam suasana tenang dan damai, ia merenungi hidupnya, betapa merasa kecil dirinya jika dibandingkan dengan kebesaran ayahnya, Sri Baduga Maharaja. Rasa hormat dan kekaguman itu, dibuktikan dengan mengadakan upacara penyempurnaan sukma (sraddha) ayahnya, pada tahun tanggal 7 paro gelap bulan Bhadrawada 1455 Saka (14 September 1533 Masehi). Pada kesempatan itu, Prabu Sanghiyang Surawisesa membuat tanda peringatan (prasasti), tanpa segorespun membubuhkan identitas dirinya.

 

  1. KALIYUGA BUNGA PRALAYA

 

Dua tahun kemudian (1535 Masehi), Prabu Sanghiyang Surawisesa wafat. la digantikan oleh puteranya, Prabu Ratudewata. Prabu Ratudewata memperisteri Ratu Sanghiyang, adik Ratu Wiratala, putera Adipati Surakerta (Sunda Kalapa). la menjalankan kehidupan seperti Rajaresi. Berpuasa, hanya meminum susu (lumaku ngarajaresy tapa pwah susu).

Pada masa pemerintahannya, sudah tidak lagi menghargai keagamaan. Pendeta sakti di Sumedang, dianiaya. Pendeta di Ciranjang, dibunuh tanpa dosa. Pendeta di Jayagiri, mati ditenggelamkan ke dasar laut. Akan tetapi, ada pendeta sakti, Munding Rahiyang namanya, ditenggelamkan ke dasar laut, tapi tidak mati. la tetap hidup, menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Sang Prabu Ratudewata, tidak memperdulikan perjanjian Pakungwati-Pajajaran, yang telah disepakati ayahnya. Beberapa wilayah bawahan yang telah dikuasai oleh Pakungwati Cirebon, direbutnya kembali. Bahkan banyak tajug (masjid) yang dirusak dan pondok (pesantren) yang dirampok.

Pasukan bersenjata Sang Prabu Ratudewata, senantiasa menciptakan huru‑hara, keonaran, dan melakukan kejahatan terhadap masyarakat. Mereka sudah mengingkari etika purbatisti‑purbajati Sunda, Sanghiyang Siksakandang Karesian, yang diamanatkan oleh Sri Baduga Maharaja.

Oleh karena itulah, tibalah bencana serangan musuh “kasar” (nampak nyata), tidak diketahui asal‑usulnya (datang na bancana musuh ganas tambuh sangkane). Perang di Buruan Ageung (Alun‑alun) (prangrang di buruan ageung).

Pada tahun 1465 Saka (1543 Masehi), pasukan bersenjata Surasowan Wahanten, di bawah komando Panembahan Hasanuddin, didampingi puteranya (Panglima Maulana Yusuf), menyerang ibukota Pakuan Pajajaran.

Serangan laskar Surasowan Wahanten, sangat beralasan. Karena, karakter penguasa Sunda Pajajaran yang mereka hadapi, sudah jauh mengingkari karakter leluhurnya, Sri Baduga Maharaja. Sesungguhnya, berdasarkan hak historis alur darah keturunan, Panembahan Hasanuddin adalah cicitnya Sri Baduga Maharaja. la pun akhli waris tahta Sunda Pajajaran.

Dalam pertempuran sengit di Alun‑alun kota Pakuan, Sang Prabu Ratudewata, Adipati Wiralaya (Rata Sanghiyang), Adipati Dharmabhuwana (Ratu Sarendet), pejabat, perwira, pengawal raja, ponggawa‑ponggawa kerajaan, tewas berjatuhan.

Kemungkinan, serangan laskar “tambuh sangkane” (tanpa identitas resmi) itu, tidak sungguh‑sungguh, hanya sebagai “pemanasan” laskar Surasowan. Mengingat, ayahnya, Susuhunan Jati Cirebon, masih terikat oleh perjarijian Pakungwati‑Pajajaran.

Atau boleh jadi, serangan kilat ke kota Pakuan itu, sekaligus merupakan “unjuk rasa”, akibat tidak langsung dari peristiwa penobatan Pangeran Pasarean. Sebagai anak sulung dari isteri pertama Susuhunan Jati (Kawung Anten), Panembahan Hasanuddin lebih berhak atas tahta Pakungwati Cirebon. Sebab, setelah puas melakukan serangan kilat ke kota Pakuan, laskar Surasowan Wahanten ditarik mundur, melanjutkan gerakannya ke arah utara. Serangan terjadi ke wilayah Sumedang, Ciranjang dan Jayagiri.

Penulis naskah kuna Kropak 406 Carita Parahiyangan, menyindir tajam kelakuan Prabu Ratudewata “Ya, berhati‑hatilah orang‑orang yang hidup di kemudian hari, janganlah engkau kalah perang karena rajin berpuasa” (nya iyatnayatna sang kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan). Prabu Ratudewata menjadi Raja Sunda Pajajaran, selama 8 tahun. Dari tahun 1457 Saka (1535 Masehi), hingga tahun 1465 Saka (1543 Masehi).

Selanjutnya Prabu Ratudewata digantikan oleh menantunya, Sang Prabu Sakti Sang Mangabatan. Prameswari Sang Prabu Sakti adalah Dewi Sekarwangi, puteri Prabu Ratudewata.

Jika mertuanya bersikap pura‑pura alim (lumaku ngarajaresi), Sang Prabu Sakti bertindak sangat kejam. Ketika situasi Kerajaan Sunda Pajajaran sudah kian memburuk, ia bertindak sesuka hatinya, tidak lagi mentaati norma pemerintahan. la membunuh orang tidak berdosa, merampas tanpa rasa malu, tidak hormat terhadap yang tua, dan menghinakan para pendeta (mati‑mati wong tanpa dosa, ngarampas tanpa prege, lan bakti ring wong atuha, asampe ring sang pandita).

Puncak kebiadabannya, Sang Prabu Sakti memperisteri estri larangan, dan memperisteri ibu tirinya, janda dari ayahnya, Prabu Ratudewata. Prabu Sakti diturunkan dari tahtanya, akibat perilaku buruk seorang raja, terkena bencana oleh wanita terlarang dari luar dan oleh ibu tiri (kenana ratu twahna kabancana ku estri larangan ti kaluaran deung kana arnbu tere).

Prabu Sakti masih beruntung. Pada masa pemerintahannya, sebagian besar pasukan Surasowan Wahanten, tahun 1546 Masehi sudah berada di Jepata. Keberadaannya di sana, atas permohonan bantuan Sultan Trenggono, untuk ikut menyerang Pasuruan.

Keberangkatannya ke Demak, Panembahan Hasanuddin mengikutsertakan armada Portugis, yang dipimpin oleh Fernao Mendes Pinto atau Tome Pinto. la salah seorang penandatangan perjanjian Pajajaran‑Portugis 21 Agustus 1522 Masehi di Pakuan. Dalam buku Peregrinacao (Penjelajahan), Fernao Mendes Pinto (1510‑1583), mencatat semua kejadian, sejak ia berangkat dari Goa memakai jung (kapal layar) Fedro de Faria.

Sebagian dari catatan perjalanannya, adalah sebagai berikut:

 

E partindo da guy para a cumda, em dezassete dias chequey ao porto de Banta, que he onde comummente os Portugueses fazem sue fazenda. E porque neste tempo a terra estaua muyto falta da pimenta que hiamos buscar, nos foy forcado inuernarmos aly aquelle anno;com determinacao de para o outro seguinte nos irmos para a China.

E suendo ja quasi dour mews qestauamos neste porn fazendo pacifiamente nossas mercancias na terra, veyo tera ella por mandado del Rey de Damrna, Emperador de toda a illla da Iaoa, Angenia, Bale, I Madura, cotodas as mail ilhas deste arapelago, hue moltrer que se charnaua Nhay Pombaya; Bona viuua de quasi sessenda annos de idade, aqual vinha de sua pane dar recado ao Tagaril Rey da cmnda, que tambem era seu vassafo como os mais Reys desta monarchia, paraque pessoalmete, em termo de mes I meyo fosse ter com elle a cidade de lapara onde entao se fazia prestes para yr sobre o reyno de Passeruao.

 

Terjemahannya:

Begitu berangkat (dari Malaka) menuju Sunda, dalam jangka tujuh belas hari saya sampai di pelabuhan Banta (Banten), tempat orang Portugis biasanya berdagang. Akan tetapi, karena negeri pada saat itu mengalami penipisan persediaan lada yang kami cari, maka kami terpaksa melewatkan musim hujan tahun ini di sana, dengan maksud perjalanan ke Tiongkok pada tahun berikutnya.

Tatkala kami sudah berada di pelabuhan ini selama hampir dua bulan, dan dengan tenang berdagang di pasar setempat, seorang wanita bernama Nyai Pombaya tiba di sana sebagai duta sultan dari Demak. Dialah kaisar Pulau Jawa, Kangean, Bali, Madura dan semua pulau lain di kepulauan ini. Dialah seorang janda berusia menjelang enam puluhan. Dia diutus untuk menyampaikan suatu pesan atas nama kaisar kepada Tagaril, Raja Sunda, ‑yang juga menjadi bawahannya, sama seperti semua raja lain dalam kekaisaran ini. Maksudnya, supaya dalam jangka waktu satu setengah bulan ia hendak menghadapnya secara pribadi di kota Japara, tempat ia sedang melakukan persiapan untuk menyerang Kerajaan Pasuruan (Heuken,1999: 90).

 

Ketika ia datang di pelabuhan Banten, raja sendiri yang datang menjemputnya dan menyertainya ke tempat peristirahatan besar di istana lalu diterima oleh isterinya dan raja sendiri kemudian pergi ke bangunan lain.

Raja‑raja di sini telah biasa menyerahkan urusan kerajaan yang penting ditangani para wanita terutama bila kelancaran urusan tergantung kepada mereka. Hal demikian itu tidak saja mengenai permohonan bantuan urusan pribadi raja dan para perunding wanita umumnya telah berumur dan pandai menimbang-nimbang, serta memiliki beberapa persyaratan lainnya lagi.

Setelah Niay Pombaya menyampaikan pesan yang dibawanya kepada raja Sunda, bertolaklah ia dari kota Banten dan raja menyediakan tandu untuknya. la membawa armada yang terdiri atas 30 calalulez dan 10 jurupango diperlengkapi dengan keperluan perjalanan dan peralatan perang. Dalarn 40 kapal itu terdapat 7.000 orang, tidak terbitung para pendayung.

Dari 46 orang Portugis yang kebetulan sedang berusaha di Banten, 40 orang ikut serta dan dengan kejadian ini raja berjanji akan membantu perdagangan Portugis di Banten. Dengan demikian, pergi mengikuti ekspedisi perang ini (merupakan kesempatan yang) tak dapat dilewatkan.

Raja Sunda bertolak dari pelabuhan Banten pada tanggal 5 Januari 1546 dan tiba pada tanggal 19 bulan itu di kota Jepara. Di sana peralatan perang sedang disiapkan (Danasasmita, 1984: 46‑47).

Fernao Mendes Pinto, tidak mengetahui kekerabatan utusan Niay Pombaya dengan Bupati Hasanuddin. Niay Pombaya yang dimaksud Fernao Mendes Pinto, adalah Nyai Pembayun, isterinya Fadhillah Khan, adik Sultan Trenggono.

Tagaril yang dimaksud Fernao Mendes Pinto, adalah Ki Fadil, panggilan Fadhillah Khan sehari‑hari. Berdasarkan pendengaran, masyarakat Sunda Kalapa sendiri, menyebut Fadhillah Khan menjadi “Palatehan”, dan menyebut Fadhillah menjadi “Patahilah”

Ketika Fernao Mendes Pinto mencatatnya, Fadhillah Khan sedang berada di Surasowan Wahanten (Banten). Dari pendengaran, ia beranggapan bahwa “Adipati Sunda Kalapa” Fadhillah Khan itu adalah “raja Sunda”. Adanya anggapan seperti itu, dikuatkan oleh peran Fadhillah Khan, nampak lebih menonjol jika dibandingkan dengan Maulana Hasanuddin. Sebab, selain menjadi Bupati Sunda Kalapa, Fadhillah Khan berperan pula sebagai menantu Susuhunan Jati Cirebon, karena pernikahannya dengan Ratu Ayu janda Pangeran Sabrang Lor.

Fadhillah Khan, mempunyai kedudukan penting lainnya, yaitu sebagai panglima angkatan perang di Demak yang diperbantukan pula di Pakungwati Cirebon. Di dalam pemerintahan Pakungwati Cirebon, Fadhillah Khan merupakan “orang ketiga”, setelah Susuhunan Jati dan Pangeran Pasarean. Sedangkan Maulana Hasanuddin, baru berperan sebagai Adipati Wahanten, berada di bawah kekuasaan Pakungwati Cirebon. Oleh karena itu dapat dimaklumi, kalau Fernao Mendes Pinto menyangka “raja” Wahanten dan Sunda adalah di bawah kekuasaan Fadhillah Khan (Tagaril).

Dari catatan Fernao Mendes Pinto, yang penting diperhatikan, adalah tentang adanya hubungan multilateral, antara Wahanten ‑ Sunda Kalapa ‑ Pakungwati ‑ Demak ‑ Portugis. Portugis yang semula dimusuhi, bagi kepentingan mitra dagang, akhirrrya menjadi “negara sahabat”. Bahkan, Portugis diijinkan membuka kantor dagang di pelabuhan Wahanten Pasisir, serta menempatkan armada lautnya di sana. Portugis menerima kenyataan seperti itu, karena semua pelabuhan milik Kerajaan Sunda (Pajajaran), dianggap sudah berada “di bawah pengaruh” Demak. Sehingga Fernao Mendes Pinto mencatatnya, bahwa raja Demak penguasa seluruh Pulau Jawa, Bali, Madura, Angenia.

Kembali kepada Prabu Sakti, penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran. Penulis Kropak 406 Carita Parahiyangan, memperingatkan: Jangan ditiru oleh mereka yang kemudian, kelakuan raja ini (aja tirut de sang kawuri, polah sang nata). Prabu Sakti menjadi Raja Sunda Pajajaran selama 8 tahun, dari tahun 1465 Saka (1543 Masehi), hingga tahun 1473 Saka (1551 Masehi). la wafat di Pengpelangan.

Sang Prahu Sakti digantikan oleh puteranya, Sang Prabu Nilakendra, yang dikenal pula dengan sebutan Sang Penguasa di Majaya (Tohaan di Majaya). Pada masa pemerintahannya, keadaan Kerajaan Sunda (Pajajaran) sudah demikian rusak. Sehingga penulis Kropak 406 Carita Parahiyangan, mencatat pada masa pemerintahannya, dianggap sudah tibanya kaliyuga (jaman kali). Jaman yang sudah berada di ambang pralaya (kiamat, kehancurarr), yang hanya menampilkan kejahatan dan kemaksiatan.

Pemerintahan Prabu Nilakendra dijadikan pertanda, bahwa tidak akan lama lagi, Kerajaan Sunda (Pajajaran) akan pralaya, akibat angkara‑murka penguasanya. Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa puas dengan tanaman yang sudah ada (wong huma darpa mamangan, tan igar yan ta pepelakan).

Pada masa pemerintahan Prabu Nilakendra, keagamaan Sunda (purbatisti‑purbajati Sunda), sudah dicampakkan jauh-jauh. Prabu Nilakendra “memuja bendera keramat, memperindah keraton dengan membangun taman berbalai tanah diperkeras dengan batu, yang mengapit gerbang terlarang. Yang mendirikan bangunan megah 17 baris, dilukis dengan emas, menggambarkan bermacam-macam dongeng mitos (nu ngibuda sanghiyang panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah taman mihapikeun dora larangan. Nu migawe bale bobot pitu welas jajar tinulis pinarada warnana cacaritaan).

Setiap saat, keraton Pakuan Pajajaran, dimeriahkan oleh pesta pora. Makan enak, sambil minum‑minum “air yang memabukkan sebagai penyedap makanan” (cai tiningkalan nidra wisaya ning baksakilang) sampai mabuk. Bagi Prabu Nilakendra, tidak ada ilmu yang disukainya, kecuali perihal makarran lezat yang sesuai dengan kekayaannya (tatan agama gyan kwaliya rnarnangan sadrasa nu surup ka sangkan beunghar).

Prabu Nilakendra adalah penganut Tantrayana, yang sangat percaya kepada khasiat rnantera dan ajimat. Tantrayana, adalah kepercayaan mistis sinkretis, yang mengadopsi spiritual Budha dan Hindu. Akan tetapi, Tantrayana yang dianut oleh Prabu Nilakendra, telah,jauh mengingkari agama Budha dan Hindu yang sesunggulmya. Makan minum sampaimabuki, itulah, untuk mempercepat proses tak sadarkan diri, dalam mendahului upacara Tantrayana. Pikukuh (ajaran) Sunda tentang “makan sekedar pelapas lapar, minum tuak sekedar pelepas dahaga” (nyatu tamba ponyo, nginum tuak tamba hanaang) telah ditinggalkan lama sekali. Semua itu dilakukan oleh Prabu Nilakendra, dalam keadaan Kerajaan Sunda Pajajaran terancam musuh, serta dihantui bencana kelaparan. Itulah bunga pralaya yang disebut kaliyuga. Kerajaan Sunda Pajajaian telah berada di ambang pintu kiamat.

Pada tahun 1567 Masehi, serangan besar‑besaran laskar Surasowan Wahanten tiba, menembus jantung ibukota Pakuan. bendera keramat, jimat-jimat, mantera-mantera Tantrayana, tidak sanggup menahan gema “Allahhu Akbar” laskar Surasowan Wahanten. secepat kilat, pertahanan pasukan Pakuan Pajajaran dilumpuhkan.

Serangan laskar Surasowan Wahanten kali ini, sangat menarik untuk dicermati. Manakala tahta Kerajaan Sunda Pajajaran, sudah tidak lagi dipegang oleh keturunan Sri Baduga Maharaja. Sebab, ayahnya Prabu Nilakendra, yaitu Prabu Sakti, adalah menantu Prabu Ratudewata.

Panembahan Hasanuddin sebagai cicit Sri Baduga Maharaja, mempunyai hak yang sama, dengan para penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran. Selain itu, ia telah membuktikan, bahwa Surasowan Wahanten, adalah negeri yang kuat. Untuk melumpuhkan Kerajaan Sunda Pajajaran, tidak memerlukan bantuan Pakungwati atau pun Demak.

Tidak direbut dan tidak didudukinya kota Pakuan secara total, hanya disebabkan oleh rasa hormat kepada orang tuanya, Susuhunan Jati Cirebon, sebagai penanda‑tangan perjanjian Pakungwati‑Pajajaran. Persoalan merebut wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Berita tentang serangan kedua laskar Surasowan ini, dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, hanya tertulis secara singkat; Tohaan di Majaya kalah perang, karena itu tidak tinggal di Keraton (tohaan di majaya alah prangrang mangka tan nitih ring kadatwan). Tidak pernah ada berita, di mana Prabu Nilakendra dipusarakan. Mungkin dia tewas di pengungsian. Prabu Nilakendra berkuasa selama 16 tahun, dari tahun 1473 Saka (1551 Masehi), hingga tahun 1489 Saka (1567 Masehi). Kerajaan Sunda Pajajaran telah ditinggalkan oleh rajanya. Nasib kehidupan kota Pakuan, hanya dipercayakan kepada para pembesar yang tersisa, yang tidak menyertainya ke pengungsian.

 

 

  1. WAHANTEN MAHARDHIKA

 

Susuhunan Jati wafat pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka (19 September 1568 Masehi). Pada mulanya, calon pengganti Susuhunan Jati, diharapkan oleh puteranya, yaitu Pangeran Muhammad Arifm yang bergelar Pangeran Pasarean. Pangeran Muhammad Arifin atau Pangeran Pasarean, adalah putera Susuhunan Jati, dari Nyai GedengTepasan. Akan tetapi harapan itu tidak tetpenuhi, karena “putera mahkota” Pangeran Pasarean, wafat dalam usia muda.

Latar belakang tragedi, diawali terbunuhnya Sultan Trenggono, oleh bocah pengiringnya, ketika mengadakan penyerangan ke Pasuruan. Kemudian, terjadilah huru‑hara di kalangan kerabat keraton Kesultanan Demak. Calon pengganti Sultan Trenggono adalah puteranya, Sunan Prawoto. Kekosongan tahta Demak, dimanfaatkan oleh Arya Penangsang, Bupati Jipang, putera Pangeran Sekar (putera Raden Patah). Pangeran Sekar, adalah tokoh yang dibunuh oleh Sunan Prawoto, untuk memperlancar kenaikan tahta ayahnya, Sultan Trenggono. Atas restu gurunya, Sunan Kudus, Jipang menyerang Demak, dan Prawoto tewas di tangan Arya Penangsang. Pangeran Hadiri (suami Ratu Kalinyamat), adiknya Prawoto, tewas pula. Pada saat peristiwa itu terjadi, putera mahkota Cirebon, Muhammad Arifin (Pangeran Pasarean), sedang berada di Demak, ia pun tewas di tangan Arya Penangsang, karena berupaya membela Prawoto. Peristiwa itu sangat melukai hati Susuhunan Jati Cirebon.

Calon pengganti Susuhunan Jati lainnya, diharapkan adalah cucunya, yang bergelar Pangeran Suwarga. Pangeran Suwarga, adalah putera Pangeran Pasarean dari Ratu Nyawa. Ratu Nyawa atau Ratu Ayu Wulan, adalah janda dari almarhum Pangeran Bratakelana. Sedangkan Pangeran Bratakelana, adalah putera Susuhunan Jati, dari Syarifah Bagdad atau Syarifah Fatimah. Syarifah Fatimah, adalah puterinya Syekh Datuk Kahfi dan Hadijah.

Pangeran Suwarga, berkedudukan sebagai Pangeran Dipati (putera mahkota) Pakungwati Cirebon. Akan tetapi ia wafat tahun 1565 Masehi, mendahului kakeknya, Susuhunan Jati.

Calon pengganti Susuhunan Cirebon lainnya, adalah Pangeran Emas atau Panembahan Ratu, putera Pangeran Suwarga dari Wanawati Raras. Wanawati Raras, adalah puterinya Fadhillah Khan dari Ratu Ayu. Karena Pangeran Emas, pada waktu itu masih kanak‑kanak, pemerintahan Pakungwati Cirebon, untuk sementara ditangani oleh Fadhillah Khan.

Fadhillah Khan alias Maulana Fadhillah Al Paseh alias Wong Agung Paseh alias Tubagus Paseh, menjadi penguasa ketiga Pakungwati Cirebon, dengan gelar penobatan: Fadhillah Khan Al Paseh ibnu Maulana Makdur Ibrahim Al Gujarat. Kedudukan tertinggi itulah, yang menyebabkan adanya anggapan di kemudian hari, bahwa “Sunan Gunung Jati” (Susuhunan Jati) itu adalah “Fatahillah” (Fadhillah Khan).

Tampilnya Fadhillah Khan sebagai Sultan Pakungwati Cirebon, secara terselubung, menjadi masalah kerabat keraton lainnya. Naik tahtanya Fadhillah Khan, sebagai Susuhunan Cirebon, dianggap tidak semestinya. Mengingat, Fadhillah Khan adalah orang Pasai Sumatera, juga warga Demak. Sedangkan pada waktu itu, masih ada calon pengganti yang lebih berhak, yaitu:

Pangeran Cirebon atau Pangeran Carbon, putera Pangeran Cakrabuana (pendiri dan penguasa pertama Pakungwati Cirebon), yang saat itu berkedudukan sebagai Senapati Pakungwati Cirebon; dan Pangeran Sabakingkin atau Panembahan Maulana Hasanuddin, putera Susuhunan Jati dari Nyai Kawung Anten.

Melihat kenyataan seperti itu, Sang Adipati Wahanten Syekh Maulana Hasanuddin, akhirnya memproklarnirkan Kesultanan Surasowan Wahanten (Banten), sebagai negara yang mahardhika (merdeka), berdaulat, melepaskan diri dari kekuasaan Pakungwati Cirebon. Sekaligus, melepaskan diri dari pengaruh politik Demak. Wahanten Pasisir, sudah berubah menjadi purasaba (pusat pemerintahan) Kesultanan Surasowan, perkembangan dunia perdagangannya semakin pesat. Sendi‑sendi Islam, telah mewarnai kehidupan kenegaraan Surasowan. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad, martabat pedagang bukan lagi pekerjaan “kasta kelas tiga Waisa”. Surasowan, berhasil menjadi negari niaga maritim, mampu berdiri sendiri, sebagai pusat niaga di kawasan Nusantara.

Pada tahun 192 Saka (1570 Masehi), Panembahan Hasanuddin Sultan Surasowan Wahanten watat, digantikan oleh puteranya. Pangeran Yusuf: Pada tahun  yang sama, Sultan Pakungwati Cirebon Fadhillah Khan pun wafat, digantikan oleh Pangeran Ernas atau Panembahan Ratu.

Pangeran Yusuf, adalah putera Panembahan Hasanuddin dari permaisuri puteri Indrapura. Sedangkan dari isterinya yang kedua, Ratu Ayu Kirana atau Ratu Mas Purnamasidi (puteri sulung Raden Patah Sultan Demak), Panembahan Hasanuddin memperoleh beberapa orang putera: Ratu Winahon, – kelak menjadi isteri Tubagus Angke, Bupati Jayakarta (Jakarta); dan Pangeran Arya, – yang diangkat anak oleh Ratu Kalinyamat, kemudian ia dikenal sebagai Pangeran Japara.

Panembahan Hasanuddin, dipandang oleh masyarakat Banten, seperti tokoh Siliwangi oleh orang Sunda lainnya di Priangan. Hampir segala hal yang “aneh” atau “ajaib”, bila tidak dikenal asal‑usulnya, dialamatkan kepada Panembahan Hasanuddin. Misalnya, kisah tentang watu gilang, yang ditempatkan di depan Istana Surasowan. Menurut “Serat Banten”, batu itu bekas sajadah yang digunakan oleh Hasanuddin, ketika ia bersalat di permukaan laut. Permukaan batu yang mula‑mula kasar itu, dengan “doa” Hasanuddin, mendadak berubah menjadi licin, mengkilap dan berseri. Itulah kisah watu gilang sriman sriwacana yang sebenarnya diboyong oleh Panembahan Yusuf dari Pakuan. Bagi penulis “Serat Banten”, bukan Maulana Yusuf yang “menaklukkan” Pakuan, melainkan Hasanuddin. Karena Yusuf hanyalah menjalankan tugas dari ayahnya. Karena itulah, pada saat Pakuan jatuh tahun 1579 Masehi, dalam kisah “Serat Banten”, Panembahan Hasanuddin dibiarkan “tetap hidup”, walau sesungguhnya tokoh tersebut, telah wafat tahun 1570 Masehi dalam usia 92 tahun (Danasasmita,1964: 48).

Sejak Pangeran Yusuf menjadi Panembahan Surasowan, telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Satu persatu dari raja daerah bawahan Kerajaan Sunda (Pajajaran), berhasil ditundukkan. Panembahan Yusuf menjadi penguasa kedua Kesultanan Surasowan, dalam tahun yang sama dengan Panembahan Ratu, di Pakungwati Cirebon.

Dari segi hubungan kerabat, Panembahan Ratu adalah suan (anak adik) Panembahan Yusuf. Panembahan Ratu, tidak berusaha menjalin kekerabatan dengan Panembahan Yusuf. la lebih mencurahkan perhatiannya ke Pajang, kesultanan yang baru sebagai pengganti Kesultanan Demak. la murid dan sekaligus menantu Adiwijaya, penguasa Kesultanan Pajang.

Selain ditinggallcan oleh Surasowan, Panembahan Ratu Pakungwati Cirebon, kelak ditinggalkan pula oleh Sumedanglarang, yang memisahkan diri sebagai negara merdeka. Pakungwati Cirebon di bawah pemerintahan Panembahan Ratu, sudah demikian menurun kharismatiknya.

Tokoh‑tokoh yang menandatangani perjanjian Cirebon‑Pajajaran semua telah meninggal. Panembahan Yusuf lebih leluasa untuk menentukan masa depan Kesultanan Surasowan. Untuk melanjutkan perjuangan ayahnya, ia menyusun rencana matang selama 9 tahun, untuk mengambil alih sisa dari kekuatan Kerajaan Sunda Pajajaran.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah demikian maju sehingga Banten merupakan tempat penimbunan barang‑barang dari segala penjuru dunia yang nantinya disebarkan ke seluruh kerajaan di Nusantara (Sutjipto,1961:13; dalam Michrob,1993: 81).

Situasi perdagangan di Karangantu, sebagai salahsatu pelabuhan Surasowan, digambarkan sebagai berikut:

  1. Pedagang‑pedagang dari Cina, berdagang uang kepeng (uang yang terbuat dari logam), porselen, sutra, beludru, benang emas, kain sulaman, jarum, sisir, payung, selop, kipas, kertas, dan sebagainya. Ketika kembali ke negerinya, mereka membeli lada, nila, kayu cendana, cengkeh, buah pala, kulit penyu dan gading gajah;
  2. Orang Arab dan Persia, berdagang permata dan obat-obatan;
  3. Orang Gujarat, menjual kain dari kapas, sutera, dan kain putih dari Coromandel.

 

Ketika mereka kembali, membeli rempah‑rempah; Sedangkan orang Portugis berdagang aneka kain dari Eropa & India.

Barang-barang dari luar negeri ini diambil oleh pedagang‑pedagang dari Jawa, Makasar, Sumbawa, Palembang dan lainnya. Ke Banten pedagang-pedagang ini membawa garam dari JawaTimur, gula dari Jepara dan Jayakarta, beras dari Makasar dan Sumbawa, ikan kering dari Karawang, Banjarmasin dan Palembang. Minyak kelapa dari Belambangan, rempah‑rempah dari Maluku, lada dan Lampung dan Solebar, kayu cendana dan kepulauan Sunda kecil, gading gajah dari Andalas, tenunan dan Bali dan Sumbawa, timah putih dan timah hitam dan Perak, Kedah dan Selong di Malaka, besi dari Karimata, damar dari Banda dan Banjarmasin (Pane, 1950:182).

Dari awal dinasti Maulana Yusuf inilah Banten menjadi ramai, baik oleh penduduk pribumi maupun pendatang. Oleh karenanya dibuatlah aturan penempatan penduduk sesuai dengan keakhlian dan asal daerah penduduk itu (Ambary,1977: 448). Sehingga tumbuhlah perkampungan untuk orang India, perkampungan orang Pegu, orang Arab, Turki, Persia, Siam, Cina, dan sebagainya. Di samping ada pula perkampungan untuk orang Melayu, Ternate, Banjar, Bugis, Makasar, Bali (Tjandrasasmita, 1975: 160).

Tembok keliling kota diperkuat dan dipertebal, demikian juga tembok benteng di sekehling istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar bata dan batu karang dengan parit-parit di sekelilingnya (Michrob,1983: 31).

Di samping mengembangkan pertanian yang sudah ada, Maulana Yusuf pun mendorong rakyatnya untuk membuka daerah‑daerah baru bagi persawahan, sehingga sawah di Banten bertambah luas sampai melewati daerah Serang sekarang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah‑sawah tersebut, dibuatlah terusan‑terusan irigasi dan bendungan-bendungan (Djajadiningrat,1983: 38 dan 59).

Bagi persawahan yang terletak di sekitar kota, dibangun satu danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dan sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang kemudian dibagi ke daerah-daerah di sekitar danau. Tasikardi juga digunakan bagi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kebutuhan masyarakat di kota. Dengan melalui pipa‑pipa yang terbuat dan terakota, setelah dibersihkan/diendapkan di pengindelan abang dan pengindelan putih, air yang sudah jernih tersebut dialirkan ke keraton dan tempat‑tempat lain di dalam kota. Di tengah danau buatan tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga keraton (Michrob,1981: 56‑58).

Pada masa Maulana Yusuf, strategi pembangunan lebih dititikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Dengan demikian, gangguan keamanan, dapat diatasi dengan baik.

Setelah keadaan dalam negerinya dibenahi, rencana untuk rnemperluas wilayah kekuasaannya, mulai dipersiapkan. Panembalran Yusuf memobilisasi pasukan besar angkatan perang Surasowan. Sasaran utama penyerangan, adalah Pakuan, ibukota Kerajaan Sunda Pajajaran.

Laskar Surasowan Wahanten, dari sejak pemerintahan ayahnya, terkenal kemampuannya dalam melakukan serangan kilat, bergerak cepat dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Catatan VOC dalam bagian kedua abad ke‑17 penuh dengan istilah rover, yang semuanya dialamatkan kepada laskar Banten, karena mereka dianggap sebagai pengganggu ketertiban di daerah kekuasan Kompeni.

Situasi di Kerajaan Sunda Pajajaran, setelah Sang Prabu Nilakendra wafat, digantikan oleh puteranya, Nusiya Mulya atau Prabu Ragamulya Suryakancana. Pada masa pemerintahannya, Prabu Ragamulya Suryakancana, tidak tinggal di ibukota Pakuan Pajajaran, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itulah, ia lebih dikenal dengarr sebutan Pucuk Umun Pulasari. Disebut demikian, karena ia memilih tinggal di lereng gunung Pulasari (Pandeglang). Di sanalah ibukota Kerajaan Sunda Pajajaran ditempatkan, sebagai pusat pemerintahan yang baru.

Prabu Ragamulya Suryakancana, menjadi raja Sunda (Pajajaran) sudah tidak lagi mengenakan mahkota. Karena mahkota turun‑temurun dari Sri Baduga Maharaja, diamankan oleh panglima perang Jayaprakosa, beserta ketiga saudaranya, dibawa mengungsi ke wilayah Sumedanglarang. Kelak, mahkota tersebut dikenakan oleh Prabu Geusan Ulun sebagai Narendra Sumedanglarang.

Serbuan laskar Surasowan Wahanten, dipimpin langsung oleh Panembahan Yusuf. Kota Pakuan Pajajaran, sudah ditinggalkan oleh para pembesar kerajaan. Bila kenyataan yang terjadi, Keraton Pakuan Pajajaran dibumi‑hanguskan oleh laskar Surasowan Wahanten, sangat memungkinkan. Bagi Panembahan Yusuf, merupakan upaya “pembersihan”, terhadap kedzaliman. la tidak menghendaki, kebesaran dan nama baik Sri Baduga Maharaja, dinodai oleh para penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran.

Dari peninggalan yang ada, laskar Surasowan Wahanten, tampaknya tidak menggangu “tempat keramat” di dalam kota. Terbukti masih tersisanya prasasti Batutulis Kota Bogor. Hanya kepala patung Ki Purwagalih yang ditanggalkan.

Kemudian mereka memboyong Batu Gilang atau Palangka batu Sriman Sriwacana ke ibukota Surasowan. Dengan diboyongnya batu tersebut, maka di kota Pakuan, tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Palangka itu, menjadi tanda “keabsahan” Panembahan Yusuf, sebagai ahli waris dan penerus kekuasaan raja‑raja Pajajaran. Watu Gilang Sriman Sriwacana tersebut, terbuat dari batu andesit ukuran: 200 x 160 x 20 centimeter. Sekarang, Watu Gilang “tanda keabsahan Panembahan Yusuf sebagai penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran”, tergeletak terlantar di bekas halaman keraton Surasowan. Padahal, batu tersebut mempunyai nilai spiritual, yang dahulu digunakan untuk upacara penobatan Raja‑Raja Sunda.

Akibat serangan laskar Surasowan Wahanten, sebagian penduduk kota Pakuan yang tersisa, mengungsi ke pantai selatan, di Cisolok dan Bayah. Sampai sekarang, keturunannya masih merupakan kaum‑adat, dan menamakan pemukimannya: Kampung Ciptarasa. Menurut cerita leluhurnya, mereka meninggalkan kota Pakuan, ketika kota itu diserang laskar Surasowan Wahanten. Jejak peristiwa itu, secara samar‑samar, dikisahkan Ki Baju Rambeng, dalam Pantun Bogor.

Sesungguhnya, kota Pakuan telah “berhenti berfungsi” sebagai ibukota kerajaan, sejak Prabu Nfakendra meninggalkarmya. Raja Kerajaan Sunda Pajajaran yang terakhir, beribukota d.Puasari, Pandeglang. Prabu Ragamulya Surya Kancana, tentunya tidak membuat babak baru, untuk membangun Kerajaan Sunda Pajajaran. la hanya berlindung dan mempertahankan hidupnya di salah satu kerajaan daerah bawahannya. Namun mengapa ia justeru lari ke arah barat, ke suatu daerah yang lebih dekat ke sarang musuhnya?

Mungkin Pucuk Umun Masari tidak memposisikan dirinya sebagai raja “pemimpin pemerintahan”. la hanya sebagai “rajaresi”, neangan marga lantaran (mencari keutamaan jatidiri yang sesungguhnya), sambil menyongsong ajal tiba. Mungkin ia pergi ke Pulasari, hanya berdasarkan getaran “panggilan masa silam”, bahwa di sanalah, di Pulasari “dangiang Sunda wiwitan” (kekuatan Sunda awal) tersimpan. Semua atribut kebesaran kerajaan sudah ditanggalkan. la hanya seorang “raja pendeta” bersahaja, yang meninggalkan urusan duniawi.

Prabu Ragamulya Suryakancana, bersama pembesar dan pengikutnya yang setia, hanya berusaha mempertahankan diri, menangkis serangan laskar Surasowan Wahanten. Akan tetapi, “Pajajaran napak uga” (tiba saat berakhir). Sisa kekuatan Kerajaan Sunda Pajajaran di purasaba Pulasari, dibinasakan.

Sekelompok kecil yang bernasib baik, menyelamatkan diri ke Pegunungan Kendeng di Banten Selatan, bergabung bersarna masyarakat “Sunda Wiwitan” di Mandala Kanekes. Di sanalah yang sesungguhnya “Tanah Suci” religi Sunda, satu‑satunya pilihan untuk menemukan ketentraman hidup yang hakiki.

Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Peristiwa runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran, bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul `awal 987 Hyriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 Masehi.

Sang Prabu Ragamulya Suryakancana alias Pucuk Umun Pulasari, belum tentu mengetahui riwayat Sang Panghulu Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya, penguasa masyarakat Sunda pertama. Akan tetapi, napas tertua bentuk kerajaan, terlahir dan berawal di bumi Pulasari Pandeglang. Setelah riwayatnya mengalami pasang‑surut selama 1450 tahun, akhirnya berpusara di tempat lahir.

Prabu Ragamulya Suryakancana atau Pucuk Umun Pulasari, menjadi penguasa Kerajaan Sunda Pajajaran selama 12 tahun, dari tahun 1489 Saka (1567 Maselv) hingga tahun 1501 Saka (1579 Masehi). Sedangkan Panembahan Yusuf, menjadi penguasa Surasowan Wahanten selama 10 tahun, dari tahun 1492 Saka (1570 Masehi), hingga tahun 1502 Saka (1580 Masehi).

 

  1. SULTAN AGENG TIRTAYASA

 

PENYELAMAT TAHTA

Di bawah pemerintahan Panembahan Yusuf, Kesultanan Surasowan Wahanten (Banten), semakin berkembang pesat, terutama dalam hal pembangunan kota, pengembangan areal pertanian, niaga maritim, keamanan dan perluasan daerah kekuasaan. Sejak direbutnya Pakuan (ibukota Kerajaan Sunda Pajajaran) pada tahun 1579, wilayah tersebut sudah menjadi bagian dari Kesultanan Surasowan Banten. Panembahan Yusuf, berhasil menjadi pewaris sekaligus penerus tahta Kerajaan Sunda Pajajaran.

 

Dari permaisuri Ratu Hadijah, Maulana Yusuf mempunyai dua orang putera, antara lain:

  1. Rata Winahon; dan
  2. Pangeran Muhammad.

 

Ketika Maulana Yusuf sakit keras, Pangeran Arya bersama pasukan pengawalnya, di bawah pimpinan Ki Demang Laksamana, sudah berada di Kesultanan Surasowan Banten. Pangeran Arya, adalah putera Maulana Hasanuddin dari isterinya yang kedua, Ratu Ayu Kirana (puteri Raden Patah). Sejak kecil, Pangeran Arya dijadikan anak angkat oleh Ratu Kalinyamat (adik Ratu Ayu Kirana), tinggal di keraton Japara. Oleh karena itu, ia dikenal juga dengan sebutan, Pangeran Japara.

Pada tahun 1580, Maulana Yusuf meninggal dunia. Ketika itu, putera mahkota Pangeran Muhammad, baru berusia 9 tahun. Melihat kenyataan seperti itu, beberapa pembesar kerajaan (termasuk Mangkubumi Jayanagara), berniat menyerahkan tahta Kesultanan Surasowan, kepada Pangeran Japara. Akan tetapi, Panghulu Negara (Kadhi), melindungi dan mempertahankan Pangeran Muhammad, sebagai penerus tahta Kesultanan Surasowan Banten, sesuai dengan amanat Panembahan Yusuf.

Alangkah kecewanya Pangeran Japara. Konflik tidak dapat dihindari lagi. Maka terjadilah pertempuran sengit di luar benteng istana Surasowan. Pangeran Japara bersama pasukannya, terdesak oleh pasukan Surasowan Banten. Dalam pertempuran itu, Ki Demang Laksamana tewas di tangan Mangkubumi Jayanagara, yang akhirnya ikut melindungi din mempertahankan Pangeran Muhammad. Ambisi Pangeran Japara untuk merebut tahta Kesultanan Surasowan, tidak tercapai, dan akhirnya diusir dari Banten.

Setelah persitiwa itu, Maulana Muhammad dinobatkan menjadi Sultan Surasowan Banten yang ketiga. la lebih dikenal dengan sebutan Kanjeng Ratu Banten. Untuk menjalankan pemerintahan sehari‑hari, Mangkubumi Jayanagara, bertindak sebagai walinya.

Seperti halnya ayah dan kakeknya, Maulana Muhammad pun terkenal sebagai Sultan Banten yang saleh. la banyak menyusun kitab‑kitab hukum Islam dan mendirikan masjid, hingga ke pelosok-pelosok desa. Masjid Agung yang terletak di tepi alun‑alum diperindah, temboknya dilapisi porselen, dan tiangnya dibuat dari kayu cendana (Michrob,1993: 89).

Pada tanggal 2 April 1595 berlayarlah empat buah armada dagang Belanda milik “Compagnie van Verre’; di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan Pieter de Keyser. Bersama 249 pasukannya, mereka berangkat dari pangkalan Tessel, di bagian utara Kerajaan Belanda. Rupa‑rupanya, mereka telah mencium wangi rempah‑rempah Nusantara, dari berita pedagang Portugis. Melalui Tanjung Harapan, pada tanggal 22 Juni 1596, mereka berlabuh di pesisir Kesultanan Surasowan Banten.

Dalam pelayarannya, disertai juru tulis Willem Lodewycksz, sebagai pencatat perjalanan. la melukiskan keadaan perdagangan di Kesultanan Surasowan Banten, antara lain sebagai berikut:

 

Di sebelah timur kota, yaitu daerah Karangantu, terdapat sebuah pasar yang pagi maupun siang terdapat pedagang‑pedagang dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengali, Gujarat, Malabar, dan Abesinia. Juga terdapat pedagang‑pedagang dan Nusantara, seperti dari Bugis, Jawa, dan lain‑lain. Pasar kedua terletak di Paseban, yang memperdagangkan keperluan sehari‑hari. Dan pasar yang ketiga, terletak di Pacinan, yang dibuka sebelum dan sesudah pasar‑pasar lain tutup. Barang‑barang yang diperdagangkan di pasar ketiga ini bermacam ragam, mulai dari kain sutra dari Cina dan Gujarat sampai sisir dan kipas. Diceritakan pula, bahwa barang‑barang tekstil dari Gujarat ini 20 jenis. Transaksi perdagangan di pasar ini berjalan mudah, karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal (Michrob,1993: 89).

 

 

 

Sikap Cornelis de Houtman, yang kasar dan tidak bijaksana, membuat kunjungannya di Banten (22 Juni 3 Juli 1596), tidak menghasilkan apa‑apa. Bahkan, karena kecongkakannya, ia sempat ditahan oleh Penguasa Surasowan Banten. Armada dagang yang dipimpinnya, diusir dan pelabuhan Kesultanan Surasowan Banten.

Setelah terusir dari negeri Surasowan Banten, Cornelis de Houtman bersama pasukannya, melanjutnya perjalanan ke Jayakarta. Mereka tiba di sana, pada tanggal 13 November 1596. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan, menuju negeri Aceh Darusalam (1599). Karena sikap congkaknya, di negeri rencong itu, ia tewas terbunuh.

Sementara itu, penguasa Kesultanan Surasowan Banten Maulana Muhammad, pada tahun 1596 melancarkan aksi penyerangan ke Palembang. Peristiwa ini berawal dari hasutan Pangeran Mas, putera Aria Pangiri, cucu Sunan Prawoto Demak, yang ingin menguasai penguasa di Palembang.

Menurut catatan Hoesein Djajadiningrat dan Hamka yang dikutip oleh Halwany Michrob, penyerangan Sultan Maulana Muhammad ke Palembang, menggunakan kapal perang Kesultanan Surasowan Banten. la memimpin langsung pasukannya, didampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas.

Pertempuran sengit, berlangsung di sekitar Sungai Musi, hampir memukul mundur pasukan Palembang. Akan tetapi, Sultan Maulana Muhammad tertembak dan gugur di atas kapal Indrajaladri. Akhirnya, armada Kesultanan Surasowan Banten, ditarik mundur. Sultan Maulana Muhammad meninggal dalam usia 25 tahun.

Dari permaisuri Ratu Wanagiri (puteri Mangkubumi Jayanagara), Sultan Maulana Muhammad, berputera Abdulmafakhir, yang baru berusia 9 bulan. Akhirnya Abdulmafakhir diangkat sebagai pengganti ayahnya, melanjutkan tahta Kesultanan Surasowan Banten. Sultan yang masih bayi itu, didampingi oleh kakeknya, Mangkubumi Jayanagara, sebagai Wali Kesultanan. Akan tetapi, pada tahun 1602, Mangkubumi Jayanagara meninggal dunia.

Selanjutnya, jabatan Wali Kerajaan, diserahkan kepada adiknya Mangkubumi Jayanagara. Kedudukan Mangkubumi yang baru ini tidak berlangsung lama. Sebab, sikap dan tindakannya tidak sesuai dengan jabatannya. Akhirnya, pada tanggal 17 Nopember 1602, ia diturunkan dari jabatannya.

Perwalian, terpaksa dipegang langsung oleh ibunda Sultan, Ratu Wanagiri. Akan tetapi Ratu Wanagiri yang berstatus janda, menikah lagi dengan seorang bangsawan keraton. Suaminya diangkat menjadi Mangkubumi.

 

Sementara itu, pada tahun yang sama (1602), di Belanda terjadi peristiwa penting. Sejak pelabuhan‑pelabuhan di Nusantara ramai oleh kapal‑kapal dagang dari Eropa, terjadi persaingan ketat perdagangan memperebutkan rempah‑rempah dari negeri timur, yang ternyata merugikan perdagangan Belanda. Melihat kondisi seperti ini, Kerajaan Belanda membentuk Vereenigde Oost Indische Campagnie (VOC). Kongsi dagang tersebut, oleh penduduk Nusantara, dikenal sebagai Kompeni atau Kumpeni.

Sementara itu, di kalangan Keraton Surasowan Banten, sikap Mangkubumi sangat mengecewakan. la terlalu sibuk dengan urusan pribadi, yang mengabaikan kepentingan negara dan rakyat, menimbulkan rasa ketidakpuasan para pembesar kerajaan. Rasa ketidakpuasan itu, mencapai puncaknya, pada tahun 1604. Putera Maulana Yusuf dari isteri kedua, yaitu Pangeran Mandalika, mengadakan huru‑hara di pelabuhan, sebagai unjuk rasa atas kekecewaan terhadap Mangkubumi yang baru itu. Pangeran Mandalika bersama adiknya, Pangeran Arya Ranamanggala, didukung oleh pangeran‑pangeran lainnya, mendirikan benteng pertahanan di luar kota.

Melihat situasi seperti itu, Mangkubumi merninta bantuan Pangeran Jayakarta untuk menghentikan aksi Pangeran Mandalika. Didukung pula oleh pihak Inggris, akhimya pasukan Pangeran Mandalika tersingkir.

Huru‑hara untuk sementara dapat diredam. Akan tetapi, situasi di Kesultanan Surasowan Banten tidak semakin membaik. Bahkan, pada bulan juli 1608, terjadi kembali huru‑hara besar. Peristiwa tersebut, terkenal dengan sebutan Peristiwa Pailir. Pada tanggal 23 Oktober 1608, Mangkubumi terbunuh. Akhirnya, tugas perwalian Kesultanan dan jabatan Mangkubumi, dipegang oleh Pangeran Arya Ranamanggala.

Langkah pertama Pangeran Arya Ranamanggala, menindak tegas pejabat kerajaan yang melakukan penyelewengan. Mangkubumi Ranamanggala berusaha keras, agar Sultan Abdulmafakhir, untuk sementara tidak mencampuri urusan pemerintahan. Demikianlah cara Pangeran Arya Ranamanggala, menyelamatkan Kesultanan Surasowan Banten dari bencana perpecahan dan kehancuran.

Atas bantuan Kompeni lnggris East India Compagnie (EIC), pada tanggal 30 Mei 1619, Kompeni Belanda (VOC berhasil mengalahkan Jayakarta. Di sana mereka membangun sebuah benteng, yang diberi nama Batavia, sebagai peringatan terhadap nenek moyang bangsa Belanda, yaitu suku Bataav.

Pada tanggal 13 Mei 1626, Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia. Kekuasaan sepenuhnya, diserahkan kepada Sultan Abdulmafakhir. Sebagaimana ayah dan kakek buyutnya, Sultan Abdulmafakhir pun seorang ulama yang saleh. Dia banyak menyusun kitab‑kitab ilmu agama Islam, di antaranya Insan Kamil, yang kelak diambil oleh Dr. Snouck Hurgronje (Roesjan, dalam Michrob,1993:127).

Sultan Abdulmafakhir, adalah penguasa Kesultanan Surasowan Banten pertama yang dikukuhkan oleh Syekh Mekah, dan mendapat gelar Sultan Abdulmufakhir Mahmud Abdulkadir. .Gelar ini diperolehnya, ketika ia mengutus putera mahkota dan beberapa pembesar negara, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Begitu juga dengan putera mahkotanya, mendapat gelar Sultan Abdulma’ali Ahmad. Oleh masyarakat Kesultanan Surasowan Banten, Sultan Abdulmafakhir mendapat sebutan Sultan Agung Kanari.

Pemerintahan Sultan Abdulmafakhir, merupakan masa kemakmuran. bagi Kesultanan Surasowan Banten. Tidak hanya perdagangan internasionalnya saja yang semakin meningkat, akan tetapi, sektor pertanian dalam negeri juga mengalami kemajuan yang pesat. la seorang Sultan yang cepat tanggap, sering “terjun ke lapangan”, menyaksikan sendiri apa yang diperlukan oleh rakyatnya.

Dalam melaksanakan perniagaan antarbangsa, Sultan Abdulmafakhir, bersikap bebas. Pada tahun 1645, ia mencapai perjanjian perdagangan, dengan pimpinan Kompeni Belanda di Batavia. Kesepakatan perdagangan, tidak sedikitpun memberikan hak monopoli kepada Kompeni Belanda. Perjanjian itu, sepuluh tahun kemudian (1655) akan “diperbaharui”.

Pada tahun 1640, putera mahkota, Abdulma’ali, diangkat menjadi Sultan Anom. Akan tetapi, pada tahun 1650, ia meninggal dunia dalam usia muda. Dari permaisuri Ratu Martakusuma (puteri Pangeran Jayakarta), Sultan Anom Abdulrna’ali mempunyai anak, antara lain:

 

  1.    Ratu Pembayun;
  2.    Pangeran Surya;
  3.    Pangeran Arya Kulon;
  4.    Pangeran Lor; dan
  5.    Pangeran Raja.

Selanjutnya, kedudukan Sultan Anom, diserahkan kepada Pangeran Surya.

 

  1. SULTAN ABULFATH ABDULFATAH

 

Satu tahun setelah pengangkatan Pangeran Surya menjadi Sultan Anom (tahun 1651), penguasa Kesultanan Surasowan Banten, Sultan Abdulmafakhir Abdulkadir meninggal dunia. Tahta Kesultanan Surasowan Banten, dilanjutkan oleh cucunya, Pangeran Surya alias Pangeran Ratu.

 

Pangeran Surya, melanjutkan hubungan internasional dengan dunia luar, terutama dengan kekhalifahan Islam yang berpusat di Mekah. Pangeran Surya mengutus beberapa pembesar kerajaan, untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah, sambil memberitakan pergantian pimpinan di Kesultanan Surasowan Banten dan dunia perdagangan di Nusantara. Sepulang dari Tanah Suci Mekah, delegasi Kesultanan Surasowan Banten, membawa gelar dari Syekh Mekah untuk Pangeran Surya atau Pangeran Ratu, dengan sebutan Sultan Abulfath Abdulfatah.

Dalam menjalankan roda pemerintahan sehari‑hari, Sultan Abdulfatah dibantu oleh saudara‑saudara dan kaum kerabatnya, sebagai pejabat tinggi negara. Antara lain, empat orang saudara kandungnya, yaitu:

 

  1.    Pangeran Kilen;
  2.    Ratu Kulon;
  3.    Pangeran Lor; dan
  4.    Pangeran Raja.

 

Serta empat orang saudara seayah, yaitu:

 

  1.    Pangeran Wetan;
  2.    Pangeran Kidul;
  3.    Ratu Inten; dan
  4.    Ratu Tinumpuk.

 

Sebagaimana kakeknya (Sultan Abdulmafakhir), Sultan Abdulfatah sangat besar perhatian terhadap kesejahteraan hidup rakyat, sehingga ia sering berkeliling ke daerah‑laerah, untuk melihat sendiri kehidupan penduduknya. Begitu juga dalam menghadapi pedagang asing, Sultan Abdulfatah bersikap sama dengan para pendahulunya, yang selalu tegas menolak setiap tuntutan monopoli. Meskipun Pelabuhan Banten terbuka bagi semua pedagang, dari manapun asalnya, akan tetapi kegiatan perdagangan harus dilakukan dengan jujur.

Terhadap Kompeni Belanda, Sultan Abdulfatah bersikap tegas dan keras. Dengan berpegang pada “amanat” kakek dan ayahnya, bahwa “menyerang langsung sarang Kompeni Belanda ke Batavia, seperti yang pernah dilakukan oleh Mataram, merupakan pekerjaan yang sulit, bahkan kemungkinan besar akan gagal”. Oleh karena itu, Sultan Abdulfatah menggariskan strategi: Menghancurkan Kompeni Belanda di luar sarangnya, baik orang-orangnya, maupun sandaran ekonominya:

 

  1.    Kompeni Belanda, harus dipancing keluar dari sarangnya;
  2.    Perkebunan tebu beserta kilang‑kilang penggilingannya harus dimusnahkan; dan
  3.    Jalur angkutan laut, yang membawa keperluan Kompeni dari arah timur, harus dipotong.

 

Untuk memenuhi strategi itu, Sultan Abdulfatah membentuk kekuatan:

  1.    Di laut, satuan‑satuan armada kecil; dan
  2.    Di darat, satuan-satuan tempur yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dilatih bergerak cepat sebagai “satuan mobil”, tanpa basis yang tetap (gerilya).

 

Mengenai satuan tempur di darat, mengingatkan pada strategi yang pernah dilakukan oleh leluhurnya, Panembahan Hasanuddin, ketika merebut Wahanten Pasisir dan menyerang kota Pakuan Pajajaran. Pasukan “gerak cepat” itulah, yang ditakutkan oleh Kompeni Belanda. Pasukan gerak cepat Kesultanan Surasowan Banten, dalam satuan‑satuan kecil, beroperasi di belakang garis pertahanan Belanda, yaitu sebelah Timur Cisadane. Sebagai catatan, menurut perjanjian 1645, antara Kesultanan Surasowan Banten dengan Kompeni Belanda, disepakati bahwa batas wilayah kekuasaan, antara Kesultanan Surasowan Banten dengan Kompeni Belanda, adalah sungai Tangerang atau sungai Cisadane.

Di wilayah perbatasan, pasukan gerak cepat Kesultanan Surasowan Banten, memusnahkan tanaman tebu, dan menghancurkan kilang penggilingan gula. Hal iru memaksa pihak Kompeni Belanda untuk mengadakan patroli terus menerus. Akan tetapi, setiap ada kesempatan, pasukan patroli Kompeni Belanda, disergap oleh pasukan gerak cepat Kesultanan Surasowan Banten. Demikian pula halnya di perairan Ciasem dan Karawang, kapal‑kapal pengangkut dari arah Timur, dihadang oleh armada kecil pasukan Banten. Tujuannya, supaya kapal‑kapal itu, tidak akan pernah sampai ke Batavia.

Dari sistem strategi dan aksi‑aksi yang dilakukan, terlihat watak maritim Banten murni, yang dimiliki oleh Sultan Abdulfatah, yaitu: lincah dan tidak senang menunggu. Semua aksi‑aksinya, dilakukan dengan tujuan untuk bisa mencegah “pembaharuan perjanjian”, yang tidak diinginkannya. Setidaknya, dapat menekan pihak Kompeni Belanda, agar bersikap “lebih lunak” dalam meja perundingan.

Kompeni Belanda, yang semula bersikap “tenang” menghadapi Sultan Abdulmafakhir, hingga “berhasil” mengadakan perjanjian 1645, kini “dipusingkan” oleh kelincahan dan ketegasan Sultan Abdulfatah. Padahal Kompeni Belanda berharap, dalam “pembaharuan perjanjian”, pihaknya tidak akan mengalami hambatan dan kesulitan.

Sultan Abdulfatah, telah memusnahkan segala harapan Kompeni Belanda, mengenai “keuntungan” dagangnya dari Kesultanan Surasowan Banten. Kompeni Belanda harus berhadapan dengan seorang penguasa Banten, yang tangguh dan berwibawa

Sementara itu, pada tahun 1653, dalam tubuh Kompeni Belanda terjadi pergantian pimpinan. Johan Maetsuycker diangkat menjadi Gubernur Jenderal, menggantikan Carel Reynierszoon. Maetsuycker, adalah tenaga akhli dalam bidang hukum, yang membantu Dewan Hindia Belanda, sejak masa GJ. Anthony Van Diemen (1636 ‑1645). la terkenal cerdas, ulet, dan pandai bergaul.

Sebagai ahli hukum, Maetsuycker sangat mentaati aturan-aturan, yang telah digariskan oleh atasannya di Netherland. “Statuten Van Batavia”, yang memuat peraturan‑peraturan tentang tata tertib kehidupan di Batavia, adalah hasil dari buah tangannya. Para Direktur Kompeni di tanah airnya, sangat puas atas prestasi Maetsuycker, sehingga jabatan Gubernur Jenderal yang hanya berlaku 4 tahun, dipercayakan kepadanya sampai 7 kali (1653 ‑1678).

Maetsuycker tidak senang bertualang, selama 25 tahun menjadi Gubernur Jenderal, ia belum pernah meninggalkan Pelabuhan Batavia, kecuali untuk berburu di luar tembok kota. Untuk ukuran VOC yang bertugas di Nusantara, sikap Maetsuycker dinilai terlalu “halus” dan “hati‑hati”. Akan tetapi, ia mempunyai dua orang kawan, yang sekaligus menjadi penasihatnya, yaitu: Rijcklof Volckertsz van Goens dan Cornelis Speelman. Keduanya adalah orang Kompeni “tulen”, yang menjabat sebagai anggota Dewan Hindia. Menurut standar Jan Pieterszoon Coen, kedua penasihat Maetsuycker, telah memenuhi persyaratan, yaitu: mahir menjadi pedagang, merangkap Laksamana dan sekaligus Jenderal.

Baik van Goens maupun Speelman, telah mengamati nasib “Imperium Portugis” di kawasan Asia, yang tidak bertahan lama, karena bersifat “imperium laut murni” (hanya menguasai pelabuhan‑pelabuhan penting). Menurut pandangan mereka, pelabuhan harus memiliki daerah pedalaman dan pinggiran yang luas, sebagai sumber pangan, sekaligus menjadi pelindung terhadap ancaman serbuan musuh dari darat. Mereka mendorong, agar Maetsuycker bertindak lebih berani dan “lebih keras”. Untuk mencapai tujuannya, Maetsuycker, van Goens, dan Speelman, saling mengisi dalam watak dan pendapat. Trio itulah, yang harus dihadapi oleh Sultan Abdulfatah, selanu 30 tahun.

 

Kembali ke Kesultanan Surasowan Banten. Gangguan gerilya Kesultanan Banten, baik di darat maupun di laut, dijawab oleh Kompeni Belanda dengan memblokade Pelabuhan Banten. Terhadap tindakan itu, Sultan Abdulf’atah mengadakan tekanan balasan di sektor darat, dengan menarnbah kekuatan pasukan di daerah Angke Tangerang. Ancaman dari darat inilah, yang sangat ditakuti oleh Kompeni Belanda. Sebab di laut, Kompeni Belanda merasa lebih sanggup, mengunggudi armada Kesultanan Surasowan Banten.

Karena merasa lemah di sektor darat, Kompeni Belanda mencontoh strategi pasukan Kesultanan Surasowan Banten, derigan membentuk pasukan “pribumi”, yang berdasarkan kelompok etluk. Untuk memenuhi keperluan tersebut, banyak “budak” yang dibebaskan atau ditebus oleh Kompeni, dengan catatan bersedia menjadi tentara Kompeni Belanda.

Menjelang akhir masa perjanjian, Kompeni Belanda mengambil prakarsa, mengirim perunding untuk menghadap Sultan Abdulfatah, sambil membawa usul‑usul baru dari mereka. Dua kali Kompeni Belanda mengirimkan utusannya, dua kali pula Sultan Abdulfatah menolaknya. Sebab secara pribadi, Sultan Abdulfatah, tidak pernah mempercayai “niat baik” Kompeni Belanda. Sampai akhir tahun 1656, perundingan itu belum juga dapat dilaksanakan. Akan tetapi, sikap hati-hati yang dimiliki oleh Maetsuycker, membuat Kompeni Belanda “tetap bersabar”. Padahal, van Goens dan Speelman, menginginkan Maetsuycker, agar ia bertindak lebih keras.

Pada tahun 1657, sikap “kehati‑hatian” Maetsuycker, hampir berhasil. Kesultanan Surasowan Banten, bersedia membuka jalur perundingan. Pertukaran nota, dilakukan sampai beberapa kali. Pada tanggal 29 April 1658, utusan Kompeni Belanda, membawa usul “perdamaian”, sebanyak 10 pasal:

 

  1. Kedua belah pihak, harus mengembalikan tawanan perangnya masing‑masing.
  2. Banten harus membayar kerugian perang, berupa 500 ekor kerbau dan 1500 ekor sapi.
  3. Blokade Belanda atas Banten akan dihentikan, setelah Sultan Banten menyerahkan pampasan perang.
  4. Kantor perwakilan Belanda di Banten harus diperbaiki, atas biaya dari Banten.
  5. Sultan Banten harus menjamin keamanan dan kemerdekaan perwakilan Kompeni di Banten.
  6. Karena banyaknya barang‑barang Kompeni dicuri dan digelapkan oleh orang Banten, maka kapal‑kapal Kompeni yang datang di Banten dibebaskan dari pemeriksaan.
  7. Setiap orang Banten yang ada di Batavia, harus dikembalikan ke Banten, demikian juga sebaliknya
  8. Kapal‑kapal Kompeni yang datang ke Pelabuhan Banten, dibebaskan dari bea masuk dan bea keluar.
  9. Perbatasan Banten dan Batavia, ialah garis lurus dari Untung Jawa hingga ke pedalaman dan pegunungan.
  10. Untuk menjaga hal‑hal yang tidak diingini, warga kedua belah pihak dilarang melewati batas daerahnya masing‑masing.

(Michrob,1993:137).

 

Dengan tegas, Sultan Abdufatah menolak usulan tersebut, yang dinilai sangat tidak adil. Sultan Abdulfatah menegaskan, bahwa jika Kompeni Belanda menuntut perlakuan istimewa dari Banten, maka sebagal imbalannya, pihak Kompeni Belanda pun harus memberikan perlakuan istimewa terhadap Kesultanan Surasowan Banten. Oleh karena itu, sebagai imbalan, Sultan Abdulfatah menuntut:

 

  1. Menuntut, agar orang Banten, secara bebas dapat membeli meriam, peluru dan mesiu di pelabuhan Batavia,
  2. Menuntut, agar orang Banten, diijinkan langsung membeli rempah-rempah dan timah dari daerah produsen.

 

Sultan Abdulfatah sangat faham, bahwa kedua tuntutan itu tidak akan diluluskan oleh Kompeni Belanda, karena:

 

  1. Tuntutan yang pertama, artinya sama dengan menyuruh Kompeni Belanda, agar “bunuh diri”. Sebab, peralatan‑peralatan yang dimaksud, pasti digunakan untuk menghadapi Kompeni Belanda.
  2. Tuntutan yang kedua, merupakan pelanggaran terhadap hak monopoli Kompeni, yang telah diperolehnya, dengan mengorbankan jiwa dan biaya yang cukup banyak.

 

Seperti yang telah diduga sebelumnya, pihak Kompeni Belanda di Batavia menolak kedua usul Sultan Abdulfatah itu. Sebagai jawabannya, pada tanggal 11 Mei 1658, Sultan Abdulfatah membalasnya melalui surat, yang menyatakan bahwa “perundingan tidak mungkin dilalksanakan”. Penolakan tersebut, berarti menyulut sumbu perang terbuka.

 

Pasukan‑pasukan Kesultanan Surasowan Banten, sebelumnya sudah dipersiapkan dengan matang. Para komandan tempur dari berbagai tingkat, telah ditunjuk untuk menempati pos‑posnya masing masing.

 

  1. Arya Suryanata, di perairan Tangerang;
  2. Tumenggung Wirajurit, di perairan Karawang;
  3. Ratu Bagus Singandaru, di perairan Tanara;
  4. Ratu Bagus Wiranatapada, di perairan Pontang;
  5. Suranubaya, di perairan Labuhan Ratu; untuk mencegah pendaratan pasukan Kompeni Belanda di pantai Selatan.

 

Selain itu, sebuah satuan tempur darat, ditempatkan di pantai Caringin, perairan Selat Sunda, di bawah pimpinan Wirasaba dan Purwakarti.

Pasukan tempur darat dengan kekuatan 5,000 orang, segera dikirimkan ke daerah perbatasan Angke Tangerang, di bawah komando Senapati Ingalaga (nama ini sebenarnya berarti: Panglima Perang). la didampingi oleh Rangga Wirapata sebagal Wakil Panglima, dan Haji Wangsareja sebagal Imam Pasukan. Dengan melalui jalan darat, selama 9 hari, pasukan tempur itu berangkat dari Ibukota Surasowan ke daerah Angke‑Tangerang.

Sedangkan satuan Artileri Banten, khusus ditugaskan melindungi ibukota Surasowan, dengan kekuatan 60 meriam. Sepuluh di antaranya, jenis canon (meriam besar), yang masing-masing diberi nama. Di antara meriam‑meriam itu: Si Jaka Pekik, Si Muntab dan Si Kalantaka, yang terkenal paling ampuh dan paling banyak mengenai sasaran.

Pertahanan ibukota, dipusatkan di sekitar pelabuhan, untuk menjaga serangan dari laut. Hal ini dilakukan, karena dalam rangka blokadenya, Kompeni Belanda menempatkan satuan armada, yang terdiri dari 11 kapal di kawasan Teluk Banten. Kapal‑kapal milik Kompeni Belanda itu, selalu “berkeliaran”, di sekitar Pulodua dan Pulolima. Oleh karena itu, Sultan Abdulfatah memerintahkan, agar semua moncong meriam diarahkm ke pantai Teluk Banten.

Ketika Kompeni Belanda menyerang Surasowan dari taut, berhasil digagalkan oleh pasukan tempur Kesultanan Surasowan Banten, setelah melalui pertempuran sengit artileri sehari penuh. Kapal-kapal Kompeni Belanda, mulai memuntahkah tembakan salvo. Akan tetapi, balasan dari pasukan ardleri Banten, yang menyebar di sekitar pelabuhan, tidak memberi peluang kepada kapal‑kapal Kompeni Belanda untuk mendekati garis pantai. Pertempuran sengit itu, berlangsung sampai senja hari.

Sebelum malam tiba, armada Kompeni Belanda, mundur dari garis pantai pertahanan pasukan Kesultanan Banten, menuju ke laut lepas. Pasukan‑pasukan itu tidak kembali lagi, selama perang antara Kesultanan Surawowan Banten dengan Kompeni Belanda, yang berlangsung hampir satu tahun lamanya.

Sementara itu, di garis depan Angke‑Tangerang, terjadi stagnasi. Pertempuran yang sudah berlangsung hampir satu tahun, belum ada pihak yang mendahului maju atau mundur. Padahal, dari kedua belah pihak, telah banyak korban yang jatuh. Melihat kenyataan ini, Sultan Abdulfatah mengambil keputusan, untuk mengadakan penyegaran pasukan.

Pimpinan baru, Arya Mangunjaya dan Arya Wiratmaja, ditunjuk untuk mengganti Senapati Ingalaga dan Rangga Wirapata. Kemudian Sayid Ali, ditunjuk menggantikan kedudukan Haji Wangsareja. Mereka dibekali pasukan baru, untuk menggantikan sebagian pasukan lama, yang sudah memerlukan istirahat.

Strategi militer Sultan Abdulfatah ini, dipandang sebagai ancaman baru, oleh Kompeni Belanda. Sebab, dengan kekurangan tenaga cadangan dan sulit mengganti maupun menambah pasukan, Kompeni Belanda hanya mampu bertahan. Di Batavia, Gubemur Jenderal bersama 9 orang anggota Dewan Hindia, mengambil keputusan untuk mengajukan usul perdamaian kepada Sultan Banten, melalui jasa baik Sultan Jambi sebagai perantara. Akhirnya, pada tanggal 10 Juli 1659, di bawah pimpinan Kiai Demang Dirade Wangsa dan Kiai Ingali Marta Sidana, bertindak atas nama Sultan Jambi. Perundingan berlangsung di Batavia. Sultan Abdulfatah sendiri hadir, untuk menghadapi Gubernur Jenderal Maetsuycker.

Sultan Abdulfatah, menyetujui dan menandatangani perjanjian “perdamaian” itu, karena pihak Kompeni Belanda, tidak menuntut hak monopoli. Oleh karena itu, Kesultanan Surasowan Banten pun menarik kembali tuntutannya, tentang hak membeli senjata dari Batavia, dan hak memperoleh rempah‑rempah (pala dan cengkeh) serta timah secara langsung dari produsen. Kompeni Belanda, diperlakukan sama dengan kongsi‑kongsi dagang lainnya, dan Kesultanan Surasowan Banten, tetap harus membeli bahan rempah‑rempah dan timah, dari pasar Batavia.

Sebetulnya, titik berat dari perjanjian itu, adalah: pengukuhan garis perbatasan, sepanjang sungai Cisadane. Setiap pelanggar batas dari kedua belah pihak, tanpa alasan yang sah, akan ditangkap. Bagi orang Kompeni Belanda, yang membelot ke Kesultanan Surasowan Banten, kemudian memeluk agama Islam, dalam jangka waktu tiga bulan sebelum perjanjian ditandatangani, harus dikembalikan ke Batavia.

 

Sebagai catatan, Sultan Abdulfatah sangat menghargai orang asing, terutama bagi yang memiliki keterampilan di bidang teknologi. Sultan Abdulfatah akan menawarkan pekerjaan, dengan bayaran tinggi. Kemudian, bila teknisi yang bersangkutan bersedia masuk Islam, Sultan Abdulfatah akan memberi jabatan resmi kepadanya. Bahkan bila dianggap layak, akan diberi gelar kebangsawanan.

Kemudian, Kesultanan Surasowan Banten harus membayar harga ternak, yang telah dirampas oleh pasukan gerilya Banten, dari para kawula Kompeni Belanda di sekitar Batavia. Kelak terbukti, bahwa para gerilyawan Banten, mengalihkan operasi “penyergapan ternak”, ke daerah pedalaman Cileungsi dan Cianjur.

Sedangkan konsesi bagi Kompeni Belanda, adalah kantor perwakilannya di ibukota Surasowan Banten, tetap diperbolehkan dibuka. Bahkan, biaya pemeliharaan kantor tersebut, menjadi tanggungan pemerintah Kesultanan Banten. Strategi Sultan Abdulfatah ini, bertujuan agar dapat mengawasi kegiatan Kompeni Belanda secara lebih ketat. Sebab, kantor perwakilan Kompeni Belanda di ibukota Surasowan Banten, sekaligus berfungsi sebagai “sarang mata‑mata”.

 

Adapun keringanan lain yang diperoleh oleh Komperri Belanda, antara lain sebagai berikut:

 

  1. Bila kapal Kompeni yang masuk pelabuhan Banten, atas permintaan kepala perwakilannya, atau terpaksa singgah karena memerlukan air, tidak dikenakan bea pelabuhan.
  2. Bila dalam kapal Kompeni itu, ada barang yang dianggap terlarang, petugas pemeriksa dari pihak Banten, dapat menyitanya. Kemudian barang tersebut dikirimkan ke Jakarta.

 

Di balik masa jeda “gencatan senjata” itu, sesungguhnya kedua belah pihak “memerlukan istirahat”. Perang selama 11 bulan dengan keadaan “seimbang”, telah ikut memperlancar tercapainya perdamaian, antara Kompeni Belanda dengan Kesultanan Surasowan Banten.

 

 

  1. NEGERI PERDAGANGAN MARITIM

 

Sultan Abdulfatah tidak pernah lengah akan kelicikan Kompeni Belanda, yang selalu memanfaatkan kesempatan, dengan cara mencari setiap kelemahan, untuk mencapai tujuannya, yaitu menanamkan hak monopoli atas perniagaan di Kesultanan Banten. Dalam masa damai di bawah perjanjian 10 Juli 1659, Sultan Abdulfatah mengisinya dengan memperbaiki keadaan dalam negeri. Sebab selama perang berlangsung, telah banyak hal yang terabaikan.

Salah satunya, Sultan Abdulfatah memecahkan persoalan di pos pertahanan perbatasan di sebelah timur. Posko pertahanan sebelah timur ini, banyak mernakan biaya yang amat tinggi. Hal ini disebabkan, selain letaknya yang jauh, juga sarana perhubungannya sulit. Sehingga tempat itu baru bisa dicapai dari ibukota Surasowan, dalam tempo 9 hari perjalanan. Pada saat perang berlangsung, sepertiga dari pasukan yang dikirimkan ke perbatasan, ditugaskan untuk mengangkut dan mengelola perbekalan. Kondisi ini mengakibatkan daya guna pasukan relatif rendah, karena beban logistik yang terlalu berat.

Oleh karena itu, Sultan Abdulfatah mengambil tindakan dengan dua cara, antara lain sebagai berikut:

 

Pertama. Dibangun saluran secara berantai, dari Pontang ke daetah Angke‑Tangerang. Saluran itu, dibuat sepanjang jalan lama, dan dapat dilalui perahu‑perahu kecil. Dengan demikian, penggunaan tenaga manusia untuk angkutan barang, dapat dikurangi dan angkutan pasukan dapat dipercepat. Jalur itupun aman dan gangguan armada Kompeni Belanda, karena terletak cukup jauh dari pantai. Dari catatan Kompeni Belanda dapat diketahui, bahwa pembuatan saluran tersebut, dimulal tahun 1660 dan memakan waktu kira‑kira 10 tahun.

 

Kedua. Sultan Abdulfatah memindahkan penduduk sebanyak kira‑kira 6.000 jiwa, untuk dimukimkan di tempat-tempat tertentu, sepanjang saluran yang baru. Di sebelah kiri dan kanan saluran, masyarakat dianjurkan mencetak sawah. Strategi ini, bukan saja memperbanyak penduduk di sekitar wilayah timur, tetapi lebih mendekatkan sumber logistik ke daerah perbatasan.

 

Persiapan‑persiapan matang yang dilakukan oleh Sultan Abdulfatah, tidak Iuput dari intaian dan penilalan Kompeni Belanda yang semakin cemas dan gemas. Kompeni Belanda menyadari, tujuan Sultan Banten yang tangguh itu. Kecemasan dan kegemasan Kompeni Belanda, tampak dalam laporan Rijcklof Volckertsz van Goens, ketika ia telah menjabat kedudukan Gubemur Jenderal, kepada atasannya di Netherland, pada tanggal 31 Januari 1679, bahwa “Banten harus ditundukan, bahkan dihancur-lumatkan, atau. Kompeni yang akan lenyap”.

 

Kesultanan Surasowan Banten, dianggap sebagai saingan utama oleh Kompeni Belanda. Selain karena letaknya berdampingan dengan pusat kekuasaan Batavia, Banten pun merupakan sebuah negara maritim, dengan tulang punggung ekonominya mengandalkan perdagangan internasional. Terbukti, negara yang terletak di ujung barat Pulau Jawa itu, telah berhasil mengimbangi kekuatan militer Kompeni Belanda.

Kecemasan pihak Kompeni Belanda, ditambah lagi dengan tindakan Mataram pada tahun 1661, yang mengirimkan koloni petaninya, sebanyak 500 orang ke Muara Beres, sebuah tempat di pinggiran Sungai Ciliwung. Di Muara Beres, yang terletak di antara Jakarta dengan Bogor, koloni Mataram ditugasi mencetak sawah baru. Muara Beres, pernah dijadikan pangkalan “pasukan rakit”, ketika Sultan Agung Mataram mengerahkan tentaranya, untuk mengepung benteng Batavia.

Peristiwa ini pun turut diperhitungkan oleh Sultan Abdulfatah. Sebab, Muara Beres terletak sejauh 4 jam perjalanan, ke sebelah timur dari Wales, pos terdepan pasukan Banten, dengan kekuatan 4.000 orang. Dari Wales, terdapat sebuah jalan darat melalui Pagutan (sebelah barat Ciputat), yang menuju Batavia, atau ke arah tenggara Muara Beres. Mata‑mata Banten mendapatkan, bahwa pemukiman orang Mataram itu, dihuni petani biasa (bukan tentara). Banyak di antaranya, orang Paledang (pembuat alat‑alat tembaga), dan mereka dianggap “tidak berbahaya”.

Selain pembangunan fisik, Sultan Abdulfatah, dengan jiwa “Maritim Banten”‑murninya mempererat hubungan dagang internasional, dengan kongsi‑kongsi dagang Eropa yang bukan Belanda. Dengan demikian, dapat diraih tiga macam keuntungan sekaligus, yaitu:

 

  1.    Peningkatan ekspor;
  2.    Hubungan persahabatan dengan saingan‑saingan Kompeni Belanda;
  3.    Alih teknologi.

 

Melalui Kompeni Inggeris EIC (East Indie Compagnie), Sultan Abdulfatah, mengadakan kontak diplomatik dengan kerajaan Inggeris. Dari orang EIC, ia memperoleh informasi rahasia, tentang keadaan organisasi induk VOC di Netherland.

Ketika pecah perang, antara Belanda dengan Inggeris dan Perancis pada tahun 1672, peristiwa itu segera diketahui oleh Sultan Abdulfatah, dari para pelaut Inggeris dan Perancis yang datang di pelabuhan Banten.

 

Dalam jalinan persahabatan internasional ini, Sultan Abdulfatah, mengundang para teknisi Eropa. Mereka dilibatkan dalam pembangunan kapal-kapal niaga, yang memiliki daya jangkau jauh, mampu berlayar hingga mencapai Philipina, Macao, Benggala dan Persia (Iran).

Sebagian besar para teknisi Eropa itu, dilibatkan pula dalam perbaikan komplek keraton Surasowan. Istana yang megah itu, dibuat lebih indah dan lebih tahan dari serangan. Keraton Surasowan, dilengkapi pancuran dan danau buatan. Seluruh komplek, dilindungi tembok terbuat dari bata merah, yang cukup tebal. Pada sudut‑sudut benteng, ditempatkan menara jaga. Jalan masuk menuju komplek Istana, berbentuk busur, diberi dinding bata pada kedua tepinya, untuk menghindari pengintaian dari luar. Di sekitar tembok benteng, dibuat pula saluran yang cukup lebar. Jejak-jejak tangan teknisi Eropa, tampak berbaur dengan arsitektur tradisional.

Selain Istana Surasowan di pusat ibukota, Sultan Abdulfatah pun membangun keraton baru di sebelah tenggara Pontang, tidak jauh dari pantai. Dalam sumber Belanda yang sejaman, keraton itu dilaporkan bercorak modern. Keraton dibangun untuk tempat tinggal Sultan Abdulfatah, dan berfungsi sebagai benteng cadangan, bila terjadi hal darurat di ibukota Surasowan. Karena keistimewaan sistem saluran airnya, keraton baru itu dinamai Tirtayasa. Dari nama keraton itulah, kelak Sultan Abdulfatah dikenang oleh rakyat Banten, sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.

Salah satu teknisi Eropa itu adalah Henrik Lucaszoon Cardeel, seorang “tukang batu” kelahiran Steenwijk, Negeri Belanda. Setelah Henrik Lucaszoon Cardeel masuk Islam, Sultan Abdulfatah memberikan gelar kebangsawanan, dengan nama Tubagus Wiraguna. Kelak, ia dihadiahi sebidang tanah di Batavia (daerah Ragunan, sekarang). De Haan berpendapat, bahwa nama tempat itu (Ragunan), merupakan singkatan dari Wiraguna (Lombard, 1996: 303).

Upaya hubungan diplomatik dilakukan pula dengan Denmark. Melalui kongsi dagangnya, perjanjian dagang antara Banten‑Denmark, dapat ditandatangani tahun 1670. Hal tersebut, dapat dilihat dalam surat dinas Sultan Abdulfatah, yang ditulis menggunakan bahasa Melayu beraksara Arab. Surat tersebut ditujukan kepada Raja Christian V Denmark, pada tahun 1671, yang isinya sebagai berikut:

Ini surat menyatakan tulus dan ikhlas daripada Paduka Seri Sultan Abu’l‑Fath di Banten yang mengempukan tahta pekerjaan (sic) dalam negeri Banten khallada’llahu mulkahu wa‑sayyara a’naka a’adihi milkahu datang kepada raja Danamarka yang bernama Raja Kerristian anak Raja Parraiderrai yang mengempukan tahta pekerjaan dalam negeri Dananarka raja yang termashur gagah berani dalam segala negeri atas angin dan negeri bawah angin ialah raja yang amat bangsawan serta setiawan dan yang bijaksana pada memerintah segala pekerjaan di darat dan di laut serta mengelakukan isti’adat raja‑raja dalam negeri Danamarka.

Adapun kemudian daripada itu bahwa surat dan bingkis daripada raja Kerristian itu telah sampailah kepada Raja Paduka Serri Sultan di Banten dengan sempurnanya. Maka apabila dibukalah surat itu daripada meterainya semerbaklah bau‑bauwan yang amat harum daripada kasturi dan `anbar akan mengatakan perkataan tulus dan ikhlas dan hendak berkasih‑kasihan. Sahdan barang maksud Raja Kerristian yang tersebut dalam kitabat itu telah diketahuilah oleh Paduka Seri Sultan di Banten, maka Paduka Seri Sultan pun terlalulah sukacita sebab mendengar perkataan Raja Kerristian yang tersebut di dalam kitabat itu.

Sebermula Paduka Seri Sultan meminta kepada Raja Kerristian jual-jualan obat bedil pada tiap‑tiap masa kapal berlayar ke Banten sekira-kira obat bedil itu seratus pikul dan demikian lagi peluru bedil besar-besar.

Shahdan Paduka Seri Sultan memberi Ma’lum kepada Raja Kerristian dahulu kala Kapitan Haddelar menitipkan lada kepada angabehi Cakradana banyaknya lada itu seratus bahara dan tujuh puluh enam bahara. Tamat (Naerssen,1977: 159).

Sementara itu, di lingkungan Istana Kesultanan Surasowan Banten, pada tanggal 16 Februari 1671, Sultan Abdulfatah mengangkat Abdulkahar sebagai Pangeran Gusti atau putera mahkota. Abdulkahar, adalah putera Sultan Abdulfatah dari permaisuri Ratu Adi Kasum. Peristiwa ini, bertepatan dengan datangnya surat dari Syekh Mekah, yang memberi gelar kepada Pangeran Gusti, yaitu Sultan Abu’nasr Abdulkahar, yang kelak lebih dikenal sebagai Sultan Haji.

Sultan Abu’nasr Abdulkahar, diberikan tugas dan wewenang untuk mengatur urusan dalam negeri Kesultanan Surasowan Banten. Sedangkan kekuasaan dan urusan luar negeri, sepenuhnya masih dipegang oleh Sultan Abdulfatah. Sejak itulah, Sultan Abdulfatah pindah ke kediaman yang baru, di Istana Tirtayasa

Selanjutnya, pada tahun 1674, putera mahkota Sultan Haji, diperintahkan oleh ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus melakukan perlawatannya ke Turki, guna menjalin persahabatan dengan pusat kekuatan Islam dunia Petjalanan Sultan Haji dalam perlawatan diplomatik, memerlukan waktu 2 tahun.

Kesultanan Surasowan Banten memanfaatkan masa yang relatif damai, berdasarkan perjanjian 10 Juli 1659, untuk mengungguli persiapan Kompeni Belanda. Setiap saat, perang antara Kesultanan Surasowan Banten dengan Kompeni Belanda, dapat saja meletus.

 

Hal yang meredakan ketegangan, di antara kedua belah pihak, adalah sikap Gubernur Jenderal Johan Maetsuycker. Sikapnya yang sangat hati-hati, membuat ia mengambil sikap netral, bila terjadi pertikaian di antara kerabat keraton di Nusantara.

Saran van Goens dan Speeltnan, agar Kompeni bertindak cepat melumpuhkan Banten, tidak dihiraukan oleh Johan Maetsuycker. Kekhawatirannya, Kesultanan Surasowan Banten, bersahabat baik dengan kongsi dagang Inggeris dan Perancis, ketika pecah perang antara Belanda dengan Inggris‑Perancis tahun 1672.

Sementara itu, untuk mengamankan hak monopoli rempah‑rempah di wilayah timur, Speelinan berhasil menggulung Ternate dan menundukkan Makasar. Dalam perjanjian Bongaya (1667), Makasar harus mengakui keunggulan Kompeni, dan kehilangan kebebasannya. Dalam kejadian ini, Cornelis Speelinan mengutamakan jasa baik Aru Palaka, Raja Bone yang terusir oleh Sultan Hasanuddin, ketika kerajaannya ditundukkan oleh Makasar. Tanpa bantuan Aru Palaka yang hafal keadaan daerah pedalarnan Makasar, belum tentu Kompeni Belanda berhasil menggulung kekuatan Makasar.

Oleh sebab peristiwa itu, Sultan Ageng Tirtayasa, kehilangan sekutunya di kawasan timur. Sisa‑sisa laskar Makasar, banyak yang menyingkir, kemudian bergabung dengan laskar Banten. Dalam laporan perwakilan Belanda di Banten, diberitakan bahwa selama bulan Agustus dan September 1671, berturut‑turut telah datang ke Banten, 800 dan 300 orang Makasar. Mereka ikut memperkuat angkatan perang Banten.

Ketika pecah pemberontakan Trunojoyo, bukan saja orang Makasar yang ada di Banten, melainkan juga laskar Banten ikut membantu gerakan bangsawan Madura itu. Bantuan senjata dan perbekalan, diberikan pula oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Akibat adanya persaingan kekuasaan di Pulau Jawa, terlebih setelah Sultan Agung Mataram menguasai Priangan, hubungan Banten dengan Mataram, tidak pernah mulus, cenderung mengarah kepada permusuhan. Koloni petani Mataram di Karawang, justeru selalu diganggu keamanannya oleh laskar Banten, bukan oleh Kompeni yang menjadi sasarannya.

Karena persaingan itulah, walaupun secara resmi tidak pernah berperang, akan tetapi Sultan Ageng Tirtasaya tidak mau bekerjasama dengan Mataram, dalam perjuangannya ketika mengusir Kompeni dari Batavia. Kedua belah pihak saling membiarkan, bila salah satu pihak diancam Kompeni. Terbukti, Sultan Ageng Tirtayasa menempatkan Kesultanan Banten sebagai pendukung Trunojoyo, dalam pemberontakan melawan Sunan Amangkurat I Mataram.

 

Peristiwa pemberontakan Trunojoyo, telah mempererat hubungan antara Pakungwati Cirebon dengan Kesultanan Banten. Sebagaimana telah dikemukakan, menurut penuturan Pangeran Wangsakerta, dalam peristiwa itu, kedua orang kakaknya, yaitu Samsudin Martawijaya dan Badridin Kartawijaya, tertawan oleh Trunojoyo dan dibawa ke Kediri. Mereka bersama ayahnya, Panembahan Girilaya, tidak diperkenankan pulang ke Cirebon oleh Amangkurat I Mataram.

Pemerintahan Pakungwati Cirebon, diwakili oleh Pangeran Wungsakerta, putera Panembahan Girilaya yang bungsu. Pangeran Wangsakerta segera pergi ke Banten, merninta jasa baik Sultan Ageng ‘Tirtayasa, untuk membebaskan kedua kakaknya dari tangan Trunojoyo.

Melalui sepucuk surat dari Sultan Ageng Tirtayasa, berangkatlah sebuah kupal perang Banten membawa perlengkapan menuju perairan Jaw a Timur. Menggunakan kapal itu pula, kedua pangeran Cirebon itu kembali ke pelabuhan Banten.

Menurut Pangeran Wangsakerta sendiri, sesungguhnya Sultan Ageng Tirtayasa‑lah, yang melantik resmi (mewisuda) mereka bertiga, menjadi penguasa Pakungwati Cirebon. Masing‑masing, sebagai Sultan Sepuh, Sultan Anom dan Wangsakerta sendiri sebagai Panembahan Cirebon. Menggunakan kapal perang Banten pula, mereka diantarkan ke Pakungwati Cirebon, untuk memulai tugas sebagai akhli waris Panembahan Girilaya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1677.

Akibat peristiwa itulah, hubungan kekerabatan antara Pakungwati Cirebon dengan Surasowan Banten, yang telah lama retak, dapat dipererat kembali. Sebagai sesama keturunan Susuhunan Jati Cirebon Syekh Syarif Hidayat, Sultan Ageng Tirtayasa, adalah saudara sepupu jauh ketiga orang penguasa Cirebon itu.

Hanya saja, Kesultanan Surasowan Banten, tidak menyukai hubungan akrab antara Pakungwati Cirebon dengan Mataram, karena alasan politik. Sedangkan pihak Pakungwati Cirebon, mempunyai jalinan kekerabatan yang lebih dekat, dengan keraton Mataram. Ibunda Amangkurat I, adalah kemenakan Panembahan Ratu, buyut ketiga orang penguasa Cirebon tersebut. Selain itu, ibu dan isteri‑isteri mereka, juga puteri Mataram.

Oleh sebab itulah, walaupun para penguasa Cirebon sangat berhutang budi kepada Sultan Ageng Tirtayasa, permintaan agar Pakungwati Cirebon memusuhi Mataram, tidak mungkin dipenuhi. Mereka hanya menjanjikan, akan mengambil sikap netral, bila terjadi perselisihan antara Banten dengan Mataram. Hal ini merupakan suatu keberhasilan Sultan Ageng Tirtayasa, bagi kepentingan politik diplomasi Kesultanan Surasowan Banten, yang telah berhasil menetralkan sekutu utama Mataram di kawasan Tatar Sunda.

Dalam peristiwa Trunojoyo ini, Speelman mengusulkan agar Kompeni Belanda memulihkan kedudukan penguasa Mataram, dengan tujuan mendapatkan wilayah, sebagai tebusan biaya perang. Selain itu, Speelinan pun mengusulkan, supaya Trunojoyo beserta sekutunya, yaitu Kesultanan Surasowan Banten, segera dilumpuhkan. Akan tetapi, Gubemur Jenderal Maetsuycker, yang selalu hati‑hati, tidak menerima usul tersebut.

Maetsuycker mengijinkan Speelman membawa armada Kompeni ke Japara, untuk mengatasi kekacauan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam hal ini Johan Maetsuycker berpesan, agar Speelman mendesak Amangkurat I dan Trunojoyo untuk berdamai kembali. Anjuran Speelman diterima baik oleh Amangkurat I, namun ditolak oleh Trunojoyo.

Selanjutnya, Speelman segera bertindak merebut Surabaya, yang telah dikuasai`pasukan Trunojoyo, mengambil alih benteng pasukan Makasar di Gogodog dan perbatasan Balambangan, dan menyerang Arosbaya di Madura. Akan tetapi, Speelman kembali ke Japara, tidak meneruskan gerakannya.

Trunojoyo yang cerdik segera membuntutinya, menyeberangi Selat Madura. Pada tanggal 2 Juli 1677, langsung menyerbu ibukota Mataram, serta berhasil merebut dan mendudukinya. Pusaka‑pusaka Mataram, termasuk mahkota Majapahit, diboyongnya ke Kediri sebagai tempat kedudukannya.

Akibat serbuan Trunojoyo, Maetsuycker yang semula bersikap netral, karena menganggap sebagai konflik intern keraton, akhirnya mengambil sikap memihak Susuhunan Matarain. la berkirim pesan kepada Speelman, agar mengambil langkah‑langkah untuk pemulihan kedudukan Sunan Mataram.

Setelah Amangkurat I meninggal dunia, dalam pengungsian ke benteng Kompeni di Tegal Arum, pada bulan Oktober 1677, Speelman mengadakan pertemuan dan perjanjian dengan Adipati Anom, putera mahkota Mataram. Berdasarkan pertemuan itulah, akhirnya perlawanan menghadapi Trunojoyo tidak dilakukan oleh Mataram, melainkan oleh Kompeni Belanda. Selanjutnya, setelah Trunojoyo tertawan, ia beserta mahkota Majapahit, diserahkan oleh Kompeni kepada Sunan Amangkurat II. Karena peristiwa itulah, Mataram resmi menjadi vazal Kompeni Belanda.

Akan tetapi, penumpasan gerakan Trunojoyo itu, tidak sempat disaksikan oleh Johan Maetsuycker, yang meninggal dunia pada tanggal 4 Januari 1678. Sebagai penggantinya, Para Direktur Kompeni Belanda di Netherland, mengangkat Rijcklof Volckertsz van Goens, orang yang sepaham dengan Cornelis Speelinan, sama‑sama penganut garis keras.

 

  1. PAHLAWAN KEPRAJURITAN NASIONAL

 

Rijcklof Volckertsz van Goens dan Cornelis Speelman, yang berambisi ingin menghancurkan Kesultanan Surasowan Banten, namun selalu terhalang oleh kehati‑hatian Maetsuycker, kini bebas merencanakan dan melaksanakan maksudnya. Sebagai langkah awal, Kompeni Belanda menggali terusan antara Kali Angke dengan Cisadane, guna kelancaran angkutan pasukan dan perbekalan ke daerah perbatasan. Terusan ini dapat diselesaikan oleh Kompeni Belanda, pada tahun 1680.

Menurut perjanjian Belanda‑Pakungwati Cirebon pada tahun 1677, daerah jajahan Mataram di Priangan diserahkan kepada Kompeni Belanda, sebagal pembayar hutang biaya perang. Hal ini menimbulkan gejolak politik yang baru di Tatar Sunda. Sumedang melihat kesempatan untuk bangkit, karena Rangga Gempol III, Bupati Sumedang, mendambakan kekuasaan seluruh wilayah yang pernah dikuasai oleh Geusan Ulun.

Selanjutnya, pada bulan September tahun 1678, ketika Kompeni Belanda sibuk menghadapi Trunojoyo di Jawa Timur, Rangga Gempol menggempur Sukapura, Parakanmuncung dan Bandung, sehingga para bupati dari ketiga daerah itu menyingkir ke Kesultanan Banten, memohon perlindungan kepada Sultan Ageng Tirtayasa.

Rangga Gempol adalah Bupati Priangan pertama, yang mengadakan hubungan dagang dengan Kompeni. la mengakui kedaulatan Kompeni Belanda, sehingga memperoleh bantuan meriam, senapan, peluru dan mesiu. Rangga Gempol juga menyapu daerah Ciasem, menyingkirkan para kepala daerah setempat, yang merupakan wilayah bawahan Banten.

Kekosongan kekuasaan di Mataram itu, dimanfaatkan pula oleh Pakungwati Cirebon, dengan mengerahkan 300 orang Talaga, di bawah pimpinan Wiratanu, untuk mengisi kawasan bagian utara Cianjur. Akhir tahun 1678, Wiratanu mendirikan pos baru di Cianjur dan Cimapag, untuk menguasai lalu-lintas perdagangan yang biasa ditempuh para pedagang Sumedang. Hubungan dagang Sumedang – Kompeni, sudah mulai dirintis mulai tahun 1656. Wiratanu yang berstatus resmi berada di bawah Cirebon, mengadakan hubungan langsung dengan Kompeni, melalui Kapten Hartsinck, penanggung‑jawab keamanan Kompeni untuk daerah pedalaman Batavia dan Karawang. Situasi baru ini, telah memecah konsentrasi Kesultanan Banten, dalam upaya menghadapi Kompeni secara langsung. Sultan Ageng Tirtayasa harus memulihkan kekuasaan Banten di kawasan Ciasem, dan membantu ketiga orang Bupati Priangan yang meminta perlindungan, setelah mereka tersingkir oleh Rangga Gempol. Cakrayuda, salah seorang Bupati Banten di kawasan Ciasem, adalah menantu Bupati Bandung.

Sultan Ageng Tirtayasa memprioritaskan untuk mengatasi Sumedang. Pasukan gerak cepat Kesultanan Banten, yang berkedudukan di Pamanukan, di bawah pimpinan Cili Widara seorang bangsawan Buton, segera diperintahkan untuk menyerang Sumedang. Akhirnya, Sumedang berhasil dikalahkan dan diduduki, sehingga Rangga Gempol harus mengungsi ke daerah Indramayu. Akan tetapi, di daerah Indramayu, pasukan Banten yang mengejar Raga Gempol, dikalahkan oleh bala bantuan Kompeni Belanda.

Pendudukan Banten atas Sumedang, hanya berlangsung kurang dari dua tahun. Rangga Gempol kembali berkuasa, tetapi ia telah kehilangan kekuasannya atas Ciasem dan daerah Priangan Selatan. Secara politis, peristiwa itu telah menghilangkan sisa‑sisa pengaruh kekuasaan Mataram di Tatar Sunda.

Sultan Ageng Tirtayasa, mampu menghadapi tantangan‑tantangan yang timbul di kawasan Priangan, sebagai akibat kekosongan kekuasaan setelah perjanjian Japara 1677. Sebab, Kompeni sendiri tidak dapat segera menguasai wilayah yang diterima‑nya dari Mataram. Kabupaten Cianjur, yang langsung menjadi sekutu Kompeni, justeru muncul dalam kesempatan tersebut. Potensinya masih kecil, sehingga bukan merupakan ancaman berarti, bagi kelancaran jalur hubungan pasukan dan perbekalan Banten di daerah pedalaman.

Sementara itu, di balik keberhasilan Sultan Ageng Tirtayasa, ia lebih dipusingkan oleh keadaan intern Istana Kesultanan Sorasowan Banten sendiri, karena ulah putera mahkota yaitu Pangeran Gusti (Sultan Haji).

Sultan Haji, mempunyai tabiat yang berbeda sekali dengan ayahnya. la labil dalam sikap, mudah terpengaruh bujukan orang, tanpa kajian yang mendalam. la senang meniru perilaku orang Belanda, tetapi rakyat Banten dianjurkannya mengenakan pakaian Arab, yang menyebabkan ia dibenci oleh ulama dan rakyat. Tetapi yang paling membahayakan negara, adalah ambisinya terhadap kekuasaan terlalu besar. la tidak puas dengan kedudukannya sebagai Sultan Anom.

Inilah celah yang dunanfaatkan secara maksimal oleh perwakilan Kompeni Belmda di Surasowan Banten. Sultan Haji bergaul akrab dengan W. Caeff, pimpinan kantor perwailan Kompeni Belanda di ibukota Surasowan Banten, serta orang‑orang Belanda lainnya. Ambisi Sultan Haji yang amat besar, untuk berkuasa penuh dalam waktu secepat mungkin, hanya akan dapat diwujudkan dengan dukungan Kompeni Belanda.

Kompeni Belanda sudah merasa kesal, karena kekuasaan tertinggi Kesultanan Banten, masih tetap dipegang oleh Sultan Abdulfatah. Rijcklof Volckertsz van Goens, yang berambisi menghancurkan Kesultanan Banten, terpaksa menahan diri. la tidak berani, menghadapi “musuh besar Kompeni Belanda” itu, tanpa persiapan yang benar‑benar matang. Keamanan kawasan di sekitar Batavia, tetap rawan, karena gangguan gerilya Banten. la sangat memahami, dalam pertempuran di laut, Kompeni Belanda akan mampu menghadapi Banten. Akan tetapi di darat, pasukan Banten masih terlalu tangguh. Akhirnya, van Goens sama sekali tidak sempat mewujudkan impiannya, karena ia meninggal pada bulan November 1681. Dendamnya terhadap Sultan Ageng Tirtayasa, terbawa mati.

Pengganti van Goens adalah “si Jagoan Tempur” Cornelis Speelinan, ia orang Kompeni Tulen. Ketika diangkat menjadi Gubernur jenderal, Speelman telah 34 tahun mengabdikan dirinya kepada Kompeni. Berkat pengalamannya sebagai pedagang, perunding dan panglima perang. Belanda kelahiran Rotterdam itu, telah akrab dengan iklim tropic, dan mengetahui banyak bahasa‑bahasa daerh dan adat istiadat masyarakat Nusantara. Dialah yang mendiktekan Perjanjian Bongaya untuk Makasar, dan Perjanjian Japara untuk Mataram.

Dalam sehari, Cornelis Speelman tahan bekerja selama 16 jam. la cerdas dan cerdik, tubuhnya kekar, namun lincah dan tak senang diam. Untuk kepentingan Kompeni, ia berani mempertaruhkan nyawanya, bahkan ia pun tidak pernah ragu‑ragu mengorbankan nyawa orang lain. Wajar bila Vlekke dalam bukunya, menyebut: “pedang yang mengubah Kompeni dari penguasa niaga, menjadi penguasa wilayah”.

Dari “tiga serangkai Kompeni”, selama 30 tahun menghadapi Sultan Ageng Tirtayasa, Cornelis Speelman adalah orang terakhir yang masih hidup. Watak dan keuletan Speehnan, terlihat dalam laporannya mengenai Perang Makasar. Pada saat‑saat perang sedang berlangsung, ia menyusun catatan pertempuran, lengkap dengan keadaan politik, dan tatanan masyarakat Sulawesi Selatan. Banten, menghadapi ancaman lawan yang tangguh dan licin.

Speelman mengetahui, bahwa perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji, semakin meruncing. Oleh karena itu, untuk menghadapi Kesultanan Surasowan Banten, Speelman mematangkan situasi. Sikap licin seorang pedagang ulung, Speelman berpura‑pura tidak percaya dan menolak desakan Sultan Haji, yang ingin memperbaharui perjanjian 1645, antara Kesultanan Surasowan Banten dengan Kompeni Belanda. Oleh karena Sultan Haji ingin segera memegang kekuasaan penuh, terpaksa ia harus menjanjikan konsesi‑konsesi yang lebih besar kepada Kompeni Belanda.

Hasrat menggebu yang dimiliki oleh Sultan Haji itu, terlihat dalam tindakannya pada bulan Mei 1680, yang mengirimkan utusan ke Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Sultan Haji menawarkan perdamaian, sambil menegaskan bahwa dialah yang berkuasa di Kesultanan Surasowan Banten. Padahal, saat itu jabatan Sultan Haji hanyalah sebagai Sultan Anom, yang menempati Istana Surasowan.

Selanjutnya, Speelman mengutus Jacob van Dijck, sebagai perunding pihak Kompeni untuk membicarakan “pembaharuan perjanjian” dengan pihak Kesultanan Surasowan Banten. Padahal Jacob van Dijck mengetahui benar, bahwa Sultan Ageng Tirtayasa akan menolak “pembaharuan perjanjian” itu. Akan tetapi, sebagai perunding ulung, van Dijck tidak akan segan melaksanakan tugas tersebut, dengan sikap “tetap manis dan penuh harap”. Jacob van Dijck adalah orang Kompeni yang telah berhasil menarik Cirebon ke dalam perjanjian persahabatan, pada tanggal 8 Januari 1681.

Tugas van Dijck yang sesungguhnya, ialah menghasut Sultan Haji, agar lebih berani mengadapi ayahnya, dengan janji dukungan dari Kompeni Belanda. Kepada Sultan Ageng Tirtayasa, Kompeni Belanda menunjukkan sikap ingin “tetap damai”, padahal di benteng “Batavia”, komandan-komandan tempur yang paling berpengalaman telah bersiap. Mereka adalah: Kapten Hartsinck, Kapten Tack, Van Happel, Sloot, dan Saint Martin. Pertahanan daerah Angke‑Tangerang, disiapkan di bawah pimpinan Anthony Hurdt, anggota Dewan Hindia Belanda penakluk Trunojoyo.

Dengan dalih, Kompeni datang bukan “sebagai penyerang”, melainkan sebagai “penolong”, Speelman ingin menciptakan “perang saudara” di Kesultanan Surasowan Banten. Sistem politik adu domba, oleh Jacob van Dijck dan Caeff, ditambah dengan sikap Sultan Haji yang ambisius atas kekuasaan, berjalan mulus. Sehingga, pada malam 26 Februari 1682, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan pasukannya menyerang Istana Keraton Surasowan, yang ditempati oleh Sultan Haji. Ibukota Surasowan diserang dari segala penjuru, dan perkampungan pinggiran daerah kota habis dibakar. Namun dengan bantuan Kompeni Belanda, komplek keraton Surasowan tidak berhasil direbut.

Selanjutnya pada tanggal 6 Maret 1682, pasukan bantuan Kompeni Belanda, di bawah komando Saint Martin, tiba di Pelabuhan Banten. Disusul kemudian oleh pasukan lainnya, di bawah komando Kapten Tack. Pertahanan keraton Surasowan makin kokoh.

Sementara itu, pada tanggal 16 Maret 1682, Kapten Hartsinck dibantu oleh Van Happel, membawa pasukan campuran sebanyak 680 orang, dengan dukungan tenaga logistik sebanyak 400 orang, mulai bergerak menuju perbatasan Angke‑Tangerang.

Tangguhnya pasukan Sultan Ageng Tirtayasa di front Angke‑Tangerang, memaksa Kompeni Belanda untuk tidak melakukan serangan, sehingga terjadi stagnasi. Hingga bulan Agustus 1682, hanya terjadi serangan kecil-kecilan dari kedua belah pihak. Pasukan gerilya Banten, berupaya keras mengganggu garis logistik Kompeni Belanda.

Akhirnya, anggota Dewan Hindia Belanda Anthony Hurdt, turun tangan memimpin pasukannya di garis depan. Pada bulan Oktober 1682, Kompeni Belanda telah selesai membangun perbentengan di sebelah timur Cisadane. Ketika persiapan Kompeni Belanda telah rampung, pada bulan November 1682, mereka mulai melakukan gempuran terhadap pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Tepat pada tanggal 2 Desember 1682, pusat pertahanan pasukan Banten di Kademangan, jatuh ke tangan Kompeni Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa bersama pasukannya, mundur menuju Tanara.

Di Tanara, pasukan darat dan laut Banten, mencoba mempertahankan daerah tersebut. Akan tetapi, melalui pertempuran sengit pada tanggal 16 Desember 1682, Tanara pun jatuh ke tangan pasukan Hartsinck. Selanjutnya, pasukan Banten mundur menuju daerah pertahanan terakhir di Tirtayasa.

Sedangkan di Tanara, Hartsinck mempersiapkan serangan baru. Pada tanggal 28 Desember 1682, armada darat dan laut Kompeni Belanda, bergerak menuju Tirtayasa.

Serbuan pasukan Hartsinck ini, diikuti oleh Kapten Saint Martin dan Tack, yang berada di Keraton Surasowan. Dari ibukota Surasowan, mereka bersama‑lama dengan pasukan Sultan Haji, bergerak menuju ke Tirtayasa. Pasukan gabungan ini, berhasil merebut Pontang. Saat itu, meriam tempur Hartsinck, mulai menembus keraton Tirtayasa.

Semakin mendesaknya pasukan Kompeni Belanda menuju benteng Tirtayasa, dengan perhitungan yang matang, Sultan Ageng Tirtayasa memutuskan untuk membumihanguskan keraton Tirtayasa. Bersama dengan para pembesar dan pengikutnya yang setia, Sultan Ageng Tirtayasa menyingkir menuju kawasan hutan Keranggan, di sebelah selatan Tirtayasa. Pada awal Maret 1683, pasukan Sultan Ageng Tirtayasa telah berada di Sajira, daerah perbatasan Tangerang‑Bogor. Di tempat itulah, ia menerima sepucuk surat dari Sultan Haji, yang berisi bujukan dan permohonan, agar Sultan Ageng Tirtayasa bersedia kembali ke Istana Surasowan. Setelah dirundingkan dengan para pembesar dan pembantunya yang setia, Sultan Ageng Tirtayasa memutuskan untuk kembali ke ibukota Surasowan.

Sementara yang lain menunggu di Sajira, pada tanggal 14 Maret 1683 malam hari, Sultan Ageng Tirtayasa bersama para pengawalnya, memasuki keraton Surasowan. Kedatangan Sultan Ageng Tirtayasa, disambut baik dengan penuh rasa hormat, oleh Sultan Haji. Beberapa hari kemudian, utusan Kompeni Belanda tiba di Keraton Surasowan. Pada saat itulah, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh Kompeni Belanda dan dibawa ke Batavia.

Kemungkinan besar, bukan maksud Sultan Haji menjebak ayahnya. Karena terbukti, dikemudian hari Sultan Haji tetap menghormatinya. Penangkapan itu, lebih didasari karena Kompeni Belanda khawatir, jika Sultan Ageng Tirtayasa dibiarkan tetap berada dekat puteranya di Surasowan, dapat mempengaruhi dan mengubah sikap Sultan Haji. Akan tetapi, Sultan Haji tidak berdaya. Ambisinya terhadap tahta Kesultanan Banten, terlalu besar untuk dikorbankan bagi kebebasan dan keselamatan ayahnya Bahkan demi kehormatannya sendiri. Karena dialah yang mengundang dan menjamin keamanan ayahnya di Surasowan.

Mungkin saja, Sultan Haji hanya sanggup meminta kepada Kompeni Belanda, agar ayahnya tidak dibunuh atau dibuang. Sultan Ageng Tirtayasa dipenjarakan di dalam benteng Kompeni belanda dengan “terhormat”, di bawah pengawasan dan penjagaan yang ketat. Sultan Ageng Tirtayasa wafat dalam penjara pada tahun 1692. Jenasahnya diminta dan dikebumikan di sebelah utara Masjid Agung Banten. Sebutan Sultan Agung atau Sultan Ageng, yang diberikan rakyat Banten kepadanya, menunjukkan kebesaran Sultan Abulfath Abdulfatah.

Sultan Ageng Tirtayasa, ialah musuh besar Kompeni Belanda. Akan tetapi, sumber‑sumber resmi yang ditulis oleh pihak Belanda sendiri, tidak satupun yang mencela watak atau perilaku pribadinya. la dihormati dan disegani oleh lawannya. Walaupun Rijcklof Volckertsz van Goens membencinya, ia tidak pernah mencela sifat‑sifat Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan, Vlekke menyebutnya: de sluwe Abdoelfatah (Abdulfatah yang cerdik).

Di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mencapai masa kejayaan. Tanpa ragu‑ragu, Vlekke (1947: 193) mengutarakan pujiannya kepada Sultan Ageng Tirtayasa, sebagai “yang terbesar di antara para Sultan Banten”. Menurut pengamatannya, dalam berbagai sumber, ia menyebutkan, bahwa “Abdulfatah dengan penuh vitalitas, mencoba memodernkan negaranya, serta menjadikannya pusat gerakan Islam di Nusantara”.

Selanjutnya dalam catatan Vlekke, dikemukakan pula:

 

Prestasinya yang terbesar, adalah keberhasilannya membangun dan mengembangkan perdagangan laut. Seperti juga raja Makasar, Sultan Banten, telah berhasil memikat para pedagang Inggris, Denmark, dan Perancis. Sehingga, mereka merasa senang, menjalin hubungan niaga dengan Pelabuhan Banten.

Atas bantuan orang‑orang Eropa, mulailah ia membangun kapal‑kapal sendiri. Dalam tahap permulaan, dipimpin oleh para nakhoda Eropa, melakukan pelayaran ke Philipina, Macao, Benggala dan Persia. Disertai salah satu kapal milik Banten, putera mahkota (Sultan Haji), pergi berlayar ke Mekah melakukan ibadah haji.

 

Para pedangan India, Cina dan Arab, mengalihkan usaha niaga mereka secara besar‑besaran ke Banten, setelah terdesak dari Malaka dan Makasar. Harga barang niaga yang dijual di pasar Batavia, melonjak naik, akibat persaingan dari Pelabuhan Banten, disebabkan tindakan keniagaan Sultan Abdulfatah. la pun menuntut hak, atas perniagaan pala di Ambon dan perniagaan timah di Semenanjung Malaka, yang ditolak secara congkak oleh pimpinan Kompeni Belanda di Batavia.

Orang berkata, “Tidak pernah terjadi sebelumnya”. Juga dalam zaman puncak kebesaran pelayaran Nusantara, sebelum kedatangan orang Portugis, ada kegiatan perdagangan yang demikian besar dan melimpah di pelabuhan-pelabuhan Nusantara, seperti yang dapat disaksikan di Pelabuhan Banten dalam tahun‑tahun pemerintahan Sultan Abdulfatah. Hal itu justeru tetjadi, dalam saat‑saat kekuatan Komperli Hindia Timur, berada pada titik puncaknya.

Sultan Ageng Tirtayasa, adalah penguasa terakhir Kesultanan Surasowan Banten yang merdeka. la menolak berbagai saham kekuasaan dengan orang luar, dari manapun asalnya. Kesadaran politik inilah, yang tidak dimiliki oleh Sultan Abdulkahar (Sultan Haji). Sultan Haji mengira, Gubernur Jenderal Kompeni Belanda sebagai “bangsawan keraton” bermoral kesatria, bukan sebagai “bangsawan niaga”, yang sopan‑santunnya ditetapkan oleh norma‑norma perdagangan.

Tentang tahun kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, terdapat kesimpang-siuran, dari sumber-sumber yang ada. Muhammad Ismail, dalam buku Petunjuk Jalan dan Keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan Banten (1983), penerbit Saudara, Serang, sebagaimana yang dikutip oleh Halwany Michrob, menyebut angka tahun 1651 sampai dengan 1672, untuk tahun kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Padahal, pada tahun 1677, Sultan Ageng Tirtayasa masih melakukan penobatan (wisuda) para Pangeran Cirebon, dengan kapasitasnya sebagai Sultan Banten. Mungkin penunjukkan tahun 1672, berdasarkan pelantikan Sultan Haji sebagai Sultan Anom pada tahun 1671, dan penyerahan kekuasaan dalam negeri kepadanya. Oleh sebab itu, kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, berakhir pada tahun 1683, ketika terjadi penangkapan terhadap dirinya, oleh pasukan Kompeni Belanda di Istana Surasowan.

Akibat peristiwa penangkapan tersebut, para pengikut Sultan Ageng Tirtayasa, melanjutkan perjuangannya secara gerilya. Satu tahun lamanya, Kompeni Belanda direpotkan oleh pasukan tempur gerilya di bawah pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Adik Sultan Haji, yaitu Pangeran Sake, juga berpihak kepada Pangeran Purbaya.

Perjuangan terus dilakukan oleh generasi selanjutnya. Salah satunya, yang sempat memusingkan Kompeni Belanda pada abad ke‑18, ialah cucu Sultan Ageng Tirtayasa, putera Pangeran Sake, yaitu Tubagus Mustafa, atau lebih dikenal umum dengan sebutan Ki Tapa.

 

G.CATATAN BERHARGA

 

Peristiwa sejarah perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa, tercatat sebagai Pahlawan Keprajuritan Nasional. Karena nilai‑nilai kepahlawanannya, telah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Mengandung semangat keprajuritan nasional Indonesia;
  2. Merupakan perjuangan pembelaan negara (bangsa dan tanah air), termasuk perjuangan mempertahankan dan memelihara keamanan negara;
  3. Merupakan perjuangan menentang kekuasaan asing yang menjajah;
  4. Meliputi peristiwa yang terjadi dan tokoh yang hidup dalam periode antara abad ke‑7 sampai dengan abad ke‑19 Masehi;
  5. Hasil pertimbangan yang baik dari segi historis, politis, psikologis, edukatif, artistik, dan lain‑lain.

 

Pada tahun 1985, berdasarkan Surat Perintah Panglima ABRI tanggal 12 Desember 1984, No. Sprin.’783/P/XII/ 1984 dan Surat Keputusan Panglima ABRI, tanggal 8 April 1985, No. Skep/182/N/1985, dibentuk tim, untuk meneliti, menelaah dan menyusun peristiwa bersejarah tokoh‑tokoh pejuang di Tatar Sunda. Tim inti itu, terdiri dari: Prof. Dr. Edi S. Ekadjati (Ketua); Drs. Saleh Danasasmita (Anggota); dan Drs. Saini K.M. (Anggota).

Penelitian yang dilakukan oleh para akhli tersebut, berdasarkan; tingkat volume lama perjuangan; luas wilayah perjuangan; jumlah pasukan pengikut yang dikerahkan; kesulitan yang dialami; jumlah korban pada pihak musuh; dan dukungan rakyat. Setelah dilakukan penelusuran, penelitian, dan pembahasan terhadap peristiwa-peristiwa dari tokoh‑tokoh sejarah di Tatar Sunda, diusulkan 8 tokoh dan peristiwa keprajuritan nasional, antara lain:

 

  1. Sri Baduga Maharaja, raja Sunda‑Pajajaran yang hidup pada abad ke‑15/16 Masehi. la raja yang bijaksana, gagah berani, serta banyak memperhatikan dan berbuat bagi kesejahteraan rakyatnya. Dalam tradisi masyarakat Jawa Barat, raja ini terkenal dengan sebutan Prabu Siliwangi;
  2. Perlawanan rakyat Banten, di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap Kompeni Belanda (1651‑1683);
  3. Perlawanan rakyat Priangan di bawah pimpinan Prawatasari terhadap Kompeni Belanda (1703‑1707);
  4. Perlawanan rakyat Banten di bawah pimpinan Kyai Tapa terhadap Kompeni Belanda (1720‑1723);
  5. Perlawanan Sultan Matang Aji Cirebon terhadap Kompeni Belanda (abad ke‑18 Masehi);
  6. Perlawanan rakyat Majalengka dan Cirebon, di bawah pimpinan Bagus Rangin dan Bagus Jabin terhadap pemerintahan kolonial Belanda dan Inggris (1802‑1819);
  7. Perlawanan Bupati Sumedang R.T.A. Surianagaca (Pangeran Kornel) terhadap Gubernur Jendral Daendels (1810);
  8. Perlawanan rakyat Banten di bawah pimpinan Haji Wasid terhadap pemerintahan kolonial Belanda (1888);

 

Dari hasil seleksi pada waktu itu, terpilih 3 tokoh dan peristiwa sejarah, yang memenuhi kriteria Pahlawan Keprajuritan Nasional, antara lain:

  1. Sultan Ageng Tirtayasa, tokoh pimpinan perjuangan rakyat Banten terhadap Kompeni Belanda (1651‑1683 Masehi);
  2. Bagus Rangin, tokoh pimpinan perjuangan rakyat Majalengka dan Cirebon, terhadap pemerintah kolonial Belanda dan Inggris (1802-1819 Masehi); dan
  3. Raden Alit Prawatasari, tokoh pimpinan perjuangan rakyat Priangan terhadap pemerintah Kompeni Belanda (antara abad ke‑17 sampai dengan abad ke‑18 Masehi).

 

Ketiga tokoh tersebut, terukir oleh tinta emas sejarah, sebagai Pahlawan Keprajuritan Nasional Indonesia. Kini diorama dan patungnya, dipamerkan di Museum Keprajuritan Nasional Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

 

 

***

BAGIAN 4 : MENELUSURI PULASARI – MELACAK RAJATAPURA

 

  1. SENTUHAN HINDUISME

 

Saleh Danasasmita berpendapat tentang Hinduisme, dalam buku Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat jilid 1(1984), antara lain sebagai berikut:

Poerbatjaraka dalam desertasmya Agastya in den Archipel (1921) mengemukakan, bahwa lakon wayang yang mengisahkan kepergian Bambang Kumbayana dari negeri Atas‑angin ke Nusa Jawa sebenarnya berkaitan dengan masa awal sentuhan budaya Hindu di Nusantara. Menurut legenda yang dikenal di India Selatan dan di Bali, penyebaran agama Hindu di daerah‑daerah seberang (di luar India) dilakukan oleh Maharesi Agastya alias Resi Kumbayana. Tangan kiri sosok wayang Kumbayana yang kaku itu adalah tiruan dari tangan kiri patung Agastya yang selalu menating kendi tempat air suci. Begitu pula halnya bentuk janggut wayang Kumbayana yang lancip, meniru bentuk janggut patung Agastya. Pada wayang Kumbayana, kendi itu dihilangkan, untuk keleluasaan gerak (Dana sasmita,1984: 29).

 

Tentang adanya sentuhan Hinduisme di Propinsi Banten, Claude Guillot membahas pernah ditemukannya arca‑arca di kawasan Gunung Pulasari Pandeglang, melalui pemberitaan Brumund dan Van Hoevel, antara lain sebagal berikut:

Sesungguhnya, pada paro pertama abad ke‑19, dua pakar yang terkenal, Brumund dan Van Hoevell, menyebut arca‑arca lama yang menghiasi taman asisten residen di Caringin. Arca itu, yang menggambarkan Brahma, Siwa, Agastya, Durga dan Ganesha, beberapa tahun kemudian diangkut ke Museum Bataviaasch Genootschap, yang waktu itu masih bertempat di anjung sositet Harmonie, dan sekarang berada di Museum Nasional Jakarta. Beberapa puluh tahun kemudian, asisten residen Caringin itu dalam suratnya kepada Bataviaasch Genootschap, memberitahukan “bahwa beberapa arca pernah ditemukan di Cipanas di dekat kawah yang sudah mati; semuanya dikirim ke Batavia, kecuali satu, yang karena terlalu berat ditinggalkan di tepi Sungal Labuan dan sekarang masih ada di sana. Lagi pula orang-orang Cina tidak mau mengangkutnya ke Batavia, karena yakin bahwa barang siapa berani melakukannya pasti mendapat bencana di laut”. Beberapa bulan kemudian arca itu, ternyata sebuah yoni, diangkut ke museum pula, sekalipun orang Cina berkeberatan, dan didaftarkan dengan nomor 361 (Guillot,1996:101).

 

Boleh jadi, apa yang dikemukakan oleh Poerbatjaraka, ada keterkaitan dengan hasil temuan arca-arca di Gunung Pulasari, sebagaimana yang dikemukakan oleh Brumund dan Van Hoevell. Pemujaan terhadap Agastya, adalah merupakan sekte lainnya dalam agama Hindu. Bila dikaji lebih dalam, kemungkinan besar kedua pemikiran tersebut, bisa dijadikan acuan bagi penelitian Salakanagara.

Selanjutnya R Friederich pada tahun 1850 mengemukakan pendapatnya, tentang proses Hinduisasi sebuah `kerajaan’ di pesisir Selat Sunda, antara lain sebagai berikut:

 

Lebihjauh lagi bolehlah kami ajukan hipotesis, bahwa pada masa hutan rimba pegunungan Sunda dihuni orang-orang biadab yang mirip kera (ingatlah dongeng Raja Lutung Kasarung yang diringkaskan oleh Raffles), maka sejumlah pendatang Hindu menetap di pantai‑pantai Sunda yang elok, dan mendirikan sebuah kerajaan yang makmur berkat perdagangan di Selat Sunda (Friederich, 1850, dalam Guillot, 1996; 104).

 

Sayangnya, Friederich terlalu memaksakan temuan Manusia Purba dengan mitos Sunda cerita Lutung Kasarung. Kedua-duanya, ada di wilayah disiplin ilmu yang berbeda.

Halwany Michrob, telah mengidentifikasi wilayah pesisir barat Tatar Sunda. Dalam buku Catatan Masalalu Banten (1993), mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:

 

Pulau Panaltan merupakan pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda yang bersama Pulau Peucang, luasnya sekitar 17.500 Ha termasuk kawasan pelestarian/suaka alam Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian geologi di Pulau Panaitan, menunjukkan bahwa pulau ini telah ada sejak ± 26 juta tahun lain, apabila dilihat dari umur batuan yang paling tua. Pada berbagai singkapan, tampak bahwa pulau ini tersusun dari jeris‑jenis batuan andezite, tuffa, gamping dan yang termuda batuan aluvial (Michrob,1993: 33).

Pada materi yang sama, Anwas Adiwilaga mengemukakan pendapatnya, kemudian dibahas oleh Yogaswara, antara lain sebagai berikut:

Di Pulau Panaitan pada kira‑kira tahun 130 M pernah berdiri satu kerajaan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Barat Kerajaan ini bernama Salakanagara (Negeri Perak) dengan pusatnya di kota Rajatapura, yang terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertamanya bernarna Dewawarman I (130 ‑168 M). Daerah kekuasannya mehputi: Kerajaan Agrabinta (di Pulau Panaitan), Kerajaan Agnynusa (di Pulau Krakatau), dan daerah ujung selatan Surnatera. Dengan demikian, seluruh Selat Sunda dapat dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelan Aji Raksa Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan) (Yogaswara, dalam Michrob,1993: 33),

 

Selanjutnya, Anwas Adiwilaga menduga Rajatapura berada di Pulau Panaitan (Pandeglang) (Yogaswara, 1978: 38), dengan ditemukannya patung Ganesha dan patung Siwa dengan tanda ardachandra (bulan sabit) di dahinya, di Pulau Panaitan. Padahal keberadaan patung‑patung itu tidak menolong keadaan, karena ada yang menduga bahwa patung‑patung itu berasal dari abad ke‑7 Masehi (Danasasrnita, 1984: 3334). Bahkan dalam hasil penelitian lainnya, dua arca tersebut diperkirakan berasal dari abad ke‑14 atau ke‑15 Masehi (Vorderman,1894 dalam Guillot,1996: 106).

 

  1. MENELUSURI PULASARI

 

Sering disebut‑sebutnya Gunung Pulasari (Pandeglang) dalam berbagai wacana penelitian sejarah, baik dalam naskah babad maupun hasil kajian para akhli, mengisyaratkan, bahwa peran Gunung Pulasari memiliki arti penting dalam sejarah.

Mengacu kepada Pupuh XVII dalam Babad Banten, seperti yang dibahas oleh Hoesein Djajadiningrat (1913), memberitakan Gunung Pulasari sebagai berikut:

Molana Hasanuddin berkelana di hutan‑hutan dan di atas Gunung Pulosari, dan ia pun tibalah di sebuah pertapaan yang ditinggalkan. Ketika bapaknya datang kepadanya, dikatakannya kepadanya, bahwa pertapaan itu adalah pertapaan Brahmana Kadali ‑ atau Kandali (Djajadiningrat,1983: 33).

 

Temuan arkeologis di sekitar Gunung Pulasari, dikemukakan dalam buku Banten Sebelum Zaman Islam; Kajaan Arkeologi di Banten Girang 932? 1526, (1996), oleh Claude Guillot dan kawan‑kawan.

Dalam pada itu, Tantu Panggelaran mengandung keterangan yang nrenarik, yaitu bahwa “di ujung barat Pulau Jawa” (nusa Jawa tungtungan kulwan) terdapat Gunung Mahameru yang bagian atasnya diangkut ke timur, sedangkan bagian bawahnya bernama Gunung Kailasa ─ yaitu tempat kedudukan Siwa ─ tetap berada di tempatnya. Bahwa dalam naskah itu disebutkan ternpat di luar daerah kebudayaan Jawa mengherankan Pigeaud (penyunting naskah tersendiri) yang dalam ulasannya mengemukakan hipotesis ─ meskipun kurang yakin sendiri ─ bahwa “Nusa Jawa” itu barangkali terbatas pada daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur saja. Dan Pigeaud hanya dapat menyatakan bahwa “gunung apa yang dinamakan Kailasa itu masih harus dicari”. Pada hemat kami, Tantu Panggelaran sangat sesuai dengan infornrasi dalam SB tentang adanya golongan besar pendeta di atas Gunung Pulasari, oleh karena gunung tersebut memang terletak “di ujung barat Pulau Jawa”. Artinya Gunung Kailasa dapat disamakan dengan Gunung Pulasari. Kekeramatan itu tidak mungkin termasyhur sampal ke Jawa Timur kalau di atas gunung itu tidak terdapat tempat pemujaan lama (Guillot,19y6;100).

Berdasarkan cerita rakyat Desa Cilentung, di sekitar puncak Gunung Pulasari, terdapat batu‑batu yang dikeramatkan. Untuk membuktikan kebenarannya, Tim berangkat dari Desa Cilentung Kecamatan Saketi, pada tanggal 8 Oktober 2000 pagi, dipandu oleh 4 orang penduduk Desa Cilentung, Tim mengadakan pendakian menu ju ke puncak Gunung Pulasari. Sepanjang perjalanan secara berturut-turut, ditemukan batu‑batuan yang dikeramatkan itu, antara lain:

Batu Sanghiyang Arca. Mengamati bentuk batu Sanghiyang Arca, ada kemiripan dengan lempeng batu prasasti Kawali II (Ciamis) atau Batu Tulis kota Bogor. Menurut cerita rakyat Cilentung, dahulu di lokasi Sanghiyang Arca, Maulana Hasanuddin menyabung ayam dengan Pucuk Umun Pulasari.

Air Terjun Curug Putri. Menurut cerita rakyat, air terjun Curug Putri, dahulunya merupakan tempat pemandian Nyai Putri Rinak Manik dan Ki Roncang Omas. Di lokasi tersebut, terdapat aneka macam batuan dalam bentuk persegi, yang berserak di bawah cucuran air terjun.

Batu Sanghiyang Kotok. Pada salah satu permukaan batu Sanghiyang Kotok, menurut cerita rakyat, ada semacam “gambar” ayam jantan. Ayam jantan tersebut, konon milik Maulana Hasanuddin.

Batu Kiara Sarebu. Batu Kiara Sarebu berbentuk empat persegi panjang, pipih, dengan luas permukaan 80 x 50 centimeter, tebal 10 centimeter. Di lokasi Batu Kiara Sarebu, dahulu kala banyak terdapat pohon kiara. Menurut cerita rakyat, diperkirakan merupakan tempat bertapa raja‑raja. Patut disayangkan, dikarenakan lokasi tersebut sudah dirusak oleh perambah hutan, kini pohon kiara yang tertinggal hanya sebuah.

Batu Kiara Jingkar. Batu Kiara Jingkar, sesungguhnya hanya merupakan sebuah batu biasa. Kekeramatan batu tersebut, ditandai oleh adanya 3 buah pohon hanjuang merah (siang), yang dibentuk serupa “makam”.

Batu Cangkrung. Batu Cangkrung, merupakan sebuah batu dengan salah satu permukaannya yang cekung, sehingga dapat menampung air (nyangkrung). Uniknya, menurut cerita rakyat, air di atas permukaan yang cekung tersebut, tidak pernah kering. Sehingga digunakan untuk minum berbagai jenis burung.

Ketika tiba di sekitar puncak Gunung Pulasari, pada ketinggian antara 1.300 meter hingga 1.346 meter di atas permukaan laut, terdapat dua tempat yang dikeramatkan, yaltu puncak Rincik Manik dan puncak Roncang Omas.

Di lokasi puncak Rincik Manik, terdapat dua “makam” dengan karakter yang berbeda. Makam yang pertama, membujur arah timur‑barat, dan di lokasi tersebut terdapat semacam batu lumpang serta sejenis kapak genggam. Makam yang satunya lagi, membujur arah utara‑selatan, dan di lokasi tersebut terdapat sejenis menhir.

Di lokasi puncak Rincik Manik, juga terdapat sebuah batu yang sangat unik, sehingga ‘Tim menamainya “batu magnit”. Uniknya, ketika diukur menggunaltan kompas, walaupun ditempatkan di sekeliling batu ke berbagai arah mata angin, jarum magnetis Utara (U) kompas selalu mengarah ke batu tersebut. Hal itu, mengingatkan akan peristiwa jatuhnya pesawat terbang di lereng timur laut Gunung Pulasari, tidak jauh dari lokasi Baru Kiara Swebu. Mungkin saja arah kompas kapal terbang yang nahas, dikacaukan oleh “batu magnit” puncak Rincik Manik.

Di lokasi puncak Roncang Omas, terdapat sebuah tempat yang dianggap “makam”, dengan ditandai tumpukan batu yang sudah demikian terlantar. Di lokasi itu, banyak sampah‑sampah berserakan, yang ditinggallkan wisatawan lokal. Bahkan batu‑batuan yang ditemukan, nampak gosong, akibat seringkali digunakan sebagai tungku untuk memasak atau api unggun.

Kekeramatan itu tidak mungkin termasyhur sampai ke Jawa Timur, kalau di atas gunung itu tidak terdapat tempat pernujaan lama (Guillot, 1996).

Mungkin, puncak Rincik Manik dan puncak Roncang Omas itulah yang dimaksud oleh Guillot. Di bagian lain, Guillot mengemukakan pendapatnya tentang Situs Sanghiyang Dengdek, yang juga berlokasi di lereng Gunung Pulasari.

Selain tempat‑tempat keramat biasa, sata‑satunya tempat pemujaan lama yang masih ada terdapat di Desa Sanghyang Dengdek, yang menyandang nama “dewa” yang dipuja di situ. Ternpat pemujaan tersebut sudah lama dikenal, dengan tipe “primitif” yang umum di Jawa Barat; di atas sebuah onggokan tanah yang dikelilingi batu sungai yang besar‑besar, berdiri tegak sebuah batu yang tingginya kira‑kira satu meter dan puncaknya dipahat secara kasar berbentuk kepala; kelihatan pula, tetapi hampir tidak menonjol, lengan‑lengan dan kelamin lelaki. Nama tokoh itu “si bungkuk yang terpuja” berasal dari bentuk batu yang secara alam agak membungkuk.

Betapapun menariknya tempat pemujaan tersebut, rupanya tidak setara dengan kekeramatan Gunung Pulasari menurut SB, Tantu Panggelaran dan Serat Centhini, apalagi kalau diingat bahwa pengarang kedua karya terakhir ini sudah tentu mengetahui bangunan agama yang jauh lebih canggih. Lagi pula sulit dibayangkan bahwa negeri terbuka ke dunia luar seperti Banten Girang, dapat puas dengan gaya primitif dan “kampungan” dari arca‑menhir itu (Guillot,1996:100).

Pendapat Guillot terkesan merendahkan nilai kepurbakalaan menhir Sanghiyang Dengdek, dengan sebutan “si bungkuk yang terpuja”, “primitif” dan “kampungan”. Mungkin Guillot kecewa, karena kepurbakalaan Sanghiyang Dengdek, tidak marnpu mendukung kebesaran temuan Banten Girang.

Haris Sukendar, dalam makalah Peranan Menhir Dalam Masyarakat Prasejarah di Indonesia, menerangkan makna dan fungsi menhir, antara lain sebagai berikut:

Menhir berasal dari bahasa Breton yang terdiri dari kata “men” =batu dan “hir” = berdiri, yang secara keseluruhan berarti batu tegak (berdiri) (Soejono, 1981/1982: 247). Menhir merupakan peninggalan tradisi megalitik yang sangat banyak ditemukan di berbagai situs, dan berbagai masa setelah periode neolitik (bercocok tanam) (Van der Hoop 1938). Bahkan sampai masa‑masa pengaruh Hindu maupun pengaruh Islam di Indonesia menhir sebagai salah satu obyek tradisi megalitik masih memegang peranan penting bahkan berkembang sampai sekarang. Dengan adanya peranan menhir yang meliputi kurun waktu cukup panjang tersebut maka tidak mengherankan jika terjadi perkembangan‑perkembangan pada bentuk‑bentuk dan fungsi menhir itu sendiri. Situs‑situs megalitik telah menghasilkan menhir‑menhir yang mempunyai bentuk berbeda-beda. Di daerah Lampung, Jawa Barat, Sulawesi dan lain‑lain ditemukan menhir dalam bentuk sederhana dari batuan kasar, dan belum dikerjakan (Sukendar,1985: 92).

 

Dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1, mengenai pitarapuja (penghormatan terhadap arwah leluhur), dikemukakan antara lain sebagai berikut:

…/hana jnua pamuja

nikang jan m apada ring samang-

kana/ akweh pamu-

ajanya// mapan sarwa pa-

muja sakaharepni-

ra/ lawan angucap mantra

yatiku makadi pi-

trepuja// marika ma-

malaku ning sang pita-

ra makapu (ru) haranya ma-

kadi sang pitrepuja

ning kawitan la-

wan waneh sthapan mantra/

sangkep lawan widhiwidha-

na mwang asthapana se-

wana lawan sarwa bho-

ga// nityabhiprayanira

yatanyan sidha citta-

nya//…

Terjemahannya:

Adapun yang jadi pujaan warga masyarakat pada waktu itu, banyak sekali. Karena yang menjadi pujaannya sekehendak mereka, dengan mengucapkan mantra, yaitu terutama pemujaan terhadap nenek‑moyang. Mereka memohon kepada nenek‑moyang, yang menjadi tujuan terakhir, terutama pujaan terhadap nenek‑moyang dari ayah dan juga mantera sihir, lengkap dengan upacara yang diperlukan serta asthapana sewana (nama sejenis mantra) dan berbagai makanan. Selalu maksudnya agar cita‑cita mereka tercapai.

 

Saleh Danasasmita pernah mengungkapkan, bagaimana sesungguhnya fungsi dan makna dari menhir atau batuan lainnya, yang sudah ada jauh sebelum Hindu masuk ke Tatar Sunda.

Para “pemuja leluhur” ini telah memiliki tatanan kehidupan yang teratur yang kemudian tumbuh secara dinamik, ketika mendapat sentuhan pengaruh Hindu. Orang Jawa Barat berkenalan dengan panteon baru yang dihuni para dewa, namun seperti diungkapkan oleh Wangsakerta dan Pleyte, rakyat banyak tetap setia memuja roh leluhurnya. Sampai sekarang hal ini masih tampak cukup jelas (Danasasmita,1984: 42).

 

Selanjutnya Saleh Danasasmita memberikan gambaran, tentang kemungkinan terjadinya transisi keagamaan, antara lain sebagai berikut:

Dalam abad ke‑13 atau sedikitnya abad ke‑14 raja‑raja di Jawa Barat sudah mulai mempertaruhkan nasib negaranya di kabuyutan atau di sasaka domas. Tempat-tempat seperti itu pada umumnya berasal dari peninggalan para leluhur yang dimanfaatkan terus atau dimanfaatkan kembali. Dengan kabuyutan sebagai “pusat dangiang”, mereka makin menggeser jauh dari garis Hinduisme. Lingga dan yoni gaya Hindu ditinggalkan; mereka kembali kepada penggunaan disolit yang berupa pasangan tonggak batu dengan lempeng batu. Kalau tempat‑tempat seperti itu dilengkapi patung‑patung, bukanlah patung dewa‑dewa Hindu yang ditempatkannya melainkan patung‑patung nenek‑moyang. Tempat-tempat seperti itu pada umumnya ditandai oleh adanya petak bersegi empat mirip “kuburan” (Danasasmita,1984: 42).

 

Mengacu kepada pendapat Saleh Danasasmita, di seputar Gunung Pulasari Pandeglang, terdapat peninggalan kepurbakalaan dimaksud, antara lain berupa menhir:

  1.    Sanghiyang Dengdek. Lokasi di Kampung Kaduhejo, Desa Sanghyangdengdek, Kecamatan Saketi.
  2. Sanghyang Healeut. Lokasi di Desa Banjarnegara, Kecamatan Saketi.
  3.    Batu Pahoman. Lokasi di Kampung Pahoman, Desa Pasirpeuteuy, Kecamatan Cadasari.
  4.    Batu Goong. Lokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Menes.
  5.    Batu Lingga. Lokasi di Desa Batulingga, Kecamatan Banjar.
  6.    Batu Cihanjuran. Jumlah 3 buah menhir, lokasi di mata air Cihanjuran, Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi.
  7.    Makam Gunung Cupu. Lokasi di Desa Gunungcupu, Kecamatan Cimanuk.
  8.    Batu Rincik Manik. Posisi di puncak Gunung Pulasari, pada ketinggian + 1300 meter di atas permukaan laut.
  9.    Sanghiyang Arca. Lokasi di ketinggian Kampung Cilentung, Kecamatan Saketi.

 

Berdasarkan kajian geografi sejarah, pada masa 2000 tahun yang silam, keadaan pantai barat Pandeglang, tentunya berbeda dengan keadaan yang sekarang. Dihitung secara geologis, sangat memungkinkan terjadi pendangkalan akibat terjadinya beberapa kali letusan gunung Krakatau, Gunung Pulasari, Gunung Karang, juga Gunung Aseupan. Terhanyutnya pasir, debu, kerikil dari letusan gunung, oleh arus deras sungai Cibama, Cilabuan, Cicaringin dan Cibangangah, membentuk pendangkalan selebar antara 8‑10 kilometer di sepanjang pantai barat Gunung Pulasari.

Keadaan tanah situs Sanghiyang Dengdek, berada pada ketinggian 250 meter di atas permukaan laut, berjarak 14 kilometer dari garis pantai. Keadaan Sanghiyang Dengdek pada saat 2000 tahun yang lalu, sebelum terjadi pengendapan di sepanjang pantai Teluk Lada, jaraknya hanya 3 kilometer dari tepi pantai. Berpedoman kepada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantaraparwa I sarga 1, yang menyatakan “pernah adanya masyarakat pesisir pantai barat”, dapat diduga bahwa Dukuh Pulasari (tempat Panghulu Aki Tirem dan masyarakatnya bermukim), berlokasi di arcal pemukiman Sanghiyang Dengdek.

 

 

  • JEJAK AGAMA SUNDA

 

Di sekitar Gunung Pulasari, Gunung Aseupan dan Gunung Karang di Kabupaten Pandeglang, ditemukan pula batu‑batuan berbentuk dolmen, di antaranya:

  1.    Batu Ranjang. Lokasi di Kampung Baturanjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
  2. Batu Pangasaman. Lokasi di Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
  3.    Batu Pangsalatan. Lokasi di tepi jalan raya di wilayah Kecamatan Mandalawangi.

 

Sedangkan batu‑batu yang ditemukan dalam bentuk lain, diduga memiliki nilai kepurbakalaan, antara lain:

  1.    Batu Sanghiyang Kotok. Lokasi di lereng Gunung Pulasari.
  2.    Batu Cangkrung. Lokasi di lereng Gunung Pulasari.
  3.    Batu Keris dan Bata Teko. Lokasi di tengah hamparan pesawahan Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk.
  4.    Batu Kuda I. Lokasi di tepi jalan Desa Cimanuk, Kecamatan Cimanuk.
  5.    Batu Kuda II. Lokasi di Pasir Pariuk Nangkub, Kampung Sampalan, Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
  6.    Batu Qur’an. Lokasi di Kampung Cibulakan, Kecamatan Cimanuk.
  7. Batu Notod. Lokasi di Desa Parigi, Kecamatan Saketi.
  8.    Batu Saketeng. Lokasi di Desa Saketi, Kecamatan Saketi.
  9.    Batu Tumbung. Lokasi di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
  10. Batu Kasur. Lokasi di Kampung Nembol, Kecamatan Mandalawangi.
  11. Batu Tongtrong. Lokasi di Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
  12. Batu Kolam Citaman. Lokasi di Desa Sukasari, Kecamatan Menes.

 

Di kawasan Popinsi Banten, masih terdapat gejala religi “agama masa silam”, dan masih dianut oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri “Sunda Wiwitan” (Sunda Awal). Hal ini diperkuat oleh laporan RA.A.A. Djajadiningrat, Bupati Serang tahun 1908, dalam laporan resminya (1908 no. 1786; van Tricht,1929: 47), yang dikutip Judistira Garna dalarn bukunya Orang Baduy, antara lain sebagai berikut:

Menurut adat dan kepercayaan, orang‑orang Baduy merupakan kelompok yang mewakili suatu zaman peradaban Pasundan yang telah silam. Meskipun kita telah jauh dari pengetahuan yang pasti tentang satu dan lainnya mengenai pandangan mereka namun melihat keterasingannya yang ketat yang mereka lakukan, sejauh ini dapat disimpulkan bahwa mereka itu bukan penganut ajaran Ciwa atau Wisnu, bukan pula penganut suatu sekte Hindu ataupun Buddha.

Walaupun kurang terdapat keterangan terinci, namun berdasarkan berbagai pengamatan dan laporan resmi Djajadiningrat serta pengamatan Pennings (1902), van Tricht mengemukakan tentang agama Sunda sebagai kepercayaan orang Baduy. Agama itu merupakan agama tua yang dipeluk oleh penghuni Wilayah Jawa Barat (sekarang) yang permulaan penyebaran agama Islam sedikit sekali dipengaruhi oleh agama Hindu (1929:47) (Garna,1987: 61)

 

Mengenai jejak religi masa silam seperti itu, Saleh Danasasmita pernah memberikan penjelasan, antara lain sebagai berikut:

Sesuai dengan kehidupan leluhurnya yang masih biasa berpindah‑pindah tiap habis musim panen, watak agama yang diwarisinya lebih sederhana dalam arti: praktis, akrab, dengan alam dan lebih mengutamakan isi daripada bentuk. Praktis sehingga dapat dilaksanakan di manapun mereka berada.

Akrab dengan alam sehingga lebih mengutamakan keheningan mutlak daripada kehiruk-pikukan masa. Lebih mementingkan isi sehingga ukuran kesungguhan dan kekhidmatan tidak didasarkan kepada nilai-nilai materil benda‑benda upacaranya melainkan dalam hati dan tingkah laku.

Jelas upacara‑upacara dalam agama Hindu yang penuh formalitas dengan urutan yang ketat serta mantera mantera yang tak boleh salah ucap atau salah susun, tidak serasi dengan karakter agama yang diwarisi dari para leluhurnya. Bagi mereka, sebongkah batu alam yang agak aneh sudah cukup untuk dijadikan titik pusat upacara pemujaan. Setelah selesai batu itu ditinggalkannya karena di tempat lain pun mudah memperoleh batu sejenis. Namun, sejenak kesungguhan hati yang dibungkus keheningan alam sekitar merupakan modal mereka yang utama dalam menjalin hubungan dengan Yang Gaib (Danasamita,1984: 43).

 

Situs religi masa silam terbesar di wilayah Propinsi Banten, berupa peninggalan dari masa pra‑Hindu, dengan ditemukannya beberapa punden berundak di wilayah Kabupaten Lebak. Keterangan peninggalan tersebut, diungkapkan oleh Halwany Michrob dalam buku Lebak Sibedug dan Arca Doms di Banten Selatan(1993), antara lain sebagai berikut:

Undakan batu di Kosala terdiri 5 tingkat yang pada setiap tingkatnya terdapat menhir. Kadang-kadang dijumpai sebuah papan batu (lab stone) berbentuk segi lima, dan pada bagian bawah yang terpendam dalam tanah terdapat beberapa buah batu bulat (batu pelor) yang bergaris tengah antara 10‑15 cm. Sebuah arca kecil ditemukan di dekat struktur berundak tersebut kedua tangannya terlipat ke depan, salah satu di antaranya seperti dalam sikap mangacungkan ibujari.

Arca Domas adalah bangunan berundak dengan 13 tingkatan dan pada tingkat paling atas terdapat sebuah menhir berukuran besar, yang pemercaya dianggap melambangkan Batara Tunggal, Sang Pencipta Roh, dan kepadanya pula roh‑roh akan kembali.

Monumen Lebak Sibedug juga merupakan bangunan berundak empat tingkat setinggi ± 6 meter. Di depan undak batu ini terdapat dataran yang di tengahnya terdapat sebuah menhir. Menhir pusat ini ditunjang oleh batu‑batuan berukuran kecil (Michrob,1993: 5‑6).

 

Dalam naskah kuno Kropak 630 Sanghiyang Siksakandang Karesian, ‘terdapat jejak “agama asli” yang jauh lebih mendasar, jika dibandingkan dengan kedua gejala Hinduisme dan Budhisme. Hal tersebut pernah dikaji oleh Saleh Danasasmita, mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:

Dalam dasaperbakti di antaranya disebutkan, “ratu bakti di dewata, dewata bakti di hiyang” (raja tunduk kepada dewata, dewata tunduk kepada hiyang). Jadi hiyang‑lah yang paling tinggi. Kemudian dinyatakan bahwa dewa‑dewa seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Siwa dan lain‑lainnya tunduk kepada Batara Seda Niskala. Dialah Batara Jagat (penguasa alam) “nu ngretakeun bumi niskala” (Yang mengatur dunia gaib). Seda Niskala adalah nama Hiyang yamg disangsakertakan (seda = sempurna; niskala = gaib). Nama itu dapat diartikan “Yang Maha Gaib” (Danasasmita, 1984:41).j

 

Ikhwal peninggalan Hinduisme yang terdapat di Pulau Panaitan, maupun temuan di Gunung Pulasari (yang kini telah dipindahkan ke museum), kemungkinan besar pernah tersingkir, akibat terdesak oleh kebangkitan kembali agama pribumi (agama Sunda). Kemungkinan-kemungkinan itulah, yang tidak sempat dikaji dan dipahami Claude Guillot, sehingga Sanghiyang Dengdek disebutnya “si bungkuk yang terpuja”, dan dinilai bergaya “primitif” dan “kampungan”. Guillot tidak memahami agama leluhur Sunda, sehingga ia lebih tertarik oleh “bentuk” arca Hinduisme, dari pada “isi” (makna dan fungsi) pitarapuja Sanghiyang Dengdek.

Tidak menutup kemungkinan, peninggalan kepurbakalaan Hinduisme dan Budhisme di Cibuaya dan Batujaya (Karawang), terkuburannya menjadi bukit‑bukit (hunyur), kemungkinan ada unsur kesengajaan.

Carita Parahiyangan menunjukkan adanya para wiku “nu ngawakan Jati Sunda” yaitu para pendeta yang khusus mengamalkan “agama Sunda” dan memelihara “kabuyutan parahiyangan”. Sisa dari kabuyutan Jati Sunda atau parahiyangan sepeti itu adalah Mandala Kanekes yang dihuni “orang Baduy” sekarang. Leluhur mereka dalam jaman kerajaan mengemban tugas memelihara mandala atau kabuyutan “Jati Sunda” yang dewasa ini disebut sasaka domas. Orang Tangtu (“Baduy‑dalam”) adalah keturunan “para wiku”, orang panamping (“Baduy‑luar) merupakan keturunan “kaum sangga”. Mereka bertugas melakukan “tapa di mandala” dan sudah menjalankan tugas tersebut secara turun temurun sejak masa jauh sebelum Kerajaan Pajajaran berdiri (Danasasmita,1984: 41).

Sendi‑sendi religi masa silam pra Hindu di seputar lereng dan suku Gunung Pulasari, mengingatkan adanya benang merah religius, antara tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya dengan “Pitarapuja Hiyang”‑nya; bangkit kembali pada masa kerajaan; Sunda, Galuh, Pajajaran dengan “Hiyang Seda Niskala”‑nya, terlestarikan dalam refleksi masyarakat Sunda Wiwitan (Baduy) masa kini dengan Agama Sundanya.

 

 

  1. MELACAK RAJATAPURA

 

Ayatrohaedi, dalam makalah Naskah dan Sajarah (1989), mengemukakan tentang permulaan lahirnya ilmu arkeologi, antara lain sebagai berikut:

Sebagai seorang anak Eropah, sudah sejak kecil Heinrich Schhemann berkenalan dengan mitologi Yunani yang dianggap sebagai salah satu akar kebudayaan Eropah masa berikutnya. Selain di sekolah, mitologi Yunani itu dikenalnya juga melalui kedua orang tuanya, para tetangganya, dan buku‑buku yang dibacanya. la sangat tertarik oleh kisah Perang Troya yang menggambarkan bagaimana sebuah kota yang kokoh akhirnya dapat direbut berkat kecerdikan musuh yang mengepungnya. Ketertarikannya itu ternyata berkepanjangan menjadi tandatanya besar baginya. Mungkinkah kisah yang demikian nyata itu, benar‑benar hanya sekadar dongeng tanpa satu pun acuan peristiwa yang tetjadi? Jika orang lain beranggapan kisah itu sekadar mitos, tidak demikian halnya dengan Heinrich. Ia menduga bahwa kisah itu lahir karena ada suatu peristiwa penting yang pernah terjadi di kota atau sekitar kota Troya itu.

Kebetulan orangtuanya pedagang kaya, dan juga memahami rasa penasaran anaknya itu. Dengan dukungan dana dari orangtuanya, di samping ia sendiri kemudian menjadi saudagar yang juga kaya, ia memutuskan untuk pergi ke Yunani. Bukan untuk membuktikan kepada dunia bahwa di sana ada sebuah kota dan peradaban yang bernama Troya, melainkan lebih disebabkan oleh keinginan memenuhi rasa penasarannya itu. Bersama dengan istri dan sejumlah pembantu lapangan, mereka berangkat ke Yunani, lalu menuju tempat yang menurut berbagai acuan diduga sebagai tempat berdirinya kota Troya.

Berhari‑hari mereka menggali di situ, tak juga menemukan apa yang dicari. Ketika seluruh rombongan (kecuali Heinrich) sudah benar-benar berputus asa, cangkul yang dihujamkan ke tanah mengenai sesuatu yang keras. Keputus-asaan untuk sementara ditangguhkan, dan penggalian diteruskan. Hasilnya, bukti pertama bekas kota dan peradaban itu tergali, dan dari penggalian itu lahirlah ilmu yang kemudian dikenal sebagai widyapurba atau arkeologi (Ayatrohaedi,1989: 1-2).

 

Untuk memberikan ilustrasi yang lebih jelas, Ayatrohaedi mengemukakan peristiwa lainnya, mengenai keterkaitan antara naskah dengan pembuktian sejarah, antara lain sebagai berikut:

Dalam pada itu, nenek‑moyang orang India meninggalkan dua buah wiracarita yang terkenal, Mahabharata karya Wyasa dan Ramayana karya Walmiki. Menurut para ahli bahasa, kedua naskah itu berasal dari kurun masa antara 400 sM -400 M. Seperti juga halnya dengan kisah Troya, para pembaca naskah itu umumnya menganggap bahwa semuanya hanyalah sekadar dongeng, kalaupun bukan mitos. Tetapi, seperti halnya dengan Heinrich, ada raja orang yang tidak percaya akan keasaldongengan kedua wiracarita itu. Inggris yang ketika itu menjadi yang dipertuan di India, juga mempunyai beberapa orang warga yang menganggap bahwa kisah Troya kaol (=versi) India seharusnya tersembunyi di balik kisah tersebut.

Berbekal anggapan itu, mereka mencoba menggali dan menemukan kota yang seharusnya menjadi pusat kerajaan Indraprahasta (kita mengenalnya dengan nama Amarta), di daerah sebelah barat daya, beberapa kilometer dari kota Nutana Dehali (New Delhi). Hasilnya? Bekas kota tua yang diduga berasal dari pertengahan abad ke‑12 sebelum Masehi (1150 sM) muncul kepermukaan. Dalam pada itu, dendam kesumat antara Rama dengan Rahwana, ternyata masih berlanjut hingga sekarang berupa sengketa antara orang Singhala di Srilangka (Alengka) dan orang Tamil yang tidak mustahil keturunan Subali dan Sugriwa. (Ayatrohaedi,1989: 2‑3).

 

Dari dua ilustrasi yang dicontohkan oleh Ayatrohaedi, mendapatkan gambaran yang jelas, bahwa naskah dongeng sekalipun, dapat dimanfaatkan sebagai pemandu pembuktian sejarah. Karena masa penulisannya yang tidak muasir itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian ,jika seseorang bermaksud menggunakan naskah sebagal sumber sejarah, termasuk naskah‑naskah yang sebenarnya menyebut dirinya sajarah, hikayat, asal‑usul, silsilah, carita, tambo, atau babad. Betapapun, nama-nama yang disandangnya itu mengisyaratkan bahwa sampai taraf tertentu, naskah‑naskah itu dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah (Ayatrohaedi,1989: 6).

 

Kembali ke masalah Salakanagara, Dewawarman dan Rajatapura, yang telah lama menjadi perdebatan para akhli. Di Gunung Pulasari, sebagaimana yang diungkapkan oleh Claude Guillot, sesungguhnya merupakan pemandu ke arah pembuktian Salakanagara. Guillot mengemukakan pendapatnya, antara lain sebagai berikut:

Dari berbagai sisi, arca‑arca itu penting untuk pokok pembicaraan ini. Pertama, meskipun muka arca‑arca itu sudah dirusakkan (pada masa Hasanuddin?), gayanya sangat berbeda dari gaya arca Sunda, dan persis serupa dengan gaya akhir periode Jawa Tengah, artinya dapat ditentukan berasal dari paro pertama abad ke‑10. Kedua, dapat dilihat bahwa arca-arca itu merupakan kelompok arca dewa yang terdapat dalam setiap arca dewa yang terdapat dalam setiap candi Siwa, yaitu Dewa Siwa, Agastya (titisan Siwa yang amat sering terdapat di Jawa), Durga (yaitu Parvati, sakti Siwa) dan Ganesha (putra Siwa), serta lingga yang sudah hilang, namun semula sudah barang tentu bersatu dengan yoni. Wahana (vahana) Siwa, yaitu sapi Nandi, mungkin sekali juga sudah hilang. Kehadiran arca Brahma barangkali menunjukkan bahwa, seperti di Prambanan, candi utama Siwa diapit oleh candi Brahma dan candi Wisnu, sedangkan arca Wisnu itu tidak ditemukan kembali. Ketiga, seperti dijelaskan dalam surat asisten residen tersebut, arca‑arca itu terdapat di Cipanas yaitu di Gunung Pulasari, dekat kawah yang oleh C.W.M. van de Velde digambarkan dalam sebuah etsa yang termasyhur pada pertengahan abad ke‑19, pasti tidak lama sesudah pengangkatan arca-arca tersebut (Guillot,1996:102).

 

Guillot sudah menduga, bahwa arca‑arca hasil temuan dari Cipanas Gunung Pulasari itu, berasal dari peninggalan Hinduisme. Hanya saja, jika Guillot mau melirik hasil kajian para akhli tentang Salakanagara, temuannya sangat membantu dalam perkembangan selanjutnya.

Sementara itu, dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 1, halaman 158-160, terdapat suatu riwayat tentang pernah dibuatnya candi beserta arca‑arcanya oleh Dewawarman VIII (240‑362 Masehi), antara lain sebagai berikut:

…// diwasa sang de-

wawarman astama nyakra-

warti i bhumi Jawa ku-

lwan ring samangkana pra-

nah ing janapada rikung

kreta subhika//…

 

…// sang raja gawe

ta sira candi lawa-

n pratistha ing siwa ma-

hadewamardhacandra-

kapala // lawann ganaya-

nadewa /juga hya wi-

snudewa / anggwa sira

sakweh ing wa(i)snawa//ma-

pan siwa kabeh jana-

pada padaherup hu-

rip tulushayu/…

Terjemahannya:

Pada masa Dewawarman kedelapan memerintah di bumi Jawa Kulwan, pada waktu itu kehidupan warga masyarakat ada dalam keadaan makmur sejahtera. Sanghyang Agatna senantiasa dihormati, dipelihara dan sangatlah baik karenanya. Di antara warga masyarakat yang memuja Hyang Wisnu tidak seberapa banyaknya. Ada yang memuja Hyang Siwa. Ada yang memuja Hyang Ganayana. Ada yang memuja Siwa-Wisnu.

Maka demikianlah pemuja Hyang Ganayana [atau] disebut juga pemuja Ganapati. Golongan ini banyak pengikutnya. Adapun mata pencaharian warga masyarakat, di antaranya berburu di hutan pegunungan, berdagang, mengusahakan pelayanan, menangkap ikan di tengah lautan sepanjang tepi sungai. Juga memelihara binatang dan menanam buah-buahan, bertani dan sebagainya.

Sang Raja membuat candi, serta patung Siwa Mahadewamardhacandrakapala dan Ganayanadewa, juga Hyang Wisnudewa. Anutan mereka sekalian Waisnawa. Karena sekalian warga masyarakat, mengharapkan hidup lanjut dan selamat.

 

Temuan arca-arca di “Candi Pulasari”, seperti yang dikemukakan oleh Claude Guillot, ternyata mendapat penjelasan dari naskah Pangeran WangIsakerta. Kekunoan arca‑arca tersebut, sangat berbeda dengan arca ‑arca lain yang lebih muda, yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Oleh karena kekunoannya itulah, Guillot mempersoalkan “arca-arca itu sudah dirusakkan (pada masa Hasanudin?)”. Akan tetapi, pada bagian lain, Guillot menjelaskan, antara lain sebagai berikut:

Arca-arca yang disebutkan sebagai “arca Caringin” itu telah dilupakan lama sekali sejak diangkut ke Jakarta, dan di sana tercampur dengan ratusan arca lain yang sejenis, sehingga hilang keunikan tempat asalnya. Meskipun demikian arti pentingnya tidak luput dari perhatian R Friederiich pada tahun 1850. Dalam sebuah kajian mengenai gaya arca-arca yang disimpan di Museum Batavia, ia menulis tentang arca Ganesha, sebuah ulasan yang layak dikutip: “Bahwa arca semacam itu, beserta beberapa arca lain yang bergaya lama, telah ditemukan di daerah Banten, di bagian Pulau Jawa yang paling barat, berarti bahwa peradaban dan seni Hindu telah tersebar sampai ke pantai itu. Sejarah kerajaan yang telah melahirkan peninggalan kuno tersebut, dan bahkan nama kerajaan itu, untuk sementara belum dapat dipastikan. Jelas peninggalan kuno itu tidak dapat dianggap berasal dari Kerajaan Pajajaran sebab segala peninggalan dan segala sesuatu yang kita ketahui tentang Pajajaran menunjukkan keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan seni. Begitu pula peninggalan Majapahit jauh dari menyamai peninggalan masa‑masa sebelumnya (Guillot,1996:103).

 

Bagian yang terpenting dari pernyataan Guillot, terdapat pada bagian akhir (kesimpulan), yang kutipannya antara lain sebagai berikut:

Maka kami menarik kesimpulan bahwa peninggalan di Caringin cukup kuno, dan bahwa sebelum masa Pajajaran terdapat sebuah kerajaan Hindu di Banten (Guillot,1996:108).

 

Kutipan tersebut sangat berharga, memberikan kepastian lokasi; Banten sebelum masa Pajajaran. Oleh karena itu, penelusuran harus kembali ke wilayah Gunung Pulasari Pandeglang, sebagai tempat asal (insitu) arca‑arca Hinduisme itu pernah berada. Saleh Danasasmita, menunjuk muara Sungai Ciliman di wilayah Teluk Lada (Pandeglang), sebagai pusat kota Rajatapura (Danasasmita,1984:13).

Kota Palembang di Sumatera Selatan, antara abad ke‑7 hingga abad ke-11, berada tepat di pantai. Sedangkan Palembang sekarang, posisinya jauh dari garis pantai, hingga mencapai 8‑9 kilometer. Begitu pula yang terjadi di Gunung Muria (Jawa Tengah). Akibat endapan lumpur Sungai Lusi (Purwodadi) dan Sungai Tuntang (Demak) pada abad ke‑11 (masa kekuasaan Raja Airlangga), daratan Gunung Muria menjadi satu dengan Pegunungan Kapur pantai utara (Blora) di Jawa Tengah (Daldjoeni,1984).

Pelabuhan Aruteun terletak di muara Sungai Cisadane. Pada waktu itu muara sungai Cisadane terletak jauh ke dalam, karena garis pantai Laut Jawa lima belas abad yang lalu jauh berbeda dengan sekarang. Tanah alluvial dari masa Ciaruteun sampai garis pantai Laut Jawa sekarang ialah hasil endapan selama lima belas abad (Muljana,1980:13).

 

Begitu pula hal yang sama, bisa saja terjadi dalam proses geologi pembentukan endapan di pantai barat Pandeglang. Kemungkinan besar, ketika Salakanagara didirikan oleh Dewawarman tahun 130 Masehi (1871 tahun yang lalu), posisi kota kecamatan Mandalawangi, kurang lebih 8‑10 kilometer dari garis pantai, berada di pesisir barat Pandeglang. Kemungkinan tersebut, didukung oleh pendapat Dedi M. Barmawijaya (akhli geologi), bahwa posisi pantai barat Pulau Jawa abad ke‑2 Masehi, berada pada ketinggian 120 meter di atas permukaan laut, saat ini (18 Maret 2001).

Lokasi Rajatapura sebagai ibukota Salakanagara, dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, parwa I sarga 1, halaman 154, terungkap sebagai berikut:

….//hana pwa dewa

warman wamsanyakrawar

ting rajya salakana-

gara i bhumi jawa ku-

lwan/ i sedertg kitha-

rajyanya ngaran rajata-

pura ri tina ning sagara//

Terjemahannya:

Adapun wangsa Dewawarman memerintah kerajaan Salakanagara di bumi Jawa Barat, dengan ibukota kerajaan bernama Rajatapura, (terletak) di tepi laut.

 

Secara kebetulan, di situs Cihunjuran (Desa Cikoneng Kecamatan Mandalawangi), juru pelihara Burhan, menyimpan sebuah batu bulat elipsis (panjang 24 cm, lebar 18 cm, tinggi 9,5 cm). Di salah sate permukaan batu itu, terdapat titik titik dan garis‑garis yang terukir mirip peta. Oleh karena itulah, Burhan menyebutnya “Batu Peta”.

Setelah dicoba dikaji‑bandingkan, dengan peta topografi Pandeglang (cetakan Belanda tahun 1938), terindikasi adanya beberapa ketepatan. Titik-titik dan garis-garis yang terukir pada “Batu Peta”, sebagian besar bertepatan dengan peta lokasi situs kepurbakalaan, yang tersebar di sekitar lereng Gunung Pulasari. Kemudian, titik terbesar yang berbentuk persegi empat, berada di tengah‑tengah, bertepatan dengan posisi kota Kecamatan Mandalawangi sekarang. Posisi kota Kecamatan Mandalawangi, ditinjau dari segi pertahanan keamanan, sangat strategis, terlindung oleh 3 buah benteng alam: Gunung Pulasari, Gunung Aseupan dan Gunung Karang. Oleh karena itu, posisi Mandalawangi, diduga kuat, bekas lokasi Rajatapura ibukota Salakanagara,

Leave a Reply